
Valencia sudah diijinkan pulang setelah kondisi ia dan janin diyatakan aman dan sehat oleh dokter kandungan. Namun, dokter menyarankan untuk tetap menjaga mood dan suasana hati agar selalu merasa nyaman dan bahagia. Jika tidak, bisa berakibat fatal pada bayinya. Apalagi sekarang usia kandungannya sudah memasuki bulan ke tujuh, yang bisa saja jika tidak dijaga dengan baik, Valencia akan melahirkan bayi prematur.
"Pa... gimana nasib bayi Valecia jika Marco tidak mau mengakui anak itu? Dua bulan lagi cucu kita lahir. Masa ia harus terlahir tanpa ayah?" Imbuh Riska saat mereka sarapan bersama. Valencia masih harus banyak istrahat sehingga sarapannya diantar Riska ke kamar.
"Papa akan usahakan yang terbaik untuk Val, ma. Walaupun dalam hal ini Val yang salah karena sudah menjebak Marco. Tetapi, kita tidak bisa membiarkan Val melahirkan tanpa suami." Tandas Christo serius. Riska hanya mengangguk mendukung keputusan suaminya. Lalu, Christo pamit berangkat ke perusahaan.
"Kita ke GT Corp." Sampai di tengah perjalanan, Christo memberi perintah dadakan pada sopir untuk berbelok arah menuju perusahaan milik keluarga Guatalla. Ia melirik jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangan kanan, hampir pukul delapan pagi. Marco pasti sudah ada di ruangannya.
Walaupun harus berbalik arah, sang sopir tetap menuruti perintah majikan. Hampir empat puluh menit mereka menempuh jalanan ibu kota menuju GT Corp. Setelah sampai di parkiran, Christo turun dari mobil dan segera memasuki lobi.
"Saya ingin bertemu tuan Marco." Ujar Christo pada seorang resepsionis.
"Anda sudah buat janji, tuan?" Tanya salah satu karyawan yang bertugas sebagai resepsionis.
"Belum. Bilang saja tuan Christo ingin ketemu." Gadis itu hanya mengangguk dan menghubungi seseorang lewat intercom. Setelah mendapat jawaban dari lantai 25, Christo dipersilahkan untuk naik ke atas ke ruangan CEO.
Dengan langkah panjang, Christo menuju lift, menekan tombol on dan menunggu tiga menit pun pintu besi itu terbuka. Christo masuk dan menekan angka 25. Karena tak ada angka lain yang membuat lift harus berhenti sehingga tak menunggu lama, lift terhenti di lantai 25.
Christo sedikit terkejut karena ketika lift terbuka, wajah datar Raymond pun terlihat di luar.
"Selamat pagi, tuan..." Sapa Raymond dengan wajah tanpa senyum.
"Pagi... bisa bertemu dengan Marco? Ada hal penting yang ingin saya bicarakan." Tutur Christo terkesan datar dan dingin. Raymond tak menjawab, ia hanya mengangguk dan memberi kode agar Christo mengikuti langkahnya. Raymond mengetuk pintu ruangan Marco, setelah ada perintah untuk masuk, Raymond membuka pintu dan mengajak Christo masuk.
"Pagi, tuan..." Sapa Christo bersikap formal. Marco mengangguk dan mempersilahkan Christo duduk di sofa tamu.
"Ada apa?" Tanya Marco tak ingin berbasa-basi.
__ADS_1
"Saya rasa kamu sudah tau maksud kedatangan saya menemui kamu di sini." Sahut Christo tak ada kesan ramah sama sekali. Marco tersenyum sinis. Ia memangku kaki sedikit menunjukkan tatapan sombong pada mantan calon mertuanya.
"Justru saya merasa saya tidak ada urusan apa-apa dengan anda." Balas Marco tak kalah dingin. Christo menarik napas berat. Percuma menghadapi Marco dengan emosi, karena Marco tak akan terpancing.
"Saya ingin bicara tentang masa depan Valencia." Timpal Christo mulai menurunkan nada suara.
"Valencia mengandung darah dagingmu." Ia menjeda sedikit karena melihat senyuman Marco yang seakan-akan meremehkan ucapannya.
"Memang, putriku sudah bersalah karena menjebakmu dengan obat perangsang dan obat tidur, tapi bukan berarti kamu lari dari tanggung jawab kan?" Sambung Christo.
"heeem... baguslah, akhirnya Valencia sudah mengakui kelicikan yang ia perbuat padaku." Tandas Marco tenang. "Tapi... apa menurut anda, aku akan dengan mudah dikelabui oleh putri kesayanganmu itu?" Tanya Marco memberi teka-teki pada lawan bicaranya. Christo mengerutkan kening.
"Apa maksud kamu?" Laki-laki paruh baya itu seperti mencurigai sesuatu dari kalimat yang dilontarkan CEO muda itu. Marco masih menampilkan senyuman sinis seakan meremehkan Christo.
"Sayangnya bukan aku yang meniduri Valencia waktu itu." Dunia Christo seakan berhenti berputar mendengar ucapan Marco. "Aku memang sudah dalam keadaan tak sadarkan diri sewaktu Valencia membawaku ke hotel. Tapi, apakah menurutmu aku terlalu bodoh sehingga gampang jatuh dalam permainan Valencia? Baiklah... aku akan memberitahumu yang sebenarnya." Marco tak memberi kesempatan Christo untuk memotong ucapannya. "Dengar baik-baik..." Marco memberi tatapan tajam pada Christo. "Saat aku tidak sadarkan diri dan sudah berada dalam kamar hotel, beberapa anak buahku datang dan berhasil mengeluarkan aku dari tempat terkutuk itu ketika putri kesayanganmu sedang mandi. Lalu, salah satu anak buahku menggantikan peran aku sebagai korbannya." Marco berhenti sejenak. Ia melihat betapa shock dan memerahnya wajah Christo mendengar cerita sebenarnya. Mulut laki-laki itu seakan terkunci dan sulit untuk terbuka.
"Ja-jadi..." Christo tak mampu meneruskan ucapannya.
"Ya... Rama, anak buahku adalah ayah dari calon cucumu." Sambung Marco tanpa senyum. "Aku tidak bisa membayangkan jika saat itu aku tidak ditolong... rumah tanggaku pasti akan hancur berantakan. Dan jika itu sampai terjadi, maka aku tidak akan segan untuk membunuh putrimu itu tanpa ampun." Christo menelan saliva dengan susah payah mendengar ucapan Marco yang terdengar mengerikan. Awalnya, kemarahan yang sudah memenuhi otak dan hati Christo pun hilang lenyap menguap tanpa arti. Ia tak bisa membayangkan jika Marco yang menghamili Valencia, bukan pertanggungjawaban yang akan ia terima namun mungkin saja Marco malah akan menghabisi nyawa Valencia.
"Aku bukanlah laki-laki yang senang meniduri banyak wanita. Aku mencintai istri dan anakku melebihi diriku sendiri. Jadi, katakan pada Valencia... mustahil jika aku mau menidurinya. Namun, akal liciknya sendiri yang sudah membuat ia jatuh dalam jurang yang ia buat sendiri." Semua kalimat yang diucapkan Marco ibarat ribuan anak panah yang menusuk seluruh tubuh Christo. Sakit tapi tidak berdarah.
Marco menyadari jika Christo sudah tak sanggup berkata-kata lagi. Ia bisa melihat wajah Christo yang pucat dan malu. Karena itu, ia sedikit menurunkan ego dengan berbicara lebih pelan.
"Aku mengerti perasaan om. Namun, ini kesalahan yang dibuat sendiri oleh putri om." Tutur Marco mulai mengurangi ego dan mencoba untuk lebih mengakrabkan diri pada laki-laki yang pernah dekat dengannya.
"Sekarang bukan saatnya saling menyalahkan. Beri pengertian pada Valencia agar mau menerima Rama. Percayalah... Rama laki-laki yang baik. Ia mau bertanggungjawab atas bayi dalam kandungan Valencia." Christo menatap sendu wajah Marco. Airmata yang ia tahan sedari tadi akhirnya mengalir juga. Ia tidak bisa menyalahkan Marco, karena sepenuhnya ini kesalahan Valencia. Namun, benar ucapan Marco. Ini bukan saatnya untuk menyalahkan Valencia, tetapi ini saat untuk mendampingi putrinya dan memberi pengertian tentang ayah dari bayinya.
__ADS_1
Christo tertunduk dan menangis. Malu, kecewa, marah, semua bercampur menjadi satu. Semua mengenalnya sebagai pengusaha sukses, namun tidak ada yang mengetahui jika putrinya sendiri sudah membuat satu kesalahan yang bisa mencoreng nama baiknya.
"Bicaralah pada Val. Beri ia pengertian agar mau menikah dengan Rama." Marco mengelus lembut punggung Christo. "Om jangan kuatir, aku yang akan bicara pada Rama. Percayalah.. ia laki-laki yang baik. Walaupun ia berasal dari keluarga miskin, tapi ia laki-laki yang bertanggung jawab. Aku menjamin itu." Marco meyakinkan Christo tentang Rama. Laki-laki paruh baya itu meghapus airmata dengan sapu tangan dan mengangguk lemah.
"Om percaya padamu." Lirih Christo pelan. "Terimakasih... terimakasih banyak sudah mau memaafkan Valencia. Om tau, kamu bisa menghancurkan Valencia, tapi kamu tidak melakukannya karena kamu orang baik." Lanjutnya sendu. "Om akan bicara pada Valencia tentang ayah bayinya."
Tak lama kemudian, Christo pamit untuk kembali ke kantornya. Mereka tak menyadari telah menghabiskan dua jam untuk berbicara dari hati ke hati.
"Ray, panggil Rama ke sini. Aku ingin bicara padanya." Perintah Marco setelah Christo pergi.
"Baik, tuan. Aku akan memberitahu Rano terlebih dahulu. Karena, Rano yang lebih mengenal Rama, tuan." Sahut Raymond sopan.
"Apa ia tinggal di Malaysia?" Tanya Marco ingin tahu.
"Sepertinya tidak, tuan. Ia tinggal di Jakarta. Waktu itu ada pekerjaan dari Rano yang mengharuskan ia ke sana." Jelas Raymond. Marco mengangguk.
"Sepertinya ia laki-laki yang baik." Pungkas Marco.
"Iya, tuan... menurut cerita Rano, ia laki-laki yang baik. Ia mau menerima tawaran Rano waktu itu karena ia sedang membutuhkan uang untuk operasi ibunya." jawab Raymond.
Marco yang sedang berdiri di balkon ruangan kerja menatap jauh ke bawah. Ia berharap Valencia bisa menerima Rama agar bayinya bisa terlahir dengan memiliki orangtua yang lengkap. Ada rasa iba juga pada perempuan yang pernah memenuhi hatinya selama enam tahun itu, namun Marco tak bisa berbuat banyak. Karena semua yang terjadi juga disebabkan oleh kebodohan Valencia sendiri. Ia menggali lubang yang dalam untuk menjerat Marco , malah ia pula yang terjerat dan jatuh dalam lubang itu.
Ah, tiba-tiba Marco terbayang wajah istri dan anaknya. Jika saat itu ia terjerat dalam lubang yang dibuat Valencia, ia tak bisa membayangkan bagaimana sakitnya Icha dan baby Leon sekarang.
Tak kuasa menahan rindu pada istri dan anak, Marco mengambil telepon selulernya dan menekan nomor Icha.
"Hai... I love you."
__ADS_1