Cukup Di Hati Saja

Cukup Di Hati Saja
Makan siang berdua


__ADS_3

Hari-hari Marco menjadi berwarna setelah Icha menjadi kekasihnya. Gadis cantik itu ternyata memiliki hati yang sangat lembut dan gampang tersentuh. Tapi, ia bukan tipe perempuan yang manja. Icha tipe perempuan dewasa dan selalu berpikir positif. Namun, ada satu yang mungkin belum diketahui Marco adalah Icha paling suka menyimpan segala sesuatu yang menyakitkan hatinya seorang sendiri. Ia tidak suka berbagi ke orang-orang yang dekat di sekitarnya hal-hal yang bersifat pribadi.


Marco duduk termenung di ruang kerjanya. Ada satu hal yang sekarang harus ia hadapi. Ia belum berani jujur pada Icha bahwa sebenarnya ia masih menjalin hubungan dengan Valencia. Walau pun Marco sudah tidak menganggap model internasional itu sebagai kekasihnya, tetapi Valencia Sebaliknya. Wanita seksi itu merasa hubungannya dengan Marco baik-baik saja.


Bukan karena sudah ada Icha di hatinya. Namun, dari awal menjalin hubungan Marco merasa hambar-hambar saja. Itu karena kesibukan Valencia sebagai modal internasional yang mengharuskan ia lebih sering ke luar negeri.


Saat ini saja perempuan seksi berada di Paris. Padahal sebelumnya ia baru saja tiba dari Jepang. Ia hanya bertemu Marco beberapa jam dan harus bersiap ke Paris. Mereka jarang mempunyai waktu berdua. Dan itu membuat perasaan Marco semakin lama semakin hilang.


Marco meminta pada kakek untuk tidak memberitahu keluarga besar tentang hubungannya dengan Icha. Ia masih harus menyelesaikan masalahnya dengan Valencia terlebih dahulu.


Begitu juga di kantor. Marco melarang Raymond untuk mengumumkan hubungannya dengan Icha. Setelah urusannya dengan mantan kekasihnya itu (Marco menganggapnya mantan) selesai, Marco sendiri yang akan mengumumkan hubungannya dengan Icha.


Setelah bertemu Icha di kota x sewaktu gadisnya masih SMA, membuat perasaan Marco berbeda pada gadis itu. Tanpa Icha sadari, Marco selalu memantau gadis itu lewat orang-orang kepercayaannya. Dan Marco sedikit tenang karena Icha tipe perempuan yang tenang dan dewasa di umurnya yang masih muda.


Marco harus mencari jalan terbaik untuk bisa memberitahu Icha soal hubungannya dengan Valencia. Ia tidak mau menyakiti hati kekasihnya.


tok... tok... tok...


Marco terkesiap mendengar suara ketukan pintunya.


"Masuk." Titah Marco. Pintu terbuka. Seseorang yang membuat Marco jatuh cinta masuk dan tersenyum padanya. Marco langsung bangun dari duduknya dan berjalan ke arah Icha. Ia langsung memeluk tubuh mungil kekasihnya. Icha melingkarkan tangannya di leher Marco. Moodnya kembali membaik setelah memeluk sekretaris yang merangkap kekasihnya itu.


"Sebentar lagi makan siang. Mau dipesanin apa?" Tanya Icha dalam pelukan Marco. Ia mengelus punggung Marco dengan lembut. Ini yang disukai Marco dari Icha. Gadisnya selalu memperhatikan soal makan dan minum.

__ADS_1


"Pengen makan kamu." Jawab Marco sekenanya.


"Awwww...sakit, sayang. Kok dicubit?" Protes Marco saat merasa panas di pinggangnya. Icha mendelik kesal. Marco tertawa gemas melihat wajah Icha.


"Kamu mau makan apa supaya aku order?" Tanya Icha tidak peduli sakit yang dirasakan Marco.


"Apa aja, terserah kamu. Yang penting makannya bareng kamu." Jawab Marco. Ia melonggarkan dasinya dan duduk di sofa tamu. Sedangkan Icha sibuk dengan gawainya untuk memesan makan siang mereka.


"Sebentar lagi makanannya datang." Icha duduk di samping Marco. Marco merangkul Icha dan membiarkan Icha bersandar di dadanya.


"Sayang, kakek mau ketemu kamu." Ucap Marco pelan. "Nanti malam aku jemput ya. Kita makan malam di luar." Sambung Marco.


Icha mendongakkan kepalanya melihat ke arah Marco.


"Emang nggak papa? Aku takut mr. LG marah karena hubungan ini." Lirih Icha pelan. Ia kembali menyandarkan kepalanya pada dada Marco.


"Mencurigai? Emang kamu kenapa?" Tanya Icha penasaran sambil menatap Marco. Jarak mereka sangat dekat. Marco mengendikkan bahunya.


"Mungkin kakek melihat tanda-tanda orang sedang jatuh cinta pada diriku." Ucap Marco jujur. Icha langsung menutup mulut dan menahan tawanya.


"Kenapa ketawa?" Tanya Marco sengaja kesal. Tangannya turun memeluk pinggang Icha dari samping.


Icha langsung tertawa lepas. Marco terpana melihat betapa cantik wajah gadisnya itu. Tanpa polesan yang berlebihan, dengan bentuk bibir yang menggoda.

__ADS_1


"Lucu aja membayangkan wajah kamu kalau lagi jatuh cinta." Tukas Icha diringi dengan tawa. "Kamu bisa juga jatuh cinta ya? Aku kira kamu nggak punya perasaan. Abisnya kamu cuek banget, dingin, datar lagi." Cecar Icha sewot. Marco mencubit kecil pinggang Icha, membuat gadis itu tertawa terbahak-bahak karena merasakan geli.


Tok... tok... tok..


Mereka langsung terdiam. Icha menutup mulut menahan tawanya. Setelah ketukan kedua, Icha segera bangun dari duduknya. Ia merapikan bajunya. Ia tidak mau ada yang tahu tentang hubungannya dengan CEO perusahaan tempatnya bekerja. Ia takut dianggap sebagai perempuan yang gila harta dan sebagainya. Maklumlah, ia hanya gadis daerah yang karena kecerdasannya dipilih untuk bekerja di perusahaan bonafit seperti ini.


"Tuan, ini pesanan anda." Seorang office girl mengantarkan makanan pesanan Icha tadi. Ia melirik sebentar pada Icha yang sedang berdiri sopan di samping pintu setelah nembukakan pintu. Lirikannya agak sedikit aneh. Icha hanya tersenyum.


"Letakkan di meja." Perintah Marco kembali dingin. "Kamu boleh keluar." Lanjutnya setelah OG itu meletakkan pesanan makanan. OG dengan menunduk hormat membalikkan badan hendak ke luar. Ia masih sempat melirik ke Icha sebelum keluar. Tatapannya agak aneh, menurut Icha. Tetapi, dasarnya Icha yang tidak mau berpikir negatif tentang orang lain, ia hanya membalas tatapan itu dengan senyuman tulus.


Setelah itu, Icha segera menutup pintu dan menyiapkan makan siang mereka. Marco mengambil handphone di atas meja kerjanya dan menghubungi seseorang.


"Ray, aku tidak ingin diganggu saat jam istrahat." Tanpa menunggu balasan, Marco langsung memutuskan panggilannya. Biasanya, di jam istrahat begini ada saja klien yang mengajaknya makan siang di luar. Tetapi, hari ini ia tidak ingin diganggu. Dan itu akan menjadi urusan Raymond untuk menolak ajakan makan siang klien-klien perusahaan.


"Udah, sayang?" Tanya Marco melihat Icha masih sibuk menyiapkan makan siang mereka. Ia kembali duduk di sofa.


"Udah..." Jawab Icha sambil tersenyum manis. "Maaf ya, takutnya makanan ini nggak sesuai sama selera kamu." Lanjutnya sambil mengerutkan hidungnya. Marco tertawa dan langsung mengecup bibir cantik itu.


"Apa yang kamu siapkan, aku akan makan." Ucap Marco. Icha memukul lengan Marco pelan setelah laki-laki itu tiba-tiba mengecup bibirnya. Ia mengerut kesal. Marco tertawa.


"Kamu harus terbiasa, sayang... Sekarang hobi baru aku ya mengecup bibir kamu." Tandas Marco tidak peduli pada kekesalan Icha. "Sekarang makan... kalau nggak aku cium lagi nih." Ancam Marco karena Icha belum bergerak makan. Icha segera mengambil bagiannya, berdoa dan mulai menikmati makan siangnya bersama kekasih hati.


Mereka makan dalam keheningan. Icha melihat Marco yang dengan lahap menikmati makanannya. Ia tersenyum tipis. Matanya mulai berair. Ia sama sekali tidak menyangka, laki-laki yang ada di sampingnya ini akan mengisi hari-harinya. Laki-laki yang sudah mengisi hatinya sejak dulu dan ia hanya menyimpan perasaan cintanya dalam hati saja. Tidak ada yang tahu.

__ADS_1


Cukup di hatinya saja.


Sekarang ia sudah bisa meraih cintanya. Ia berjanji dalam hati akan menjaganya dan mengutamakan kepercayaan dan komunikasi dalam hubungan ini.


__ADS_2