Cukup Di Hati Saja

Cukup Di Hati Saja
Tamu Sarapan Pagi.


__ADS_3

Ayu membuka diary berwarna violet yang selama ini menjadi teman curhatnya yang paling setia. Menurut Ayu, diary tidak pernah protes setiap kali mendengar ceritanya.


Jari-jari lentiknya mulai memegang balpoin dan menari indah di atas kertas cantik itu.


Hai dear diary... aku datang lagi. Jangan bosan ya dengarin curhatan aku😊


Kemarin aku ketemu dia, dear.. tapi sikapnya sangat sinis padaku. Apakah ia membenciku? 😢


Dia bahkan sangat dekat dengan seorang wanita cantik. Dia bersikap sangat manis pada wanita itu😟.


Aku tau aku tidak ada apa-apanya dibanding wanita cantik itu. Status kita juga jauuuuuuh berbeda. Aku yakin dia bukan wanita dari kelas bawah


sepertiku😣.


Ayu berhenti menulis sejenak. Ia melihat ke luar jendela, memandang langit yang terlihat Menghitam karena gelapnya malam.


Oya, dear diary...


Minggu ini aku akan turun ke desa Sukamaju untuk mendampingi dokter Ella melakukan pemeriksaan kesehatan di sana. Aku harap dengan kesibukanku nanti aku bisa sedikit melupakan dia😴.


Tersirat senyum kecut di wajah Ayu. Ia menarik napas panjang dan mulai menulis lagi.


*Ya udah... hari ini cukup sekian curhatan aku. Besok pasti aku datang lagi😊


Selamat beristirahat, Ayu*...


Setelah menulis hari dan tanggal, Ayu menutup diary lalu melangkah menuju tempat tidur. Ia membaringkan tubuh lelahnya setelah seharian melayani di restoran milik keluarganya.


Tring... tring... tring


Ayu yang sudah menutup mata segera membukanya kembali setelah mendengar bunyi pesan masuk ke selulernya. Ia bangun mengambil benda kecil itu yang ia letakkan di atas dashboard tempat tidur.


"Ninda." Lirihnya pelan membaca nama yang tertera di sana. "Dia kirim apa sih malam-malam begini?" Ayu segera membuka aplikasi whatsapp dan melihat ada satu video yang dikirim sahabat baiknya itu.


Klik! Ayu membuka video itu.


"Hai Dian Ayunda yang ayu dan manis.... pasti kamu sudah mau tidur, ya? hahahahaha... sorry ya, mengganggu. Nih lihat aku lagi di mana coba tebak." Ayu memperhatikan dengan senyum lucu melihat video yang Ninda kirim. Ternyata ia membuat video sedang makan di restoran mewah. Tapi dengan siapa?


"Ayuuuu... aku lagi makan di resto Itali sama kliennya papa. Tuh lihat!" Ninda memutar kamera hapenya dan terlihatlah wajah seorang laki-laki paruh baya, Marco, Icha dan....


Deg!


Leon sedang duduk berdampingan dengan wanita cantik yang ia lihat di restonya tadi siang.


"Tuh... kak Leon lagi sama cewek Jepang. Cantikkan? Itu cucu dari klien papa. Kayaknya dia suka deh sama kak Leon. Dari tadi dia nggak mau jauh dari kakak... hahahaha." Ninda terus berceloteh menceritakan semua yang ia dan keluarganya lakukan.

__ADS_1


Ayu tak bisa lagi menahan sesak di dada. Ia menangis terisak. Ia merasa seperti perempuan bodoh yang bertahun-tahun menyimpan rasa untuk laki-laki yang tidak mungkin ia dekap.


Ayu menutup teleponnya tanpa berniat memberi komen pada video itu lalu kembali berbaring. Ia memeluk guling dengan kuat dan menangis sejadinya sampai ia tertidur dengan airmata.


Keesokan paginya Ayu terbangun dengan mata sembab dan kepalanya terasa sedikit pusing. Mungkin karena terlalu menangis semalaman.


Setelah duduk bersandar selama lima menit untuk menetralkan diri ia segera bangun dan mengambil wudhu sebelum waktu sholat subuh habis.


Ia menangis dalam sujudnya, menumpahkan semua rasa yang terpendam. Aneh memang! Menangis karena menyimpan rasa cinta untuk seseorang yang tidak mungkin mencintainya. Namun itulah yang terjadi. Perasaan cinta yang tumbuh saat mereka masih remaja seakan terus subur berkembang memenuhi hati dan pikiran Ayu.


Selesai sholat, Ayu merasa kelegaan yang luar biasa. Ia bisa tersenyum dan merasa lebih baik.


"Terimakasih ya, Allah." Kembali Ayu mengucap syukur karena merasa Tuhan langsung menjawab doanya. Ia tak meminta banyak pada Sang Pencipta. Ia hanya meminta keluasan hati agar bisa menghadapi semua masalah yang akan ia hadapi ke depannya. Terlebih masalah hati.


Ayu membereskan mukena dan tempat tidur. Ia membuka jendela kamar sehingga ia merasa sedikit kedinginan saat semilir angin pagi menyentuh kulit mulusnya.


Selesai menikmati angin pagi, Ayu segera keluar kamar dan menuju dapur.


"Pagi, bu..." Ia memberi salam pada Rossa yang sudah terlebih dahulu bangun dan sibuk membuat sarapan. "maaf, Ayu bangunnya terlambat. Kepala Ayu sedikit pusing." Jelasnya pelan.


"Iya, nak... tidak apa-apa." Suara lembut Rossa selalu terdengar saat ia berbicara dengan Ayu. Maka tidak heran jika Ayu pun terlahir dan tumbuh menjadi gadis yang lemah lembut. "Nih, bubur ayamnya sudah jadi. Kamu bawa ke meja makan, ya." pinta sang ibu.


"Tumben ibu masak bubur ayam." Ujar Ayu heran. Bukannya tak biasa namun jarang sekali ibunya menyiapkan bubur ayam untuk sarapan mereka. Karena Haris, ayah Ayu lebih suka makan nasi dari pada bubur.


"Ada tamu yang mau datang sarapan di sini." Imbuh Rossa sedikit berbisik." Katanya kangen bubur ayam buatan ibu." Ia tersenyum senang saat memberitahukan jika tamu itu rindu masakannya.


"Nanti juga kamu tau." Celetuk Rossa memberi teka-teki. Ayu hanya mengerutkan kening mencoba menerka. Namun tak ada bayangan siapapun yang masuk dalam otaknya.


"Eh... sebentar." Rossa memegang lengan Ayu dan menatap mata putrinya yang terlihat aneh. "Mata kamu sembab sekali. Kamu habis nangis semalaman?" Tanya Rossa mengintimidasi.


Mendengar pertanyaan Rossa, Ayu gelagapan.


"hah? Sembab? Nangis?" Ia mengulang penggalan kata-kata Rossa dengan gugup. "Oh... nggak, bu. Masa Ayu nangis semalaman." Sambungnya dengan berusaha tenang. "Kalau bangun tidur kan biasa begini, bu." Ia masih berusaha tersenyum di depan Rossa, ingin menunjukkan pada sang ibu bahwa ia baik-baik saja.


"Ya sudah... yang penting kamu tidak kenapa-kenapa." Rossa pun tersenyum dan percaya pada Ayu. "Nah... sekarang kamu mandi sebelum tamu kita datang." Pungkas Rossa. Ayu mengangguk dan segera kembali ke kamarnya untuk mandi.


Tepat pukul tujuh pagi, ada sebuah mobil masuk dalam halaman rumah Ayu. Setelah memarkirkan mobil dengan baik, seorang laki-laki tampan keluar dari dalam mobil lengkap dengan jas mahal dan kacamata hitam.


"Mari, tuan... silahkan." Haris menyambut tamunya dengan senang.


"Ayolah, om... berapa kali aku harus bilang jangan panggil aku tuan." Ternyata Leon yang menjadi tamu pagi ini.


Haris tertawa kecil mendengar omelan Leon.


"Iya... maaf, om selalu lupa." Timpal Haris sambil menepuk jidat. "Ayo, masuk. Bibimu sudah menyiapkan makanan kesukaanmu." Ia mengantar Leon masuk dalam rumah sederhana mereka.

__ADS_1


"Pagi, bi..." Sapa Leon pada wanita yang sudah dianggap sebagai ibu keduanya.


"Pagi, nak... senang bisa melihatmu lagi." Sahut Rossa lalu memeluk Leon. "Ayo, langsung ke ruang makan saja." Rossa menggandeng tangan Leon menuju ruang makan.


Mata Leon melirik kiri dan kanan, berharap melihat satu sosok yang sangat ia rindukan. Itulah mengapa ia ingin sarapan di rumah ini dengan alasan rindu bubur ayam buatan Rossa.


"Ayu mana, bu?" Tanya Haris saat mereka sudah duduk di meja makan.


"Tadi ibu menyuruhnya mandi, yah. Sebentar ibu panggilkan dulu." Rossa berjalan cepat menuju kamar Ayu dan langsung membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu.


"Lho.... nak, kamu kenapa?" Rosa heran melihat Ayu yang sudah meringkuk di atas tempat tidur.


"Ayu lagi datang bulan, bu. Perut Ayu sakit." Rengeknya sambil menahan sakit di perut. "Ayu belum bisa sarapan. Nanti kalau perutnya sudah enakan Ayu sarapan ya, bu." Sambungnya lalu meringis kesakitan. Rossa mengangguk lalu membelai lembut kepala Ayu.


"Iya, nak... tidak apa-apa. Nanti ibu kasih tau ayah dan Leon. Kamu istrahat saja." Rossa mengambil selimut lalu menutup tubuh Ayu. "Biasanya tidak separah ini, kan?" Tanya Rossa kuatir. Ayu hanya mengangguk lemah.


Setiap datang bulan memang Ayu selalu mengeluh sakit di perutnya. Hanya saja pagi ini Rossa melihat Ayu merasa kesakitan yang lebih dari biasanya. Maka Rossa merasa sangat kuatir melihatnya.


"Ya sudah, ibu keluar dulu. Tidak enak sama Leon." Rossa segera keluar kamar Ayu dan kembali menemui Leon.


"Maaf, bu... Ayu harus berbohong." Lirih Ayu sedih saat Rossa sudah menghilang dari dalam kamarnya. Ia bangun dan bersandar pada dashboard tempat tidur. Ia sedang tidak datang bulan, sebenarnya.


Setelah selesai mandi, ia mendengar suara mobil masuk dalam halaman rumah dan betapa terkejutnya Ayu melihat sang ayah menyambut Leon yang keluar dari dalam mobil.


Ayu langsung memutar otak untuk mencari alasan agar tidak ikut sarapan bersama. Sungguh, untuk saat ini ia tidak ingin bertemu Leon. Ia harus belajar membuang rasa ini dengan cara tidak bertemu lagi dengan laki-laki itu.


Haris mengerutkan kening melihat Rossa sendiri tanpa Ayu. Ia menatap istrinya meminta jawaban.


"Ayu lagi sakit perut, yah. Dia belum bisa sarapan sama kita. Nanti kalau perutnya sudah membaik, ia akan sarapan." Ujar Rossa lalu duduk di samping Leon.


Tidak ada yang menyadari jika raut wajah Leon mulai berubah antara kesal, emosi, kecewa, marah atau apalah. Yang pasti nafsu makannya menjadi hambar.


"Sakit perut?" Tanya Haris heran.


"Biasa, yah... masalah perempuan." Ujar Rossa setengah berbisik. Haris tertawa pelan mengerti maksud istrinya


"Oalah.... ayah pikir kenapa tadi." Celetuk Haris. "Ayo, nak... kita makan. Mumpung buburnya masih hangat." Ajak Haris ramah. "Nanti baru Ayu sarapan setelah perutnya sedikit membaik. Karena kalau lagi sakit perut gitu dia suka sensitif." Cibir Haris lalu tertawa.


Terpaksa Leon ikut tertawa agar tidak dicurigai oleh pasangan suami istri itu.


'Awas kamu!' Geram Leon dalam hati.


Rossa dengan sigap mengambil piring Leon dan mengisinya dengan bubur ayam ditemani beberapa kerupuk unyil.


"Silahkan, nak." Tegur Leon. Laki-laki tampan itu mulai memegang sendok dan mengaduk bubur ayam untuk mendinginkan terlebih dahulu.

__ADS_1


Ternyata kamu semakin menghindariku. Kali ini aku benar-benar akan menghukummu.


Leon mendengus kesal dalam diam. Niat hati ingin bertemu dan melihat wajah cantik itu tetapi malah ia dikerjai oleh Ayu.


__ADS_2