Cukup Di Hati Saja

Cukup Di Hati Saja
GTA Corp.


__ADS_3

Di salah satu kota besar di Amerika, tepatnya di Los Angeles, Leonardo Guatalla, pemuda genius berwajah tampan, putra tunggal anak pertama pengusaha kaya raya turunan Brazil Amerika Indonesia dan ibunya berasal dari Indonesia tulen, sedang serius menatap laptop dengan jari jemari yang lincah mengetik sesuatu.


tok... tok...tok...


"Masuk!" Suara bass Leon terdengar tanpa mengalihkan pandangan dari laptop.


"Siang, bro'. Serius sekali." Jordan, sepupu Leon yang saat ini masih menjadi asistennya datang membawa berkas di tangan kanan. Tanpa disuruh, ia duduk di kursi tamu tepat di depan meja kerja Leon.


Selesai mengetik, Leon melihat sepupunya itu.


"Bagaimana? Berhasil kerjasamanya?" Tanya Leon datar. Ia sedang menguji Jordan dengan mengutusnya bertemu klien dan berbicara tentang kerjasama antar perusahaan besar. Ini bukan hal yang mudah sebenarnya. Namun, Leon percaya Jordan mampu melakukan yang terbaik setelah dua tahun ini dibimbing olehnya.


"Pasti dong... aku tidak mungkin membuatmu kecewa." Ujarnya percaya diri. Leon tersenyum kecil. "Ck... tidak usah tersenyum begitu. Bahaya! Banyak perempuan yang hampir bunuh diri gara-gara senyum jelekmu itu." Ledek Jordan menggoda saudara sepupunya itu.


"Ck... tidak perlu menyanjungku." Sergah Leon tak suka dipuji walaupun ia dikatakan jelek. Jordan menyambutnya dengan tawa lebar. Ia sangat mengenal karakter sepupunya ini. Tampan, dingin, genius tapi tidak suka dipuji apalagi dikejar-kejar para wanita seperti yang biasa terjadi hampir di setiap hari.


"Aku serius, bro'... Banyak perempuan yang menyukaimu. Kenapa kau selalu menolak mereka?" Tanya Jordan ingin tahu. Leon tersenyum penuh arti.


"Belum ada perempuan yang seperti mama. Kau tau kan seleraku?" Sahut Leon sambil membayangkan wajah ayu sang mama. "Anggun dan penuh cinta." Pujinya pada sang mama.


"Tidak munafik dan gila harta. Tetapi, mendukung suaminya dengan penuh cinta dan dalam segala keadaan." Imbuh Leon sambil membayangkan semua hal tentang mama Marissa.


Jordan tersenyum mendengar penuturan Marco. Ia tahu laki-laki yang menjadi idola banyak perempuan itu sedang merindukan mama Marissa.


"Kalau rindu, pulanglah! Temui mama Marissa. Aku yakin beliau juga merindukan anak nakalnya." Leon tertawa mendengar ledekan Jordan. Ia yang tidak pernah melakukan kejahatan dan selalu berlaku baik tapi selalu dipanggil anak nakal oleh ayahnya, itu juga hal yang selalu dirindukan.


"Aku pasti pulang. Kasian papa sendirian mengurus perusahaan." Lirih Leon mengingat laki-laki paruh baya yang menjadi panutan dalam hidupnya.


"Maka dari itu, hari ini aku ingin menunjukkan hasil pertemuanku dengan tiga klien kita, agar kau percaya bahwa aku sudah pantas menjadi CEO pada GTA Corp ini." Ujar Jordan sambil menunjukkan berkas yang dibawanya dari tempat pertemuan tadi. Leon tersenyum lucu melihat semangat sepupunya yang sudah tidak sabar mendapat gelar CEO.


"Tenang saja... aku pasti akan serahkan perusahaan ini padamu, asal kau tetap menjaga kepercayaan yang sudah aku berikan. Jika tidak, maka aku tidak akan segan untuk mengambil semua ini dari padamu." pungkas Leon sekaligus memberi ultimatum dengan keras.


"Tidak usah kau jelaskan juga aku sudah tau siapa kau. Manusia dingin dan kejam yang berlindung di balik topeng ketampanan dan kesahajaanmu." Ledek Jordan membuat Leon tertawa kecil.


"Sialan... awas kau!" Leon melemparkan pulpen ke arah Jordan yang ditangkap langsung oleh calon pemimpin GTA Corp, perusahaan milik Mr. LG alias kakek yang sudah diserahkan untuk Adam, anak laki-laki tertuanya yang adalah orangtua dari Marco, ayah dari Leon. Hingga Adam mengganti nama perusahan dari GT Corp menjadi GTA Corp, Guatalla Adam America Corporotion.

__ADS_1


Adam Guatalla yang sudah berusia lanjut sudah tidak sanggup mengurus perusahaan sebesar ini. Namun, ia tidak tahu harus menyerahkan perusahaan ini kepada siapa, karena dua anak laki-lakinya sudah memiliki perusahaan masing-masing. Untungnya, ketika Leon berusia 13 tahun, ia memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke Amerika. Maka, Adam yang disapa kakek pun mulai gencar mengajari dan menuntun Leon menjadi pemimpin perusahaan hingga saat ini Leon menjadi satu-satunya pengusaha muda dengan memiliki banyak saham hampir di semua perusahaan besar di Los Angeles.


Kakek Adam juga senang akhirnya ada penerus dari GTA Corp yaitu cucu kesayangannya. Karena menurut Adam, dari semua cucunya, Leonlah yang paling genius dan serius mengerjakan sesuatu. Aura Marco, ayah Leon benar-benar nampak pada diri pemuda itu. Adam sepertinya belum mengetahui rencana Leon yang akan mewariskan perusahannya kepada Jordan dan kembali ke Indonesia untuk meneruskan perusahaan sang ayah.


"Good job." Ujar Leon setelah memeriksa berkas hasil pertemuan Jordan dan beberapa klien. "Sulit untuk mendapatkan kerjasama dengan mr. Richard Smith. Tapi, kamu berhasil membuat dia menandatangani kontrak kerjasama, itu artinya kamu sudah berhasil mengambil hati pengusaha tua itu." Lanjutnya.


"Iya... tapi agak susah juga. Dia hanya mau bertemu dan berbicara denganmu saja." Keluh Jordan. Setelah aku jelaskan kalau aku ini sepupumu dan berasal langsung dari turunan Guatalla baru dia sedikit luluh." Sambung Jordan sedikit emosional menceritakan tentang pertemuannya dengan seorang pengusaha tua Los Angeles.


Leon tertawa mendengar keluhan Jordan. Ia bangun dari kursi kebesarannya dan duduk di sofa tamu agak lebih santai dan bisa bersandar dengan bebas.


"Itu baru satu pengusaha dengan tingkah anehnya. Masih banyak pengusaha yang unik dan lebih ekstrim tingkahnya. Tapi, saranku... nikmati pekerjaanmu dengan santai. Jangan pakai emosi. Kamu tidak akan mendapat apa-apa dengan sifat tempramenmu." Papar Leon memberi masukan pada sepupunya yang terkadang masih menggunakan emosi untuk menghadapi klien.


Jordan mendengar dengan sopan dan seksama. Walaupun secara usia mereka tidak jauh berbeda, namun secara pengalaman dan intelektual Jordan harus mengakui kelebihan Leon.


"Pelajari sifat lawanmu, dengan begitu kau bisa menjebak musuh dengan cara yang elegan. Jangan juga terbuai dengan mulut manis sesama pengusaha, justru banyak dari mereka yang ingin menjatuhkanmu." Jordan mengangguk kepala berusaha menyerap semua masukan dari Leon.


"Oya... aku akan segera bicara pada kakek tentang pergantian CEO. Sudah saatnya kamu menggantikan aku." Lugas Leon.


"Serius?" Jordan seakan tak percaya mendengar ucapan Leon. "Apa aku sudah pantas?" Tanyanya tak percaya diri.


"Ya sudah... buatkan SK kerjasama untuk tiga perusahaan tadi." Perintah Leon dan langsung disambut hormat oleh Jordan.


"Siap, tuan..." Canda Jordan membuat Leon tersenyum. Ia merasa senang dan lega akhirnya Jordan yang baru sudah lahir kembali. Dan semoga ia mau terus belajar untuk memperbaiki diri.


Waktu terus berlalu. Jam menunjukkan pukul lima sore. Sudah saatnya semua karyawan untuk pulang, kecuali yang belum menyelesaikan tugas dan diharuskan lembur.


"Sebelum pulang, periksa semua divisi. Jangan ada yang boleh pulang jika pekerjaan hari ini belum selesai." Perintah Marco datar.


"Siap, bro'..." Jawab Jordan dengan santai tetapi tetap santun. Mereka mungkin memiliki hubungan persaudaraan yang sangat dekat namun aura dan wibawa seorang Leonardo Guatalla membuat Jordan merasa segan padanya.


Tanpa peduli dengan tatapan liar pada gadis dan pandangan sinis sesama laki-laki yang merasa iri padanya, Leon terus berjalan melewati lobi dan langsung masuk dalam mobil mewahnya yang sudah menunggu tepat di pintu masuk lobi.


Membutuhkan waktu cukup Dua puluh lima menit perjalanan menuju rumah mewah kakek Adam. Dan seperti biasa nenek Sania akan selalu menyambut cucu kesayangannya di depan pintu rumah.


"Hai, tampan..." Sambut nenek dengan melebarkan kedua tangan meminta Leon masuk ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Kalau begini terus jangan sampai tidak ada perempuan yang menyukaiku, nek. Mereke berpikir aku ini laki-laki dewasa yang manja pada neneknya." Canda Leon sembari merangkul Sania.


Mendengar ucapan Leon, wanita tua itu tertawa lucu.


"Perempuan bodoh saja yang tidak menyukaimu. Tapi ingat...!" Sani menghentikan langkah dan melihat tajam pada Leon "Harus mencari perempuan yang sama. dengan ibumu, Marissa. Wanita tulus yang mencintai papamu tanpa memandang harta kekayaan. Bahkan dia mampu merubah papamu menjadi orang yang lebih baik dan sabar." Pungkas Sania serius. Leon tersenyum bangga mendengar nama ibunya disanjung sang nenek. "Walaupun nenek sudah pernah menyakiti hatinya tapi..." Sania terdiam dan menunduk. Aiata sudah menumpuk di pelupuk mata wanita renta itu.


"Sudah, nek... jangan mengingat lagi sesuatu yang membuat nenek kepikiran dan sakit. Semua sudah menjadi masa lalu." Leon memeluk Sania, mengelus punggungnya dengan lembut.


"Aku percaya Tuhan akan mendengar doa nenek dan mama. Tuhan pasti akan mempertemukan aku dengan seorang gadis seperti yang nenek inginkan." Imbuh Leon menenangkan Sania. "Sekarang nenek buatkan aku kopi seperti biasa, ya. Aku mau mandi dulu." Dengan mesra ia mengecup pipi keriput sang nenek. Lalu pergi meninggalkan Sania sendiri.


"Terimakasih ya, Allah... semoga Engkau mempertemukan cucuku dengan perempuan baik dan tulus seperti Marissa." Sania menghapus airmata dan segera ke dapur untuk membuat kopi hitam kesukaan Sania.


Walaupun ada beberapa asisten rumah tangga, tugas Sania adalah membuat kopi untuk cucunya. Karena kopi buatan Sania yang bisa diterima indera perasa Leon.


"Lagi apa, mom?" Tanya Adam yang sedari tadi mencari keberadaan istrinya.


"Membuat kopi untuk Leon." Sahut Sania dengan senyum manis di bibirnya. Adam pun ikut tersenyum.


"Anak nakal itu masih saja menyuruhmu untuk membuatkan kopi." Ujar Adam bercanda.


"Iya, karena katanya kopi buatan aku sangat pas di lidahnnya." Balas Sania dengan bangga.


"Ayo, pa... kita ke taman belakang. Sedikit lagi pasti Leon sudah turun untuk memikmati kopi sore."


Ya, setiap hari sepulang kerja, Leon akan mengajak ngobrol kakek dan neneknya di taman belakang. Ia sengaja selalu menyempatkan waktu di sore hari untuk bisa berbicara apa saja dengan kedua orangtua Marco itu.


"Ini punya, papa... cukup air putih hangat." Sania menaruh di meja tiga gelas berisi kopi hitam, air jahe dan kopi hitam. Minuman favorit mereka bertiga.


"Sore, kek..." Leon yang sudah terlihat segar menggunakan baju rumah sederhana namun tidak membuat ketampanannya luntur.


"Sore, anak nakal... Bagaimana pekerjaanmu??" Tanya kakek ketika Leon sudaj duduk di samping kirinya.


"Baik... semua berjalan dengan baik." Jawab Leon pelan. Ia mengambil gelas kopinya lalu meneguk dengan nikmat.


"Kau sangat menyukai kopi buatan nenekmu, padahal rasanya biasa-biasa saja." Ledek Adam membuat Sania mendelik kesal padanya.

__ADS_1


Mereka tertawa lucu melihat wajah kesal Sania.


__ADS_2