
Marco baru saja tiba di ruangannya. Ia meletakkan tas kerja di atas meja, membuka jas dan meletakkan di sandaran kursi dan melonggarkan dasi.
Hari masih pagi, baru saja jarum pada jam di dinding ruangan menunjuk angka 8. Masih sangat pagi untuk malas bergerak atau bekerja. Sama halnya dengan Marco pagi ini. Semangat hidupnya seakan-akan telah hilang. Sudah 1 minggu ini Icha berada di kampung halamannya tanpa memberi Marco kabar berita. Icha benar-benar memutuskan komunikasi mereka. Sudah 5 hari juga ruangan kerja Icha kosong. Setiap kali Marco hendak ke ruangannya, harus melewati meja Icha terlebih dahulu. Dan itu membuat rindunya semakin membuncah. Akhirnya ia menjadi malas berbuat apa-apa. Pikirannya hanya tertuju pada gadis itu.
Marco membanting dirinya di atas kursi kerja. Menyandarkan kepala dan melihat ke langit-langit ruangan.
"Sampai kapan kamu marah, sayang?" ucap Marco lirih. "Aku kangen banget sama kamu." Ia menutup mata, mengenang semua kebersamaan mereka yang baru seumur jagung, tetapi sangat melekat di hati dan pikirannya.
tok... tok... tok...
Marco tersentak mendengar suara ketukan pintu. Ia membuka mata dan menegakkan kembali duduknya.
"Masuk." Raymond muncul dari balik pintu dan menampakkan senyum cerahnya, setelah mendengar perintah Marco.
"Pagi, tuan... ada email dari tuan Tanaka. Ia akan berkunjung ke Indonesia dalam waktu dekat. Ia sangat ingin bisa bertemu anda, tuan." Jelas Marco sambil menyerahkan sebuah surat. Marco mengerutkan keningnya. Ia membaca surat dari rekan bisnisnya yang berasal dari Jepang itu. Ia hanya menganggukkan kepala pada Marco.
"Atur waktunya." Perintah Marco datar tanpa melihat ke arah Raymond. Ia membuka tas dan mengeluarkan laptop serta beberapa berkas yang belum selesai dibaca. Raymond menyadari jikalau mood bosnya lagi tidak stabil semenjak kepergian Icha.
"Tuan... " Panggil Marco pelan. Marco mengangkat kepala dan menoleh ke arah Raymond. "Maaf... bagaimana kabar nona Marissa?" Tanya Raymond sedikit segan. "Maaf... saya lancang, tuan." Lanjut Raymond gugup karena melihat tatapan Marco yng berbeda.
"Saya pamit, tuan." Raymond mundur dan hendak berbalik.
"sebentar... " Tahan Marco. Ia menarik napas panjang dan melepaskan pena di tangannya. "Sudah seminggu ini aku tidak mendengar kabar darinya." Gumam Marco. "Aku tidak tau bagaimana kabar dan keadaan dia di sana." ujar Marco dengan tatapan kosong.
"Tuan... Kenapa anda tidak menyuruh anak buah kita untuk memantau keadaan nona Marissa?" Tanya Raymond sekaligus menyarankan Marco.
"Aku takut dia semakin marah, Ray. Biarkan dia menyendiri dulu. Aku yang akan memjemputnya nanti." Sahut Marco. Ya, ia masih menunggu beberapa hari lagi. Jika tidak ada kabar sama sekali, maka Marco akan langsung menjemputnya.
Tok... tok...tok
Ketukan pintu terdengar dan langsung dibuka dari luar. Terlihat Valencia yang datang meneteng sebuah tas mahal. Ia tersenyum dan langsung berjalan menuju Marco.
__ADS_1
Sedangkan Marco dan Raymond kaget dengan kemunculan mantan tunangan Marco itu.
"Sayang... " Sapanya manja. Ia melepaskan tasnya di meja dan hendak menuju ke arah Marco. Raymond dengan sigap menahan lengannya.
"Lepasin!" Bentak Valencia sambil menatap Raymond garang. "Kurang ajar kamu, ya!" Erangnya marah.
"Maaf, nona... tuan sedang sibuk. Tidak ingin diganggu." Sergah Raymond dingin. "Lain kali kalau anda mau bertemu CEO, anda harus membuat janji terlebih dahulu." Tegas Raymond tanpa ekspresi. Valencia menjadi murka.
"Kurang ajar kamu!" Bentak perempuan seksi itu dengan garang. "Aku tunangannya Marco, pemilik perusahaan ini. Aku nggak perlu ijin siapa-siapa untuk masuk ke dalam perusahaan tunangan aku sendiri." Timpal Valencia percaya diri. Marco yang dari tadi hanya menyaksikan mengurut keningnya yang terasa sedikit pusing. Sebelum akhirnya ia berdiri dan mendekati Valencia.
"Ada keperluan apa kamu ke sini?" Tanya Marco dingin. Ia memberi kode pada Raymond untuk keluar dari ruangannya. Valencia tersenyum sinis melihat Raymond diusir keluar.
"Ada apa?" Tanya Marco sekali lagi setelah Raymond menghilang di balik pintu.
"Sayang... " Rengek Valencia ingin memeluk Marco tetapi laki-laki tampan itu menahan lengannya untuk tetap menjaga jarak. Valencia kaget karena ditolak. Marco benar-benar berubah.
"Katakan saja ada perlu kamu ke sini?" Tanya Marco lagi. Ia menaruh tangannya di saku dan menatap Valencia dengan tatapan dingin.
Marco masih bergeming di tempatnya dengan gaya yang sama. Ia menatap sinis pada Valencia. Tidak ada lagi rasa yang dulu pernah ada di hati untuk perempuan ini. Semua sudah diganti Marissa Lebrina, gadis cantik, lembut dan perhatian yang membuat hati Marco berantakan.
"Keluarlah! Aku masih banyak pekerjaan." Ucap Marco dingin. "Jika kamu datang hanya untuk membuat keributan dan membuang waktuku, lebih baik kamu keluar dari sini." Sambung Marco.
"Sayang... "
"Kalau kamu masih bertanya pertanyaan yang sama, maka dengarkan aku baik-baik." Cecar Marco tanpa memberi kesempatan Valencia bicara. "Hubungan kita bukan hubungan yang sehat. Kamu sibuk dengan duniamu sendiri tanpa mempedulikan perasaan aku sama sekali. Mungkin kamu berpikir karena aku terlalu mencintai kamu sehingga kamu bebas mengulur waktu dan berbuat sesuka hati kamu. Kamu menghabiskan waktumu berkeliling dunia untuk bersenang-senang dengan modelingmu itu dan kamu lupa bahwa ada aku, tunangan kamu, yang membutuhkan kehadiran dan juga waktumu. Kamu hanya menuntut aku untuk mendukung dan mengerti tentang semua keinginanmu tanpa mau mengerti tentang aku. Sampai akhirnya aku sadar bahwa semakin hari rasa sayang dan perasaan cinta di hatiku sirna perlahan-lahan dan akhirnya hilang lenyap." Papar Marco panjang lebar diiringi dengan airmata Valencia yang mengalir mendengar setiap kalimat yang dilontarkan Marco. Laki-laki itu tidak peduli. Sudah cukup 6 tahun ia menjadi seorang pria pengertian. Tetapi Tidak untuk sekarang.
"Untuk pertanyaan kamu yang lain, dengarkan baik-baik." Sambung Marco lagi masih dengan nada yang dingin dan terdengar sangat menyakitkan bagi Valencia. Marco menunduk dan mendekatkan wajahnya pada Valencia. "Aku tidak mencintaimu lagi, Valencia Agabus." Tekan Marco dengan sedikit berbisik. Valencia tersentak. Jantungnya seakan berhenti sesaat. Bibirnya terkatup rapat. Airmata pun semakin deras mengalir. Ia menyesal telah menyia-nyiakan pria baik ini.
"A- a-ku minta maaf, sayang... a-ku akan memperbaiki semua." Ucapnya terbata-bata. Ia mendekati Marco, berusaha mengambil hatinya, tetapi lagi-lagi Marco menahannya.
"Sudah terlambat. Aku tidak ingin memperbaiki apa pun. Aku hanya ingin kita berpisah. Silahkan kamu memperbaiki sikap dan sifat kamu untuk laki-laki yang akan menikahimu kelak." Tolak Marco yang terdengar seperti satu penghinaan bagi Valencia.
__ADS_1
Perempuan itu memggelengkan kepalanya tidak terima keputusan Marco.
" Keluarlah! Aku masih banyak pekerjaan." Usir Marco. Ia tidak ingin lagi mendengar pembelaan Valencia. Ia berbalik hendak kembali ke mejanya. "Jangan pernah datang lagi ke perusahaan ini dan jangan sekali-kali berbuat sesuatu di luar batasanmu." Ancam Marco karena ia mengetahui bagaimana sifat Valencia. Ia tipe perempuan yang nekad. Ia akan melakukan apa saja untuk meraih keinginannya.
"Pergilah! Sebelum aku memanggil sekuriti untuk mengusirmu." Ia kembali duduk di kursinya tanpa peduli pada Valencia. Perempuan itu berlari ke luar dengan perasaan seperti ditusuk ribuan paku. Kata-kata Marco membuat ia kehilangan harga diri.
Sementara Marco....
Ia meremas rambutnya frustasi. Bukan karena ia memikirkan Valencia atau merasa iba pada gadis itu. Tetapi saat ini, ia membutuhkan Icha. Ya, ia ingin memeluk perempuan lembut itu dan menumpahkan semua beban di hatinya. Ditambah lagi rasa rindu yang semakin menggila.
"Kamu di mana, sayang?" Keluhnya dalam diam. Ia segera mengambil handphonenya dan menelepon seseorang.
"Pergi ke kota x dan cari Marissa. Laporkan semua kegiatannya padaku. Pastikan ia dalam keadaan baik dan dapatkan gambarnya dan segera kirimkan padaku." Perintah Marco pada seseorang di seberang telepon. Tanpa menunggu jawaban, ia memutuskan komunikasi.
"Sudah cukup kamu melarikan diri, sayang. Kamu harus segera kembali. Dan aku benar-benar akan menghukummu kali ini." Racaunya sendiri. Ia menarik napas panjang untuk menstabilkan perasaannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara di kota x, Icha yang sedang asyik menyiram berbagai jenis tanaman bunganya dikagetkan dengan kedatangan seseorang yang mengantarkan surat. Ia menerima surat itu dan melihat namanya tertera di sana. Yang lebih mengejutkan ada stempel GT Corp di sebelah kanan atas. Ia mengerutkan kening dan segera membuka surat itu dengan penasaran.
Deg!
Airmatanya mengalir. Ternyata ia mendapat surat pemecatan dari GT Corp. Ia berpikir bahwa Marco pasti akan datang menjemputnya dan menjelaskan semuanya. Tetapi, justru surat pemecatan dirinya yang juga ditandatangani oleh Marco.
kakinya terasa lemas dan tidak bisa menopang tubuhnya. Ia terduduk di kayu yang sudah dibentuk menjadi bangku duduk. Lagi-lagi ia menangis. Ia hanya bisa menangis. Bukan karena pemecatannya tetapi karena Marco tidak peduli padanya.
Memang ia memutuskan komunikasi di antara mereka. Namun, ia berharap Marco datang menemuinya. Marco tahu di mana tempat tinggalnya.
Dengan surat pemecatan yang dibubuhi tanda tangan Marco menandakan bahwa laki-laki itu sudah melupakan dirinya.
"Kamu jahat!" Hanya itu yang keluar dari bibirnya. Selebihnya, airmata masih setia membasahi pipi mulusnya.
__ADS_1
Apakah Icha benar-benar dipecat???😀😀😁😁