Cukup Di Hati Saja

Cukup Di Hati Saja
Makin Sensitif.


__ADS_3

Kebahagiaan bukan hanya terpancar dari wajah Icha dan Marco namun menular juga pada seluruh penghuni villa. Bibi Santini dengan semangat menyiapkan makan malam spesial untuk para tamu. Walaupun ia hanya seorang pelayan di sana, namun Icha selalu mengatakan beliau dan pak Jakalah tuan rumah villa tersebut.


Flash Back


Setelah puas berkangen ria di taman bunga villa, Marco dan Icha mengurung diri di kamar. Melanjutkan rasa rindu di tempat tidur😜🙈🙊.


"Istrahat dulu, sayang... pasti capek dari Jakarta ke sini." Lima minggu tak bertemu membuat Marco tak melepaskan istrinya. Marco terbaring telungkup dengan wajah masuk dalam ceruk leher Icha dan tangan kanan memeluk perut sang istri. Sedangkan Icha tidur telentang.


"Aku rindu." Desahnya ke telinga Icha. Ia benar-benar mengurung Icha dalam dekapannya.


"Udah peluk dari tadi, yaaang... rindunya nggak ilang-ilang." Goda Icha sambil membelai sayang rambut Marco yang sedang asyik menghirup ceruk leher Icha.


Marco tertawa kecil mendengar candaan Icha. Ia mengeratkan pelukan pinggang.


"Sayang... jangan terlalu kuat meluknya. Tangan kamu berat di perut aku." Icha mengangkat tangan Marco yang menindih perutnya. Ia takut janinnya tertindih berat.


"Perut kamu makin berisi." Marco mengelus perut Icha yang sudah mulai menonjol.


"Aku masakin kamu, ya? Mau makan apa?" Icha sengaja mengalihkan pembicaraan mereka agar Marco jangan bertanya lagi soal perutnya. Ia masih ingin merahasiakan kehamilannya.


"Ck... aku nggak suka makan, yang. Aku pengen makan rujak. Kamu bikinin, ya?" Pinta Marco. Icha tertawa lucu.


"Kok rujak sih?" Tanya Icha lucu.


"Nggak bisa makan nasi. Nggak tau kenapa." Jawab marco tetap pada posisinya.


"Sejak kapan?" Tanya Icha kepo.


"Sejak kamu pergi." Sahut Marco cepat.


"Ya udah... makan nasi dulu, ya. Setelah itu makan rujak. Nanti sakit perut." Icha membujuk Marco layaknya membujuk seorang anak kecil yang tidak mau makan.


"Ck... nggak bisa, sayang. Nanti aku muntah." Tolak Marco tak suka. "Harusnya hari ini jadwal aku periksa ke dokter." Lanjut Marco. Icha mengerutkan kening.


"Periksa ke dokter? Emang kamu sakit?" Icha sedikit menjauhkan kepala untuk melihat Marco. Laki-laki itu menggeleng.


"Belum tau. Hanya saja aku sama sekali nggak bisa menyentuh nasi, nggak bisa mencium bau goreng." Papar Marco. "Semenjak kamu pergi, aku nggak pernah makan nasi dan semua masakan harus tanpa minyak." Sambungnya lagi menjelaskan kondisi saat ini.


Tak bisa menahan tawa, Icha menutup mulut agar suaranya tidak terdengar. Ia tak menyangka pengusaha kaya yang terkenal dengan kejeniusannya sangat polos dalam ilmu kehamilan. Ia sama sekali tak menyadari kalau ia sedang terkena couvade syndrome.


Marco merasa ada goncangan dari tubuh Icha. Ia mengangkat kepala melihat wajah istrinya yang sedang tertawa geli.

__ADS_1


"Kok ketawa?" Rajuk Marco. "Kamu senang suami kamu sakit?" Protes Marco kesal.


"Nggak... nggak mungkin aku senang kamu sakit." Kilah Icha cepat. "Ya udah, periksa di sini aja. Seminggu sekali dokter datang ke sini, jadi kamu periksa sekalian." Usul Icha.


"Seminggu sekali? Ngapain?" Tanya Marco heran.


"Ya, periksa aja. Kakek yang suruh." Jawab Icha penuh teka-teki. Marco menatapnya penuh curiga. "Apa sih? Kok liatinnya gitu?"


"Kamu nggak sakit, kan?" Tanya Marco penasaran.


"Ya nggaklah... aku sehat. Sehat banget malah." Sahut Icha meyakinkan Marco.


Mereka terus bercerita, saling melepas rindu dan Melepaskan semua kesalahpahaman yang terjadi.


Tok... tok... tok...


"Udah siang, sayang. Kita nggak keluar kamar dari tadi." Icha tertawa geli sendiri melihat mereka berdua yang mengurung diri di kamar. Ia bangun dan membuka pintu.


Wulan yang sudah berdiri di luar langsung memyemprot Icha karena belum makan. Tapi, ia hanya berani berbisik karena takut kedengaran Marco.


"Tau nggak ini jam berapa? Kenapa nggak keluar makan?" Gerundel Wulan pelan. Icha tersenyum lucu melihat wajah garang Wulan. Lebih lucu lagi, Wulan sering mengintip ke kamar, karena ia takut tiba-tiba Marco keluar.


"Iya, ini udah mau keluar." Jawab Icha tersenyum. Wulan mendelikkan mata dan berlalu dari hadapan Icha. Wanita ayu itu hanya tertawa lucu melihat tingkah Wulan yang kesal tapi takut karena ada Marco.


Sebelum bangun, ia menunjukkan bibir minta dikecup. Icha sengaja membuat muka keram. Marco pun langsung kembali membalikkan badan dan pura-pura tidur.


"hahahahaha..." Wanita cantik itu tertawa lepas melihat suaminya ngambek karena tidak mendapat ciuman. "Kamu tuh lucu, sayang. Kalo lagi marah garangnya minta ampun." Celetuk Icha. "Di luar sana lawan bisnis kamu tuh ketar ketir kalau kamu ngamuk, eeh nggak taunya kamu bisa ngambek juga, ya. Manja lagi." Goda Icha. Marco bangun dan duduk di hadapan Icha.


"Dan aku jadi begini karena kamu." Cetus Marco . Dengan cepat ia mengecup bibir cantik itu. "Kadang aku lucu sendiri pada diriku." Lirihnya pelan. Ia menggenggam kedua tangan Icha.


"Lucu apanya?" Tanya Icha.


"Aku merasa aku menjadi laki-laki lemah kalau sudah berhadapan denganmu." Akunya tanpa malu. Icha tersenyum. Ia membalas mengecup bibir sang suami tercinta.


"Untukku, kamu bukan laki-laki lemah. Tapi kamu laki-laki terhebatku." Ungkap Icha membuat Marco bahagia. "Keluar, yuk. Pasti kita udah ditungguin."


Mereka pun saling merangkul keluar dari kamar menuju ruang makan. Semua sudah menunggu lesu di sana. Lesu karena bosan menunggu atau lesu karena menahan lapar. Entahlah, hanya mereka yang tahu. Namun, semua bangun berdiri ketika melihat Marco dan Icha datang. Dengan tiba-tiba tak ada lagi wajah lesu seperti yang tadi. Mereka kompak melemparkan senyum manis di hadapan Marco.


"Duduklah... tak usah sungkan. Saya hanya tamu di sini." Suara ramah Marco membuat suasana menjadi adem. "Pak Jaka, bibi Santini... duduklah." Marco langsung mengambil tempat duduk di samping Icha yang sudah terlebih dahulu duduk. Namun, pak Jaka, bi Santini, Wulan dan Raymond masih terus berdiri.


"Paka Jaka, duduklah di sini. Di tempat pak Jaka biasa duduk." Tegur Icha ramah.

__ADS_1


"Nggak... nggak usah non. Pak Jaka sama bibi makan di dapur aja." Tolak Pak Jaka sungkan.


"Pak Jaka, duduklah. Kita semua makan di sini!" Perintah Marco sopan dan tulus. "Jangan karena kehadiran saya, keharmonisan kalian selama beberapa minggu ini jadi terganggu. Ingat, kami hanya tamu. Pak Jaka dan bi Santinilah tuan rumah di sini." Lanjut Marco dengan suara pelan. "Tidak mungkin tuan rumah makan di dapur dan membiarkan tamu makan seorang diri di meja makan." Cakap Marco bijak. Icha mengangguk mendukung pernyataan suaminya.


"Ayo, bi... kita duduk seperti biasa tiap malam. Jangan sungkan." Seloroh Icha.


Paka Jaka mulai bergerak duduk di kursi tempat ia biasa duduk, yaitu kursi kepala keluarga, disusul bibi Santini di samping kanan suaminya dan Wulan berhadapan dengan Icha, sedangkan Raymond di samping Wulan, berhadapan dengan bosnya.


"Silahkan, tuan..." Bibi Santini berusaha menghilangkan rasa gugupnya. "Saya memasak semua tanpa minyak dan tanpa nasi juga, sesuai arahan tuan Raymond. Tapi, ini ada bulgur. Gandum pengganti nasi. Semoga tuan bisa menikmati." Jelas bibi santun dan senang melihat Marco yang tersenyum.


"Harusnya nggak usah, bi. Masak aja sesuai selera semua. Aku bisa makan di kamar." Ujar Marco.


"Nggak apa-apa, tuan. Kelihatannya ini enak juga." Timpal Raymond.


"Ya udah, ayo makan." Icha melayani suaminya diikuti yang lain mengambil bagian mereka, lalu makan dalam sungkan. Walaupun Marco sudah berusaha mencairkan suasana namun rasa sungkan itu masih ada.


"hmmm... enak juga, bi. Bulgur ini juga enak. Bibi eman hebat masaknya." Puji Icha yang semenjak hamil selera makannya meningkat drastis.


"Pantas kamu betah di sini. Makanannya aja enak-enak begini." Celetuk Marco. "Kamu jadi makin berisi jadinya." Bisik Marco di telinga Icha. Istrinya hanya tersenyum malu.


Mereka menikmati menu makanan baru siang ini karena mengikuti mood Marco yang lagi aneh beberapa hari ini.


Flash back End.


Bibi dan Wulan sedang sibuk memasak makan malam di dapur dibantu Raymond dan pak Jaka. Sedangkan Icha, jangan ditanya ke mana wanitan hamil itu. Ia sedang dikurung di dalam kamar oleh pak suami tercinta. Kalian tahu sendirilah mereka ngapain🙈


"Sayang... keluar, yuk. Dari tadi lho kita di kamar. Kamu nggak bosan?" Rajuk Icha.


"Emang kamu bosan sama aku?" Tanya Marco mulai sensitif.


"hah?" Icha malah kaget dengan pertanyaan aneh suaminya. "Kok nanyanya gitu? Ya, nggaklah... aku hanya bosan di kamar terus. Di luar kan enak, rame sama yang lain." Sanggah Icha tetap dengan suaranya yang lembut mendayu membuat Marco semakin ingin mengurungnya di kamar.


"Ya, berarti kamu bosan dong sama aku?" Marco kekeh menuduh Icha. Icha menggeleng cepat.


"Bukan gitu, sayang." Bad mood yang ditunjukkan Marco benar-benar membuat ia terlihat berbeda. Pribadi garang dan datar tak terlihat lagi. Marco menjadi laki-laki yang sensitif dan terkesan manja.


Icha mengelus lembut perutnya. Ia tersenyum bahagia. Dengan kehamilannya, Marco menjadi lebih membutuhkan Icha dan lebih ingin dekat dengan istrinya.


"Nggak enak sama yang lain. Mending kita bergabung sama mereka supaya ramai." Icha masih menjelaskan dengan sabar dan lembut. Laki-laki itu akhirnya mengalah. Ia bangun dan memberi kecupan di kening Icha.


"Aku ke kamar mandi dulu." Ijin Marco. Icha melihat punggung suaminya sampai menghilang masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


"Kayaknya kita harus lebih bersabar lagi menghadapi papa kamu, nak. Papa jadi lebih sensitif dan cepat tersinggung sekarang." Icha mengajak bicara janin dalam kandungannya.


Ia tersenyum bahagia.


__ADS_2