
Pukul 7 lebih 15 menit malam mobil sedan mewah yang ditumpangi Ayu dan seorang dokter cantik memasuki halaman sempit sebuah gedung kecil bercat hijau terang. Mereka langsung disambut kepala desa bersama perangkatnya yang sudah menunggu di Pustu desa.
"Selamat datang, dokter.... kami sangat senang dan berterimakasih atas kebaikan dokter untuk rela datang dan melayani kami di sini." Ucap kepala desa menyambut positif tujuan dokter Ella datang.
"Sama-sama, pak.... saya juga berterimakasih karena bapak dan warga di sini mau menerima kedatangan kami." Tutur dokter Ella ramah. "Oh ya, kenalkan.. ini mahasiswi saya dan juga calon dokter." ujar Dokter Ella sambil menunjuk pada Ayu. Dengan senyum manisnya Ayu mengatupkan kedua tangan di dada dan menunduk hormat.
Semua menyambut mereka dengan senang. Dokter Ella menyuruh sang sopir untuk mengeluarkan semua obat dan alas medis untuk dipakai dalam pemeriksaan gratis esok hari.
Seorang perangkat desa wanita menunjukkan sebuah kamar berukuran kecil di dalam Pustu yang rapi dan bersih untuk dipakai dokter Ella dan Ayu tinggal selama di desa ini. Sedangkan sopir dokter Ella selalu tidur di dalam mobil setiap mengantar dokter Ella ke desa-desa terpencil.
"Ya, sudah... kalau begitu kami pamit saja supaya dokter dan nona Ayu beristirahat." Imbuh kepala desa yang merupakan seorang wanita dengan tubuh sedikit gempal dan seksi.
Perjalanan yang memakan waktu hampir 8 jam itu benar-benar membuat tubuh Ayu kelelahan. Untungnya setelah masuk kabupaten Bandung, dokter Ella berinisiatif membeli makanan untuk makan malam mereka setelah sampai di desa Sukamaju nantinya. Setelah makan malam dan mandi, Ayu dan dokter Ella pun terlelap dalam satu tempat tidur.
Tapi tidak dengan Leon di Jakarta. Dengan wajah yang tidak bisa digambarkan, ia berdiri di atas balkon kamar dan memandang ke atas langit yang mulai gelap dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana.
Tok... tok... tok...
Leon tersentak kaget mendengar bunyi ketukan pintu yang tidak terlalu besar sebenarnya namun karena suasana hati yang sedang kacau membuat ia terbawa lamunan tanpa arah.
"Masuk." Perintah Leon singkat.
Terdengar suara decitan pintu kamar dibuka. Leon tetap di tempatnya tanpa ingin mencari tahu siapa yang masuk ke dalam kamar.
"Leon." Suara Marco terdengar tepat di belakang Leon. Terlihat tinggi badan antara ayah dan anak itu hampir sejajar. Gagah dan wibawa mereka pun sama.
"Papa..." Leon memutar tubuh menghadap sang papa.
Marco tersenyum melihat wajah sendu sang putra. Bukan senang karena melihat kesedihan Leon tetapi senang melihat cinta yang begitu besar yang terpancar dari sinar matanya. Cinta untuk wanita yang sudah membuat kacau hari-harinya.
"Ayu sedang ke luar kota, tepatnya ke desa Sukamaju kabupaten Bandung." Imbuh Marco dengan suara pelan. Nampak Leon sedikit kaget. "Jangan larut dalam kesedihan karena penolakan Ayu terhadapmu sampai kamu lupa dan tidak menyadari jika Ayu sudah semakin menjauh." Ujar Marco sengaja menyentil perasaan Leon. "Papa sudah perintahkan anak buah kita untuk mengawasinya di sana karena desa itu rawan akan kejahatan."
Bukan main terkejutnya Leon mendengar ucapan Marco.
"Itu artinya Ayu dalam bahaya, pa." Timpalnya panik.
"Tenang, nak..." Marco memegang pundak Leon. "Sudah ada yang menjaganya di sana. Anak buah papa akan melaporkan semua kegiatan Ayu dan akan terus memantau wanitamu itu." Sambung Marco menenangkan Leon.
Dengan gusar Leon berbalik badan dan kembali menatap langit.
__ADS_1
"Dulu papa juga harus berjuang untuk mendapatkan hati mama. Tapi papa tidak hanya menggunakan perasaan. Papa paksa mama untuk menerima cinta papa." Kenang Marco akan masa lalunya. Senyuman bahagia terlukis indah di wajah tampan itu ketika mengingat bagaimana ia gencar mengejar Icha.
Leon tertawa kecil.
"Ternyata mama sudah jatuh cinta pada papa saat masih menjadi murid papa di SMA kita di kampung mama. Tetapi sebagai perempuan yang selalu menjaga harkat dan martabat, mama menyimpan rasa itu sendiri hingga akhirnya mama bergabung pada GT Corp dan kita bertemu." Beber Marco panjang lebar menceritakan kisah cinta mereka.
"Mama juga menghindari papa karena tidak percaya diri. Karena itu papa sedikit bertindak kasar pada mama."
Leon memandang Marco dengan heran.
"Bukan kasar secara fisik." Jelas Marco cepat sebelum Leon salah paham dengan kalimatnya. "Papa tidak membiarkan mama terus menghindar karena papa langsung menodong dengan ancaman." Marco tertawa ketika mengingat masa-masa itu. Leon pun ikut tertawa pelan. "Dan akhirnya mama mengakui perasaannya pada papa." Marco melihat ke arah Leon.
"Todong dia dengan 'ancaman' maka percayalah... dia akan mengakui perasaannya padamu. Karena memang itulah wanita. Suka dikejar dan suka ditodong dengan ancaman cinta." Marco tertawa merasa lucu sendiri mendengar ucapan anehnya. Sedangkan Leon tertunduk malu mendapat ledekan sang papa.
"Ayo, kita makan malam. Kamu juga butuh energi untuk memikirkan gadismu itu." Marco tak menunggu jawaban Leon, ia sudah keluar dari kamar terlebih dahulu.
Leon masih berdiri di tempatnya dan mulai bisa tersenyum.
"Sepertinya aku akan mengikuti cara papa untuk mendapatkanmu." Lirihnya dalam hati.
Malam terus berlalu.
Sudah pukul satu pagi namun mata Leon masih belum bisa dipejam. Rasa rindu pada perempuan masa kecilnya membuat Leon resah dan gelisah.
Semua bayangan tentang Ayu ketika menghindarinya, Ayu yang tidak mau menatap matanya ketika sedang berbicara.
Leon bangun dari tidurnya dan duduk bersandar pada dashboard tempat tidurnya. Tangannya mengulur ke bagian atas kepala untuk mengambil telepon selulernya.
"Halo..." Sapa Leon setelah berhasil menghubungi seseorang. "Bagaimana keadaannya?" Tanya Leon datar dan dingin. Ia diam sesaat sambil mendengar dengan seksama laporan dari salah satu anak buah papanya yang ditugaskan menjaga dan memantau keadaan Ayu di desa kecil itu.
"Besok pagi saya akan ke sana. Siapkan mobil." Leon memutuskan panggilannya dan melempar benda kecil itu disampingnya.
"Aku harus selesaikan ini. Rasa ini benar-benar menyiksa." Cetusnya lalu kembali berbaring dengan gaya tengkurap berharap bisa segera masuk dalam dunia mimpi.
Pukul enam pagi, Leon terbangun dan segera bersiap untuk berangkat ke desa Sukamaju. Ia sudah tak bisa menahan diri untuk bertemu dan menyelesaikan masalahnya dengan Ayu.
"Pagi, ma..." Suara Leon disertai kecupan manis di pipi mengagetkan Icha yang sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk keluarga. Ia heran melihat Leon yang sudah rapi dengan celana panjang jeans biru, baju kemeja hitam yang ia gulungkan tangannya hingga di bawah sikut, jas hitam mahal dan sneaker putih yang harganya di luar nalar kaum miskin.
"Pagi, nak.... sudah rapi aja. Mau ke mana pagi-pagi gini?" Tanya Icha penasaran sambil memperhatikan penampilan putranya.
__ADS_1
"Ada tugas ke luar kota, ma." Sahutnya berbohong. "Tolong mama siapkan bekal untukku, ya." Pintanya lalu mengecup lagi pipi sang mama.
"Anak sama bapak hobinya sama ya, nyonya... suka ciumin pipi nyonya." Bisik Hartini geli melihat Leon yang adalah pemuda tampan dan terlihat dingin tetapi memperlakukan ibunya dengan sangat manis.
Icha tertawa mendengar ucapan Hartini.
"Itu yang selalu aku syukuri, bi." Imbuh Icha. Raut wajahnya terlihat sangat bahagia sekaligus bangga. "Memiliki suami dan anak-anak yang setiap hari selalu menunjukkan rasa sayang mereka pada sesama." Lanjutnya. "Padahal bibi lihat aja Marco sama Leon... orang di luar sana segan melihat mereka karena sikap mereka yang dingin dan datar." Icha tersenyum lucu membayangkan dua wajah tampan kesayangannya. "Tapi tidak ada yang tahu kalau hati mereka lembut dan penuh cinta." Tak terasa air mata Icha sedikit tergenang mengingat betapa beruntungnya ia berada di tengah-tengah orang baik.
Hartini tak menjawab. Ia merangkul pinggang Icha layaknya keluarga. Hubungan antara majikan dan pembantu sama sekali tidak terlihat di rumah mewah ini.
"Bibi juga bahagia melihat keluarga ini. Bahkan bibi sangat bangga bisa mengenal dan hadir di sini sebagai salah satu keluarga nyonya." Ujar Hartini ikut terharu.
Mereka berdua melanjutkan pekerjaan sambil terus asyik bercerita.
"Nak... ini bekalnya." Icha meletakkan bekal di atas meja dekat Leon yang sedang menunggu sambil sibuk mengutak atik laptop.
"Makasih, ma..." Jawab Leon sembari memberi senyuman manis pada sang mama.
"Sebenarnya mau kemana sih?" Tanya Icha kepo.
"Masih rahasia, ma. Nanti mama juga akan tau." Bukan Leon yang menjawab, namun suara Marco yang sudah rapi dengan jas dan tas kantornya. Leon hanya tersenyum dan tetap sibuk pada pekerjaannya.
Seperti biasa Marco langsung mengecup pipi dan kening sang istri.
"Apa sih main rahasia segala?" Ketus Icha sengaja merajuk. "Rahasia perusahaan, ya?" Tanyanya lagi.
Marco mengangguk mengiyakan apa yang ditanya Icha. Ia memang mengetahui rencana Leon untuk menyusul Ayu ke desa Sukamaju. Namun, Marco sengaja belum mau memberitahukan tentang hubungan Leon dan Ayu pada Icha. Ia ingin memberi kejutan pada istrinya itu. Karena ia yakin, Icha pasti sangat senang mendengar jika putranya sudah jatuh cinta pada Ayu, anak dari Rossa dan Haris yang merupakan mantan sopir dan asisten rumah tangga mereka.
Leon menutup laptop dan memasukkan dalam tas ranselnya.
"Aku berangkat, pa..." Pamit Leon pada Marco lalu ia memeluk Icha dan mencium kening sang mama. "Aku berangkat, nyonya Guatalla. Doain aku, ya." Bisik Leon lalu pergi begitu saja.
"Kamu tidak sarapan?" Teriak Marco.
Leon tak menjawab, hanya menunjukkan rantang bekal yang disiapkan Icha tadi.
"Dasar bucin." Gumam Marco meledek putranya.
"Bucin? Apa itu bucin, pa?" Icha mengerutkan kening mendengar kata aneh dari mulut suaminya.
__ADS_1
"Budak cinta, sayang..."