
Marco sudah terlihat sangat tampan dengan jas biru navy tanpa dasi menunggu sang istri yang belum selesai berdandan di ruang keluarga. Kakek dan Berry pun sudah terlihat berbeda dengan jas mahal di tubuh mereka. Dua asisten ini akan tetap berada di samping Marco dan kakek kemanapun mereka pergi.
Malam ini mereka diundang untuk jamuan makan malam bersama tuan Albizar Adzam dari Arab Saudi. Kakek berteman baik dengan ayah dari tuan Albizar, namun sayang sahabat lamanya itu sudah terlebih dahulu dipanggil Maha Kuasa.
Suara langkah kaki terdengar dari tangga menuju lantai bawah. Marco dan kakek yang sedang serius bercerita tentang perusahaan secara bersamaan menoleh ke arah suara langkah itu. Berry dan Raymond pun ikut menoleh.
Marco terpana melihat Icha dengan gaun panjang biru navy dengan anting batu zafir berbalut berlian langka yang membuat penampilan Icha sangat anggun dan mewah.
Kakek ikut terkesima melihat cucu mantunya. Seperti ada sosok mendiang istri dalam diri Icha. Ya, mereka sama-sama gadis Sunda yang anggun dan lembut. Apalagi anting batu zafir itu selalu dipakai nenek Marco selama menjadi istri mr. LG.
Berbeda dengan Marco yang baru menyadari anting dan cincin yang dipakai istrinya biasa dipakai mendiang nenek sewaktu masih hidup. Marco juga tahu itu ada perhiasan warisan mamanya kakek. Namun, Marco belum mengetahui dari mana Icha mendapat perhiasan itu. Apakah mommy yang memberikan? Seharusnya, kalau memang ini warisan turun temurun, mommynya yang harus memberikan pada Icha, karena mommy menantu kakek yang juga mendapat warisan ini. Tetapi, Marco tidak pernah melihat mommy Sania menggunakan ini.
"Kamu cantik sekali, nak." Ungkap kakek yang hendak memeluk Icha.
"Keeeeek... itu istriku." Gumam Marco kesal pada kakek yang hendak mendahuluinya memeluk Icha. Berry dan Raymond saling melemparkan senyum geli melihat tingkah cucu dan kakeknya itu.
Dengan posesif, Marco merangkul pinggang Icha sebelum kakek memeluknya. Ia mengecup pipi Icha di depan kakek tanpa malu dan berbisik sesuatu ke telinga Icha. Wajah Icha memerah karena malu.
"Dasar kamu! Kakek hanya kagum melihat penampilan istri kamu dengan anting batu zafir itu." Umpat kakek pada Marco. "Lihat! Batu zafir itu sangat cocok dipakai cucu mantuku." Bangga kakek melihat penampilan Icha. "Oh ya, kenapa hanya anting dan cincin yang kamu gunakan, nak? Mana kalung dan gelang tangannya?" Tanya kakek sambil memegang tangan Icha yang tanpa gelang.
"Icha nggak pake, kek. Nanti kelihatannya norak." Jawab Icha pelan. "Kalau antingnya sudah terlihat mewah, berarti kalungnya jangan dipakai lagi, kek. Nggak bagus jadinya. Begitu juga gelang tangan dan cincin. Makanya Icha pakai dua ini aja." Jelas Icha sambil memperlihat cincin di jari manisnya.
"Oooh... hebat kamu. Ternyata paham juga tentang fashion." Kakek masih saja terpesona melihat Icha.
Oh... kakek yang memberikan pada Marissa. Berarti selama ini, kakek tidak memberikan pada mommy. Gumam Marco dalam hati. Dan ia sangat memahami kenapa kakek tidak memberikan warisan mahal itu kepada mommy yang notabene adalah menantu tertua kakek. Namun, ia tidak ingin bertanya akan hal itu sekarang. Ia tidak mau membuat mood kakek menjadi tak baik.
"Kakek masih mau terus memandang istriku atau kita segera berangkat?" Ketus Marco. Kakek hanya tertawa senang.
"Sayang... mommy mana? Kamu ajak mommy juga kan?" Icha memegang lengan Marco dan bertanya tentang mommy Sania sebelum mereka keluar.
"Aduh... hampir kita melupakan mommy kamu, bro'." Ujar kakek dengan bahasa gaul sambil menepuk keningnya. Ia melihat ke jam mahal yang melingkar di tangan kanannya. "Ini sudah waktunya berangkat." Kata kakek. "Berry, panggilkan Rosa atau Hartini. Minta mereka ke kamar Sania dan menyuruhnya cepat." Perintah kakek dan langsung dijalani Berry dengan hormat.
Tak lama terlihat Rossa melintas dan menaiki tangga menuju lantai atas. Tak sampai tiga menit, Rossa kembali dan berjalan menuju ruang keluarga di mana kakek, Marco, Icha, Berry dan Raymond sedang menunggu Sania sambil bercerita tentang keberhasilan perusahaan yang dipimpin oleh Marco dan Raymond.
"Permisi, tuan... sebentar lagi nyonya Sania akan turun." Lapor Rossa setelah diperintah Berry memberitahu Sania bahwa ia sudah ditunggu.
"Ya... terimakasih." Sahut kakek.
"Makasih ya, Ros..." Icha pun mengucapkan terimakasih dengan ramah. Rossa mengangguk dan melemparkan senyum pada nona mudanya sebelum berbalik dan kembali ke belakang.
Lima menit kemudian muncullah Sania dengan dandanan ala sosialita dengan barang-barang branded dari rambut hingga kakinya.
"Cepatlah, Sania... kau hanya membuang-buang waktu saja." Ketus kakek dan langsung berjalan mendahului semua yang ada di sana menuju garasi mobil. Ia menaiki BMW hitam berdua hanya bersama Berry yang sudah dianggapnya anak sendiri.
"Kamu lihat Sania, Berry?" Tanya kakek setelah di atas mobil. "Penampilannya dari dahulu kala sampai sekarang tidak pernah berubah. Dia selalu mau menonjolkan dirinya sebagai istri pengusaha kaya." Cibir kakek tak suka.
Sania menumpang dengan Icha dan Marco. Ia duduk di kursi depan bersama Raymond, namun matanya tak pernah lepas dari anting dan cincin yang dipakai Icha.
Sial! Harusnya aku yang memakai barang langka itu. Bukan perempuan miskin ini. Ia hanya bisa mengumpat dalam hati.
__ADS_1
Icha sadar apa yang dipikirkan mertuanya. Karena sebenarnya ia pun heran kenapa kakek tidak memberikan perhiasan langka ini pada menantu tertua kakek, tapi justru kakek memberikan padanya.
"Kakek yang memberi perhiasan ini padamu, sayang?" Tanya Marco yang sedari tadi penasaran dengan anting dan cincin yang dipakai istrinya.
Icja tersenyum dan mengangguk pada Marco. Ia memperlihatkan cincin itu pada Marco.
"Bagus, kan?" Icha memang sangat suka dengan warna batu zafir itu. Warna kuning mustard yang sangat kontras dengan warna baju yang dipakai Icha namun terlihat sangat cocok dan elegan.
"Karena kamu yang memakainya, makanya terlihat cantik." Puji Marco pada istrinya. Icha tertawa dan mencubit pelan perut Marco.
"Gombal." Lirihnya pelan. Marco tertawa kecil dan memberikan kecupan di pelipis Icha.
Sania hanya menahan napas sesak melihat kemesraan di depan matanya. Mungkin boleh dikatakan ia cemburu. Karena selama hidupnya ia tak pernah sedekat itu dengan anak kandungnya, Marco. Ia menyadari karena kesalahan besar yang pernah dibuatnya membuat hubungan antara ibu dan anak itu renggang. Ditambah lagi seharusnya ia yang mendapat kepercayaan untuk mendapat warisan perhiasan langka itu, namun mertuanya sama sekali tidak mempercayainya. Padahal, batu zafir itu adalah lambang kehormatan bagi setiap menantu dalam keluarga Guatalla. Namun, bukan kehormatan yang didapat Sania, malah penolakan dari mertua dan anaknya sendiri.
"Kita sudah sampai tuan." Marco pun segera keluar dari mobil diikuti oleh Icha.
"Kenapa kamu masih berdiam di sini? Cepat bukakan pintu!" Perintah Sania yang belum turun dari mobil karena berharap dibukakan oleh sopir.
"Mommy bisa membuka pintu sendiri. Tidak perlu menunggu Raymond." Ketus Marco dari luar mobil setelah mendengar ocehan Sania yang tak enak didengar telinga.
Raymond tersenyum sinis pada perempuan yang selalu saja bersikap angkuh padanya.
"Silahkan keluar, nyonya... Saya harus memarkirkan mobil di tempatnya." Ujar Raymond penuh kemenangan. Sania menatap nyalang padanya dan dibalas senyuman sinis oleh asisten kepercayaan Marco itu.
Dengan perasaan jengkel, Sania membuka pintu mobil dan membating dengan keras setelah sudah berada di luar mobil.
"Apa yang kamu lakukan, Sania?" Bentak mr. LG yang juga baru tiba dan sedang berjalan ke arah Marco. "Kalau kamu tidak tau menjaga sopan santun, lebih baik kamu pulang." Ujar kakek marah. Marco menatap ibunya dengan perasaan tak menentu. Ada rasa iba, namun ia sadar, ibunya memang harus diberi pelajaran.
"Ayo, mom... kita masuk." Ajaknya lembut. "Kek... maafin, mommy."
Mendengar suara lembut Icha, kakek menarik napas panjang. Ia berusaha menenangkan diri.
"Aku harap kamu bisa bersikap lebih dewasa, Sania. Contohlah menantumu itu."
Sania semakin terpojok dengan ujaran kakek. Rasa malu dan merasa harga dirinya diinjak di depan menantunya. Ia mengepal tangan erat menahan emosi.
"Ayo, sayang..." Marco mengulurkan tangan meminta digandeng oleh Icha.
"Sayang... Aku sama mommy, ya?" Ijin Icha agar bisa menggandeng tangan Sania supaya wanita itu tidak merasa sendiri.
"Lalu, aku...?" Celetuk Marco tak mau berjalan sendiri. "Ayo, cepat sayang.." Tekan Marco membuat Icha melepaskan lengan Sania dan langsung menggandeng Marco.
Sania hanya menatap dengan penuh dendam. Ia masih berdiam diri ketika Marco dan icha berjalan menuju pintu masuk diikuti oleh kakek dan Raymond.
"Anda masih mau berdiri di sini, nyonya?" Tanya Berry menyindir Sania. "Kalo begitu saya lebih dulu." Tanpa menunggu jawaban Sania, Berry pun melenggang pergi meninggalkan perempuan paruh baya seorang diri.
"Sial! Tuan dan asisten sama-sama kurang ajar." Umpatnya kesal. "Aku akan membalas kalian." Ujarnya penuh penekanan dan melangkah masuk ke dalam restoran.
Mr. LG disambut hangat oleh tuan Albizar. Ia seperti menyambut sang ayah yang sudah berada di surga. Tidak lupa, pengusaha asal Arab itu menyalami Marc, Icha dan Sania yang baru tiba.
__ADS_1
"Mari, silahkan duduk... senang sekali bisa bertemu kakek dan anda, tuan marco." Tutur Albizar hormat. Bibirnya terus memancarkan senyum kebahagiaan. "Oh ya, perkenalkan ini putri saya." Albizar menunjuk ke arah gadis cantim di samping kanannya.
"Salam, tuan... Saya Adzania Albizar." Gadis cantik itu menyalami tangan kakek dan Marco sambil memperkenalkan nama. Lalu, beralih ke Sania. Mereka saling menyalami dan mengecup pipi kiri dan kanan.
"Ini menantu saya. Istri anak sulung saya. Sekarang dia menetap di Amerika dan mengurus perusahaan kami di sana." Ujar kakek memperkenalkan Sania.
"Oooh... Saya tau. Pasti ini istrinya tuan Adam, bukan?" Tebak Albizar.
"Ya... anda benar, tuan. Saya istri dari tuan Adam. Dan ini putra tunggal saya." Sania memperkenalkan diri dengan sombongnya.
"Oh ya... saya sudah mendengar nama Marco Guatalla, si pebisnis muda yang terkenal dengan kejeniusannya." Puji Albizar. "Dan ini?" Tunjuk Albizar pada Icha.
"Istri saya." Sahut Marco cepat. "Namanya Marissa Lebrina." Dengan bangga Marco memperkenalkan istri tercinta.
"Ya... saya sudah tau ini pasti istri anda. Saya mengenalinya dari berlian batu zafir yang dikenakan istri anda." Sahut Albizar. "Anda pasti menjadi menantu kesayangan keluarga Guatalla. Karena, tidak semua menantu bisa mendapat kepercayaan memakai barang langka itu." Jelas Albizar membuat Sania seperti tertampar malu. "Dari kecil aku sudah melihat batu zafir itu digunakan oleh mendiang almarhum nyonya Guatalla." Terang Albizar kembali ke masa lalu.
"Hahahaha... ternyata kamu masih menyimpan semua memori itu dengan baik." Celetuk kakek senang. "Dulu, kamu masih sangat kecil ketika aku dan ayahmu berjanji akan menjaga hubungan baik kami sampai anak cucu kami kelak." Beber kakek kembali mengingat semua kenangan masa lalu.
Mereka menikmati makan malam sambil terus bercerita tentang masa lalu. Berry dan Raymond duduk di kursi pengunjung yang lain dan terus memantau keadaan sekitar.
"Sayang... aku mau ke toilet." Bisik Icha tepat di telinga Marco. Ia mengangguk dan hendak bangun mengantar Icha ke toilet. "Nggak usah, yang. Aku sendiri saja." Cegah Icha. Marco kembali duduk.
"Maaf, saya permisi ke belakang sebentar." Semua serentak mengangguk .
"Silahkan." Sahut Albizar sopan.
Adzania menatap punggung Icha dengan tatapan aneh. Sedari tadi ia asyik menatap wajah tampan Marco namun Marco tidak peduli. Ia terus menikmati makanannya sambil terus mendengar cerita lama kakek dan Albizar.
"Permisi... saya ke toilet sebentar." Tiba-tiba Sania pun berdiri meminta ijin ke toilet. Marco spontan melihat ke arah Raymond dan Berry memberi kode lewat matanya. Raymond paham dan segera menyusul Sania ke kamar mandi.
Sedangkan Icha, baru saja keluar dari dalam toilet. Ia mencuci tangan sambil melihat-lihat make up tipis diwajah pada sebuah cermin besar di luar.
"Hei... perempuan sial!" Tiba-tiba lengannya ditarik oleh Sania dengan sangat kasar. Terasa nyeri dan sedikit mengeluarkan darah akibat kuku tajam Sania. Icha tersentak kaget dan memegang lengannya yang terasa perih.
"Dasar munafik. Pelet apa yang kamu gunakan sampai-sampai si tua bangka itu begitu mengagumimu. Bahkan anakku sampai begitu tergila-gila padamu." Maki Sania dengan tuduhan yang menyakitkan. Namun, Icha bergeming. Ia hanya memandang wajah Sania dengan sedih. "Dasar perempuan munafik. Harusnya batu zafir itu menjadi milikku, bukan kamu." Bentaknya emosi. Ia maju dan mengangkat tangan dan hendak mengayunkan ke pipi Icha.
Plak!
Tangan itu hanya melayang di udara dan ditahan tangan kanan Icha. Dengan berani ia menangkap tangan Sania dan memegangnya erat.
"Mommy pikir aku mau ditampar dua kali?" Tanya Icha mencibir mertuanya. "Aku pikir hanya orang yang tidak waras yang membiarkan pipinya ditampar 2 kali." Sambungnya dengan datar. "Aku cukup sabar menghadapi mommy. Aku tak ingin melawan karena aku seorang anak yang dididik untuk menghargai orangtua." Sania membelalakkan mata karena tak percaya, perempuan yang dianggapnya lemah justru mampu melawan dengan berani.
Icha menghempaskan tangan Sania sedikit kasar.
"Tanya pada diri mommy sendiri kenapa kakek tidak menurunkan warisan ini pada mommy dan jangan menyalahkan orang lain." Ucap Icha lantang. "Kalau mommy mau pasti aku akan berikan, tetapi aku yakin kakek tidak akan merelakan warisan mendiang nenek jatuh ke tangan mommy."
Icha mengambil tisu di depan cermin besar dan menghapus noda darah di lengannya.
"Cukup sekali ini, aku merasa sakit pada tubuhku karena ulah mommy." Ancam Icha dan segera keluar dari tempat itu menuju meja makan tadi.
__ADS_1
"Kok lama?" Tanya Marco melihat Icha yang sudah duduk di sampingnya.
"Namanya juga wanita... kamu kayak nggak tau aja." Kakek yang menjawab pertanyaan Marco diringi dengan tawa lepas. Albizar ikut tertawa. Sedangkan Adzania hanya menatap datar pada Icha.