
Rama memasuki rumah mewah Valencia tepat pukul 12 malam. Banyak pekerjaan yang mengharuskan ia lembur bersama Raymond dan Marco. Wajah kusut dan tubuh yang lelah membuat langkahnya sedikit berat menaiki anak tangga menuju kamar.
Sudah dua minggu ini, ia harus berangkat pagi sekali dan pulang larut malam. Marco mempercayakan tender yang dikelola GT Corp padanya. Dengan dibimbing oleh Raymond, ia berhasil mengerjakan semua design pembangunan tempat wisata gunung dengan baik. Bahkan Marco memuji kecerdasan Rama. Ia tak menyesal mengangkat laki-laki itu menjadi salah satu tangan kanannya.
Awal bertemu, Marco bisa melihat potensi yang ada dalam diri Rama. Marco yakin Rama merupakan laki-laki baik dan bertanggung jawab serta memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Karena itu ia tak merasa ragu sama sekali saat mengajak Rama bergabung dalam GT Corp tanpa mengikuti prosedur perusahaan dalam penerimaan pegawai.
"Hebat kamu, ya. Pergi pagi buta, pulang larut Malam. Kamu pikir rumah ini hotel bintang lima? Seenaknya kamu masuk keluar tanpa rasa malu." Seru Riska menghadang jalan Rama. "Memang dasar manusia kampung. Sok belagak seperti pemilik perusahaan." Riska melipat tangan di dadanya dan menatap sinis pada Rama. "Aku berharap secepatnya kamu angkat kaki dari rumah ini. Manusia kampungan dan miskin seperti kamu tidak layak berada di sini." Ia terus menyerang Rama dengan kata-kata merendahkan. Rama menutup mata menahan gejolak amarah yang sudah mulai menjalar dari hati menuju otak. Tangannya dikepal dengan kuat. "Entah sial apa Valencia bisa berjodoh dengan laki-laki tidak berguna seperti kamu."
Prang!!!
Riska yang hendak melanjutkan kata-kata pedasnya tersentak kaget seketika dan membelalakkan mata tak percaya melihat guci mahal kesayangannya berubah menjadi puing-puing kecil berserakan di sekitar ruang tamu.
"Kamu...!" Dengan amarah yang memuncak, Riska menunjukkan jari ke arah mata Rama. Namun, nyali perempuan paruh baya itu seketika menurun saat melihat mata merah Rama yang menatap nyalang tanpa takut.
Dengan pelan dan masih berusaha menahan emosi, Rama menurunkan tangan Riska dengan sopan. Tatapan tajam matanya membuat Riska terdiam dalam marah.
"Jangan terlalu menganggap diri paling hebat, paling suci, paling segalanya lalu memaki orang sesuka hati." Ujar Rama datar. "Aku juga bisa marah, ma. Aku juga bisa menggila kalau harga diri aku terus menerus diinjak. Kalau aku sampai menggila, aku yakin papa pun tidak akan berani membela mama." Riska menelan saliva dengan kasar. Rasa takut mulai muncul dalam diri. Ia seperti terhipnotis melihat wajah garang Rama. Ia lupa kalau selama ini Rama selalu berhadapan dengan kerasnya hidup sehingga membentuknya menjadi laki-laki kuat dan tanpa rasa takut pada semua orang.
"Aku memang tidak ada apa-apanya. Tetapi, selama ini aku bisa hidup karena bekerja keras, bukan berharap pemberian orang. Dan satu lagi, kalau aku bukan orang baik, aku pun tidak sudi berada dalam rumah ini. Tapi karena aku mempunyai hati nurani terhadap putrimu, maka aku meyakinkan diri untuk masuk dalam keluarga ini demi bayi dalam kandungan Valencia. Dan ingat...!" Rama mengangkat jari telujuk ke atas tepat di hadapan Riska. "Bukan aku yang menjebak putrimu tapi sebaliknya dengan merendahkan harga diri sebagai seorang perempuan, putrimu sendiri yang menjebakku." Rama merasa puas karena malam ini ia sudah berani mengeluarkan semua unek-unek yang ia simpan sendiri semenjak tinggal di rumah mewah ini. Tanpa pamit, ia berbalik badan dan berjalan menuju tangga lantai dua.Terdengar bunyi pecahan beling yang diinjak sepatu pantofel Rama membuat Riska tersadar dari rasa takut. Dilihatnya Rama dengan langkah gontai menginjak satu persatu anak tangga hingga menghilang dari pandangan mata. Tinggal ia sendiri dengan lampu suram dan pecahan puing berserakan di sekitar ruang tamu hingga ke ruang tengah.
"Sial... Guci mahalku." Ia mengumpulkan puing-puing itu dengan tangan. "Apa dia pikir bisa mengganti guci mahal ini?" Sungutnya sambil terus mengumpulkan puing-puing kecil itu.
"Apa yang kamu lakukan?" Suara Christo mengagetkan Riska. Ia segera berdiri dan mendekati Christo.
"Lihat menantu miskin kesayangan kamu itu, pa. Dia sudah berani melawan mama. Bahkan ia memecahkan guci mahal kesayangan mama. Dia sudah semakin kurang ajar." Ujar Riska kembali emosi mengingat perlakuan Rama tadi.
"Tidak mungkin Rama dengan sengaja memecahkan guci itu." Sahut Christo santai namun penasaran.
"Mama hanya menanyakan kenapa dia pulang selarut ini." Sanggah Riska cepat.
"Yakin? Tidak ada penghinaan pada Rama? Karena kalau mama bicara baik-baik, tidak mungkin guci itu bisa menjadi puing." Christo tidak percaya begitu saja mengingat sifat Riska yang suka merendahkan orang. "Sudahlah, aku mau tidur." Seakan tak peduli, Christo langsung masuk ke dalam kamar meninggalkan Riska yang masih mengeluh melihat puing guci itu.
"Papa..." Teriak Riska memanggil Christo yang sudah melangkah panjang menuju kamar mereka. Christo tidak peduli.
Sebenarnya, Christo sudah tertidur. Namun, karena merasa haus ia terbangun dan hendak ke dapur mengambil air minum. Tetapi, ia mendengar suara Riska yang sedang berbicara kasar dengan seseorang. Tanpa suara Christo melihat dari kejauhan Riska sedang mengeluarkan kata-kata kasar pada menantunya hingga terdengar bunyi pecahan barang kaca. Christo tetap melihat dari balik tembok tanpa mau melerai atau membantu Riska, Istrinya. Ia pun sedikit terkejut melihat perlawanan Rama. Selama ini Rama tak pernah membalas makian Riska namun malam ini ia melihat Rama memberontak. Tak bisa disalahkan juga, karena siapa saja pasti akan marah mendengar makian Riska yang menginjak harga diri seseorang. Christo percaya, Rama bukan orang jahat yang bisa saja membalas Riska dengan lebih kasar lagi. Tapi, Rama tidak melakukan itu.
Berbeda dengan Riska yang masih menangisi nasib guci mahalnya, Rama yang memang merasa sangat lelah langsung masuk ke kamar mandi, membersihkan diri dan berendam air hangat sekitar 15 menit untuk melenturkan semua otot yang terasa tegang. Selasai mandi, ia menuju ke samping lemari di mana koper pakaiannya berada.
"Dimana koper pakaianku?" Gumamnya heran tak melihat keberadaan koper itu. Ia mencari sekitar kamar namun tak ada. Ia hendak bertanya pada Valencia namun wanita itu sudah tertidur pulas.
"Siapa yang mengangkat koperku?" Ia terus mencari sampai ke ruang ganti. Dibukanya lemari Valencia tetapi tak ditemukan juga hingga mata Rama menangkap satu lemari kecil yang belum dibuka.
__ADS_1
Hanya dengan menggunakan handuk di bagian tubuh bawah, Rama mendekati lemari itu dan membukakannya.
"Siapa yang mengatur pakaianku di sini?" Rama heran melihat semua pakaiannya sudah tersusun rapi dalam lemari. "Valencia? Ah, tidak mugkin." Malas memikirkan tentang itu, Rama mengambil baju kaos dan celana pendek dan memakainya. Saat ini, ia hanya ingin tidur. Otaknya sudah tidak sanggup untuk berpikir, hanya butuh istrahat setelah pekerjaan yang menguras tenaga dan pikiran, ditambah lagi ia harus menghabiskan sisa energi menghadapi Riska tadi.
Rama keluar dari ruang ganti menuju sofa yang sudah beberapa minggu ini menjadi tempat tidurnya.
"Lho... bantal dan selimut kemana lagi?" Sungutnya kesal. Ia melihat ke arah tempat tidur. Ada di sana. Di samping Valencia yang sudah asyik dengan mimpi indah. Rama segera mengambilnya dengan pelan agar tak mengganggu tidur istrinya lalu membawa kembali ke sofa.
"Ahhh... aku capek sekali." Lirihnya pelan setelah meletakkan kepala.
"Hari ini banyak kejadian aneh yang aku lewati. Mama Riska dengan makiannya yang benar-benar membuat aku marah. Pakaianku yang tiba-tiba sudah di dalam lemari." Selorohnya pelan.
"Ah... besok saja baru aku pikirkan semua. Aku ngantuk." Setelah menyebut doa, ia pun tertidur pulas.
Jam 2 pagi, Valencia tersadar. Pinggulnya terasa keram akibat tekanan dari dalam perutnya.
"Ssssh... sakit banget." Keluhnya. Ia bangun dan terduduk mencari keberadaan Rama. "Kok dia nggak tidur di sini." Sungut Valencia pelan ketika matanya menangkap sosok laki-laki tampan sedang terlelap di atas sofa.
Semenjak ia mengetahui rahasia mama Riska, Valencia mulai merubah cara pandang dan cara berpikirnya pada Rama. Bahkan ia tak bisa memungkiri jika ada satu rasa dalam hati setiap kali menatap mata suaminya itu. Namun, keegoisan dan hasutan Riska menutupi logika dan hatinya.
"Padahal aku sudah memindahkan bantal dan selimutnya ke atas tempat tidur..." Lirih Valencia sendu. Ia berharap Rama mau tidur bersama di atas kasur empuknya. Namun, ia salah. Rama sudah terlelap di atas sofa, tempat di mana ia baring saat pertama kali masuk dalam kamar ini.
"Sssh..." Tiba-tiba Valencia berdesis menahan sakit di bagian bawah perut. Ia mengelus pelan hingga merasa nyaman dan bersandar pada sandaran tempat tidur. "Dia terlelap sekali. Pasti capek seharian kerja." Ujarnya pelan melihat ke arah Rama yang benar-benar tak terganggu dengan suara keluhan Valencia. Semua hal buruk yang pernah ia lontarkan pada Rama terlintas kembali dalam memori. Ada penyesalan dalam hati.
Praaaaang!
Terdengar bunyi barang terjatuh dan pecah.
"Valencia...!" Dengan sigap Rama yang keget terbangun langsung memeluk Valencia. "Kenapa?" Tanyanya panik.
"Perutku mulai sakit." Keluh Valencia pelan. "Aku mau ke kamar mandi." Dengan memeluk pundak sang istri, Rama mengantar Valencia hingga masuk dalam kamar mandi. "Kamu nggak mau keluar dulu?" Tanya Valencia pada Rama. Hubungan mereka yang belum terlalu dekat membuat Valencia masih suka merasa canggung di depan suaminya sendiri.
"Kamu nggak apa-apa sendiri?" Rama balik bertanya penuh kuatir. "Perut kamu gimana?"
"Sakitnya masih hilang muncul. Makanya aku mau periksa dulu. Siapa tau udah ada tanda-tanda melahirkan." Jawab Valencia pelan. Namun, tiba-tiba ia memeluk lengan Rama dengan erat.
"Kenapa?" Tanya Rama semakin panik.
"Sakit." Rengek Valencia pelan.
"Ya udah... nggak usah periksa lagi. Kita langsung ke rumah sakit aja." Dengan semangat karena panik, Rama menggendong Valencia keluar dari kamar dan langsung menuju bagasi.
__ADS_1
"Ayo, naik..." Rama membantu istrinya masuk dalam mobil dan ia sendiri yang berperan sebagai sopir.
"Nggak kasih tau papa dan mama dulu?" Tanya Valencia.
"Nanti setelah sampai rumah sakit, aku telepon papa. Sekarang yang penting kamu cepat ditangani." Rama tak lagi peduli pada pakaian tidur yang ia pakai, yang terpenting keselamatan Valencia.
"Makasih..." Ucap Valencia dalam hening. Rama yang sedang fokus menyetir seketika berbalik melihat Valencia yang sudah mulai nampak pucat pada wajahnya.
"Untuk?" Tanya Rama singkat dan kembali konsentrasi pada jalanan.
"Untuk semua kesabaran kamu...." Sahutnya sambil menunduk karena malu. "Sssssh...." Valencia berdesis lagi karena sakit.
"Sudahlah... nggak usah mikirin yang lain dulu. Kita harus segera sampai di rumah sakit." Saking paniknya, Rama melaju sedikit cepat agar segera tiba.
Hampir 25 menit mereka sampai di area parkiran rumah sakit. Rama hendak segera keluar dan memanggil beberapa perawat yang sedang berjaga di IGD. Namun, tangannya ditahan Valencia.
"Pelan-pelan... nggak usak panik. Aku nggak apa-apa kok." Ucap Valencia lembut mengingatkan Rama. Laki-laki itu menggangguk pelan namun ada sesuatu yang berbeda, menurut Rama. Valencia berubah sedikit lembut. Bahkan, ia tak marah ketika Rama merangkul pundaknya. Ia pun mulai memberikan senyum manisnya kepada Rama.
Tak turun dari mobil dan sudah disambut seorang perawat cantik.
"Ada yang bisa dibantu, tuan?" Tanya perawat sambil menatap Rama dengan sedikit liar. Bodi sixpack yang terlihat di balik kaos tipis yang ketat menyegarkan mata setiap gadis yang melihat.
"Istri saya mau melahirkan." Jawab Rama jujur tanpa peduli tatapan liar itu. Mendengar kata istri, raut wajah perawat itu berubah kesal. Ia berbalik badan memasuki ruangan staf tanpa sepatah kata.
"Aneh." Celetuk Rama heran melihat tingkah perawat muda itu. Tak lama kemudian, 3 orang bidan keluar dari ruangan tadi dan menghampiri Rama. Salah satu bidan dengan cepat mengambil brankar untuk pasien.
"Tuan... di mana istri anda?" Tanya salah satu bidan senior. Tanpa suara, Rama berjalan menuju mobil dan membuka pintu. Dipapahnya Valencia keluar dari mobil dan langsung naik ke atas brankar.
"Jangan kemana-mana. Aku nggak mau sendiri." Bisik Valencia lembut saat sudah tertidur di atas brankar. Ia menggenggam tangan Rama ketika laki-laki itu hanya terdiam seakan tak mau menemaninya masuk ke dalam. Rama tersenyum manis. Ia hanya takut Valencia tak ingin ditemani olehnya.
"Aku mau telepon papa dulu. Pasti mama akan datang temani kamu." Rama melepaskan genggaman Valencia dan membiarkan istrinya dibawa ke dalam ruangan pemeriksaan bersama tiga bidan tadi. Ia mengambil telepon genggam dan menghubungi orangtua Valencia. Setelah mendapat jawaban dari Christo, Rama berjalan ke arah ruangan di mana Valencia berada. Ia duduk di kursi panjang di luar ruangan.
"Tuan... anda boleh masuk temani istri anda." Suara seorang bidan mengagetkan Rama yang sedang melamun, tak sabar menunggu bayinya lahir. Ia senang, namun mengingat hubungannya dan Valencia yang tidak sehat membuat Rama menjadi pesimis akan masa depan rumah tangga mereka.
"Nanti mertua saya datang dan menemani istri saya di dalam." Suara datar Rama terdengar. Bidan senior itu tersenyum seakan memahami kondisi suami istri ini.
"Tuan... istri anda sedang menangis sedih di dalam karena anda menolak menemaninya tadi." Bisik bidan itu setengah menggoda Rama. Tanpa menunggu lama, Rama segera membuka pintu ruangan dan menemui Valencia. Benar kata bidan tadi. Valencia sedang menangis tersedu.
"Ada apa?" Mendengar suara Rama, Valencia menoleh cepat. Ia semakin tersedu melihat wajah suaminya. Rama memeluk Valencia penuh sayang. Ia mengusap kepala wanita cantik itu dan memberi kecupan di sana.
"Ada apa? Sakit?" Tanya Rama berbisik sambil terus memeluk Valencia. Wanita itu menggeleng. Ia melepaskan pelukan Rama namun jarak mereka sangat dekat.
__ADS_1
"Jangan tinggalin aku..." Lirihnya pedih.