Cukup Di Hati Saja

Cukup Di Hati Saja
Sah.


__ADS_3

Marco dan Icha sudah terlihat menawan dengan pakaian mahal yang menempel di tubuh mereka. Kebaya dan jas berwarna senada dan dandanan sederhana namun terlihat mewah dan elegan. Begitu juga dengan baby Leon yang tak mau kalah dengan jas mininya menambah imut bayi tampan itu. Rossa yang harus ikut untuk bergantian menjaga baby Leon pun terlihat cantik dengan pakaian sederhana pemberian Icha tetapi terlihat anggun.


"Baby Leon benar-benar nempel sama kamu, ya... Nemplok kayak cicak." Celetuk Icha saat melihat putranya sedang memeluk leher Rossa dengan nyaman.


"Iya dong, non... Ini kan anak aku." Sahut Rossa bercanda. Icha tertawa senang karena Rossa menjaga baby Leon dengan hati tulus.


"Sudah, sayang?" Suara Marco terdengar. Icha mengangguk cepat. "Ayo, kita jalan. Sudah waktunya ke sana." Dengan menggenggam tangan Icha, mereka menuruni tangga menuju ruang keluarga yang sudah ditunggui kakek, Rama dan ibunya yang sudah tua. Ya, hari ini pernikahan Rama dan Valencia dilangsungkan. Christo meminta bantuan Marco untuk membantu melancarkan pernikahan putrinya. Tanpa diminta pun, Marco sudah berjanji untuk mendampingi Rama saat menikah nanti mengingat Rama hanya hidup berdua dengan ibunya.


"Gimana, Ram..?" Tanya Marco. "Kamu pucat sekali. Sakit?" Marco kaget melihat wajah pucat Rama. Laki-laki muda itu menggeleng cepat.


"Kamu kayak nggak tau aja. Bukan sakit tapi gugup." Celetuk kakek membuat Rama tersenyum malu. Kakek memegang pundak Rama.


"Ingat! Mulai sekarang kamu tidak sendiri lagi. Ada kami yang akan selalu berdiri di samping kamu sebagai keluarga. Jangan sungkan jika ada yang ingin kamu sampaikan." Kakek memberi sedikit wejangan. Rama tersenyum haru.


"Iya, tuan... terimakasih." Ucapnya sopan. Terlihat mata sang ibu berkaca-kaca tak pernah membayangkan putra tunggalnya akan sampai pada titik ini. Ibu Nurhayati, orangtua kandung Rama bersyukur karena Tuhan mempertemukan mereka dengan keluarga kaya raya tetapi sangat merendah.


"Dalam keluarga tidak ada sapaan 'tuan'. Panggil aku kakek seperti Marco, Marissa dan Raymond memanggilku." Lagi-lagi Rama menatap kakek dengan haru. Ia seperti menemukan keluarga baru yang selama ini selalu ia impikan.


"Dengar, Rama.... Pernikahan adalah hal yang sakral dan mulia di hadapan Allah. Setiap pernikahan pasti ada badai, baik kecil maupun besar. Setiap badai pernikahan harus dihadapi dengan kepala dingin. Jangan pernah berpikir untuk menghentikan badai dalam rumah tanggamu dengan perceraian. Karena itu tidak akan pernah menyelesaikan masalah." Suara lembut kakek menasihati Rama. "Ini pernikahan yang tidak direncanakan sebelumnya. pasti badainya akan sangat kencang. Tapi, kakek percaya kamu laki-laki baik dan bertanggung jawab yang bisa mengatasi badai sekencang apapun itu." Rama mengangguk paham apa maksud kakek. Pernikahan yang ia jalani adalah pernikahan mendadak semata-mata kesalahan yang ia perbuat. Namun, dengan nasehat kakek semakin meyakinkan Rama untuk serius menjalaninya.


"Baiklah... kita harus pergi sekarang." Suara Marco memecah keheningan di antara mereka. "Mari, ibu." Dengan lembut dan sopan Marco menuntun ibu Nurhayati yang sedikit lambat berjalan karena sakit yang di derita.


Mereka menggunakan dua mobil yang masing-masing disopiri oleh Raymond dan Berry. Dua asisten kepercayaan keluarga Guatalla itu tak kalah tampan dengan jas senada yang digunakan kakek dan Marco. Mereka memang sengaja menggunakan jas dengan warna yang sama menunjukkan kekompakkan bahwa mereka semua adalah keluarga Rama.


Cukup membutuhkan waktu tiga puluh lima menit untuk sampai di kediaman Valencia. Sudah terlihat beberapa orang berjalan ke sana ke mari mempersiapkan akad nikah sederhana. Tidak banyak yang datang, karena Valencia ingin pernikahan ini disembunyikan. Apalagi Riska yang tak sudi menyebarluaskan hari bahagia putrinya ini. Ia tak ingin teman-teman nongkrongnya mengetahui kalau ia mendapatkan menantu dari kalangan bawah.


"Selamat datang, tuan." Christo menyambut kakek dengan sopan diikuti oleh istrinya di belakang. "Mari silakan duduk, tuan." Kakek dan rombongan kecil melangkah menuju kursi yang sudah disediakan. "Sebentar lagi Valencia sudah selesai bersiap." Bisiknya pada Marco dan dibalas anggukan kecil.


Rama sudah duduk menunggu di meja akad berhadapan dengan seorang penghulu yang akan mendampingi Christo menjadi wali nikah bagi anaknya.


Tak lama semua mata menuju ke arah tangga di mana Valencia dengan gaun putih berjilbab didampingi Riska dan dua orang sepupunya melangkah pelan menuruni anak tangga. Perut besarnya tak bisa ditutupi dengan gaun paling mahal sekalipun. Tak ada wajah bahagia. Riska pun memasang raut wajah tak suka.

__ADS_1


Melihat kemunculan Valencia, kakek yang awanya duduk di deretan kursi keluarga bersama Marco dan lainnya bangun berdiri dan segera melangkah menuju meja akad. Kakek diminta oleh Marco untuk bersedia menjadi saksi bagi Rama. Dengan senang hati kakek menerima.


Riska mengantarkan putrinya menempati kursi di samping Rama. Dengan wajah dingin, wanita hamil itu duduk tanpa melihat wajah calon suaminya. Suasana terasa sedikit canggung bagi kedua calon.


Semua sudah siap. Christo dengan pecinya sudah duduk di depan Rama, mengulurkan tangan menjabat tangan calon menantunya. Di samping kanan Rama, kakek sudah duduk manis dengan senyum bahagia. Di samping kiri Valencia, kakak kandung Christo, paman Valencia, sudah duduk sebagai saksi.


"Kedua calon pengantin sudah siap?" Tanya penghulu. Rama mengangguk mantap. Valencia hanya menunduk tanpa ekspresi. "Baik. Kita akan mulai." Penghulu itu mendekatkan bibir ke telinga Christo dan membisikkan sesuatu. Christo mengangguk lalu menarik napas sebelum menjabat tangan Rama.


"Saya nikahkan engkau dengan putri kandung saya, Valencia Christo, dengan mas kawin berupa emas putih seberat 50 gram dan seperangkat alat sholat." Suara bergetar Christo mulai terdengar.


"Saya terima nikahnya Valencia binti Christo dengan mas kawin tersebut tunai." Suara bass Rama berhasil mengucapkan ikrar nikah dengan mulus. Semua orang tersenyum merasa bahagia dan bersyukur setelah berhasil ikut melewati rasa tegang.


Saaaaaahhhhhh... semua mata yang memandang ikut meneriakkan kata itu.


Rama bangun dan bersimpuh di kaki ibu Nurhayati, wanita yang sudah mengandung dan melahirkannya. Valencia hanya mencium tangan mertuanya saja. Ia sudah tak bisa duduk bersimpuh dengan perut seperti itu.


"Semoga bahagia." Lirih Nurhayati dengan suara bergetar. Ia mengelus kepala Rama sambil mengucap berkat untuk anaknya. Valencia tak peduli. Ia mencari Riska dan asyik mengobrol dengan ibunya.


"Pintar juga laki-laki itu mencari muka dengan keluarga Guatalla. Lihat aja, semua turunan Guatalla mendukungnya." Celetuk Riska sinis. Ia tak menyangka seorang Mr. LG mau duduk menjadi saksi bagi pria miskin itu.


Semua orang masih asyik bercerita satu sama lain, begitu juga kakek dan Christo. Dengan ramah, kakek memperkenalkan wanita tua yang duduk di samping Berry kepada Christo.


"Ini besanmu. Ia sudah lama menjanda dan hanya hidup berdua dengan Rama." Christo mengulur tangan dengan sopan. Nurhayati menerima jabatan tangan Christo dan menyebut nama.


"Semoga Rama bisa menjadi suami yang baik untuk menantuku." Setelah sekian lama tak membuka mulut, Nurhayati pun angkat bicara.


"Pasti. Tugas kita mendoakan mereka." Mereka terus bercerita. Marco dan Icha pun sibuk menikmati makanan sambil bercerita.


"Semoga Rama bisa bersabar menghadapi Valencia, ya... kasian dia. Laki-laki yang baik." Lirih Suara Icha di dekat Marco.


"Aku yakin Rama bisa memgatasinya. Dia bukan hanya bertanggung jawab namun ia juga laki-laki yang sudah berpikiran dewasa." Balas Marco sambil menggenggam erat tangan Icha. "Tugasku masih satu." Lanjutnya berbisik. Icha mengerutkan kening.

__ADS_1


"Tugas apa?" Tanyanya kepo.


"Aku sudah berjanji menikahkan Raymond dan Wulan. Kamu lupa?" Icha tertawa pelan.


"Oh iya ya... kok aku lupa. Padahal mereka udah kita tangkap basah kan waktu itu?" Mereka tertawa pelan mengingat kejadian tempo hari.


Raymond yang sedang asyik mengarahkan kamera pada pengantin baru tak menyadari jika Marco dan Icha sedang membicarakannya.


"Kasian Wulan sendiri di kantor." Icha teringat Wulan sahabatnya. Akhir-akhir ini mereka jarang bertemu karena kesibukan Wulan. Ia ditugaskan Marco untuk tetap stand by di perusahaan.


"Banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan. Lagian Raymond dan Rama di sini, jadi Wulan tidak boleh kemana-mana." Sahut Marco.


Semua orang asyik menikmati segala menu makanan yang sudah disiapkan sambil terus bercerita satu sama lain. Memang tidak ada tamu dari luar. Semua yang hadir hanya keluarga kedua belah pihak.


Valencia sudah tidak bisa menahan gerah akibat dress brokat panjang yang ia gunakan. Ditambah lagi dalam keadaan hamil besar membuat pergerakannya terbatas dan tidak nyaman.


'Kamu kenapa?" Rama yang melihat gerakan tubuh gelisah Valencia sengaja mendekat.


"Nggak apa-apa." Ketus Valencia.


"Sudah makan? Aku ambilkan, ya?" Rasa canggung masih terasa di antara mereka. Namun, sebisa mungkin Rama berusaha relaks dan mencoba mendekati Valencia.


"Aku nggak lapar." Lagi-lagi sikap Valencia masih sama, ketus dan sinis. Rama tersenyum kecil.


"Tapi kayaknya... anak kita butuh makan." Goda Rama. Akhirnya ia mendapatkan pelototan mata Valencia.


"Anak kamu? Enak aja." Tandas Valencia kesal.


"Anak kita, Val... aku yakin kamu nggak lupa akan kejadian itu hingga kamu mengandung darah dagingku." Sindir Rama sengaja menggoda istrinya. Valencia semakin kesal dengan tingkah Rama. Ia bangun dan hendak pergi meninggalkan Rama.


"Hai pengantin baru.... selamat, ya." Saudara sepupu, om dan tante-tantenya datang menyalami Valencia dan Rama. Satu persatu mereka mencium pipi kiri kanan Valencia.

__ADS_1


"Suami kamu tampan banget. Kalau udah bosan, over ke aku aja ya. Dengan senang hati aku akan menerima." Bisik salah satu sepupu Valencia lalu ia tertawa lucu.


'Ambil aja kalau mau..." Umpat Valencia kesal. "Asalkan.dia mau!"


__ADS_2