
Marco benar-benar menepati janjinya untuk melamar Icha. Setelah memberitahu Icha tentang lamarannya, tiga hari kemudian keluarga besar Guatalla datang ke kota x, kota asal Icha untuk melamar gadis itu. Ia tidak peduli pada sikap Adam dan Sania yang masih terang-terangan menolak Icha menjadi menantu mereka. Meski pun pada hari lamaran, Adam dan Sania hadir dan berdiri mendampingi putra mereka atas perintah kakek. Bagi Marco, Yang terpenting adalah restu kakek. Selanjutnya, ia sendiri yang akan menjalani rumah tangga dengan wanita yang ia cintai tanpa bayang-bayang orangtuanya.
Dua hari sebelum acara lamaran, kakek sudah terlebih dahulu ke kota x bersama Berry untuk bertemu orangtua Icha dan memberitahu rencana mereka. Semua memang serba mendadak, tetapi kakek meyakinkan pak Rendra dan ibu Tanti bahwa semua akan berjalan sesuai dengan rencana. Mereka cukup menyiapkan diri untuk menerima lamaran.
Mr. LG pun menolak usulan papa Adam untuk memakai jasa juru bicara. Ia ingin menjadi juru bicara sendiri untuk cucunya. Ia ingin turun tangan langsung mengurus pernikahan impian Marco.
Mr. LG, Adam, Sania, Jerry adik Adam dan istrinya serta dua anaknya Mario dan Maria Guatalla sudah berada di kota x. Mereka menginap di hotel xx, milik GT Corp. Berry dan Raymond pun tak ketinggalan. Mereka sudah terlebih dahulu berada di kota x untuk mengurus semua operasional yang dibutuhkan keluarga Guatalla.
Mereka semua sudah berada di rumah Icha sore ini. Mereka disambut baik dan sangat ramah oleh keluarga Icha.
Mr. LG, Adam dan Sania duduk menemani Marco. Di kursi lain ada Jerry, paman Marco, tante Vera, istri Jerry dan kedua anaknya, Mario dan Maria. Sedangkan Berry dan Raymond berjaga-jaga di teras rumah.
"Selamat datang untuk keluarga Guatalla di gubuk kami." Sapa papa Rendra ramah ditemani oleh mama Tanti. Sedangkan di situ juga ada om dan tante Icha.
"Terimakasih, Pak Rendra... kami yang seharusnya berterimakasih karena sudah diterima dengan baik." Sahut kakek tak kalah ramah. Ia sama sekali tidak menunjukkan diri sebagai seorang yang dikenal sebagai pengusaha sukses dan kaya raya.
"Pak Rendra dan ibu juga pasti sudah mengetahui tujuan kami sore ini berkunjung ke rumah ini... karena kami ingin melamar anak perempuan bapak dan ibu untuk cucu saya." Lanjut kakek pelan. " Saya ingin melamar Marissa untuk cucu saya, Marco Guatalla." Kakek melirik sebentar ke arah Adam memberi tanda agar Adam juga bicara.
Adam salah tingkah. Mau tidak mau, ia harus bicara. Berbeda dengan Sania, ia benar-benar menunujukkan sikap tidak suka pada keluarga Icha. Tetapi, tidak bisa berbuat banyak. Ia takut pada mertuanya.
"Iya, tuan... saya ayah kandung Marco, ingin melamar putri anda untuk anak saya." Ujar Adam setelah diancam lewat tatapan mata mr. LG untuk berbicara.
"Oh... jangan panggil saya tuan. Panggil saja Rendra." Jawab Pak Rendra merendah. " Kami senang karena putri kami satu-satunya dilamar oleh laki-laki baik dan bertanggungjawab dari keluarga yang baik pula. Tetapi, saya dan istri saya tidak bisa memberikan jawaban untuk lamaran tuan, kami harus menanyakan langsung pada Marissa." Pungkas pak Rendra. "Ma, panggilkan Marissa." Pak Rendra meminta istrinya untuk menjemput Icha ke kamar. Ibu Tanti mengangguk hormat dan segera menuju ke kamar Icha.
Sedangkan di kamar, Icha sedang ditemani dua sahabatnya Wulan dan Arin. Penampilannya membuat Arin pangling. Sederhana tetapi elegan sekali.
"Cha... kamu cantik banget. Make up kamu juga flawless banget. Sumpah!" Puji Arin atas penampilan Icha. Ia mengenakan kebaya modern berwarna pink peach, dengan kain motif salah satu daerah di Indonesia. Rambutnya juga dikonde biasa. Make up sederhana dengan lipstik senada warna baju.
"Pak Marco bakalan semakin tergila-gila sama kamu." sambung Wulan tak kalah heboh. Icha hanya menanggapi dengan tersenyum manis.
__ADS_1
Tok... tok... tok...
Tanpa disuruh masuk, pintu kamar langsung dibuka oleh seseorang. Mama Tanti muncul dengan senyum sumringah.
"Ayo, nak... dipanggil papa." Ajak mama Tanti. Arin dan Wulan langsung menggandeng tangan Icha mengajaknya keluar.
Jangan ditanya bagaimana perasaan Icha. Senang, bahagia, bercampur gugup yang luar biasa. Apalagi ia menyadari jikalau kedua orangtua Marco belum merestui hubungannya dengan anak mereka. Tetapi, keyakinan Marco yang membuat ia percaya dan mau menyetujui acara lamaran ini.
Sampai di ruang tamu, Icha duduk di tengah-tengah orangtuanya. Ia masih menunduk malu. Belum ada keberanian untuk mengangkat kepala dan melihat tamu di depannya.
Mama Sania kaget saat melihat Icha. Ia mengerutkan keningnya berusaha mengingat sesuatu. Ia merasa pernah melihat gadis ini, tapi ia lupa tepatnya di mana. Cantik juga, anggun lagi. Gumamnya dalam hati.
Sedangkan Marco, ia tidak berhenti menatap Icha. Penampilan Icha benar-benar membuatnya terpana. Bukan hanya cantik, tetapi keanggunannya sangat nampak pada gadis yang terpaut usia 8 tahun darinya. Aura keibuan pun sangat terlihat. Marco tersenyum penuh Cinta.
Kakek yang melihat gelagat Marco, langsung menyenggol kaki Marco. Laki-laki muda itu tersentak kaget. Wajahnya memerah karena kedapatan menatap Icha tanpa kedip.
"Marissa sudah ada... silahkan nak Marco bertanya sendiri pada Marissa." Seloroh Pak Rendra. Ia memberi kesempatan pada Marco untuk bicara langsung pada Marissa.
"Marissa... 6 bulan menjalani hari-hari bersama kamu, membuat aku yakin bahwa aku jatuh cinta sedalam-dalamnya pada dirimu. Jangan menolakku, sayang... Duniaku akan hancur jika kamu menolakku." Ungkap Marco tulus. Matanya menatap Icha dengan penuh cinta.
Mata gadis itu berkaca-kaca. Antara percaya dan tak percaya. Bagaimana tidak? Enam tahun lalu, saat ia masih menjadi murid SMA, tanpa sengaja ia jatuh cinta pada guru di sekolah. Cinta pada pandangan. Tidak ada yang mengetahui rasa di hatinya, hanya sebuah diari pink yang memahami perasaannya saat itu. Dan sekarang, laki-laki itu berdiri di hadapannya dan dengan gagah melamar dirinya.
Icha tersadar dari lamunan saat Marco berlutut, mengeluarkan cincin dari saku jasnya dan memperlihatkan pada Icha.
"Will you marry me, honey?" Ungkap Marco dengan sebuah pertanyaan dan berharap mendapat jawaban sesuai keinginannya.
Airmata Icha semakin deras mengalir. Ia mengulurkan tangan kirinya dan mengangguk pasti menerima lamaran Marco. Marco segera berdiri, memasangkan cincin di jari manis Icha dan memeluknya erat. Semakin terisaklah Icha dalam pelukan Marco. Semua orang di ruang tamu bertepuk tangan senang. Bahkan ada yang mengusap airmata ikut merasa terharu.
"Makasih, sayang... " Ungkap Marco bahagia. Ia melepaskan pelukannya, menatap Icha, menghapus airmata gadisnya itu dan memberi sebuah kecupan tulus pada kening Icha.
__ADS_1
Tiba-tiba Wulan dan Arin berlari mendekati Icha dan langsung memeluk sahabat mereka. Dua gadis itu ikut menangis terharu.
"Selamat ya, cha... akhirnya... sebentar lagi menjadi nyonya Marco." Goda Wulan. Semua orang memberi selamat pada dua insan yang sedang jatuh cinta itu.
Adam dan Sania saling pandang. Melihat kebahagiaan Marco membuat mereka menjadi dilema. Aura kebahagiaan yang Marco tunjukkan malam ini sedikit mengikis tembok kesombongan dalam diri mereka.
Adam mendekati Marco dan memeluk putranya.
"Selamat, nak. Semoga kamu bahagia." Ujarnya memberi selamat. Suaranya terdengar sangat pelan.
"Aku harap daddy bisa mendukung kebahagiaanku." Seloroh Marco dingin. Ia tahu, daddy dan mommynya masih belum bisa menerima keputusannya.
"Sayang... " Panggil Marco sambil memegang lengan Icha yang sedang sibuk menerima salam dari keluarga. Icha menoleh dan matanya langsung menangkap sosok paruh baya di samping Marco.
"Tuan..." Sapa Icha hormat. Icha menunduk, tidak berani melihat calon ayah mertuanya. Marco yang menyadari posisi Icha segera merangkul pinggang Icha, memberikan kekuatan dan meyakinkan gadis itu bahwa ada dia yang akan selalu melindungi Icha.
"Selamat atas pertunangan kalian. Semoga kalian bahagia." Ucap Adam datar.
"Terimakasih, tuan... " Icha belum berani menyapa papa Adam dengan sebutan daddy, sebagaimana biasa dipanggil Marco. Ia masih takut ditolak Adam.
Semua keluarga yang diundang sedang menikmati makanan yang tersedia. Atas permintaan Icha, mereka hanya mengundang keluarga dekat saja. Kakek juga menyetujuinya. Kakek hanya akan mengundang semua rekan bisnisnya di hari pernikahan Marco dan Icha nanti.
"Tuan... terimakasih untuk hari ini. Kami berharap Icha bisa menjadi istri yang baik untuk Marco." Papa Rendra sedang berbincang dengan mr. LG.
"Jangan panggil tuan. Panggil saja kakek, seperti Marco dan Icha biasa menyapa saya." Tolak kakek ketika disapa tuan oleh ayah Icha. Papa Rendra tertawa.
"Baik, kek... " Sahutnya kemudian
"Justru saya yang harus berterimakasih pada Marissa. Putri kamu itu benar-benar berbeda dari gadis seumurannya. Ia sangat berpikiran dewasa." Puji kakek pada calon cucu mantunya. "Marco banyak berubah semenjak mengenal Icha." Sambung kakek. "Marco jadi panjang sabar dan tidak cepat emosi." Kakek terus bercerita dengan semangat.
__ADS_1
"Syukurlah... Semoga mereka selalu diridhoi Allah." Doa pak Rendra.