Cukup Di Hati Saja

Cukup Di Hati Saja
Salah Paham 2.


__ADS_3

Marco melirik jam di pengelangan tangan. Waktunya kembali ke kantor. Sudah cukup ia memberi kesempatan pada Valencia untuk berbuat sesuka hati. Ia sengaja membiarkan Valencia duduk berdekatan bahkan bersandar di lengannya. Ia hanya masih mau menjaga perasaan Valencia yang adalah mantan tunangannya di depan Lim Kian. Namun, sepertinya perempuan seksi ini kebablasan tidak tahu diri.


Seharusnya, selama 6 tahun menjalin hubungan, ia sudah mengenal karakter Marco yang adalah tipe lelaki setia. Marco tidak gampang berpindah ke lain hati, kecuali jika pasangannya berkhianat.


"Oke, Lim... aku harus kembali ke Kantor. Aku sudah tinggalkan sekretaris cantikku terlalu lama di sana." Pamit Marco tersenyum penuh teka teki.


Lim mengerutkan kening, menatap Marco dan Valencia bergantian. Marco tertawa lebar melihat wajah bingung Lim Kian. Berbeda dengan Valencia. Raut wajahnya langsung berubah suram. Ia berpikir Marco masih berharap padanya, tetapi ia salah sangka.


"Sekretaris?" Lim Kian mengulang kata sekretaris. Ia berusaha mencerna ucapan Marco tetapi sulit dimengerti.


Marco mengangguk cepat.


"Iya... sekretaris sekalian istriku." Jawab Marco menekankan kata istri dengan pasti. "Aku dan Valencia hanya berteman. Mungkin kami tidak berjodoh." Lanjutnya membuat Lim Kian mengangakan mulut tak percaya.


"Wha.... what?" Lim Kian bingung. Bukankah dari tadi mereka berdua terlihat seperti pasangan pada umumnya?


"Kamu tanya saja sama Val... Ia paling tau masalah di antara kami." Tutur Marco santai sambil melihat ke arah Valencia. "Aku pamit." Tanpa mendengar salam dari Lim Kian dan Mantan tunangannya, ia segera pergi dan menghilang dari tempat itu.


Di pikirannya saat ini hanya dipenuhi oleh Icha. Perasaannya sedikit tidak tenang karena meninggalkan istrinya tanpa pesan apa-apa. Apalagi mereka sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja setelah kesalahpahaman kecil tadi. Telepon sellulernya pun habis baterai hingga tak bisa menghubungi Icha.


Mobilnya melaju dengan cepat menuju perusahaan. Ia terus melihat jarum jam yang saat ini sudah menunjukkan pukul 14.30 menit.


Marco segera keluar dari mobil menuju lift. Sampai di lantai 25, ia melangkahkan kaki dengan cepat. Dari jauh dilihatnya meja kerja Icha kosong. Semakin mendekat, meja itu tampak rapi tak berpenghuni. Ia mengangkat telepon meja dan menghubungi Raymond.


"Ke ruangan Marissa sekarang!" perintah Marco dan langsung menutup telepon. Tak lama, Raymond pun muncul. "Di mana Marissa?" intonasi suara Marco mulai panik. Karena ini belum waktunya pulang.


"Tadi... Nona hanya kirim pesan izin pulang terlebih dahulu, tuan." Sahut Marco hormat walau pun sedikit gugup juga melihat perang dingin antara dua sejoli itu.


"Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan?" Tanya Marco datar.


"Tidak ada, tuan." Jawab Raymond.


"Aku pulang. Kamu atasi di sini." Ucap Marco sekalian memberi perintah. Raymond menunduk hormat.


Marco kembali masuk dalam lift menekan tombol langsung menuju parkiran khusus pimpinan. Ia masuk dalam mobil dan menyetir sendiri ke mansion. Ia tak sabar bertemu Icha dan menyelesaikan kesalahpahaman antara mereka.


Sampai di mansion, Marco memarkir mobil sembarang arah, melempar kunci pada sopir mansion untuk memarkirkan di tempat yang seharusnya. Ia berlari kecil ke dalam mansion luas itu dan langsung menuju ke kamar.


"Sayang...." Panggilnya setelah di dalam kamar mereka. Tak ada tanda-tanda kehidupan. Keadaan kamar juga masih sangat rapi seperti pagi tadi. "Sayang..." Teriaknya lagi sambil membuka pintu kamar mandi. Nihil. Bersih dan masih kering. Artinya belum ada yang masuk kamar mandi sedari pagi tadi.


Tak menunggu lama, ia keluar dari kamar menuju ke arah dapur. Beberapa art sedang sibuk mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing.


"Bi... Lihat Marissa?" Tanyanya penasaran. Semua art mengerenyitkan kening dan saling pandang.


"Nona belum pulang, tuan. Tadi pagi ngantor sama tuan, kan?" Hartini menjawab pertanyaan Marco.


Marco mengurut pelipis mengurangi rasa sakit di kepala yang mulai menganggunya. Tanpa bicara, ia kembali ke kamar, membuka jas dan melempar ke sembarang tempat. Ia mengambil telepon genggamnya.


"Ray... cari Marissa. Dia belum pulang ke rumah." Langsung dimatikan HP dan melemparkan ke tempat tidur.

__ADS_1


"Kamu di mana, sayang?" Ia menangkup wajah dengan kedua tangan dan mengusapnya kasar.


Kembali ia teringat kejadian sebelum makan siang tadi. Ia hanya tidak suka karena di saat dirinya membutuhkan istrinya, Icha masih sibuk dengan hal lain. Suara datar karena marah memang membuat Icha langsung menangis.


"Maaf, sayang... maaf." Lirihnya. Ia menyadari kelembutan hati Icha yang membuat wanita itu cepat sekali tersentuh. Namun, apakah karena hal itu sehingga membuat Icha pergi? Sepertinya, Icha bukan perempuan manja yang cepat tersinggung.


Tring... Tring... Tring...


Marco segera mengangkat panggilan dari HPnya.


"Bagaimana?" Tanya Marco cepat.


"Nona tidak ada di kantor, tuan. Tidak ada yang melihat nona keluar. Mungkin nona mengikuti jalur khusus." Sahut Raymond ikutan panik. Marco semakin pusing memikirkan keadaan Icha.


Ya Tuhan, kemana dia???


Marco menuruni anak tangga dengan cepat dan hampir saja menabrak kakek.


"Marco... kenapa kamu? Kayak dikejar setan aja." Seru kakek kaget melihat Marco terburu-buru. Ia mengerutkan kening heran melihat tingkah Marco.


"Nanti aku cerita. Aku harus Segera pergi, kek." Marco berlari ke luar, masuk dalam mobil dan melaju dengan kecepatan di atas rata-rata. Sopir mansion sampai terjingkrak kaget karena bunyi suara decitan ban mobil.


"Kamu di mana?" Lirihnya panik sambil menyetir. "Jangan pernah lari dari ku. Aku pasti akan menemukanmu, sayang." Pikiran negatif Marco mulai muncul.


Sampai di kantor sekitar pukul 16.45 menit. Artinya hampir jam pulang bagi karyawan GT Corp. Marco masuk dalam lift menekan angka 18, menuju divisi keuangan. Ia harus bertemu Wulan. Mungkin Wulan mengetahui di mana Icha.


Beberapa karyawan sudah mulai bersiap-siap untuk pulang, ada yang masih sibuk di depan laptop, ada yang sudah membereskan meja, ada yang masih santai dan mengobrol ramai. Tetapi, semua langsung terdiam dan tertunduk hormat saat melihat Marco. Manajer divisi keuangan yang hendak pulang langsung menghampiri Marco.


"Di mana Wulan? Salah satu karyawanmu." Marco memotong ucapan manajer itu dan menanyakan keberadaan Wulan.


"Maksud anda Wulandari Rahayu?" Tanya ibu manajer memastikan. Dalam hatinya senang bukan main dikunjungi idolanya.


"Apa ada Wulan yang lain selain nama itu?" Marco balik bertanya dengan intonasi mulai tinggi.


"Oh.. iya.. iya... sebentar, tuan." Ia segera membalikkan badan hendak menuju ke ruangan Wulan. Namun, karena masih penasaran ia kembali menghadap Marco. "Tapi... ada apa tuan mencarinya?"


"Cari dan panggilkan dia! Bukan urusanmu untuk apa aku mencarinya!" Hardik Marco membuat manajer itu tersentak kaget dan gemetar. Ia segera membalik badan dan berlari kecil mencari Wulan.


Ternyata, Wulan juga mendengar keributan itu. Ia yang hendak bersiap untuk pulang berlari ke luar untuk melihat apa yang terjadi. Sampai di pintu ia hampir saja bertabrakan dengan ibu Zola, manajernya.


"Kamu..." Ibu Zola terjingkrak kaget ditambah gugup dan ketakutan karena amarah Marco. "Eh iya... cepat! Kamu dipanggil CEO." Perempuan berusia 42 tahun itu menarik tangan Wulan dan membawanya pada Marco.


"Ini, tuan..." Ucap Zola gugup dan mendorong Wulan menghadap Marco.


"Kamu boleh pulang." Perintahnya pada Zola. "Dan kalian semua boleh meninggalkan ruangan ini." Ucapnya dingin pada semua karyawan divisi keuangan yang sedang terdiam di tempatnya masing-masing karena kaget dan gugup.


Tanpa diperintah dua kali, semua berhambur ke luar ruangan dan pulang dengan rasa penasaran apa yang akan terjadi dengan Wulan. Apalagi Marco kelihatan sangan murka.


"Ada apa, tuan?" Tanya Wulan penuh hormat.

__ADS_1


Marco tak langsung menjawab. Ia menatap dingin mata Wulan, mengintimidasi gadis itu agar mau bicara jujur.


"Di mana Marissa??" Tanya Marco datar.


"Icha?" Wulan balik bertanya dengan heran. " Maksud anda?" Sambungnya mulai curiga.


"Benar kamu tidak mengetahui keberadaan Marissa?" Marco balik bertanya.


Wulan menggeleng cepat. Marco terdiam masih menatap tajam Wulan, berharap gadis itu tidak berbohong. Dan sepertinya memang Wulan jujur.


Marco berbalik badan dan hendak pergi, namun tangannya dipegang oleh Wulan. Entah keberanian dari mana, yang pasti perasaan dan hati Wulan sudah tidak tenang memikirkan Icha, sahabatnya.


"Ada apa sebenarnya, tuan?" Tanya Wulan penasaran. "Kalian bertengkar?" Ia memberanikan diri untuk bertanya walaupun ia tahu resikonya.


Marco terdiam sebelum akhirnya menarik napas panjang.


"Hanya salah paham. Tapi, saya tidak menyangka akan membuatnya marah seperti ini." Jawab Marco pelan tanpa emosi lagi seperti tadi.


"Tidak, tuan... ini bukan hanya sekedar salah paham." Sanggah Wulan cepat. "Icha bukan tipe pemarah hanya karena satu kesalahpahaman kecil." Jelasnya serius. "Pasti anda sudah membuat satu kesalahan fatal, hingga Icha marah dan menghilang seperti ini." Ujarnya menuduh. "Saya sangat mengenalnya, tuan. Dia gadis yang lembut dan dewasa."


Marco terdiam. Rasa bersalah menyerang pikirannya. Namun, kesalahan fatal apa yang sudah ia perbuat? Sepertinya hubungan mereka baik-baik saja.


"Cari dia, tuan..." Pinta Wulan memohon. Raut sendu terlihat di wajahnya. "Icha tidak pernah berbagi masalahnya pada orang lain. Dia selalu menyimpannya sendiri dalam hati. Saat ini dia butuh anda."


Ucapan Wulan semakin membuat Marco ketakutan kehilangan Icha. Bayangan buruk mulai muncul di otaknya. Tanpa bicara apa-apa, ia pergi begitu saja dari hadapan Wulan.


Marco memasuki ruangan kerjanya setelah dari divisi keuangan. Raymond sudah ada di hadapannya.


"Bagaimana, Ray?" Tanya Marco bingung. Raymond menggeleng.


"Belum ada kabar, tuan. Anak buah kita belum menemukannya." Jawaban Raymond membuat Marco mengusap wajahnya kasar. "CCTV juga tidak menemukan nona keluar dari perusahaan."


Lalu kemana dia kalau tidak keluar dari perusahaan? Apa ia mengikuti area yang tak terlihat CCTV? Iya, tapi kemana?


Banyak pertanyaan yang bersarang di otak Marco. Pertanyaan sederhana tetapi sulit menemukan jawaban.


"Tuan... maaf, kalau saya lancang." Suara pelan Raymond membuat Marco mengangkat kepala melihatnya. " Jangan-jangan ada hal lain yang membuat nona marah pada anda." Terang Raymond mencoba mencari akar permasalahan antara Marco dan Icha.


Ting.


Bunyi pesan masuk. Marco segera membuka dan tersenyum senang melihat nomor Icha mengirim pesan. Berarti handphone Icha sudah aktif kembali dan Marco bisa melacak keberadaannya. Namun, sayang.... Icha langsung menonaktifkan HP setelah mengirim pesan.


Deg..


Jantung Marco berdetak lebih cepat saat melihat kiriman pesan Icha berupa foto Valencia yang sedang bersandar di lengannya. Terlihat sangat mesra dan Marco pun nyaman.


"Oh ****." Umpatnya melihat foto itu. Rasanya ia ingin membanting telepon genggam di tangannya dan segera mencari Valencia. Karena ia yakin perempuan itu yang sudah mengambil gambar mereka tanpa sepengetahuannya dan mengirim pada Icha.


"Ada apa, tuan?" Tanya Raymond penasaran.

__ADS_1


"Benar kata kamu. Ternyata ada yang mau mengganggu hubunganku dengan istriku." Sahutnya dengan marah. "Aku akan membuat matanya terbuka lebar agar dia tau dengan siapa dia bermain api." Ancamnya penuh dendam.


Raymond terdiam. Apakah ini ulah Valencia? Gumam Raymond dalam hati.


__ADS_2