Cukup Di Hati Saja

Cukup Di Hati Saja
Masa lalu kelam Sania.


__ADS_3

Mama Sania masuk ke dalam restoran mewah di daerah Kalibata. Ia melayangkan pandang ke setiap sudut ruangan VIP. Seperti ada yang dicari.


Saat pandangannya jatuh ke arah sudut kanan, ia tersenyum dan melambaikan tangan pada seseorang dan segera menuju ke tempat itu.


"Hai, tante... apa kabar?" Valencia berdiri menyambut mantan calon mertuanya dan mereka saling cipika cipiki.


"Baik, sayang... tante sehat. Kamu gimana? Makin cantik aja." Mama Sania mulai berbasa-basi. Ia melihat dari ujung kaki sampai rambut, Valencia semakin cantik dengan pakaian seksi dan barang-barang branded.


"Ah, tante bisa aja." Mendapat pujian begitu, Valencia semakin percaya diri saja. "Ayo, duduk, tan." Ajak Valencia sopan. Mama Sania segera mengambil duduk tepat di depan model seksi itu. "Oh ya, tante mau pesan apa? Kita makan dulu, ya." Valencia memberi buku menu pada mama Sania.


Mereka pun memesan beberapa menu makanan sesuai selera masing-masing.


"Tumben tante minta ketemuan. Ada apa?" Valencia penasaran karena menerima pesan dari mama Sania kemarin sore mengajaknya bertemu. Setelah menentukan tempat, jadilah mereka bertemu siang ini, sekalian makan siang bareng.


Mendengar pertanyaan itu, mama Sania menarik napas panjang, melipat tangannya di dada dan bersandar pada kursi. Wajahnya mulai menunjukkan ekspresi tak suka. Apalagi jika mengingat ucapan Icha padanya kemarin pagi seakan menampar wajah keriputnya.


"Tante masih nggak habis pikir sama Marco... Bagaimana bisa ia lebih memilih perempuan kampung itu dari pada kamu?" Tandasnya dengan nada emosi. "Perempuan munafik itu sudah berhasil menjebak kakek dan Marco masuk dalam perangkapnya." Lanjutnya lagi. "Kamu tau, Val... Marco yang nggak pernah nada tinggi sama tante, sekarang Marco berani melawan tante bahkan membentak tante di depan Icha." Mama Sania kembali tersulut emosi mengingat kejadian kemarin.


Valencia merespon keluhan mama Sania dengan melebarkan mata tak percaya.


"Marco membentak tante?" Tanya Valencia geram. Mama Sania mengangguk cepat. "Kok bisa?"


"Ya, gara-gara perempuan sialan itu." Sahutnya kesal. "Dia pintar banget mengadu pada Marco."


Mereka terdiam sebentar karena pelayan restoran membawa pesanan dan mengatur di meja makan.


"Silahkan, tante... dimakan dulu." Ucap Valencia. Mereka menikmati makan bersama sambil terus bercerita.


"Trus... apa rencana tante?" Tanya Valencia penasaran.


"Daddynya Marco mengajak tante pulang ke Amerika, tetapi tante masih mau tinggal di sini dulu. Tante masih ingin memberi pelajaran pada perempuan sialan itu. Marco harus menceraikannya, agar dia tau diri." Tandas mama Sania berapi-api. Valencia tersenyum sinis. Ia tertawa dalam hati karena menurutnya tidak perlu capek-capek membalas dendam, tinggal mendukung mama Sania, dan biarkan perempuan tua itu yang mengeksekusi istri kesayangan mantan tunangannya.


"Iya, tante... sebaiknya tante jangan pulang ke Amerika terlebih dahulu. Tante harus memberi pelajaran pada menantu tante yang tidak tau diri itu." Seloroh Valencia mulai memanas-manasi mama Sania.


"Iya, kamu benar. Tante benar-benar sangat membencinya." Cicitnya geram.

__ADS_1


Mereka terus asyik bercerita dan merencanakan sesuatu untuk merusak hubungan Marco dan Icha. Hingga menjelang sore, mama Sania dan Valencia berpisah.


"Dari mana aja, mom?" Tanya papa Adam yang melihat istrinya melewati ruang keluarga.


"Ketemu Valencia, dad." Jawab Sania jujur. Ia duduk di samping Adam.


"Tidak usah mencari masalah sama Marco dan ayah, mom." Tegur Adam karena ia mengerti karakter istrinya yang pendendam. Adam terus melihat acara di televisi. "Aku hanya peringati kamu aja. Aku takut suatu saat kamu akan menyesal karena sudah menggangu Marissa." Beber Adam serius. "Kamu tau, dia adalah mutiara mansion ini sekarang. Kamu paham artinya, kan?! Jadi, berhenti mencari gara-gara!" Jelas Adam sekalian memberi perintah pada istrinya. "Tapi, kalau kamu tidak mau mendengar kata-kataku, maka lakukanlah sesuai kehendakmu."


"Siapa yang cari gara-gara, dad? Mommy hanya bertemu dan makan siang dengan Valencia." Kilah Sania.


Adam tersenyum sinis, melihat istrinya.


"Kita sudah menikah 30 tahun, mom... aku sudah sangat mengenalmu." Sergah Adam membuat Sania terdiam. "Marco sudah kehilangan kepercayaan pada kita, jangan menambah rasa benci di hatinya karena ulah kamu lagi." Tegas Adam dan meninggalkan istri keras kepalanya menggeram kesal di ruang tamu.


"30 tahun menjadi istri kamu dan tidak dianggap menantu oleh laki-laki tua bangka itu, kamu kira aku tidak sakit hati. Aku pastikan si tua renta itu akan menyesal di akhir hidupnya." Gumam Sania sendirian dengan nada penuh dendam.


Flashback


30 tahun lalu, Mr. LG menentang pernikahan Adam dan Sania karena ayahnya adalah seorang koruptor besar sebelum akhirnya bangkrut dan mati di penjara. Ibunya berselingkuh dengan klien bisnis, saat suaminya sedang di penjara. Pergaulan bebas Sania juga sudah dikenal di kalangan pebisnis elit.


Akibat terlalu dicekoki orangtua dengan harta dan hidup serba ada, membuat Sania menjadi gadis manja dan pemalas. Maka, ketika sang ayah bangkrut dan tidak bisa memberikan kesenangan lagi padanya, ia pun menjadi 'piala bergilir' kaum pengusaha elit.


Tak lama berumah tangga, Sania hamil dan melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Marco Guatalla. Sayangnya, kehidupan sosialita membuat ia lupa diri dan lebih sering meninggalkan Marco dengan baby sitter.


Singkat cerita, tepat berusia 14 tahun Marco memergoki ibunya berselingkuh dengan rekan bisnis Adam. Marco sangat murka. Mulai saat itu, ia menjauhi ibu kandungnya. Ia memutuskan untuk tinggal di Indonesia dengan kakeknya hingga sekarang.


Mr. LG mengajarinya banyak hal. Bukan hanya tentang bisnis, tetapi juga tentang prinsip hidup laki-laki sejati. Maka, jadilah Marco sekarang. Pengusaha kaya dengan gaya hidup sederhana. Tidak pernah memandang orang dari harta kekayaan dan jabatan.


Adam berbesar hati menerima segala kekurangan dan kelamnya masa lalu istrinya dengan catatan Sania tidak mengulangi kesalahan yang sama. Namun, lagi-lagi Adam harus menelan pil pahit saat mengetahui perselingkuhan istrinya. Ia memblokir semua kartu kredit Sania dan mengancam akan menceraikannya. Sania memohon ampun dan berjanji tidak mengulangi semua perbuatan kejinya lagi.


Marco bukannya tidak mengetahui tabiat mommynya. Ia dan kakek selalu memantau tindak tanduk Sania melalui orang-orang bayaran.


Karena tabiat Sania, maka kakek tidak memberi hak Adam atas harta kekayaan. Adam menyadari semua itu. Namun, Ia bersyukur ayahnya berhasil membentuk Marco menjadi pribadi yang baik dan mewarisi sifat dan karakter laki-laki kebanggaannya itu.


Flashback End

__ADS_1


Sania masuk ke kamar hendak bersih-bersih dan mengganti baju sebelum jam makan malam tiba. Dilihatnya Adam, sang suami, sedang sibuk di depan laptop. Ia sementara memeriksa pekerjaannya di Amerika.


"Dad..." Lirih Sania memanggil Adam.


"hmmm..." Adam hanya berdeham tanpa melihatnya.


"Aku... belum ingin kembali me Amerika." Papar Sania berhati-hati. Adam langsung menoleh ke arahnya dengan mengerenyitkan kening.


"Kenapa?" Pria baruh baya itu bertanya penasaran.


"A-aku.. aku masih ingin menemani Marco di sini." Jawabnya sedikit tidak masuk akal, menurut Adam. Hingga laki-laki itu tersenyum sinis.


"Kamu lupa kalau Marco sudah menikah?" Sindir Adam. Ia kembali melihat ke laptop. "Sudah ada Marissa yang menemaninya, jadi kamu tidak perlu repot-repot membuang waktu menemani Marco." Sarkas Adam. "Lagian aku yakin Marco hanya membutuhkan Marissa di sampingnya," Lanjut Adam menyindir Sania.


"Dia anakku, dad. Aku yang melahirkan dia. Tidak mungkin ia mengusirku." Sergahnya percaya diri. "Pokoknya aku masih mau di sini untuk menemani Marco. Daddy balik aja ke Amerika lebih dulu." Kekeh Sania dan segera keluar dari kamar demi menghindari perdebatan dengan Adam. Ucapan suaminya itu barusan sebenarnya sangat menusuk hati. Namun, niatnya untuk memisahkan Marco dan Icha harus tetap berjalan sesuai rencana.


Tak terasa waktu terus berjalan. Saat ini jam di dinding menujukkan pukul 18.45. Sania berjalan menuruni tangga hendak ke dapur untuk mengambil segelas air minum. Matanya menangkap sosok yang ia benci sedang membantu para art memasak di dapur. Dilihatnya gerak gerik Icha yang sama sekali tidak kaku dan begitu akrab dengan art.


"Lagi ngapain kalian?" Suara sinis Sania mengagetkan Icha dan dua art di situ.


"Mommy..." Tegur Icha sopan.


"Hmm... apa kamu bilang? Mommy? Hanya Marco yang boleh memanggil saya mommy. Kamu harus tau diri." Sembur Sania dengan emosi.


Rina dan Hartin, dua art yang bertugas memasak sore ini, saling pandang dengan kepala tertunduk. Mereka heran dengan sikap nyonya Sania yang begitu sinis kepada menantunya sendiri. Walau pun mereka sudah mengetahui sikap dan karakter nyonya mereka itu, tapi kenapa ia begitu sinis pada menantunya sendiri?


"Baik, nyonya..." Sahut Icha mengganti sapaan untuk Sania. "Ada yang bisa kami bantu?" Sambungnya bertanya.


"Lanjutkan pekerjaan kalian. Aku ingin bicara dengan Marissa." Ketusnya pada Rina dan Hartin. Dua art itu mengangguk patuh dan segera melanjutkan tugas mereka.


"Maaf, nyonya. Saya masih harus selesaikan masakan ini," Tolak Icha sopan. "Suami saya sudah lapar dan ia ingin saya memasak makanan kesukaannya." Lanjut Marissa. Sebenarnya, bisa saja ia melepaskan semua pekerjaannya di dapur dan menyerahkan pada Rina dan Hartin. Namun, ia tidak ingin diajak bicara berdua saja dengan Sania. "Kalau nyonya mau bicara dengan saya, tunggu saya selesaikan ini." Tanpa menunggu tanggapan dari Sania, ia melanjutkan masakannya yang tertunda tadi.


Sania murka. Ia merasa Icha sama sekali tidak menghargainya sebagai mertua. Ia menarik lengan Icha hingga berbalik menghadapnya. Tangannya terangkat hendak menampar pipi mulus itu. Akan tetapi.... ada sebuah tangan yang menangkap pergelangan tangan Sania.


"Jangan sampai Tuan Marco melihat kelakuan anda, nyonya... saya yakin ia akan mengirim anda ke perairan segitiga bermuda untuk merenungi nasib anda." Ancam Berry sambil menatap tajam pada nyonya rumah ini.

__ADS_1


Sania nampak pucat. Ia tidak menyangka, Berry berani mengancamkan menggunakan nama anaknya. Ia menatap nyalang pada Berry dan Sania.


"Awas, kalian berdua!" Ia balik mengancam Berry dan Icha.


__ADS_2