Cukup Di Hati Saja

Cukup Di Hati Saja
Kebahagiaan Leon dan Ayu.


__ADS_3

Hai, guyssssss.... Makasih ya, udah ikutin, like dan komen cerita aku. Maaf, masih jauh dari sempurna. Aku akan terus belajar untuk bisa menghasilkan karya yang baik untuk kalian.


Maaf, kalo updatenya suka lelet. Aku lagi bermasalah sama asam lambung makanya sering nggak update.


Ini episode terakhir dari cerita ini. Aku rencananya akan menulis kisah tentang Ninda, adiknya Leon, dan laki-laki yang akan menjadi pendamping hidupnya. Ikuti terus, yaaa... 🙏


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tiga minggu berlalu... Dan selama tiga minggu itu, Ayu selalu melakukan terapi pada seorang psikiater akibat trauma yang dialaminya. Leon pun senantiasa menemani agar gadis itu lebih percaya diri dan bersemangat.


Pagi ini suasana perusahaan GT Corp terlihat lengang. Semua karyawan tenggelam dalam pekerjaan masing-masing.


Tok.... tok... tok...


"Masuk!" Suara pintu ruangan CEO yang tidak lain adalah Marco terdengar diketuk seseorang.


"Papa sibuk?" Leon hanya mengintip sedikit di balik pintu.


"Masuklah!" Perintah Marco sambil menutup berkas yang sedang dibaca. "Sesibuk apa pun pasti papa meluangkan waktu untukmu." Sambung Marco.


Leon hanya tersenyum mendengar ocehan Marco. Ia masuk dan duduk di kursi tamu tepat di seberang meja Marco.


"Ada apa?" Tanya Marco penasaran karena agak jarang Leon datang ke ruangan papanya.


"Ada yang ingin aku katakan pada papa." Sahut Leon serius.


Marco ikut menatap Leon dengan serius pula.


"Tentang Ayu?" Tanya Marco mencoba menebak. "Bukankah Ayu sudah mulai pulih?" Ia sedikit merasa kuatir mendengar nama gadis itu.


"Tentang aku dan Ayu, pa." Imbuh Leon pelan. Marco mengangguk menanti perkataan Leon selanjutnya. "Aku.... " Ia sedikit gugup. "Aku ingin papa dan mama melamar Ayu untukku. Aku ingin menikahinya, pa." Ucap Leon tegas.


Tentu saja ini Menjadi kabar baik buat Marco. Karena sebagai orangtua ia sangat ingin melihat anak-anaknya bahagia dengan pasangan yang mereka cintai.


"Sudah yakin?" Tanya Marco sedikit menggoda.


"Yakinlah, pa." Sanggah Leon cepat.


Marco tertawa mendengar sanggahan Leon.


"Oke... papa setuju. Papa akan melamar Ayu untukmu tapi dengan satu syarat." Marco masih membuat perhitungan dengan putranya.


Leon hanya mengerutkan kening.


"Setelah menikah, kau harus menggantikan papa memimpin GT Corp." Tegas Marco. Ia menyandarkan punggung pada kursi dan menatap Leon, menunggu jawaban anak laki-laki kebanggaannya itu.


"Ck... papa masih kuat. Masih bisa memimpin perusahaan." Tolak Leon cepat.


"Ck... ayolah, boy. Papa sudah tua. Papa ingin menghabis masa tua papa bersama mama." Keluh Marco. Tak ada kesenjangan antar mereka. Mereka ngobrol layaknya teman.


"Dasar manja." Cibir Leon. "Setelah menikah, aku mau jalan-jalan keliling dunia sama istriku. Setelah puas berbulan madu baru aku bersedia menggantikan papa." Ujar Leon sekaligus menjawab syarat Marco tadi.


Marco tertawa dan mengangguk setuju.

__ADS_1


"Baik. Papa akan membiarkan kamu menikmati bulan madumu sebelum duduk di sini menggantikan papa." Marco mengulurkan sebagai tanda perjanjian mereka.


"Deal?" Tanya Marco memastikan.


"Deal." Jawab Leon dengan tertawa lucu karena tingkah mereka berdua sendiri.


Hari terus berlalu... Ayu sudah benar-benar pulih dan hilang dari rasa trauma akibat insiden di desa Sukamaju.


Dua minggu setelah percakapan antara Marco dan Leon tentang lamaran, tiba saatnya Keluarga Guatalla untuk melamar Ayu.


Semua perpiasan sudah dilakukan oleh kedua pihak keluarga. Bahkan Rossa turun tangan sendiri memasak semua menu makanan dan yang pasti ada beberapa jenis makanan kesukaan calon menantunya.


"Sudah selesai, nak?" Tanya Rossa setelah membuka pintu kamar di mana Ayu sedang dirias oleh makeup artist yang disediakan oleh Icha.


"Udah, bu..." Jawab Ayu yang terlihat sangat anggun dengan dress panjang berwarna hijau tosca yang mengikuti lekukan tubuh Ayu terlihat sangat seksi.


"Waaaah.... anak ibu cantik sekali." Kagum Rossa terpesona dengan penampilan putrinya. "Pasti Leon semakin jatuh cinta sama anak ibu ini." Lanjutnya menggoda Ayu. Gadis manis itu hanya tersenyum malu.


Pukul 7 malam, rombongan keluarga Guatalla tiba di halaman rumah Ayu. Mereka disambut oleh keluarga besar Haris dan Rossa yang datang dari kampung khusus untuk mengikuti acara pinangan hingga pernikahan digelar nanti.


Serangkaian acara dilakukan menurut tradisi Jawa, karena Haris yang berasal dari sana. Acara sederhana namun dikemas dengan sangat apik oleh wedding organisation sehingga terlihat mewah dan berkesan. Ditambah dengan dua sejoli yang besok akan memgucapkan janji nikah di hadapan penghulu terlihat sangat tampan dan cantik.


Semua orang menyalami Leon dan Ayu untuk memberi selamat sekaligus doa agar esok di acara puncak, semua boleh berjalan dengan lancar dan sesuai harapan.


"Cantik sekali." Bisik Leon tepat di telinga Ayu. "Aku tidak sabar menunggu besok." Lanjutnya lagi.


Ayu yang sudah sangat mengenal karakter Leon hanya tersenyum dan sengaja mendelikkan mata padanya.


Ayu membelalakkan mata karena kaget mendengar permintaan Leon. Walaupun ia tahu Leon hanya bercanda namun ia juga tahu jika laki-laki itu tidak akan pernah malu menciumnya di depan umum.


"Aaaaw.... kok dicubit?" Keluh Leon seketika merasakan pinggangnya sakit karena cubitan Ayu.


"Jangan macam-macam, ya!" Ancam Ayu berbisik. "Lagi banyak orang gini, jangan aneh-aneh." sambungnya lalu sibuk menerima uluran tangan sanak keluarganya.


"Cuma satu macam, sayang... Cium. Tidak lebih." Leon terus menggoda gadis itu dengan berbisik ke telinga Ayu. Ia tidak peduli tatapan lucu dari orang-orang yang melihat tingkah mereka.


"Lihat anak kamu tuh, pa.... persis papa." Seloroh Icha yang sedari tadi memperhatikan tingkah Leon yang suka menggoda calon menantunya.


Marco tertawa senang melihat Ayu melotot pada Leon lalu mencubit laki-laki itu tapi sekali-kali ia harus menerima uluran tangan dari beberapa orang yang masih memberi selamat.


"Leon itu anak laki-laki kebanggaan papa, ma... jadi harus ikut papa dong." Ujar Marco bangga pada istrinya.


Malam semakin larut. Semua sudah kembali ke peraduan untuk istrahat dan mengumpulkan tenaga untuk acara puncak esok hari yaitu akad nikah Leon dan Ayu. Begitupun keluarga Guatalla. Marco memutuskan semua sanak famili untuk menginap di hotel mereka agar semua terkendali dan tepat waktu.


"Ayu mana, bi?" Leon yang baru saja mau masuk ke kamarnya masih sempat mengetuk pintu kamar Rossa dan Haris.


"Sudah tidur, nak... kamu juga kenapa belum tidur? Ini sudah larut loh. Nanti kamu bangun kesiangan lagi." Bukannya melihat wajah Ayu malah laki-laki tampan itu mendapat omelan sayang dari calon mertuanya.


Leon tersenyum dan menunduk saja mendengar ucapan Rossa.


"Teman-teman aku baru aja bubar, bi. Makanya baru mau tidur." Begitu alasan Leon.


"Terus... cari Ayu untuk apa?" Tanya bibi meledek.

__ADS_1


Leon tersenyum. Sebenarnya ia juga bingung mau ngapain cari Ayu. Kan besok akan bertemu kembali.


"Ck.... bibi kayak tidak pernah muda saja." Keluh Leon cemberut. Spontan saja Rossa tertawa melihat wajah memelas Leon.


"Kamu ini... persis tuan Marco. Kalau sudah cinta, bucinnya minta ampun." Ledek Rossa. Namun ia senang dan bahagia karena Ayu akan menikahi laki-laki baik ini.


"Sekarang tidak ada alasan lagi. Ayo, cepat masuk kamar kamu dan tidur." Rossa mendorong pelan tubuh Leon memgantarnya sampai di depan kamar Leon yang tepat berada di depan kamar Rossa.


"Ayolah bi.... aku harus ketemu Ayu dulu." Desak Leon.


"Tidak." Tegas Rossa walaupun nada suaranya tidak bisa dikatakan tegas juga. "Besok dan seterusnya Ayu sudah menjadi milik kamu. Jadi, kamu bisa bertemu dengannya setiap saat." Ujar bibi sambil mendorong tubuh Leon masuk ke dalam kamar dan segera menutupnya. Ia pun tertawa seorang diri di depan kamar Leon.


"Dasar anak muda." Celetuknya sembari masuk ke dalam kamarnya dan tidur.


Keesokan harinya, suasana hotel cukup sibuk. Aula tempat akad nikah sekaligus resepsi Leon dan Ayu sudah penuh dengan bunga sakura putih yang langsung dikirim dari Jepang. Beberapa orang dari WO sedang asyik merapikan segala sesuatu.


Ayu pun sudah dirias dengan sangat elegan. Wajahnya yang memang sudah cantik hanya perlu dioles sedikit saja untuk menambah kesan menawan.


"Sudah siap menjadi seorang istri, sayang?" Tanya Rossa.


Ayu mengangguk. Namun airmata sudah menggenang di pelupuk mata. Dengan cepat Rossa menghapus airmata itu sebelum jatuh membasahi pipi.


"Jangan menangis." Ujar Rossa lembut. "Berdoa dan berterimakasihlah pada Tuhan karena IA sangat memberkati hidupmu dengan kebahagiaan." Lanjutnya menasehati sang putri. "Tugasmu adalah menjadi istri yang setia pada suamimu dalam senang maupun susah, dalam sehat maupun sakit, dalam untung maupun malang, tetaplah di sisinya sebagai pendamping yang mendukung dan menguatkan suami." Ucap Rossa bijak.


Ayu tersenyum dan mengangguk pasti. Sosok ayah dan ibunya adalah teladan yang selama ini Ayu banggakan. Begitu juga dengan calon mertuanya, Marco dan Icha. Merekalah role model Ayu dalam kehidupan berumah tangganya kelak.


"Bi..." Suara Ninda mengagetkan Rossa dan Ayu yang sedang hening sebentar. "Waaah.... kamu cantik banget, yuuuu." Seru Ninda melihat penampilan Ayu. "Ayo, cepat. Akadnya mau mulai. Tinggal tunggu pengantin wanitanya aja." Ninda segera menggandeng tangan kiri Ayu dan Rossa di tangan kanannya.


Dengan bibir yang penuh dengan senyuman bahagia, Ayu melangkah anggun menuju kursi di samping kiri Leon.


"Nah, pengantin perempuannya sudah ada. Kita bisa mulai, ya?" Tanya penghulu pada kedua saksi.


Haris sudah bersiap menjadi wali untuk menikahkan putri kandungnya.


"Leonardo Lebrino Guatalla.... Aku nikahkan dan kawinkan kau dengan putri kandungku, Dian Ayunda, dengan mas kawin seperangkat alat sholat, berlian, dan uang tunai 100juta rupiah."


"Aku terima nikah dan kawinnya Dian Ayunda binti Haris dengan mas kawin tersebut tunai." Suara bas Leon terdengar tegas dan berwibawa namun tetap terasa gugup dan jantung yang berdetak kencang.


"Saaaaaah...." Semua suara bahagia terdengar saat Leon selesai mengucapkan janji nikah. Ia pun menarik napas panjang dan merasa kelegaan yang luar biasa.


Setelah selesai menandatangani akta nikah, Leon dan Ayu mulai menerima jabatan tangan dan ucapan dari sanak keluarga.


"Selamat, sayang.... sudah sah menjadi seorang istri." Rossa yang sudah tidak bisa menahan diri untuk memeluk putrinya menjadi orang pertama yang memberi selamat.


"Nak... terimakasih sudah mau menerima Ayu apa adanya. Jaga dia, nak. Sayangi dia sampai kalian menua bersama." Rossa menatap wajah sang menantu dan mengucapkan harapannya untuk anak gadis semata wayang.


"Aku akan mencintai Ayu seumur hidupku, bu. Ibu dan ayah adalah salah satu pasangan yang menjadi panutanku dalam menjalani rumah tangga." Ujar Leon berjanji.


Tentu saja Rossa percaya akan janji dari Leon karena Rossa sangat mengenal sifat dan karakter mantan anak asuhnya itu. Dan itulah yang membuat Rossa tidak berhenti mengucap syukur karena kebaikan Tuhan atas hidupnya.


Marco, Icha dan Ninda pun ikut memberi selamat dan memeluk Ayu dengan erat pertanda bukan hanya Leon yang sudah sah menjadi suaminya namun mereka pun sudah resmi menjadi bagian dari hidupnya.


The End.

__ADS_1


__ADS_2