Cukup Di Hati Saja

Cukup Di Hati Saja
Diary Ayu.


__ADS_3

Selesai makan malam, Marco segera menarik tangan Icha menuju kamar tidur. Kelakuan Icha yang mempermainkan adrenalinnya tadi membuat ia harus membalas wanita cantik itu.


Ninda hanya tersenyum dan menggeleng kepala melihat tingkah sang ayah.


"Mereka romantis ya, non... Dari awal menikah sampai sekarang mereka selalu romantis." Ujar bibi Hartini, wanita tua yang sudah mengabdi pada keluarga Guatalla dari sebelum Marco dan Icha menikah. Bahkan ia adalah saksi hidup bagaimana lika-liku rumah tangga ini berjalan bersama dua anak mereka selama puluhan tahun. Kini di usianya ke 63 tahun, ia masih melayani Marco dan Icha. Bahkan ia memilih untuk tidak menikah karena lebih suka bekerja dan melayani keluarga Guatalla. Padahal, Icha selalu mendesaknya untuk menikah dan memiliki keturunan, namun ia selalu menolak dengan berbagai alasan. Keluarga di kampung pun tak ingin memaksa dan mengikuti keputusan bibi Hartini. Apalagi Marco dan Icha sudah terlalu banyak membantu perekonomian keluarga Hartini di kampung.


"Cerita dong, bi... papa sama mama tuh gimana dulu? Ketemunya di mana? Kok sampai mama mau sama papa yang sedingin itu?" Tanya Ninda antusias. Selama ini ia belum pernah mendengar cerita itu dari mamanya.


"huuuuu... non kepo." Ledek bibi sengaja tak ingin cerita masa lalu Marco dan Icha. Hartini membereskan meja makan dibantu oleh Lia, asisten rumah tangga baru yang masih muda.


"Yeeee... bibi mah gitu." Rengek Ninda manyun. "Ayo dong, bi... penasaran nih." Desak Ninda yang mondar mandir mengikuti langkah Hartini.


"Besok aja ceritanya... ini sudah waktunya istirahat. Kalau bibi cerita juga sampai esok pagi nggak akan Kelar." Pungkas bibi sambil membersihkan taplak meja makan. "Yang pasti... kenapa bibi betah sampai tua begini masih ada di mansion ini, itu semua karena kebaikan hati mamanya non yang akhirnya kebaikan itu menular ke papanya non." Sambung Hartini sambil menatap Ninda. "Mereka orang baik." Hartini berbisik di dekat telinga Ninda, sengaja membuat gadis kepo itu semakin penasaran.


"Tunggu... tunggu... tunggu..." Ninda menahan tangan Hartini ketika wanita itu hendak ke dapur. "Tadi kata bibi, kebaikan mama menular ke papa. Jadi, dulu itu papa nggak baik, ya?" Tanya Ninda penasaran. Hartini tertawa kecil.


"Papanya non itu baik, hanya saja sikap dingin dan datar menutupi kebaikannya." Jawab Hartini semangat tetapi tiba-tiba ia menutup mulut dan melihat kiri kanan. "Udah ah, non... jangan ajak bibi bergosip, nanti bisa berabe kalau tuan Marco tau." katanya dengan volume suara yang diperhalus.


"Siapa yang bergosip, bi? Kita kan sedang membicarakan kenyataan." Sanggah Ninda. "Pokoknya besok bibi harus cerita, ya." Desak Ninda yang dijawab dengan anggukan kepala Hartini.


Ninda masuk ke dalam kamarnya dan mulai mengutak atik laptop sambil membaca artikel pada youtube. Ia selalu membaca artikel atau berita tentang ibu dan anak di pedesaan bahkan di pedalaman.


Kring... kring... kring...


Terdengar jeritan bunyi nada dering telepon genggam Ninda.


"Halo, neng geulis Dian Ayunda, anaknya bibi Rossa dan Mang Haris, yang cantik jelita..." Bukannya memgucapkan salam, malah Ninda menyapa Ayu dengan kalimat yang panjang dan terdengar aneh. Namun, karena sudah terbiasa dengan hal itu, Ayu hanya tertawa lucu dari balik telepon.


"Bisa nggak nyapa dengan salam dulu? Nggak usah kepanjangan gitu, aku kan jadi lupa mau bahas apa sama kamu." Omel Ayu dengan ciri khas suara halusnya membuat Ninda tertawa senang. "Nah, sekarang aku ngomong terlebih dulu sambil kamu ingat-ingat apa yang mau kamu bicarakan. Ok?" Ujar Ninda bersemangat. "Gini, sekarang aku tuh lagi senang banget, yu... Besok pagi sekitar jam 3 atau 4 subuh kak Leon udah sampai di mansion. Sekarang kak Leon lagi dalam perjalanan dari Amerika ke Indonesia, yu..." Cerita Ninda dengan semangat. "Aku udah kangen banget sama kakakku itu... udah nggak sabar pengen ketemu." Ninda terus berceloteh tanpa tahu bagaimana perubahan wajah Ayu di sana mendengar nama itu. Nama yang selama ini selalu menggetarkan hati, namun ia tutup rapat bahkan semenjak mereka masih kecil.


"Yu....? Ayu?" Ninda memanggil si penelepon karena tak mendengar suaranya sama sekali.


"I.. i.. iya... iya, Nin... aku dengar." Sahut Ayu terbata-bata. Untungnya mereka mengobrol lewat udara, jika saja saat ini Ayu dan Ninda saling berhadapan pasti Ninda akan mencurigai perubahan raut wajah sahabatnya itu. "Oh ya... usulan kita ke desa Sintariang udah diterima belum?" Ayu memutar otak untuk mengganti topik pembicaraan.

__ADS_1


"Oh... udah... sorry, aku lupa kasih tau kamu sama Moniq." Ia melompat dari tempat tidur lalu mengambil sebuat amplop berisi surat izin praktik mahasiswa kedokteran, mengambil gambar dan mengirimkan pada Ayu. "Aku dah kirim tuh. Nanti besok baru lihat suratnya, ya." Ujarnya.


"Ok deh... ya udah, istrahat sana. Aku juga mau tidur. Udah ngantuk." Seru Ayu sambil menguap lebar hingga suaranya terdengar oleh Ninda.


"Yaaaah... kok gitu sih? Padahal aku pengen ngobrol sama kamu sambil nunggu kedatangan kak Leon." Lirih Ninda sedih.


Mendengar nama itu, Ayu menutup mata dan menarik napas panjang. Tarikan berat napas itu seperti ada sebuah beban berat yang selama ini ia pikul sendiri. Namun, ia tetap mengatur napas dan suara senormal mungkin agar tak dicurigai Ninda.


"Ini baru jam sembilan, Nin... masih lama lho kak Leon nyampe di bandara sini." Kata Ayu pelan. "Mending kamu tidur dulu." Lanjutnya menyarankan Ninda untuk tidur. "pasang alarm supaya bisa terbangun pas kedatangan kak Leon nanti." Sarannya.


"Ya udah deh..." Seloroh Ninda lemas. "Eh, tunggu... dari tadi aku ceritain tentang kak Leon, tapi kamu masih ingat kak Leon kan?" Tanya Ninda karena merasa nada suara Ayu biasa-biasa saja mendengar nama Leon, padahal mereka sangat akrab dan dekat sewaktu kecil dulu.


Lagi-lagi Ayu menahan napas mencoba santai dan terus meladeni pertanyaan Ninda.


"Ya masih dong, Nin..." Jawab Ayu sekenanya. "Mungkin kak Leon nanti yang udah nggak ingat wajahku." Lanjutnya pelan.


"hahahaha... bisa jadi, Nin. Abis kamu udah beda banget sekarang. Udah tambah cantik dan semakin ayu." Ujar Ninda menggoda sahabatnya. Ayu juga ikutan tertawa mendengar pujian pura-pura Ninda.


"Itu gara-gara seabrek skincare yang kamu beli tuh." Sanggah Ayu. "Sampe aku malas pakenya." Lanjutnya. Memang dua sejoli ini selalu memakai produk yang sama dari dulu. Ninda tak segan membeli barang yang sama dengannya untuk Ayu, seperti baju, jam tangan sampai skincare pun yang sama. Awalnya ayu menolak semua pemberian Ninda apalagi seabrek skincare dengan merk terkenal yang harganya cukup menguras dompet.


"Udah ah... tidur sana. Nanti kamu kebablasan tidurnya kalau kita terus ngobrol." Ayu sudah tak bisa membalas pujian Ninda yang menurutnya sangat berlebihan.


"Iya deh... salam bi Rossa, ya. Salam rol gulung nanasnya." Ninda memutuskan sambungan telepon dan mulai menyetel alarm tepat jam tiga pagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sedangkan di kediaman sederhana bibi Rossa, mantan asisten rumah tangga sekaligus baby sitter Leon sewaktu bayi, nampak sepi. Rumah sederhana itu diterangi lampu teras yang cukup menyilaukan mata.


"Belum tidur, yu?" Suara Rossa yang tiba-tiba terdengar dari balik pintu kamar Ayu membuat gadis itu sedikit tersentak kaget.


"Ibu... Ayu kaget lho." Protes Ayu tetap dengan suara halusnya. Rossa tersenyum dan melangkah mendekati putri sulungnya. "Kok belum tidur?" Tanya Rossa lembut dan mendudukkan diri pada pinggir tempat tidur Ayu.


"Lagi persiapan surat ijin masuk desa Sintariang, bu. Baru aja teleponan sama Ninda... katanya salam rol gulung nanas." Beber Ayu melaporkan pesanan gadis cantik itu yang sangat menyukai kue buatan bibi Rossa.

__ADS_1


"hahaha... anak itu selalu saja yang diingat kue kesukaannya." Seloroh Rossa merasa senang karena anak majikannya itu selalu menyukai kue buatannya. "Nanti besok ibu buatkan kue rol gulung nanas, kamu yang antarkan ya." Sambung Rossa.


"Iya, bu.." Sahut Ayu patuh. "Oh ya, bu... kata Ninda sekitar pukul tiga dini hari nanti, tuan Leon me mendarat di Indonesia." Kata Ayu memberitahu sang ibu yang adalah mantan baby sitter Leon dan juga sangat dekat dengan kakak dari Ninda itu.


"Oya? Waaaah... ibu senang sekali. Ibu sudah kangen sama anak itu." Seru Rossa senang. "Nanti kalau Leon sudah ada di mansion kamu kasih tau ibu, ya. Ibu mau masakin makanan kesukaannya." Lanjut Rossa bersemangat. Ayu hanya tersenyum dan mengangguk setuju.


Rossa melihat perubahan raut wajah Ayu meskipun gadis itu mencoba menutupi dengan senyum ceria.


"Kamu tidak apa-apa, nak?" Tanya Rossa yang mengetahui satu rahasia besar putrinya, namun demi menjaga perasaan Ayu, ia menyimpan rapat rahasia itu.


Mendengar pertanyaan Rossa, Ayu kembali tersenyum. Ia berusaha tenang dan tidak menunjukkan sikap aneh.


"Tidak apa-apa, bu. Hanya lagi membayangkan situasi di desa Sintariang yang masih sepi dan jauh dari teknologi modern. Udah nggak sabar pengen merasakan sejuk udara desa." Sahutnya sambil membayangkan kabut dan hijau sawah pedesaan.


Rossa tersenyum. Ia mengelus kepala Ayu.


"Jaga diri kamu di sana, ya." Imbuh Rossa lembut dan dibalas anggukan kepala Ayu. "Ya sudah... sekarang tidurlah. Sudah larut ini." Titah Rossa sambil menekan off saklar lampu kamar dan menggantikan dengan cahaya violet dari lampu tidur lalu keluar dari kamar Ayu. Rossa menyadari bahwa saat ini Ayu ingin menyendiri.


Setelah sang ibu menutup pintu kamar, Ayu menarik napas panjang. Ia menatap langit-langit kamar untuk menghalau airmata turun dan membasahi pipi. Namun, tak berhasil. Tetap saja airmata mengalir turun dengan lincahnya.


Ayu turun dari tempat tidur dan duduk di kursi meja belajarnya. Ia membuka satu laci kecil yang selalu ia kunci. Diangkatnya sebuah buku cantik berwarna biru langit dihiasi gliter mengkilap.


*Hai, Diary... aku datang lagi. Jangan bosan ya mendengar keluhanku tentang dia.


Kamu tau, diary... saat ini ia lagi di atas udara menuju ke Jakarta. Kamu juga tau bagaimana detakan jantung ini menjadi lebih cepat dari biasanya.


Rindu....


tapi aku juga harus tau diri. Hanya bisa merindukannya dalam diam. Susah payah aku memaksa hati untuk berhenti memiliki rasa ini, tapi sia-sia.... 😢😢😢


My Diary.... aku harus bagaimana? Hati ini tak mau tau tentang perbedaan antara kami.


Hati ini terus memaksaku untuk menyimpan rasa cinta ini.

__ADS_1


Tapi, aku tidak bisa.... aku harus membuangnya. Agar suatu saat, ketika ia menemukan cinta sejatinya, aku pun bisa merelakan dengan ikhlas.


kak... Aku hanya bisa mencintaimu dalam diam*.


__ADS_2