
Setelah Leon pamit ke perusahaan, Haris dan Rossa pun segera menuju resto untuk membantu para pelayan memasak dan menyiapkan segala menu makanan. Walaupun mereka adalah pemilik resto ini namun Haris dan Rossa tidak pernah menganggap remeh para pelayan dan selalu ikut membantu memasak bahkan mencuci piring sekalipun.
Ayu yang mengintip di balik jendela kamar melihat mobil Leon sudah pergi meninggalkan rumahnya hanya bisa mendesah berat. Namun, ia lega karena akhirnya ia bisa menahan diri untuk tidak bertemu laki-laki itu.
Berbeda dengan Leon yang kecewa dengan sikap Ayu. Bahkan ia bingung dan sampai saat ini ia masih tidak mengerti apa yang menjadi penyebab hingga wanita itu terus menghindar darinya.
Setelah memarkirkan mobil di halaman parkir khusus pimpinan, Leon keluar dari dalam mobilnya dengan wajah datar. Ia membanting sedikit keras pintu mobil dan melangkah menuju lift pimpinan. Beberapa sekuriti yang sedang bertugas tersentak kaget mendengar bunyi bantingan pintu mobil tersebut namun mereka hanya saling memandang tanpa berani membuka mulut.
"Moodnya lagi jelek." Bisik Anton yang merupakan seorang sekuriti pada teman kerjanya, Dadang.
"Sssst.... nggak usah ngomong yang aneh-aneh kalau nggak mau dipecat." Dadang menolak pelan kepala Anton lalu pergi meninggalkan temannya itu dengan wajah kusut.
Sesampai di lantai 25, Leon keluar dari dalam lift.
"Leon." Suara Marco terdengar memanggil nama putranya. Namun ia mengerutkan kening melihat wajah datar Leon. Sebagai ayah, tentunya Marco sangat mengenal karakter anak laki-laki kebanggaannya. Ia tahu jika saat ini mood Leon sedang tidak baik.
"Ada apa?" Tanya Marco.
Leon menatap mata sang ayah lalu menunduk sebentar.
"Ayu masih menghindarimu?" Tebak Marco yakin bahwa ini pasti masalah hati.
Leon tak menjawab hanya mengangguk pelan.
"hahahahahahaha..." Bukannya prihatin, malah Marco tertawa seolah mengejek putranya.
Dengan kesal Leon pergi meninggalkan Marco dan masuk dalam ruangan kerjanya. Ia membanting tubuh pada sofa tamu dan melonggarkan dasi dengan kasar.
Untung saja Marco yang menertawainya, coba saja Rayhan atau pun orang lain maka dipastikan Leon akan membuat orang itu menyesal karena sudah menghina dirinya.
"Dengarkan papa...." Marco yang ikut masuk dalam ruangan Leon lalu duduk di sampingnya. "Menghadapi wanita jangan hanya menggunakan hati. Kamu akan cepat terenyuh dengan kelembutan dan airmata mereka. Pakai juga logikamu." Marco mencoba memberi nasehat. Leon masih diam.
"hmmmm..." Marco menarik napas berat. "Ternyata hanya wajah dan otakmu saja yang menurun dariku, sedangkan hati lembutmu itu benar-benar menurun dari istriku." Ia sengaja mencairkan suasana agar Leon bisa sedikit terhibur. Dan benar saja. Leon tertawa pelan mendengar ledekan Marco. Ia pun menyadari bahwa setiap kali wajah sendu Ayu diperlihatkan maka hatinya mulai terenyuh dan tidak sanggup untuk berbuat kasar pada gadis itu. Semua rencana di otak untuk membuat Ayu kesal atau marah lenyap seketika.
"Paksa dia untuk mengakui cintanya padamu. Papa yakin, dia juga menaruh hati padamu. Tetapi dia tidak percaya diri karena status kalian berbeda." Ujar Marco mantap seakan ia sudah bisa membaca sikap Ayu pada Leon.
"Kenapa harus status yang dipermasalahkan?" Tanya Leon tidak percaya ucapan Marco. "Aku bahkan tidak pernah berpikir tentang status." Lanjutnya kesal.
Marco tertawa kecil. Ia menepuk pundak Leon beberapa kali.
__ADS_1
"Itu yang kamu pikirkan, nak. Belum tentu sama dengan yang dipikirkannya." Timpal Marco. "Kalau kamu hanya mengikuti hatimu ya kamu akan kecewa terus dengan sikap Ayu." Cibir Marco lalu ia bangun dari duduknya hendak keluar dari ruangan Leon.
"Oh iya... " Marco menghentikan langkah ketika mengingat sesuatu dan berbalik melihat ke arah Leon. "kalau kamu sudah menyerah untuk mendapatkan Ayu, lebih baik kamu dekati Sakura, cucu tuan Tanaka itu. Papa yakin kalau kamu akan dengan mudah mendapatkannya. Dia sudah jatuh hati padamu." Ledek Marco lalu keluar begitu saja.
"Ck...." Leon hanya bisa berdesis kesal. Ia bersandar pada sandaran sofa. "Memang betul kata papa, aku paling tidak bisa melihat wajah cantik itu bersedih." Gumamnya pada diri sendiri.
"Oh, Tuhan... apa maunya makhlukMU yang satu itu? Benar-benar membuat aku gila dengan tingkahnya." Desahnya sambil mengusap kepalanya dengan kasar.
Leon menarik napas panjang dan membuangnya perlahan sambil sejenak menutup mata berusaha mengembalikan konsentrasi untuk mulai bekerja. Banyak file yang harus diperiksa bahkan diperbaiki.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ayu sibuk memasukkan beberapa pakaian dan keperluannya ke dalam koper kecil. Tiga jam lagi ia dijemput dokter Ella untuk berangkat ke desa Sukamaju di kabupaten Bandung yang jaraknya bisa mencapai 100km lebih dari Jakarta.
Dokter Ella adalah seorang dokter senior yang bekerja di rumah sakit umum kota Jakarta di mana rumah sakit itu menjadi tempat praktek Ayu sewaktu masih semester 6 dulu. Ia sangat menyukai perangai Ayu dalam menghadapi pasien. Bukan hanya itu, namun kecerdasan Ayu sebagai mahasiswi kedokteran sudah tidak bisa diragukan lagi. Maka dari itu, setiap bulan pasti dokter Ella mengajak Ayu melakukan pemeriksaan sukarela ke kampung-kampung yang jauh dari jangkauan medis.
"Berapa lama di sana?" Tanya Ninda yang membantu Ayu menyiapkan segala keperluannya.
"Seperti biasa aja, Nin. Paling lama tiga hari. Hari ke empat sudah balik ke Jakarta." Sahut Ayu lembut. Ninda mengangguk.
"Sepi deh tiga hari nggak ada kamu." Keluh Ninda sedih. Ayu tersenyum lucu melihat wajah gemas sahabatnya itu.
"Ck... tetap aja sepi." Ninda membaringkan tubuh ke atas tempat tidur dan kakinya tetap terjuntai ke lantai. "Aku pikir dengan kepulangan kak Leon, aku bisa punya teman ngobrol di rumah. Eeeh... tau-taunya sekarang kak Leon malah lebih sibuk dari papa." Sungut Ninda manyun.
Ayu hanya tersenyum tipis mendengar nama laki-laki yang ia cintai disebut oleh sahabatnya.
"Eh, Yu..." Seru Ninda sembari bangun dari tidur dan duduk menghadap Ayu yang masih sibuk mengatur pakaian di atas tempat tidur juga. "Kak Leon lagi dekat sama Sakura, cewek Jepang yang cantiknya pake banget." Sambungnya bersemangat. "Mana bodinya yang aduhai..." Ninda memperagakan bentuk badan Sakura seumpama sebuah gitar dengan kedua tangannya.
Ayu terdiam. Tangannya sibuk menyimpan peralatan mandi dalam sebuah tas kecil. Jujur, ia sama sekali tidak ingin mendengar lanjutan cerita dari Ninda tentang Leon dan perempuan itu.
"Yu...." Sentak Ninda menepuk tangan Ayu. "Kamu dengar nggak sih yang aku cerita tadi?" Protesnya kesal.
"Iya, dengar. Cerita aja aku dengar kok." Ucap Ayu berusaha untuk tetap tersenyum.
"Kamu udah lihatkan video yang aku kirim malam itu?" Tanya Ninda. Ayu mengangguk. "Nah, kamu lihat si Sakura itu kan? Gimana? Cantik nggak? Seksi loh orangnya." Bertubi-tubi pertanyaan dari Ninda tentang Sakura seakan menuntut Ayu untuk ikut mengakui kecantikan Sakura.
"Iya, cantik sekali. Cocok sama kak Leon." Dengan hati berat Ayu harus mengakui itu. Toh dia bukan siapa-siapanya Leon. Bahkan laki-laki itu tidak menganggapnya ada.
"Aku yakin kak Leon juga pasti suka sama dia. Hanya aja kak Leon masih sok jual mahal. Kaku dan dingin banget sama Sakura." Dengan semangat Ninda terus bercerita tentang Sakura dan jamuan makan malam keluarga Guatalla dan Tanaka malam kemarin.
__ADS_1
"Kalau kak Leon nikah di Jepang nanti kita ke sana, ya? Aku akan ngomong sama mama supaya kamu juga ikut." Seru Ninda berkhayal.
"Mereka mau menikah?" Tanya Ayu tak percaya.
"Ya kalau mereka sudah dekat dan resmi pacaran pasti akan segera menikah." Sahut Ninda dengan yakin. "Papa sudah pengen gendong cucu, soalnya." Sambungnya lagi dengan riang.
Ayu tersenyum kecut. Ia merasa seperti ribuan paku menancap di sekujur tubuhnya hingga membuat ia lemas karena kehabisan darah. Ia juga menahan sekuat tenaga agar tidak ada air mata yang mengalir hingga membuat Ninda curiga.
"Ya sudah... kita makan, yuk." Tak ingin berlama-lama di kamar dan mendengarkan lebih banyak lagi cerita tentang Leon dan perempuan itu, Ayu segera mengajak Ninda makan siang. "Sejam lagi dokter Ella datang." Lanjutnya lalu melangkah keluar kamar menuju meja makan.
Mereka pun makan siang bersama tanpa Rossa dan Haris yang masih sibuk di resto. Apalagi ini jam makan siang, sudah pasti resto akan kebanjiran pelanggan.
Tepat pukul dua siang, mobil dokter Ella memasuki halaman rumah Ayu.
"Ayo, yu...." Ajak dokter baik itu ketika melihat Ayu membuka pintu rumah. "Eh... ada Ninda. Ikut juga?" Seru dokter Ella tampak senang.
"Tidak, dok. Hanya mengantar Ayu saja." Jawab Ninda sopan.
"Yaaaa.... kenapa sih Nin, tidak pernah mau ikut kita ke desa-desa untuk melayani di sana?" Tanya dokter Ella dengan nada sedih.
Ninda tertawa pelan.
"Lain kali pasti aku ikut, dok." Janji Ninda.
"Ya, sudah... kita berangkat ya." Pamit dokter Ella pada Ninda.
Setelah memasukkan koper kecil dan satu kantong plastik makanan ringan dan minuman dingin ke dalam bagasi mobil, Ayu meminta ijin untuk pamit pada orangtuanya.
Tidak sampai lima menit Ayu berpamitan pada orangtuanya, mobil sedan mewah milik dokter Ella menghilang dari pandangan mata. Ninda pun pamit pada Rossa dan Haris untuk pulang.
"Mamaaaaa..." Terdengar suara teriakan Ninda menggema dari ruang tamu rumah mewah itu dan berlanjut ke ruang keluarga.
"Kenapa, non? Kebiasaan suka teriak-teriak." Omel Hartini pada majikan muda itu. Namun hubungan antara mereka bukan lagi hubungan tuan dan majikan melainkan sudah seperti keluarga sendiri. Karena itu, ketika Ninda diomeli Hartini, gadis cantik itu malah tertawa dan menggoda Hartini.
"Hai, bi.... tambah cantik aja." Goda Ninda sambil mencolek dagu wanita separuh baya itu. "Mama mana?" Tanya Ninda. Ia merangkul tangannya pada pundak Hartini.
"Lagi di kamar. Mungkin lagi istirahat. Makanya non jangan teriak-teriak." Celetuk Hartini sambil menaruh jari telunjuk di bibirnya. Ninda mengangguk patuh mendengar ucapan Hartini.
Ia pun masuk dalam kamarnya dan beristirahat.
__ADS_1