
"Siapa nama cicit kakek ini?" Mr. LG alias kakek datang mengunjungi Valencia di rumah sakit setelah mengetahui informasi dari Raymond. Sedangkan, Marco dan Raymond akan datang berkunjung setelah meeting siang nanti.
Kakek tidak sendiri. Icha dan baby Leon juga ibu dari Rama pun ikut ingin melihat cucu pertamanya. Kondisinya sudah membaik pasca operasi tumor lambung beberapa waktu yang lalu.
"Namanya Rava Pramudya Soediro." Sahut Rama bangga.
"Wah... nama yang bagus." Puji kakek sambil menggendong bayi mungil itu. "Tampan seperti ayahnya." Puji kakek membuat Valencia tertawa.
"Iya, kek... lihat aja wajahnya nggak ada miripnya sama aku. Semua persis ayahnya." Sungut Valencia bercanda.
"hahahaha Ya iyalah... karena cicit kakek ini tau kalau ayahnya seorang yang baik dan bertanggung jawab." Jawab kakek sekenanya sambil terus menatap senang pada baby Rava. Kakek tak menyadari jika ucapannya sudah membuat Riska kikuk dan salah tingkah akibat sikap dan tuduhannya yang keji pada menantunya selama ini. Namun, dengan mata kepala sendiri ia melihat bagaimana Valencia dan bayinya sudah sangat terikat pada Rama.
"Bagaimana kabar ibu Nurhayati?" Tanya Christo pada besannya yang langsung disambut dengan senyuman ramah.
"Alhamdulillah... sudah semakin membaik, pak. Saya harus sehat untuk melihat Rama bahagia. Apalagi sudah ada cucu ini." Sahut ibu Nurhayati tak kalah senang melihat calon penerus Soediro sedang tertidur pulas. Riska tak menjawab. Wajah tak senangnya masih nampak, namun Nurhayati tak begitu peduli. Dari awal pernikahan putranya ia sudah mendapatkan perlakuan tak baik dari besannya tetapi itu bukan suatu hal yang aneh lagi buat perempuan paruh baya itu. Kehidupan keras yang sudah bertahun-tahun ia jalani bersama Rama sudah membentuk mereka menjadi manusia kuat.
"Selamat siang." Semua mata langsung mengarah ke suara itu. Ternyata, Marco dan Raymond yang datang. Melihat papanya, baby Leon langsung meronta dalam gendongan Icha dan mengulurkan tangan pada Marco.
"Papapapapa..." Dengan lidah cadelnya baby Leon sangat senang memanggil sang papa. Ia tertawa senang ketika sudah berada dalam gendongan Marco.
"Hai, Ram... selamat, ya." Rama menyambut pelukan Marco dengan hangat. Tak ada jarak antara mereka. Tak ada kesenjangan sosial yang mereka tunjukkan. Marco memeluk Rama erat seakan ikut merasakan kebahagiaan asisten yang sudah dianggap saudara.
"Makasih, tuan..." Rama menjawab dengan senyum bahagia. Sebenarnya, Marco sudah meminta Rama dan Raymond untuk tidak memanggilnya tuan, namun dua asisten itu menolak. Mereka tetap ingin memanggilnya tuan sebagai tanda penghormatan mereka padanya.
"Ada yang ingin aku bicarakan." Ucap Marco serius. Ia menyerahkan baby Leon pada Icha lalu mengecup pipi kedua orang kesayangannya tanpa peduli pandangan mata orang-orang di dalam kamar VIP rumah sakit itu. Riska kaget melihat Marco begitu mesra pada Icha, wanita yang sudah berhasil merebut hati dingin Marco dari Valencia.
Marco berjalan ke arah balkon kamar diikuti Raymond dan Rama. Valencia hanya melihat gelagat mereka. Ada hal yang ia takutkan terjadi akibat sikap dan tingkah lakunya dan juga Riska. Sedangkan kakek dan Christo lebih suka asyik bercerita sendiri tentang perusahaan.
"Raymond sudah mengurus apartemen untuk tempat tinggal sementara kamu dan Val." Kata Marco tanpa basa basi. "Sebaiknya kamu tinggal terpisah dari mertuamu. Bukannya mau ikut campur urusan kamu, aku hanya membantu menjaga hubungan kalian." Lanjutnya serius.
"Tapi, tuan... maaf, sudah merepotkan anda." Lirih Rama tak enak hati. Ia tak menyangka diperhatikan Marco sedemikian rupa.
"Ck... Aku akan membelikanmu rumah mewah jika kau ingin dan itu tidak akan merepotkanku. Hanya saja aku tau, kau pasti tidak akan mau menerima rumah pemberianku." Sahut Marco menyanggah rasa tak enak Rama.
"Setelah keluar dari sini, kau bisa langsung ke apartemen. Aku akan mengantarmu. Jangan kuatir soal isinya. Semua perlengkapan sudah lengkap di sana. Bahkan aku juga membelikan beberapa pakaian untukmu. Kau cukup membawa barang-barang istrimu dan juga baby Reva yang sudah kalian siapkan. Beberapa barang baby Reva juga sudah ada di apartemen." Raymond menjelaskan panjang lebar tentang isi apartemen mewah pemberian Marco. Rama memgangguk pelan.
"Sudahlah... tidak usah berpikir yang aneh-aneh. Sekarang kamu harus membangun rumah tanggamu tanpa bayangan mertua kamu." Marco menepuk pundak Rama lalu pergi begitu saja. "Jangan lupa ajak ibumu. Selain istri dan anak, tanggung jawab pada ibu Nurhayati juga jangan diabaikan." Marco berbalik menatap tajam pada Rama. Tentu saja Rama mengangguk cepat. Ia tak mungkin mengabaikan orangtua yang sudah banyak berkorban untuk hidupnya.
"Ayo, bro... semangat! Demi anakmu." Bisik Raymond menguatkan Rama. "Siapa tau sikap Valencia berubah setelah kalian terpisah dari orangtuanya." Lanjut Raymond. Rama tersenyum dan mengangguk senang karena seketika ia teringat kembali sikap Valencia saat hendak melahirkan kemarin. Namun, Rama belum mau bersenang hati terlalu tinggi, takut apa yang ia bayangkan hanya semu belaka. Siapa tahu sikap Valencia tadi hanya sekedar agar ia bisa melahirkan dengan cepat tanpa halangan.
"Aku dan Raymond tidak bisa berlama-lama. Kami harus kembali ke perusahaan." Suara Marco membuat semua mata kompak beralih menatapnya.
"Baik, nak... terimakasih sudah datang melihat cucu om." Sahut Christo. "Om mau minta izin untuk Rama mungkin belum bisa masuk kerja beberapa hari ke depan." Lanjutnya. Marco tersenyum.
"Jangan kuatir, om. Rama memang harus menemani Valencia terlebih dahulu. Aku juga sudah bicara padanya soal itu." Ucap Marco tetap dengan gaya coolnya. "Aku pamit." Ia mendekati Icha yang sedang menggendong baby Leon. "Jangan nakal, boy. Jaga mama." Sekali lagi ia mengecup pipi putra dan istrinya di depan semua mata. "Kakek juga cepat pulang. Harus banyak istrahat." Tanpa basa basi lagi Marco segera berbalik dan keluar dari ruang itu diikuti oleh Raymond.
"Dasar anak nakal!" Celetuk kakek kesal melihat tingkah Marco, namun ia tak benar-benar kesal. Justru ia senang, karena perhatian Marco tak berubah dari dulu sampai sekarang.
"Cucu anda benar-benar luar biasa. Anda sangat beruntung mendapatkan cucu sepertinya." Tutur Christo. Tentu saja kakek mengangguk semangat mendengar penuturan Christo.
__ADS_1
"Sangat. Aku sangat bangga memiliki cucu seperti dia. Dari dulu sampai sekarang ia tidak pernah berubah. Perhatiannya padaku selalu sama. Malah semakin menjadi setelah ia menikahi perempuan luar biasa ini." Kakek merangkul Icha yang sedang duduk di sampingnya. Icha tersenyum haru mendengar ucapan kakek. Berbeda dengan Riska, entah ekspresi apa yang ia tunjukkan. Yang pasti ia merasa tersindir dengan ucapan kakek namun tak bisa membantah.
Rama melihat perubahan pada wajah Valencia. Ia menyadari jika Valencia merasa malu mendengar ucapan kakek. Seakan ia bukan perempuan yang luar biasa untuk Marco.
"Kamu luar biasa untukku dan juga anak kita." Segera Rama berbisik pada istrinya. Ia tak ingin Valencia larut dalam kesedihan karena itu bisa mempengaruhi produksi asi untuk baby Reva. Karena ibu menyusui tidak boleh kehilangan mood bahagia.
Mendengar bisikan Rama, airmata haru Valencia mengalir membasahi pipi. Namun, karena tak ingin semua melihat ia segera menghapusnya.
"Oek... oek... oek..."
Semua dikagetkan oleh suara bayi mungil yang tertidur di box samping tempat tidur Valencia.
"Aduuuh... cucu oma kok nangis." Rama yang hendak mengambil baby Reva akhirnya terdiam di tempat saat melihat Riska sudah terlebih dahulu menggendong bayinya. "Kenapa sih? Lapar, ya? Mau *****?" Terlihat Riska begitu bahagia dengan kehadiran bayi Valencia. Ia menyerahkan baby Reva pada Valencia untuk diberikan asi.
Semua gerak gerik keluarga ini ternyata menjadi perhatian kakek dan Icha. Cucu dan kakek mertua itu saling tatap lalu melemparkan senyuman senang melihat Riska dan valencia sudah lebih kalem pada Rama.
"Waaah... laper banget rupanya. Nenennya kencang sekali." Icha yang sedari tadi terdiam tanpa kata akhirnya tak tahan juga melihat lucunya baby Reva menyedot asi dengan semangat.
"Iya ya... lapar banget, ya?" Christo tertawa melihat cucunya.
"Waaah... Rama, anak ini benar-benar fotokopi kamu, ya." Celetuk kakek yang baru menyadari wajah baby Reva sangat mirip papanya. "Mau dilihat dari arah mana saja tetap persis kamu." Sambung kakek dengan tawa lucu.
"Gimana tidak mirip papanya, tuan... baby imut ini tidak mau keluar dari perut mamanya kalau tidak ditemani sang papa." Suara dokter wanita yang membantu Valencia melahirkan tiba-tiba terdengar di balik pintu. "Salam, mr. LG." Ia menunduk hormat melihat sosok pengusaha senior yang disegani di seantero kota Jakarta. "Saya harus memeriksa pasien. Kalau sudah membaik, bisa langsung pulang sore ini." Valencia tersenyum bahagia membayangkan bisa kembali ke rumah dan menjalani kesibukan mengurus baby Reva. Selama dua hari di rumah sakit Riska yang selalu mengurus anaknya.
"Tapi baru dua hari, dok... apa tidak kenapa-kenapa kalau bayi dan ibunya pulang lebih cepat?" Tanya Rama kuatir.
"Iya... dan bayinya harus hidup sama orang sehat. Supaya nggak terjangkit penyakit-penyakit aneh. Iya kan, dok?" Ketus Riska pada dokter. Rama menatap tajam pada Riska.
"Pastinya, bu... bayi ini ibarat kertas putih tak bernoda. Jika kita mencoret dengan pensil pasti tidak akan bersih lagi kertas putih itu. Begitu juga dengan bayi yang baru lahir, masih sangat bersih dan belum terkontaminasi virus atau bakteri apapun. Apalagi imun tubuh yang belum maksimal pada bayi sangat rentan terkena penyakit dari orang di sekitar." Penjelasan dokter membuat Riska tersenyum sinis menatap Nurhayati.
"Baik, dok. Kami akan menjaganya dengan baik." Valencia membuka suara membalas penjelasan dokter. Ia menyadari perkataan ibunya sudah menyinggung perasaan Rama.
Dokter segera memeriksa keadaan Valencia dan bayinya. Tatapan Rama masih sama seperti tadi saat mendengar ucapan sarkas Riska, namun ibu Nurhayati menggenggam tangan Rama untuk memberi kesabaran pada putra semata wayangnya.
"Cucu oma mau pulang ke rumah, ya... udah nggak tahan untuk pulang, ya..." Riska menggendong baby Reva setelah diperiksa dokter.
"Valencia dan bayi kami akan aku bawa ke apartemen."
Seperti disambar petir di siang bolong, betapa terkejutnya Riska mendengar ucapan Rama. Ia menatap nyalang pada menantu yang tak diakuinya itu. Christo dan kakek sempat terkejut, namun itu bukan hal yang perlu diperdebatkan menurut mereka. Karena Rama berhak membawa ke mana saja anak dan istrinya.
"Apa kamu bilang? Kamu mau membawa Valencia dan cucuku ke apartemen?" Sergah Riska tak terima. "Apartemen apa yang kamu maksud? Aparteman atau rumah susun rakyat jelata itu?" Sambungnya sarkas.
"Riska!" Bentak Christo marah tak terima dengan penghinaannya pada Rama.
"Apa, pa?" Sahut Riska tak kalah garang. "Kamu dengar sendiri kan dia mau membawa anak dan cucu kita! Mama nggak akan pernah mau laki-laki miskin ini membawa Val dan bayinya. Memangnya dia sanggup menghidupi istri dan anak dengan menjadi babu pada Marco? Cucu mama membutuhkan gizi untuk bertumbuh, pa. Dia juga membutuhkan lingkungan yang sehat. Memangnya kamu bisa memberikan itu semua, hah?" Serang Riska dengan sombong. Christo memijit pelipis tak kuat mendengar kata-kata Riska, apalagi ia malu pada mr. LG yang masih ada bersama mereka.
"Ma... sudahlah. Jangan ribut. Malu didengar orang." Ujar Valencia menegur Riska.
"Cepat packing semua barang, pa. Kita pulang!" Ketus Riska sambil menggendong baby Reva.
__ADS_1
"Tidak ada yang lebih berhak atas istri dan anakku selain aku selaku suami dan ayahnya." Suara dingin Rama mulai terdengar. "Walaupun anda ibu kandung Valencia, namun aku yang berhak atas hidup anak anda." Lanjutnya datar. Raut wajahnya terlihat menyeramkan. "Tinggal di bawah kolong jembatan pun, mereka akan tetap ikut bersamaku." Tambahnya sinis.
"Jangan kepedean kamu. Kamu pikir Valencia mau ikut laki-laki miskin seperti kamu?!" Hardik Riska geram.
"Riska, cukup! Jangan keterlaluan kamu." Geram Christo. Sungguh, ia sangat malu pada mr. LG yang sedari tadi hanya menggeleng kepala sambil menyimak pertengkaran mereka.
"Maaf, nyonya... untuk kali aku akan benar-benar menentang anda. Aku tetap pada keputusanku untuk membawa istri dan anakku ke apartemen." Rama tak ingin melanjutkan perdebatan lagi. Ia mengambil tas dan mengisi semua barang Valencia dan baby Reva.
"Jangan gila kamu! Aku tidak akan mengijinkan kamu membawa mereka..."
"Ma... cukup!" Potong Valencia kesal. "Aku akan mengikuti suamiku kemana pun ia membawa kami pergi, ma."
Deg!
Riska terdiam. Tak pernah terbayangkan jika Valencia akan lebih memilih Rama dari pada dirinya sebagai seorang ibu.
"Jangan gila kamu!" Sentak Riska tak terima.
"Dari mana kamu melihat seorang istri mengikuti suaminya disebut gila?" Christo pun bersuara. "Kamu tidak menyadari kalau sebenarnya kamu yang sudah tidak waras karena melarang istri mengikuti suaminya. Berhenti, Riska. Sebelum aku benar-benar berlaku kasar padamu!" Ancam Christo menahan Riska yang hendak membuka suara. "Siapkan semua barang-barang, Rama. Papa akan memgantar kalian ke apartemen."
Dengan tersenyum tipis, Rama mengangguk dan segera membereskan semua barang yang perlu dibawa.
"Maafkan keluarga saya, tuan..." Dengan tertunduk malu, Christo duduk di samping kakek dan meminta maaf atas semua kekacauan yang dibuat istrinya.
"Kamu harus tegas pada Riska. Jika tidak, ia yang akan menghancurkan keluarga kecil putrimu." Ucap kakek pelan berusaha supaya Riska tidak mendengarnya. Lalu, laki-laki tua minta diri untuk pamit.
"Kamu benar mau mengikuti laki-laki miskin ini, Val?" Riska masih juga tak percaya atas keputusan Valencia.
"Iya, ma... aku akan mengikuti Rama." Riska tertawa sinis pada Valencia.
"Lihat saja nanti... pasti kamu akan menyesal karena melawan perintah mama." Ketus Riska lalu pergi dengan amarah. Christo hanya menggeleng dan menarik napas berat. Sikap Riska benar-benar sudah di ambang batas.
"Maafkan mama, Rama..." Ujar Christo. Rama hanya tersenyum.
"Iya, pa..." Sahutnya pelan.
"Ayo, kita pulang."
Rama mengangkat dua tas pakaian milik istri dan anaknya. Valencia menggendong jagoan kecilnya.
"Sini... papa pegang tasnya. Kamu jaga istri dan anakmu." Tak menunggu jawaban Rama, Christo langsung mengambil alih dua tas di tangan Rama dan keluar dari kamar VIP itu.
Rama salah tingkah. Ia masih canggung jika berduaan dengan Valencia. Maklum, hubungan mereka memang diawali dengan kebencian dan amarah.
"Ayo, papa... kok ngelamun."
Deg!
Papa.... Valencia memanggiku papa? Apa aku nggak salah dengar?
__ADS_1