
Hari-hari dijalani Marco dan Icha semakin dipenuh cinta dan saling mendukung satu sama lain. Marco masih mengizinkan Icha bekerja sampai ia hamil nanti. Marco pun tidak terlalu memberatkan pekerjaan istrinya. Ia hanya ingin agar Icha mempunyai kegiatan dan tidak merasakan bosan saja.
"Sayang..." Marco memanggil Icha saat melihat wanita kesayangannya tidak berada di tempat biasa. Ia masuk ke dalam ruangan privasi Icha dan menemukan istrinya sedang mencari-cari berkas di tumpukan kertas dalam lemari.
"Nyari apa sih?" Marco langsung memeluk Icha dari belakang, membenamkan wajah ke ceruk leher Icha dan itu akan selalu menjadi tempat favorit Marco untuk diendus.
"Raymond lagi nyari satu berkas penting pembangunan hotel di pulau x, sayang. Mungkin terselip di sini." Jawab Icha sambil terus membongkar kertas-kertas lusuh di tangannya.
Raymond memang sedang dikasih tugas oleh Marco, sang CEO, untuk selesaikan proyek pembangunan hotel di pulau x. Waktu itu Marco sedang sibuk mengurus pernikahannya dan ia menolak mengikuti tender, tetapi Raymond meyakinkannya bahwa ia yang akan mengurus semua pekerjaan jika GT Corp memenangkan tender besar ini. Dan benar saja, GT Corp mendapat kesempatan emas memenangkan tender. Maka, di saat Marco sibuk mengurus pernikahan, Raymond pun harus bisa berbagi waktu antara mengurus pernikahan Marco dan mengurus proyek di pulau x. Untung saja ada Berry, sesama asisten yang bisa menanggulangi urusan Marco di kota x.
"Naaah... ketemu. Ini, kan?" Icha tersenyun lebar saat membaca surat perjanjian proyek pembangunan hotel bintang 5 di pulau x. Marco mengambil lembaran kertas dari tangan Icha dan membacanya.
"Pintar." Puji Marco pada istrinya dengan satu kecupan di pipi.
"Ya udah... aku antar ke Raymond dulu, ya." Icha mengambil kembali kertas itu dari tangan Marco dan hendak menemui Raymond.
"Ck... kertas itu lebih penting dari aku?" Marco menarik pinggang Icha mendekat kepadanya. Ia mengambil kertas penting itu dan meletakkan di atas lemari kecil tempat berkas-berkas penting disimpan.
"Sayaaang.... Raymond lagi pusing nyari'in berkas itu." Rengek Icha hendak meraih berkas tadi di atas lemari. Namun, tangan Marco memeluk erat pinggangnya sehingga ia sulit untuk bergerak.
"Yaaang..." Lagi-lagi Icha harus merengek agar Marco mau melepaskan tangannya. Marco tetap bergeming. Ia menatap Icha datar dan membuat istrinya terdiam.
"Raymond lebih penting dari aku?" Tanya Marco pelan namun penuh penekanan. Icha mnggeleng cepat. Ia tidak menyangka jika Marco akan tersinggung dengan kata-katanya. Padahal, Icha tidak mempunyai maksud lain. Ia hanya kasihan pada Raymond yang sedari tadi hanya bolak-balik, mondar-mandir mencari satu lembar kertas penting itu. Ia hanya ingin membantu.
"Maaf..." Lirih Icha menunduk. Hatinya yang lembut paling tidak bisa menahan air mata jika mendapat tatapan amarah atau bentakan dari Marco. Kalau orang lain yang memarahi atau membentaknya, ia sanggup membalas mereka dengan ucapan nasehat yang menohok. Namun, tidak dengan Marco. Suara bentakan Marco atau tatapan amarah Marco akan langsung menyakiti hati lembutnya.
Marco menarik napas panjang. Ia merasa bersalah karena lagi-lagi ia harus membuat sang istri mengeluarkan air mata. Dikecupnya kening Icha penuh penyesalan.
"Maaf, sayang..." Ucapnya tulus. Ia mengangkat dagu Icha agar mata mereka saling menatap. Dihapusnya air mata itu. "Maafkan aku." Bisiknya lirih. "Jangan menangis lagi." Lirihnya penuh penyesalan. Sekali lagi ia mengecup kening Icha, mengambil berkas itu dan memberikan pada wanita yang dicintainya. "Bawalah ke Raymond." Perintah Marco dengan suara lembut. Icha mengangguk. Ia menerima kertas itu tanpa suara dan berjalan keluar.
Marco menarik napas panjang. Kalau sudah begini, pasti Icha akan mendiamkannya. Dan itu adalah hal yang paling tidak mengenakkan dalam hidup Marco.
Sebenarnya, ia sedang lelah dan penat dengan pekerjaan. Selama hampir dua minggu meninggalkan perusahaan, membuat pekerjaannya semakin menumpuk. Ia membutuhkan Icha sebagai mood boosternya. Namun, ia datang di waktu yang salah.
Marco keluar dari dalam ruang privasi Icha, langsung menuju lift turun ke lobi. Ia mengenakan kacamata hitam dan masuk ke dalam mobil yang sudah ditunggui sopir perusahaan, menuju ke sebuah restoran Jepang. Ia hendak menemui teman lama yang baru pulang dari Kanada. Tidak ada satu karyawan pun yang berani menegurnya, melihat aura wajahnya yang sedang tidak baik.
"Hai, bro'..." Laki-laki berparas tampan, bermata sipit ala korea menyambut kedatangan Marco. Mereka saling berjabat ala pria dan berpelukan.
"Hai..." Balas Marco singkat dan langsung mengambil tempat duduknya. "Sejak kapan di Indonesia?" Tanya Marco.
"Dua hari lalu." Jawab pria itu cepat. Ia menyeruput minumannya sebelum kembali berucap. "Aku belum sempat menghubungimu karena masih istrahat. Perjalanan jauh bikin badan pegal." Sambungnya sambil menujukkan pundaknya yang terasa sakit. "Oh ya... Bagaimana GT Corp? Aku dengar namamu semakin mengudara." Godanya lagi.
"Ck... biasa saja." Jawab Marco merendah. Ia mengambil gelas minuman dan menyeruputnya cepat. Sebelum ia datang, minumannya sudah dipesan oleh teman lamanya itu.
Lim Kian, sahabat semasa SMA Marco dulu merupakan seorang berketurunan Korea dan Jakarta. Maka tidak heran wajah orientalnya sangat nampak dalam dirinya. Setelah menyelesaikan sekolah menengah atas, mereka berpisah. Marco melanjutkan studinya di Amerika dan Lim Kian ke Kanada. Jarak dua negara yang cukup jauh membuat mereka jarang bertemu.
"Bagaimana hubunganmu dan Valencia?" Pertanyaan Lim Kian membuat Marco tersedak. "Hai... pelan-pelan, bro'." Dengan cepat Lim mengambil gelas di tangan Marco.
Memang, yang mengetahui pernikahan Marco dan Icha hanya keluarga inti dan orang-orang dekat. Marco tidak mau terlalu mengekspos istrinya ke dunia luar. Bahkan hampir semua karyawan di GT Corp pun belum mengetahui hubungan mereka. Hanya petinggi-petinggi perusahaan yang mengetahui karena diundang waktu itu. Semua karyawan tahu bahwa Icha adalah sekretaris Marco.
__ADS_1
Banyak juga yang mulai curiga karena sudah beberapa hari ini semenjak mereka tidak masuk kantor, setiap hari baik datang ke kantor mau pun pulang kantor, mereka selalu semobil. Walaupun Icha selalu mewanti-wanti Marco agar tidak menggandeng tangannya saat di depan karyawan.
Karena itu, tidak heran jika Lim Kian pun tidak mengetahui hubungan mereka karena yang ia tahu selama ini Marco hanya dekat dengan Valencia.
"Kamu kenapa sih?" Tanya Lim Kian penasaran. "Kamu dan Val baik-baik aja, kan?"
"Aku sudah menikah." Ucap Marco tiba-tiba. Lim Kian sontak melebarkan matanya.
"Serius???" Tanya Lim tak percaya. "Waaah, aku melewatkan momen bahagiamu bersama Val dong." Lim Kian tersenyum lebar mengetahui sahabatnya sudah menikah dengan perempuan yang sangat digilainya sedari dulu.
Marco tersenyum simpul. Lim Kian sudah salah sangka, sepertinya. Namun, Marco tak berniat memberitahu yang sebenarnya. Ia masih ingin bermain teka-teki dengan Lim.
"Oh ya... pesan makanan dulu." Lim teringat ia belum memesan makanan untuk makan siang bersama Marco. "Ya ampun, saking asyik bercerita kita sampai lupa perut sudah teriak minta diisi." Kelakar Lim sambil melambaikan tangan pada pelayan restoran.
Sesaat Marco teringat Icha. Pasti istrinya itu sedang kebingungan mencarinya. Telepon genggamnya pun habis batrei. Saking sibuk sampai ia lupa mencharger HP.
Ia berharap Icha ingat untuk makan siang, walaupun tanpa dirinya. Ia tidak ragu karena setiap hari Icha membawa bekal makan siang untuk mereka berdua.
"Kapan kalian menikah?" Lim Kian masih penasaran.
"Dua minggu lalu." Jawab Marco.
"Tidak berbulan madu?" Lim Kian merasa yang namanya pengantin baru harus ada momen bulan madunya. "Kamu langsung bekerja?"
Marco mengangguk sebelum menjawab.
"hmmmm... baiklah. Berbahagialah yang sudah punya istri." Goda Lim Kian yang merasa tersindir dengan kata 'istri.' Maklum, ia masih jomlo. "Sudah lama juga aku tidak bertemu Val. Bagaimana keadaannya?"
"hmmm? Val?" Marco heran karena Lim bertanya tentang Valencia sebelum ia teringat bahwa ia sedang bermain kata dengan sahabatnya itu😀
"Ohh... baik, baik. Dia baik." Jawab Marco tersenyum geli di bibirnya. Lim Kian semakin terperangkap dalam kebohongan yang dibuat Marco.
"Aneh kamu. Kayak Val bukan istri kamu saja." Celetuk Lim Kian heran.
Pembicaraan mereka sedikit tertunda saat dua pelayan datang membawa pesanan makanan.
"Kenapa Val tidak diajak ke sini?" Tanya Lim Kian sebelum memasukkan sesendok nasi ke mulutnya.
"Oh... dia lagi.."
Marco belum selesai bicara, terdengar suara perempuan menyapa mereka.
"Hai... kalian di sini."
Deg.
"Oh... speak the devil, there she is!" Timpal Lim Kian kaget melihat Valencia muncul di depan mereka. Marco yang awalnya juga terlihat kaget, dengan cepat bersikap santai dan terus menikmati makanannya. "Hai, bro'... kau tidak senang melihat istrimu datang?" Cetus Lim Kian karena heran melihat Marco yang sepertinya tidak terlalu peduli atas kedatangan gadis yang semakin seksi saja menurut pria Korea itu.
"Istri?" Giliran Valencia yang bingung.
__ADS_1
"Oh... come on, guys. Kalian memang pasangan yang serasi. Hari ini kalian membuat aku bingung." Gerutu Lim Kian kesal.
"Hai, sayang..." Sapa Valencia masih dengan sapaan dulu pada mantan tunangannya. "Eh... maaf." Cepat-cepat ia meminta maaf, padahal dalam hati senangnya bukan main karena bertemu Marco tidak bersama istrinya. Tanpa disuruh, ia duduk di samping Marco. Bahkan, ia sengaja mendekatkan kursi tepat di samping Marco.
"Aku boleh duduk di sini, kan?" Bisiknya pada Marco hendak menggoda laki-laki beristri itu. Marco mengangguk acuh. menyadari tingkah Valencia yang sengaja hendak menggodanya.
Mereka bertiga asyik bercerita tentang masa lalu. Lim Kian masih berpikir Marco dan Valencia adalan pasangan suami istri, apalagi melihat cara duduk mereka yang sangat dekat.
Tanpa Marco sadari, Valencia sudah berhasil mengambil foto mereka berdua. Ia mengirim pesan pada mama Sania meminta nomor HP Icha. Ia segera mengirim foto itu pada nomor yang baru dikirim mama Sania. Senyum iblis di bibirnya pun terbit dengan sempurna.
Di Perusahaan GT Corp...
Icha segera masuk ke ruangan Marco setelah mengantarkan berkas penting milik Raymond. Ia tidak ingin kesalahpahaman antara ia dan suaminya berlarut. Ia hendak meminta maaf pada Marco soal tadi.
"Sayang..." Icha memanggil nama itu saat tidak dilihat sosok yang dicari. Ia terus masuk ke kamar pribadi Marco, tapi nihil. Marco tak ada.
"Ke mana dia?" Icha mengambil telepon genggam dan mencoba menghubungi Marco, tapi tak tersambung. Ia melirik jam tangannya, sudah pukul 11. 30 siang. Sebentar lagi waktu istirahat makan siang.
Dengan lesu, Icha kembali ke mejanya. Ia terus melihat telepon genggam siapa tahu ada pesan masuk dari Marco. Namun, sia-sia. Menunggu selama 30 menit, sama sekali tak ada pesan masuk dari Marco.
"Cha..." Ia menoleh ke arah suara. "Kok bengong? Nggak makan siang?" Tanya Raymond heran.
"Marco memberitahu kamu dia kemana?" Icha balik bertanya.
Raymond menggeleng cepat.
"Tidak. Memangnya tuan kemana?" Jawaban Raymond spontan membuat Icha menangis. Ia menggeleng lemah.
"Kalian ada masalah?" Tebak Raymond.
"Hanya salah paham. Aku yang salah." Sahut Icha makin terisak.
"Tapi.... tuan tidak pernah meninggalkan perusahaan tanpa pemberitahuan." Papar Raymond heran. "Ya sudah... Jangan berpikir negatif dulu. Mungkin ada klien yang minta bertemu mendadak." Raymond berusaha berpikir positif dan menenangkan Icha. "Mending kamu makan siang terlebih dahulu." Saran Raymond. Icha menggeleng.
"Kamu makan aja. Aku nunggu dia." Ucap Icha. Tanpa pamit, ia masuk dalam ruang privasinya dan mengunci pintu. Ia hanya ingin menenangkan diri. Benar kata Raymond, jangan berpikir negatif dulu.
Ting. Bunyi pesan masuk. Icha langsung tersenyum senang. Segera dilihatnya pesan tetapi dari nomor baru.
"Nomor siapa ini?" Gumamnya heran. Karena penasaran, Icha langsung membukanya dan.....
Deg... Deg... Deg...
Jantung Icha serasa berhenti berdetak. Senyuman yang awalnya sudah mengembang sempurna langsung layu meredup seketika. Suaminya sedang bersama Valencia, mantan tunangannya di sebuah restoran mewah. Bahkan Valencia bersandar mesra di lengan Marco.
Icha mencoba meyakinkan hati bahwa itu foto lawas, tetapi kalau dilihat dari jas yang dipakai Marco sama seperti jas hari ini yang ia kenakan. Belum lagi keterangan waktu di foto itu tepat hari ini. Airmata Icha semakin luruh. Ia menjatuhkan diri di atas tempat tidur dan terisak di sana. Pernikahannya baru dua minggu. Tidak mungkin Marco mengkhianatinya.
Puas menangis, Icha bangun dari tempat tidur, menghapus airmata dan keluar menuju meja kerjanya. Segera mengatur rapi meja, mematikan laptop, mengambil tas dan bekal makan siangnya, lalu kembali masuk ke dalam ruang privasinya dan mengunci pintu rapat-rapat. Tak lupa, ia mengirim pesan pada Raymond meminta izin pulang terlebih dahulu lalu menonaktifkan alat komunikasi itu segera. Ia membuat seakan-akan ia tidak berada di kantor lagi.
Ia hanya ingin melihat reaksi Marco.
__ADS_1