Cukup Di Hati Saja

Cukup Di Hati Saja
Rekayasa Leon.


__ADS_3

Tubuh Ayu lemas tidak berdaya mendengar laporan dari polisi bahwa orang yang ada di dalam mobil itu sudah tidak bernyawa. Rasa bersalah dalam dirinya semakin membuncah. ia mengutuki dirinya sendiri.


Mobil yang terjatuh ke dalam jurang akhirnya berhasil dievakuasi oleh polisi dibantu warga setempat. Lebih dari lima jam waktu yang dibutuhkan untuk mengangkat mobil mewah itu.


Dengan mata kepala sendiri Ayu melihat bagaimana keadaan mobil itu dan bagaimana mereka mengevakuasi korban keluar dari dari dalam mobil. Ayu semakin histeris ketika melihat kondisi Leon yang sebagian tubuhnya terbakar dan hampir tidak dikenali lagi.


Melihat kondisi mobil yang hancur dan remuk, hancur pula hati dan ia harus pingsan beberapa kali akibat tidak kuat melihat kejadian ini.


Untungnya dokter Ella dan juga Raka selalu setia menemaninya. Hari dimana mereka harus kembali ke Jakarta terpaksa ditunda karena keadaan Ayu yang masih shock dan terguncang. Ia masih suka meracau dalam tidur dan menyebut nama Leon.


"Ayu... kamu harus makan supaya kamu kuat." Rayu dokter Ella dengan sepiring bubur hangat di tangannya. "Kamu nggak ingin balik ke Jakarta?" Dokter cantik itu pun sedih melihat kondisi Ayu.


Ayu kembali menangis mendengar kata Jakarta. Apa yang harus ia sampaikan pada tuan Marco dan nyonya Icha tentang putra kebanggaan mereka? Apa yang harus Ayu katakan pada Rossa, ibunya, yang adalah mantan baby sitter kesayangan Leon? Apa yang harus ia jelaskan pada Ninda tentang kakak kesayangannya? Apakah ia juga bisa melanjutkan hidup tanpa cinta yang telah mati?


"Kamu tidak bisa begini terus, yu. Kamu harus kuat." Tukas dokter Ella tidak tega melihat kondisi Ayu yang nampak sangat terpukul.


"Kenapa dia ninggalin aku, dok?" Lirihnya sendu. Hatinya benar-benar tersayat dengan kepergian Leon. "Dia marah padaku... dia marah banget sampai-sampai dia pergi meninggalkanku sendiri sekarang. Dia membenciku, dok. Aku salah.... aku salah.... aku salah..." Dengan menangis tersedu-sedu, Ayu terus menyalahkan dirinya. Dokter Ella yang ikut menangis langsung memeluk dan terus menenangkan Ayu.


"Dia bilang dia mencintaiku, dok... tapi kenapa dia ninggalin aku begini?" Racaunya lagi dalam dekapan dokter sekaligus dosennya itu. "Aku yang salah, dok... aku yang tidak jujur padanya. Aku yang selalu menghindarinya, aku yang menyakitinya, dok...." Ia semakin terisak mengingat percakapannya dengan Leon siang tadi sebelum kecelakaan itu merenggut semua cintanya.


"Kamu tidak salah, yu. Kamu benar. Cinta tidak bisa dipaksakan. Kalau memang kamu tidak mencintainya memang seharusnya kamu menolak cintanya." Tukas dokter Ella sambil mengelus lembut rambut Ayu dalam dekapannya.


"Aku bodoh, dok... aku bodoh... aku menolak cintanya padahal aku sangat mencintainya." Ungkap Ayu lemah. "Aku sangat mencintainya, dok. Aku tidak mau kehilangan dia, dok...." Ayu terus menangis hingga tubuhnya kembali lemas dan tidak sadarkan diri.


Tentu saja dokter Ella harus melakukan tindakan medis pada gadis malang ini. Ia segera memasang infus pada tangan Ayu agar gadis itu tidak mengalami dehidrasi karena Ayu sama sekali tidak menyentuh makanan ataupun minuman sedari siang tadi. Ia hanya sempat sarapan itupun hanya dua lembar roti dan segelas susu yang disiapkan dokter Ella.


"Apa yang sebenarnya terjadi, Raka? Kenapa Ayu jadi seperti ini?" Tanya dokter Ella sedih ketika Ayu sedang istrahat.


Raka menarik napas panjang. Dadanya terasa sesak mengingat jika Ayu dan Leon ternyata saling mencintai, hanya saja Ayu sengaja menolak Leon entah karena alasan apa. Raka merekam semua ucapan Ayu tadi ketika ia mendengar dan melihat kondisi Leon. Dari situlah Raka menyadari jika mereka berdua saling mencintai dalam diam.


"Mereka saling mencintai, dok. Hanya saja entah apa yang membuat Ayu menolak tuan Guatalla." Sahutnya pelan.


Dokter Ella mengerutkan kening seakan sedang mengingat sesuatu.


"Mungkin saja begitu. Ayu juga sangat dekat dengan adik dari tuan Guatalla." Tutur dokter Ella. "Atau jangan-jangan yang membuat Ayu menolak tuan Guatalla karena perbedaan status sosial mereka?" Tebak dokter cantik mencoba membuka benang kusut yang terjadi sepanjang hari ini.


"Bisa jadi, dok." Ujar Raka membenarkan. "Aku hanya sempat mendengar ucapan terakhir tuan Guatalla dan aku yakin itu yang membuat Ayu semakin terpuruk." Mereka terus duduk bercerita sambil menjaga Ayu yang kadang-kadang terbangun dan mencari Leon lalu menangis lagi hingga lemas dan tertidur.


Tepat pukul sembilan malam ibu kepala desa bersama beberapa warga dan juga orang-orang asing, menurut Raka mendatangi pustu.


"Dokter..." Ternyata Ninda juga ada bersama rombongan itu.


"Ninda." Dokter Ella terkejut namun senang melihat kedatangan Ninda. "Syukurlah kamu sudah di sini. Aku tidak tega melihat keadaan Ayu." Imbuh dokter itu hampir menangis.

__ADS_1


"Tenang, dok... semua akan baik-baik saja." Ninda tersenyum pada dokter yang sekaligus dosen di kampusnya.


Sedang Rossa dan Haris yang juga datang bersama Ninda sudah masuk terlebih dahulu untuk melihat keadaan Ayu.


Jujur, dokter Ella merasa heran dengan raut wajah Ninda yang sama sekali tidak ada rasa sedih atau terpukul atas kehilangan seorang kakak.


"Ninda... ada apa ini sebenarnya?" Tanya dokter Ella mulai curiga namun juga ia sangat penasaran.


"Nanti juga dokter tau. Aku tidak bisa cerita sekarang. Lebih baik kita masuk ke dalam temui orangtua Ayu dan dokter bisa jelaskan pada mereka bagaimana kondisi Ayu." Tanpa basa-basi Ninda menarik pelan tangan dokter menuju ke kamar di mana Ayu sedang dirawat.


"Bi.... Om.." Panggil Ninda pada Rossa dan Haris. "Ini dokter Ella, dokter di RS umum kota Jakarta sekalian dosen aku dan Ayu. Bibi sama Om bisa tanya-tanya soal kondisi Ayu." Ujar Ninda tenang.


"Selamat malam ibu, bapak... maaf, karena kelalaian saya, Ayu jadi begini." Imbuh dokter Ella merasa tidak enak hati.


"Tidak apa-apa, dok... kami sudah sering dengar cerita tentang dokter dari Ayu." Ucap Haris lalu kembali ia menatap putrinya yang sedang tertidur dan juga karena pengaruh obat bius yang disuntikkan melalui infus.


"Ini hanya masalah anak muda." Sambung Haris sembari membelai kepala putrinya. "Mereka saling mencintai namun mereka tidak mau mengakuinya." Haris tersenyum sambil terus membelai kepala Ayu.


"Kami akan membawa Ayu pulang malam ini, dok... dokter juga boleh ikut supaya dokter tidak sendirian di sini." Kata Rossa yang sedari tadi hanya diam sambil memegang tangan Ayu.


Dokter Ella yang masih bingung apa sebenarnya yang terjadi pun menyetujui untuk pulang bersama Ayu dan keluarganya menggunakan helikopter milik keluarga Guatalla pastinya.


Maka dokter baik itu menyiapkan semua barang-barang Ayu yang ia bawa dari Jakarta. Tepat pukul 11 malam, pilot pribadi keluarga Guatalla menerbangkan helikopter mewah menuju Jakarta. Hanya membutuhkan waktu 45 menit untuk mendarat di Jakarta.


"Dokter... sampai kapan Ayu akan tertidur?" Tanya Rossa sedikit kuatir. Dokter Ella masih membantu memasangkan infus di tangan Ayu setelah membawa gadis itu ke dalam kamarnya.


Dengan segera Rossa ke dapur untuk memasak bubur. Sedangkan dokter Ella mengajak Ninda keluar kamar karena ada hal yang masih mengganjal di hatinya yang ingin ia tanyakan.


"Sebenarnya ada apa, Ninda? Ini benar-benar keluar dari nalarku." Ujar dokter Ella kebingungan. "Tadi siang dengan mata kepala aku dan Ayu melihat mobil tuan Leon dievakuasi dan mereka mengangkat seseorang yang sudah menjadi mayat." Lanjutnya bersemangat.


Ninda tersenyum penuh arti.


"Memangnya dokter melihat langsung wajah dari mayat itu?" Tanya Ninda masih dengan senyum.


Dokter Ella menggeleng kepala.


"Tidak. Kami memang tidak melihat wajah mayat itu. Tapi, semua orang yng melihat mengatakan itu tuan Leon. Maka dari itu Ayu langsung histeris dan pingsan." Sahut wanita cantik itu.


Ninda menarik napas panjang. Ia melangkah beberapa langkah dan memandang langit cerah penuh bintang bersinar.


"Kak Leon masih hidup." Bukan main terkejutnya dokter Ella mendengar penuturan Ninda. Ia menutup mulut tak percaya. "Kakak sengaja membuat rekayasa itu agar Ayu mau mengakui perasaannya pada kakak." Lanjut Ninda. Ia berbalik menghadap dokter Ella yang masih melongo tak percaya.


"Dokter tenang saja, secepatnya kak Leon akan menikahi Ayu." Ninda menepuk pundak dokter membuat wanita empat puluh dua tahun itu tersadar.

__ADS_1


"Tapi... ma... mayat itu?" Dengan gagap dokter Ella masih penasaran.


"Itu manusia masih hidup. Direkayasa untuk menjadi mayat." Bisik Ninda tersenyum lucu melihat ekspresi wajah dosen cantiknya itu.


Kaki dokter Ella terlihat bergetar. Ia segera mencari kursi untuk duduk, jika tidak maka ia akan jatuh.


"Ayu mencintai kak Leon sejak mereka masih kecil. Mereka sering memghabiskan waktu bersama sampai kak Leon harus ke Amerika untuk sekolah." Ninda bercerita sekaligus mengenang masa lalu. "Setelah kak Leon kembali, Ayu tidak berani bertemu kak Leon. Ia takut perasaannya semakin bertambah karena ia selalu memikirkan tentang status sosial mereka." Lanjut Ninda. Ia menarik napas berat dan membuangnya perlahan. "Sedangkan kak Leon sama sekali tidak peduli tentang itu. Kak Leon mencintainya dengan tulus." Imbuh Ninda lagi.


Dokter Ella menarik napas lega namun ia kasihan melihat kondisi Ayu.


"Di mana tuan Leon sekarang?" Tanya Dokter Ella heran karena setelah kejadian kemarin ia sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya.


"Kemarin setelah ia merekayasa semua itu, ia langsung pulang ke Jakarta. Kakek memanggilnya ke Amerika. Perusahaan di sana sedang membutuhkan kak Leon." Jawab Ninda. "Mungkin besok sudah kembali." Ninda ikut duduk di samping dokter Ella.


"Lalu bagaimana dengan Ayu?" Tidak tega dengan kondisi Ayu, dokter Ella pun bertanya ingin tahu kelanjutan cerita ini.


"Ayu akan baik-baik aja, dok. Tenang aja." Ucap Ninda tersenyum pada dokter itu.


Tak berapa lama, Rossa memanggil dokter Ella untuk melihat keadaan Ayu karena gadis itu sudah sadar dari tidurnya.


Ninda segera berlari masuk ke dalam kamar sahabatnya itu.


"Hai Dian Ayunda...." Sapa Ninda tersenyum senang melihat Ayu sudah membuka mata.


"Ninda..." Lirih Ayu dan mulai terisak. Ninda langsung memeluk sahabatnya itu dan mengelus punggungnya dengan lembut. "Aku minta maaf... gara-gara aku tuan Leon harus mengalami kecelakaan. Maaf... maaf... maaf..." Ia terus meracau dalam tangisnya.


"Sssst... tidak udah minta maaf. Semuanya baik-baik saja. Kamu tenang, ya." Ninda mengeratkan pelukan pada Ayu. "Sekarang kamu makan dulu.... dan..." Ninda menatap Ayu dengan ekspresi sengaja dibuat marah saat Ayu hendak menolak untuk makan. "Tidak ada penolakan! Kalau kamu mau supaya kak Leon nggak marah maka kamu harus makan." Tegas Ninda lalu mengambil semangkok bubur yang sudah hangat.


Mendengar nama Leon, hati Ayu terasa sakit. Ia menunduk dan menangis lagi.


"Ayolah... Dian Ayundaaaa.... sekarang bukan saatnya menangis. Sudah cukup kamu mengeluarkan airmata sepanjang hari ini." Cetus Ninda sengaja membuat gadis itu kuat. "Aaaaaa..." Dengan telaten Ninda menyuapkan bubur ke dalam mulut Ayu. Walaupun ia tahu dengan sangat terpaksa Ayu mau membuka mulut.


Rossa duduk di samping putrinya, menggenggam tangan Ayu dengan lembut seakan ia ingin Ayu merasakan kekuatan yang ia diberikan sebagai seorang ibu.


"Cukup, Nin..." Tolak Ayu pada suapan ketiga. Spontan saja Ninda melototkan mata pada Ayu.


"Baru mau suapan ketiga, neng....!" Pungkas Ninda tidak terima. Ayu menggeleng kepala tetap menolak makanan itu lagi.


"Kamu mau aku laporkan ke kak Leon? Biar dia nggak ada di sini, tapi dia tau lho kamu nggak mau makan dan menangis terus." Ancam Ninda ambigu. Ayu menunduk sendu.


"Ayo, makan... aaaaa..." Kembali Ninda menyuapinya. Ninda ingin tertawa tetapi tidak tega juga melihat kondisi Ayu begini.


Tanpa ada yang tahu, dokter Ella yang sedari tadi hanya diam dan melihat interaksi antara dua mahasiswinya, menghapus air mata yang jatuh dari sudut matanya. Ia tidak menyangka melihat persahabatan antara mereka apalagi setelah ia tahu hubungan antara Ninda dan Ayu, bak langit dan bumi. Namun tidak terlihat perbedaan antara mereka.

__ADS_1


"Nah... gitu dong. Itu barunya calon kakak ipar aku." Goda Ninda setelah Ayu berhasil menghabiskan semangkuk penuh bubur hangat.


Ayu yang tidak mengerti akan ucapan Ninda hanya terdiam tanpa ekspresi.


__ADS_2