
"Bagaimana semalam?" Marco tiba di kantornya lebih awal. Ia ingin segera bertemu Raymond.
"Aman, tuan. Aku sudah membereskan mereka." Jawab Raymond tenang. Marco tersenyum sinis. Ia tidak aneh lagi dengan kejadian semalam. Bukan baru sekali atau dua kali ia dibuntuti seperti ini. Sebagai pengusaha sukses pasti banyak yang memusuhinya. Di depan Marco, mereka tersenyum manis tetapi di belakang Marco, mereka berusaha menjatuhkannya. Marco memang masih muda, tetapi jangan lupa bahwa ia cucu dari mr. LG, pengusaha tua yang sudah malang melintang di dunia bisnis. Marco mendapat banyak bekal dan wejangan dari sang kakek untuk bisa mengatasi orang-orang licik seperti semalam.
Flash back
Semalam setelah bertengkar dengan papa Adam, Marco berlalu dari kamarnya dan langsung menuju garasi. Ia mengendarai mobil keluar dari halaman mansionnya yang luas. Ia harus menemui Icha, memeluk gadis itu dan menenangkan pikirannya.
Sampai di pertengahan jalan, Marco menyadari ada sebuah mobil yang membuntutinya. Ia melihat curiga lewat kaca spion samping.
"****!" Umpatnya geram. Ia mengambil telepon genggamnya di saku jaket dan segera mencari nomor Raymond. Bukannya takut, tetapi Marco kesal karena orang-orang itu mengganggu waktunya unyuk bertemu pujaan hati.
"Ray, aku sedang di alun-alun kota. Ada sebuah mobil yang membuntutiku. Cepat kirim bantuan. Aku akan bermain-main sebentar dengan mereka." Marco langsung memutuskan hubungan telepon.
Ia yang awalnya hendak menemui Icha, membelokkan mobil menuju alun-alun kota dan hanya berputar di sekitaran sana saja sambil menunggu bantuan dari Raymond. Ia terus memantau pergerakan mobil asing di belakangnya itu. Ia sedikit bernapas lega karena cepat menyadari adanya mobil asing, sebelum tiba di kosan Icha.
Sampai akhirnya, ia melihat Raymond dan beberapa anak buah bayarannya menghadang mobil itu dan sempat berargumen panas. Marco masih memperhatikan mereka dari jarak yang tidak terlalu jauh. Anak buah Raymond yang berjumlah lebih banyak dari orang-orang dalam mobil asing itu berhasil meringkus dan membawa mereka pergi dari alun-alun tanpa keributan sehingga tidak ada orang di sekitar alun-alun yang curiga pada mereka.
Marco tersenyum puas. Ia belum mengetahui siapa dalang dibalik mobil asing itu. Namun, ia percaya akan kecerdasan Raymond, asistennya. Ia yakin besok Raymond akan memberikan informasi akurat.
End
"Siapa dalangnya?" Tanya Marco singkat.
"Anda pasti tidak akan percaya jika saya menyebutkan namanya, tuan." Marco melirik tajam ke arah Raymond.
"Jangan bilang tuan Christo, dalangnya?" Ia mencurigai ayah dari mantan tunangannya, Valencia. Setelah ia memutuskan pertunangan, ia tidak pernah lagi bertemu dengan laki-laki paruh baya itu. Marco pun tidak mengganggu sahamnya di perusahaan Christo. Karena Marco diajarkan kakek untuk bersikap profesional. Harus bisa membedakan antara masalah bisnis dan masalah pribadi. Jika ada yang menyerang pribadimu, hancurkan pribadinya, tetapi jika ada yang menyerang usahamu, hancurkan usahanya. Itu didikan mr. LG pada cucu kesayangannya.
"Bukan, tuan.... Tuan Christo tidak berani menyerangmu. Justru ia bersyukur karena anda tidak menarik seluruh saham di perusahaannya." Sahut Raymond masih bermain teka-teki dengan bosnya.
Marco duduk di sofa tamu sambil menopang dagu dengan tangannya. Ia mengerutkan kening memikirkan sesuatu yang terasa sangat berat. Ia mencurigai seseorang, tetapi masih ragu dengan kecurigaannya.
Tak lama kemudian, ia melirik Raymond yang sedang melihatnya dengan rasa penasaran.
"Jangan bilang ini ulah daddy?" Akhirnya Marco mengungkapkan kecurigaannya pada sang ayah. Raymond tersenyum kecil.
"Ya, tuan.. anda benar. Tuan Adam dibalik semua ini. Ia membayar para preman untuk mengikuti anda. Ia ingin mencari tahu tentang Marissa." Sahut Raymond tanpa ekspresi. "Saya harap... anda bisa menjaga Marissa dengan baik, tuan," sambung Raymond yang membuat Marco meliriknya tajam. Raymond menelan salivanya yang terasa pahit akibat tatapan tajam mata Marco.
"Kau tidak usah mengajariku untuk melindungi Marissa," ketus Marco. "Kau cukup memantau orang-orang suruhan daddy," lanjutnya. Ia menarik napas dan menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa.
"Tidak usah terlalu menyiksa mereka, cukuplah kau membuat daddy kewalahan karena kinerja para preman bayarannya yang kacau." Tandas Marco kesal mengingat kelakuan sang ayah yang seperti seorang pengecut.
"Pantas saja kakek tidak mempercayai bisnisnya pada daddy. Ternyata ia hanya seorang pecundang." ujarnya masih mencemooh sang ayah.
"Kembali ke ruangmu." Perintah Marco. Raymond menunduk hormat dan segera keluar, menghilang dari hadapan Marco.
Marco melirik jam di pengelangan tangan kanannya. Pukul 07.45. Harusnya Marissa sudah di ruangannya. Ia segera keluar dan menuju ke tempat Marissa biasa duduk untuk bekerja.
__ADS_1
Kursinya masih kosong. Tetapi, tas kerjanya sudah ada di meja dan pintu kamar privasi terbuka. Marco tersenyum licik. Tanpa menunggu lama, ia masuk ke dalam tanpa suara. Dilihatnya Icha sedang bercermin. Gadis manis itu memoles liptint pada bibirnya.
hup!
hmmmmm... Kebiasaan. Gumam Icha dalam hati. Kali ini ia tidak kaget lagi seperti biasa. Malah ia tersenyum melihat Marco yang langsung membenamkan wajahnya di ceruk leher Icha. Tampaknya, itu menjadi bagian favorit Marco jika memeluk Icha.
Icha menutup kembali botol liptintnya dan memeluk tangan Marco yang melingkar erat di pinggangnya. Marco mengangkat wajahnya dan memandang Icha melalui cermin. Wajahnya nampak damai dan bahagia. Gadis ini memang luar biasa. Ia membawa aura positif bagi hidup Marco.
"Mulai besok tugas kamu membawakan bekal untuk makan siang kita. Aku mau kamu memasak untukku setiap hari." Pinta Marco. Icha merengutkan wajahnya.
"Tapi aku nggak bisa masak yang aneh-aneh... bisanya cuma masakan kampunh kayak semalam," sungutnya. "Nanti kamu bosan." lanjutnya.
Sebelum menjawab memberikan sebuah ciuman kecil di pipi Icha.
"Apapun yang kamu masak, aku akan makan. Sekalian kamu belajar memasak sebelum kita menikah." Sahut Marco menggoda Icha.
"Emangnya aku mau menikah sama kamu?" Cibir Icha membuat Marco menggigit telinganya gemas. Icha tertawa manja.
"Aku nggak minta persetujuan kamu. Mau nggak mau, kamu harus mau."
Tampik Marco membuat Icha tertawa.
"Dasar tuan pemaksa... " Gerutu Icha.
Marco memandang Icha dari cermin dengan mimik yang serius.
"Ingat, mulai besok bawakan aku makan siang." ujar Marco mengingatkan. Ia mengeluarkan sebuah kartu ATM dari saku jasnya dengan tangan kanan, sedang tangan kiri terus melingkar di pinggang Icha. Marco meletakkan kartu itu di tangan Icha.
"Dengar... aku akan segera menikahimu dengan atau tanpa restu orangtuaku. Dan aku tidak mau ada penolakan dari kamu." Tegas Marco membuat Icha terdiam. Ia menelan salivanya tak percaya dengan ucapan Marco. "Hanya satu yang aku minta, percayalah padaku." Tatapan penuh cinta dari mata Marco membuat Icha luluh. Ia tak mampu lagi untuk menolak keinginan Marco. Ia mengangguk pasrah. Marco tersenyum senang. Ia mengecup bibir Icha dan merasakan lengket liptint Icha.
"Ck... lipstik apa ini? Kok nempel sih?" Celetuk Marco menyeka bibirnya. Ia sengaja mencairkan suasana dengan lelucon agar gadisnya bisa tertawa lagi. Dan itu berhasil. Icha tertawa geli. Ia membantu menyeka bibir Marco.
"Makanya jangan asal cium." Ledek Icha.
Marco hanya tertawa dan kembali membenamkan wajahnya di leher Icha. Ia menghirup dalam wangi tubuh Icha, mengecupnya singkat dan melepaskan pelukannya.
"Cepat kerja! Awas, kalo lelet." Ancamnya menggoda Icha dan pergi berlalu begitu saja. Icha melebarkan matanya.
"Iiiiih... nggak sopan!" Teriak Icha kesal. Marco tertawa terbahak-bahak tanpa menoleh ke belakang lagi. Ia membuka pintu kamar ruang privasi Icha dan menutupnya kembali, meninggalkan Icha dengan sejuta omelan di dalam.
Sesaat kemudian, Gadis manis itu tersenyum. Pastinya ia tersenyum bahagia. Bahkan matanya berkaca-kaca. Ia bahagia dan terharu melihat cinta Marco yang begitu tulus untuknya.
"Jaga dia untukku, Tuhan... Beri dia panjang usia dan kebahagiaan selalu." Doanya dengan air mata mengalir di pipi.
Icha segera keluar dan duduk di kursi tempatnya bekerja. Mulai membuka laptop dan memeriksa email yang masuk. Ia harus membaca dengan detail isi email, mengopinya dan memberi pada Marco. Saking seriusnya bekerja, ia tidak menyadari kehadiran seseorang di depan mejanya.
"Ehem... " Icha segera mengangkat kepala setelah mendengar suara deheman. Ia langsung berdiri menunduk hormat pada tamu di depannya.
__ADS_1
"Nona Valencia... ada yang bisa saya bantu?" Tanya Icha dengan nada sopan.
"Saya ingin bertemu tunangan saya. Apa ia ada?" Icha spontan mengangkat alisnya mendengar kata tunangan dari mulut Valencia.
"Oh... i-iya, ada. Tuan Marco ada, nona. Silahkan." Icha mempersilahkan Valencia masuk dalam ruangan Marco. Ia mengetuk pintu dan segera membuka pintu sesaat setelah mendengar perintah dari dalam untuk masuk.
"Tuan... Ada tamu untuk anda." Marco yang mendengar suara Icha, langsung mengangkat kepala. Ia mengerutkan kening.
"Silahkan masuk, nona." Icha mengisyaratkan pada Valencia supaya memasuki ruangan Marco. Melihat mantan tunangannya datang, Marco memperlihatkan wajah kesal pada Icha. Ia menyadari, Icha sengaja memperkeruh suasana.
"Hai, sayang.... " Sapa Valencia masih dengan sebutan yang sama seperti dulu. Marco memutar bola matanya kesal. Ada segurat senyum ledekan di bibir Icha, dan Marco melihat senyuman kecil itu.
"Kamu tetap di sini. Bantu saya memeriksa berkas ini." Perintah Marco saat Icha pamit hendak ke luar. Icha melototkan mata mengancam Marco. Laki-laki itu tidak peduli. Ia akan membalas ulah Icha yang sengaja menjebaknya supaya bisa berdua dengan Valencia.
Marco bangun dari kursinya dan menuju sofa tamu.
"Hai, sayang... aku... " Valencia hendak mengecup pipinya tetapi langsung ditolak Marco. Perempuan seksi itu pun mundur beberapa langkah ke belakang. Icha melebarkan matanya. Tidak percaya melihat Marco menolak sedikit kasar pundak Valencia.
"Berhenti memanggilku dengan kata itu, Val... kita tidak punya hubungan apa-apa lagi." Tegas Marco. Ia duduk di sofa kecil. "Kamu.... duduk di kursi itu dan periksa berkas-berkas di meja." Perintah marco pada Icha.
"Kok kamu suruh dia duduk di kursi kamu sih?" Tanya Valencia heran. Seumur-umur selama mengenal Marco, ia tidak pernah menduduki kursi kerja Marco. Tetapi hari ini dengan mata kepalanya sendiri, ia melihat Marco memerintah sekretarisnya untuk duduk di kursi itu. Ada apa ini?
"Itu bukan urusan kamu." Sentak Marco. Valencia merasa heran dengan sikap Marco yang mulai kasar padanya.
"Masih menunggu apa? Kamu mau aku yang mendudukkan kamu di sana?" Marco sengaja membentak Icha agar gadis itu tidak membantah. Icha mendelik kesal padanya. Marco tertawa dalam hati.
"Untuk apa kamu ke sini?" Tanya Marco dingin. " Kalau tidak ada yang penting untuk dibahas lebih baik kamu pulang. Aku banyak pekerjaan." Tukas Marco to the point pada Valencia.
Icha memasang telinga mendengarkan tetapi matanya tetap tertuju pada berkas di tangannya. Tentu saja konsentrasinya buyar kemana-mana. Ini akibat permainannya sendiri.
"Kamu benar-benar berubah, Marco." Sesal Valencia. "Aku akan membuat perhitungan dengan perempuan yang sudah merebut kamu dari aku." Serunya geram. Icha menunduk.
"Sedikit saja ada goresan lecet di tubuhnya, maka aku tidak segan membuatmu menderita." Ancam Marco dengan tenang. "Aku yang jatuh cinta padanya, aku yang tergila-gila padanya, dan dalam waktu dekat aku akan menikahinya." Ucapan Marco seakan panah yang menembus jantung Valencia. Sedang Icha, ia merasa seperti sedang berada di tengah-tengah taman bunga berwarna-warni. Tetapi, ia tetap menunduk.
"Kamu jahat, Marco. 6 tahun seakan tidak ada artinya bagimu." Teriak Valencia emosi.
Marco tertawa mencemooh dirinya.
"Memangnya menurutmu selama 6 tahun, momen apa yang membuat aku harus mempertahankan hubungan kita?" Pertanyaan Marco berhasil menjebak Valencia. Perempuan itu terdiam tetapi masih terisak sedih.
"Iya, aku tau... aku salah. Aku mau memperbaikinya, sayang." Ia mulai menurunkan nada bicaranya.
"Tidak usah repot-repot memperbaikinya. Aku menganggap hubungan kita sudah rusak dan tidak akan bisa diperbaiki." Sarkas Marco sedikit kejam. Ia sengaja mengatakannya agar Valencia jera dan berhenti mengejarnya.
Perempuan itu terdiam mendengar kata-kata Marco. Ia mengambil tasnya dan hendak berjalan keluar. Sebelum ia membuka pintu, ia sempat melirik tajam pada Icha. Tatapan dendamnya sangat kelihatan. Icha hanya terdiam tanpa suara.
Melihat Valencia yang sudah keluar, Marco segera mendekati Icha. Ditariknya pelan tangan Icha agar gadis itu berdiri dan menolaknya hingga tersandar di tembok.
__ADS_1
"Kamu memang harus dihukum."
Hukuman apa yaaaaa, gaezz?😀😀😀😀😀