
Pukul setengah sepuluh pagi, helikopter yang ditumpangi Leon dan beberapa laki-laki bertubuh tegap, tinggi dan berkacamata hitam mendarat di sebuah lapangan besar yang berada sedikit jauh dari pemukiman penduduk desa Sukamaju.
Leon turun terlebih dahulu dan masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan oleh kaki tangannya.
"Di mana dia tinggal?" Tanya Leon pada Dion, salah satu anak buah yang sudah dari kemarin berada di desa ini dan bertugas memantau keadaan Ayu.
"Di Pustu, tuan. Sekarang sedang ada pemeriksaan kesehatan di Pustu." Jawab Dion hormat.
"Tidak ada hotel di sini?" Tanya Leon aneh karena mendengar Ayu nginap di Pustu.
"Belum ada, tuan. Hanya ada penginapan sederhana." Jawab Dion cepat.
Dua puluh menit sudah sopir yang juga anak buah Marco itu fokus menyetir dan membawa Leon ke tempat tujuan. Ketika masuk ke pemukiman warga, Leon sangat menikmati udara yang sejuk dan pemandangan desa yang cukup hijau. Rumah-rumah penduduk pun tidak mewah namun sederhana dan asri.
Dari pandangan 50 meter, Leon bisa melihat keramaian di satu gedung kecil.
"Itu tempat pemeriksaan warga, tuan. Nona sedang berada di sana." Dion menunjuk ke arah gedung yang dipenuhi banyak warga terlebih para lansia.
Deg!
'Itu dia!' Seru Leon dalam hati saat menangkap sosok cantik yang sangat mengganggu pikiran dan hatinya sedang memeriksa seorang nenek tua.
Namun setelah itu ada yang aneh terlihat di sana.
'Siapa laki-laki itu?'
Ayu terlihat sedang asyik mengobrol dengan seorang pemuda kampung namun tidak bisa dikatakan kampungan juga. Wajahnya lumayan tampan dan sangat rapi.
Leon menggertakkan gigi melihat wanitanya sedang mengobrol dengan santai bahkan bisa tertawa bahagia dengan orang asing.
'Dengan orang asing kamu bisa seakrab itu. Tapi kenapa selalu menghindar setiap kali bertemuku?' Leon mengumpat dalam hati.
"Kita berhenti di sini, tuan?" Tanya sopir saat mobil sudah mendekati halaman pustu. Leon hanya mengangguk.
Semua warga yang sedang menunggu antrean untuk diperiksa serempak melihat ke arah mobil mereka. Ada yang mulai berbisik, ada yang merasa ketakutan ketika melihat paras kejam anak buah Leon.
Ayu yang sedang berdiri bersama seorang pemuda pun ikut melihat ke arah mobil. Ia mengerutkan kening melihat ada mobil mewah yang masuk ke dalam kampung kecil ini.
Deg... deg... deg...
Jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat ketika melihat sosok laki-laki yang selalu ia rindukan keluar dari dalam mobil. Mata mereka saling bertabrakan.
Spontan Ayu menggenggam tangan Raka, pemuda tampan yang berdiri tepat di samping kiri Ayu. Ia berusaha membuat diri sesantai mungkin agar bisa berhadapan dengan Leon. Ayu menyadari tatapan marah di mata Leon.
"Tuan Guatalla..." Dokter Ella yang terkejut melihat kemunculan Leon dengan tergopoh-gopoh datang dan mengulurkan tangan untuk menyalami anak pemilik rumah sakit tempat ia bekerja.
Dengan senyum tipis Leon menerima uluran tangan dokter cantik itu.
"Apa yang membawa anda sampai ke desa kecil ini, tuan?" Tanya dokter Ella sedikit heran.
Leon melihat ke arah Ayu. Hatinya panas ketika tangan Ayu masih digenggam erat pemuda kampung ini.
"Saya ada keperluan dengan mahasiswi anda." Sahut Leon sembari menatap mata Ayu dengan tajam. "Boleh saya berbicara empat mata dengannya?" Lanjutnya masih menatap intens mata Ayu.
Ayu menahan sedikit napasnya. Ia tidak sanggup mengeluarkan sepatah kata.
"Oh... Ayu? Silahkan, tuan." Ujar dokter Ella lalu mengedipkan sebelah mata pada Ayu.
Tanpa menunggu jawaban dari Ayu, Leon menarik tangan kiri gadis itu yang sedang digenggam erat oleh Raka lalu membawanya masuk ke dalam mobil. Semua mata yang melihat hanya terdiam tanpa mengerti apa yang terjadi. Begitupun dengan dokter Ella.
__ADS_1
Leon melajukan mobil menuju sebuah telaga hijau yang sedikit jauh dari pemukiman. Tidak ada suara antara mereka. Aura kemarahan di wajah Leon membuat Ayu tidak berani protes atas sikap Leon. Ia hanya terdiam dan pasrah akan apa yang nanti terjadi.
Setelah sampai, Leon turun memutari mobil, membuka pintu dan menarik tangan Ayu hingga gadis itu keluar dan membawanya ke sebuah pohon rimbun. Dengan sedikit kasar, ia menghempas badan Ayu hingga bersandar pada pohon.
"Jadi ini alasan kamu selalu menghindariku, hah?" Tanya Leon pelan namun penuh penekanan. Ia menatap nyalang mata Ayu. "Jawab!! Ini alasan kamu selalu menghindariku? Agar kamu bisa mendekati laki-laki lain, hah?" Suara Leon mulai meninggi. Tangannya ia letakkan tepat di atas kepala Ayu hingga membuat jarak mereka sangat dekat.
Ayu menggeleng kepala dengan wajah sedikit pucat karena ketakutan. Ia tidak menyangka akan mendapat pertanyaan demikian dari Leon.
"Aku butuh jawaban kamu. Jawab aku!!!" Teriak Marco tepat di wajah Ayu. "Kamu bisa dengan santainya dekat dengan laki-laki lain, berbicara tanpa rasa takut bahkan baru sehari di sini kamu sudah bisa mengandeng tangan laki-laki itu tanpa rasa malu." Leon mengeluarkan semua isi hatinya dengan marah. Matanya memerah menahan gejolak di hati.
Ayu menutup mata, tidak berani menatap amarah di mata Leon. Ia tidak menyangka Leon akan menuduhnya seperti ini. Namun, Ayu bersyukur. Dengan begini ia tidak perlu mencari alasan lagi kenapa ia selalu menghindari Leon.
"Jawab aku!" Tegas Leon dengan suara meninggi.
Ayu membuka mata perlahan. Airmata pun ikut luruh membanjiri pipi. Ia menatap mata Leon dengan penuh cinta. Rasa cintanya terlalu besar untuk laki-laki di hadapannya ini. Namun ia tahu diri. Ia bukan siapa-siapa hingga ia harus jatuh cinta pada majikan orangtuanya.
"Maaf, tuan... apapun yang aku perbuat, itu bukan urusan anda." Ujar Ayu berusaha tegar lalu memalingkan wajah karena tidak sanggup menatap mata Leon. Ayu pun menyadari jika Leon kecewa dengan ucapannya.
"Kenapa selalu menghindariku?" Leon berusaha menurunkan egonya. Rasa kecewa sudah merasuk sampai ke dalam hati.
"Anda salah paham, tuan. Aku tidak pernah menghindari siapapun." Jawab Ayu cepat.
Leon tersenyum kecut. Ia terus menatap mata Ayu dan ia menangkap sesuatu di sana.
Dengan cepat ia menarik pinggang Ayu hingga jarak mereka tersisa satu centi meter.
"Katakan kalau kamu tidak mencintaiku!" Desak Leon dengan suara pelan.
Ayu tercekat.
"Katakan....! Katakan kalau kamu tidak mencintaiku!" Leon terus mendesaknya. Ayu membuang muka. Airmatanya tak bisa diajak kompromi lagi. Ia ingin mengucapkan sesuatu namun hatinya terlalu berat.
Melihat raut wajah Ayu, Leon tersenyum sinis. Ia memegang dagu Ayu dan memalingkan wajah cantik itu sehingga mata mereka saling bertatapan.
"Aku..." Ayu menelan ludah dengan berat. Mulut dan hatinya tidak sejalan, itu yang membuat Ayu berada di puncak dilema. Namun, lagi-lagi ia harus membuang rasa cintanya ketika ia mengingat bahwa laki-laki di hadapannya ini adalah mantan majikan orangtuanya. Tidak mungkin Leon mencintainya. Mungkin saja ia hanya marah karena selalu melihat Ayu menghindarinya.
"A-aku tidak men... cintai anda, tuan." ucapnya dengan pedih. Ya, pedih karena apa yang ia katakan tidak sejalan dengan apa yang dikatakan hatinya.
Mendengar ucapan Ayu membuat Leon segera melepaskan pelukan di pinggang gadis itu. Ia melangkah mundur beberapa langkah.
"Baik... aku janji aku tidak akan mengganggumu lagi." Tekan Leon dengan mata memerah. "Bahkan aku berjanji akan merubah rasa cintaku padamu dengan kebencian." Sambungnya murka.
Bukan main terkejutnya Ayu mendengar pengakuan Leon. Ternyata Leon mempunyai perasaan yang sama dengannya. Namun karena pengakuannya tadi membuat ia tidak berani menarik kembali pernyataannya.
Ayu menunduk dan menahan tangis mendengar perkataan Leon. Laki-laki itu sudah membencinya. Hilang sudah semua harapan di hati. Selama ini ia mengira jika cintanya bertepuk sebelah tangan.
"Ayunda..." Terdengar suara seseorang memanggil nama Ayu. Dan tanpa mereka sadari sudah ada Raka di sana yang datang mengendarai motor besar.
Dengan langkah panjang, Raka mendekati Ayu.
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Raka merasa kuatir melihat wajah Ayu yang penuh penuh air mata. "Apa laki-laki itu menyakitimu?" Sambung Raka dengan nada marah.
Ayu segera menghapus air mata dan menggeleng.
"Tidak apa-apa, ka... Tidak ada yang menyakitiku." Sahut Ayu sembari terus sibuk menghapus airmata yang seakan tak mau berhenti mengalir.
Leon yang melihat kedekatan Ayu dan Raka semakin murka. Ia masuk ke dalam mobil dan melaju dengan kencang hingga bunyi deru mobil memekakkan telinga.
Ayu menahan napas melihat laju kendaraan Leon yang di luar batas.
__ADS_1
Ya, Tuhan... jaga dia. Aku takut kehilangannya." Lirih Ayu dengan tatapan sendu menatap ke arah mobil Leon yang sudah hilang dari pandangan mata.
"Siapa laki-laki itu?" Raka bertanya ingin tahu.
Ayu menggeleng cepat.
"Tolong antar aku kembali ke pustu, ka. Aku nggak enak hati sama dokter Ella." Pinta Ayu tanpa menjawab pertanyaan Raka.
Dalam diam Raka membonceng Ayu dan mengantarkan gadis itu kembali ke pustu. Sudah banyak pasien yang pulang ke rumah setelah selesai diperiksa.
Hanya tinggal beberapa orang termasuk ibu kepala desa.
"Ayu... kamu tidak apa-apa?" Dokter Ella segera berlari ke arah Ayu saat motor yang ditumpangi Raka memasuki halaman pustu.
"Aku baik, dok. Maaf, mengganggu kegiatan kita hari ini." Ucapnya tak enak hati.
"Tidak apa-apa. Aku hanya heran saja melihat tuan Guatalla ada di sini tadi." Imbuh dokter Ella cepat. "kamu ada hubungan apa dengan dia?" Tanya dokter Ella penasaran.
Belum sempat Ayu menjawab, tiba-tiba sebuah motor masuk ke halaman pustu dan dengan terburu-buru seorang pemuda turun dari motornya dan berlari ke dalam pustu mencari ibu Kades.
"Ibu Kades... ada kecelakaan mobil di bukit desa. Sepertinya penumpang dalam mobil itu meninggal di dalam mobil." Ucap pemuda itu dengan napas terengah-engah.
Ayu menutup mulut dengan tangannya karena kaget. Bayangan Leon menari-nari dalam memori.
"Mobil siapa?" Tanya Ibu kepala desa.
"Itu, bu.... anu... mobil dari Jakarta. Kata orang-orang itu mobil tuan Guatalla."
Kaki Ayu terasa lemas dan hampir membuatnya terjatuh, untung saja dokter Ella cepat menahan punggangnya.
"Bawakan aku ke tempat itu, ka... aku mohon. Bawa aku ke sana. Aku mau lihat tuan Leon. Dia nggak boleh mati... nggak boleh, ka." Teriakan histeris Ayu membuat Raka ikut sedih.
"Iya, kita ke sana tapi kamu tenang dulu." Raka memegang kedua bahu Ayu dan mencoba untuk menenangkan gadis itu.
"Dia nggak boleh ninggalin aku, Raka... Nggak boleh. Aku nggak mau, ka... aku nggak mau." Ayu masih terus menangis dan meracau. "Bawa aku ke sana."
"Ayo, Raka... kita ke sana." Dokter Ella berlari pelan masuk ke dalam ruangan pemeriksaan untuk mengambil kunci mobil di dalam tas lalu segera masuk dalam mobil.
Tanpa disuruh Ayu segera masuk ke dalam mobil diikuti oleh Raka. Sedangkan kepala desa yang hendak memeriksakan diri sudah terlebih dahulu ke tempat kejadian.
Hanya butuh waktu sekitar tujuh menit, mereka sampai di bukit hijau desa Sukamaju. Sudah banyak orang berkerumun di sana. Bahkan petugas dari kepolisian setempat pun sudah ada dan sedang berkompromi dengan masyarakat setempat untuk mengevakuasi mobil yang sudah remuk di bawah jurang.
Ayu keluar dari mobil dan melihat asap hitam menggumpal dari tempat mobil terjatuh. Kakinya lemas tidak kuasa menahan beban tubuh hingga membuat Ayu hampir terjatuh. Dokter Ella yang berdiri di sampingnya langsung menahannya dengan cepat.
"Aku yang salah, dok... aku yang salah... aku sudah menyakitinya, dok... aku yang salah." Kembali Ayu berteriak histeris.
"Tidak, Ayu... kamu tidak bersalah. Kamu harus tenang dulu." Dokter Ella memeluk erat mahasiswinya. Ia pun menangis melihat keadaan Ayu yang tiba-tiba histeris dan menangis berteriak
"Selamat siang, nona..." Seorang polisi muda mendekati Ayu.
Ayu menoleh ke arah suara itu.
"Pak polisi... bagaimana keadaan orang yang di dalam mobil? Bagaimana keadaan tuan Leon? Dia masih hidup kan, pak? Dia hidup kan? Dia tidak mungkin meninggalkan aku kan?" Lagi-lagi Ayu meracau pada polisi itu.
"Jawab pak, dia baik-baik kan? Dia tidak mungkin meninggalkan aku." Gadis itu berteriak di depan polisi muda yang hanya terdiam.
"Anda harus tenang dulu, nona." Ujar polisi itu tenang.
Dokter Ella memeluk Ayu dan membisikkan sesuatu sehingga Ayu sudah mulai bisa tenang walaupun airmata tidak bisa berhenti mengalir. Raka pun mengelus lengan Ayu memberi kekuatan pada gadis yang sudah mulai masuk dalam hatinya itu.
__ADS_1
"Dengan berat hati kalau kami harus menyampaikan kabar ini pada anda, nona." Polisi mulai memberitahu keadaan Leon dengan pelan dan hati-hati. "Korban yang ada di dalam mobil sudah tidak....." Belum selesai polisi berbicara, Ayu sudah berteriak histeris.
"Tidaaaaaaaak...."