
Pukul 05.00 sore waktunya untuk pulang bagi semua karyawan GT Corp. Icha merapikan mejanya dan memasuki ruangan Marco.
"Sayang... " panggil Icha ketika melihat Marco masih sibuk di depan laptop.
"hmmmm... " Marco hanya berdehem dan tersenyum ke arah Icha.
"Aku ada janji mau ketemuan sama Arin di Our Coffee." Ujar Icha memberitahu. "Aku lebih dulu ke sana, ya?" Icha meminta izin. Karena biasanya Marco yang selalu mengantarnya pulang.
Marco mengerutkan kening walaupun tangan masih asyik memainkan tuts laptop.
"Naik apa ke sana?" Tanya Marco datar.
"Nanti aku pesan grab aja. Aku sama Wulan kok. Dia sudah nunggu di lobi bawah." terang Icha.
"Nanti aku suruh salah satu sopir perusahaan yang mengantar kalian. Aku masih harus menyelesaikan satu pekerjaan penting." Ucap Marco. Ia bangun dari duduknya dan berjalan mendekati Icha. Ia berdiri dan bersandar pada meja kerja, sedangkan tangannya lincah mengutak atik tuts hp.
"Nggak usah, sayang... aku nggak enak. Aku naik grab aja." Tolak Icha cepat. Marco menatap Icha tanpa senyum.
"Mau ketemuan sama Arin atau aku antar pulang?" Ancam Marco dengan nada pelan tapi penuh penekanan. Icha merengut kesal. Ia hanya mengangguk patuh. Dari pada tidak bertemu sahabatnya.
"Good girl." Marco tersenyum sinis. Ia hanya tidak ingin Icha naik kendaraan umum atau pun grab. Kebetulan ia punya fasilitas, kenapa tidak digunakan? Begitu pikir Marco.
"Ray, siapkan satu mobil untuk Marissa dan temannya. Mereka mau ke Our Coffee." Perintah Marco melalui handphone. Lalu,
ia meletakkan hp kembali di atas meja dan melihat ke arah Icha yang masih kesal.
Marco segara menarik tangan Icha dan membawa gadis itu ke dalam pelukan.
"Sekarang kamu tanggung jawab aku. Apapun yang kamu lakukan di luar jam kerja, aku harus tahu. Agar aku bisa pantau dan menjaga kamu. Aku nggak mau terjadi apa-apa sama kamu. Aku mohon mengertilah." Tutur Marco lembut. Icha yang awalnya kesal langsung merasa bersalah atas sikapnya tadi. Ia membalas pelukan Marco. Airmatanya mengalir. Airmata haru dan bahagia. Ia bersyukur karena laki-laki baik ini diijinkan Tuhan untuk berada di sampingnya.
Marco melepaskan pelukan. Ia menatap Icha. Segurat senyum terukir di bibir mereka.
"Ternyata hobi kamu menangis, ya. Hari ini sudah berapa kali menangis?" tanya Marco menggoda sang kekasih. Icha tertawa dan memukul dadanya dengan manja.
Marco menghapus airmata dan mengecup keningnya.
"Aku mencintaimu..." ucap Marco dengan menatap Icha dalam. Sekian bulan mereka menjalin hubungan, Marco belum pernah mendengar kata cinta dari Icha. Walau pun ia mengetahui dan tidak ragu akan hati dan perasaan Icha. Tetapi, ia juga ingin mendengarkan gadisnya menyatakan cinta padanya.
"Makasih, sayang... maaf, kalau aku masih belum bisa memahami kamu sepenuhnya." Ucap Icha pelan.
Dengan cepat dan tanpa diduga ia mengecup bibir Marco.
"Aku juga mencintaimu." Dunia Marco seakan mau terbalik mendengar pernyataan cinta Icha. Sesuatu yang diharapkan akhirnya terwujud juga.
"Maaf... belum bisa menjadi yang terbaik buat kamu. Tapi aku mau terus belajar untuk menjadi yang terbaik buat kamu." Sambung Icha diiringi senyum manis.
Marco yang sudah menahan diri dari tadi untuk tidak mengecup bibir indah itu akhirnya menempelkan bibirnya ke bibir Icha. Ia ******* bibir itu dengan lembut. Tanpa hawa nafsu. Namun, sebaliknya penuh rasa cinta. Mereka menikmati dan terus menyalurkan perasaan cinta mereka.
__ADS_1
Tiba-tiba Icha teringat Wulan yang pasti sudah kelaparan menunggunya di lobi.
Ia segera melepaskan ciuman mereka dan menjauhkan pelukan Marco.
"Ada apa?" Tanya Marco heran.
"Iiiiish... gara-gara kamu, sayang. Pasti Wulan udah ngambek di bawah." Icha meraih tas di sofa dan hendak berlalu dari hadapan Marco. Tetapi, tangannya ditahan Marco.
"Jangan buru-buru. Ntar kamu bisa nabrak pintu lho." Geram Marco tertahan. Ia menarik lagi pinggang Icha hingga menempel pada tubuhnya. "Ingat, hati-hati. Jaga mata ini. Nggak boleh lihat sesuatu yang nggak perlu dilihat." Kecam Marco penuh cinta. Icha tersenyum. "Jangan pulang terlalu larut."
Cup...
"Cerewet.." Icha mengecup sekilas bibir Marco dan berlari ke luar. Marco masih mematung. Ia tersenyum bahagia.
"Bisa gila kalau dekat dia terus." Racaunya sendiri sambil memegang bibir. Masih terasa manisnya bibir Icha, sang kekasih. Ia kembali ke meja kerja dan menyelesaikan tugas dengan mood yang baru.
Sedangkan Icha.... Jangan ditanya lagi apa yang terjadi di lobi. Icha diumpat habis-habisan sama Wulan. Icha tertawa geli. Ia tidak peduli umpatan Wulan. Ia segera menarik tangan Wulan ke luar lobi. Sudah ada mobil mewah yang menunggu di depan. Seorang sopir yang sudah berumur membukakan pintu penumpang. Icha langsung masuk diikuti oleh Wulan. Walau pun mulutnya belum diam dengan omelan, ia tetap masuk juga ke dalam mobil.
"Benar-benar keterlaluan kamu.. aku nunggu sampe semua karyawan udah pulang lho. Kalo udah pacaran aja nggak ingat waktu." Icha menutup mulut Wulan sambil memberikan kode lirikan ke sopir yang sedang menyetir.
"Iiih Icha... aku lagi marah ni. Lagian kenapa kalo bapanya dengar. Orang nggak kenal juga." Sergah Wulan sewot.
"Astaga.... " Icha menepok jidat dan menyandarkan punggung pada kursi.
"Emang kenapa sih? Kayak pak sopir kenal Pak Marco aja." Ketus Wulan. "Tadi masih ngapain aja sih sama CEO itu? Lama banget ngedatenya. Nggak tau apa aku dah karatan nunggunya." Gerutu Wulan kesal. Icha mengunci mulut. Ia takut kalau menanggapi, bisa-bisa Wulan makin ngawur ngamuknya maka semua rahasia akan terbongkar.
"Astaga... " Ia tersadar bahwa itu sopir perusahaan. Wulan mengenal dari seragam sopir GT Corp.
Icha meliriknya kesal.
"Udah sadar sekarang?" ucap Icha ketus.
"Ya maaf, aku pikir kamu pesan grab." Bisik Wulan shock. Kalau sampai sopir itu curiga pada hubungan Icha dan Marco, pasti ia akan kena imbasnya.
Hampir 40 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di Our Coffee. Sebelum masuk ke dalam, Icha memberi sedikit tips untuk sopir senior itu. Wulan sudah terlebih dahulu masuk ke dalam dan mencari Arin.
"Nggak usah, bu... Jangan. Kami dilarang menerima tips, nanti kalo ketahuan, bapak bisa dipecat." Tolaknya ketakutan.
"Kalo bapak nggak bilang-bilang pasti nggak akan ada yang tau. Iya, kan?" Ucap Icha lembut. "Nggak baik lho pak menolak rejeki." sambung Icha tersenyum. "Ini untuk beli sesuatu buat ibu di rumah." Icha memaksa agar si sopir menerima sedikit pemberiannya. Sopir itu mengucapkan terimakasih berulang-ulang.
"Oya, pak... bapak boleh pulang. Nanti saya naik taksi aja ntar pulangnya." pungkas Icha.
"Jangan, bu. Bapak disuruh menunggu ibu sama tuan Marco." sahut pak sopir sopan. Icha menarik napas panjang. Kasian sopir ini. Tetapi, jikalau Marco sudah memberi perintah, tidak ada yang boleh membantah.
Pak sopir terlihat melirik ke kiri kanan. Keadaan memang ramai tetapi tidak ada orang yang berdiri atau berjalan dekat mereka. Icha mengerutkan kening aneh melihat tingkah si bapak.
"Bisa-bisa bapak dibunuh kalau ada apa-apa sama kekasihnya Tuan Marco." Bisiknya menggoda Icha. Pak Sopir tertawa geli melihat mata Icha yang melebar karena kaget. Ternyata ia menyimak obrolan Wulan dan Icha.
__ADS_1
"Tenang aja... bapak kunci mulut soal ini." Sambung pak sopir sambil membentuk kunci pada mulutnya. Icha tertawa tetapi percayalah sebenarnya ia malu setengah mati.
"Ya udah, kalo gitu bapak juga masuk ke dalam. Biar bisa minum kopi." Ajak Icha ramah.
"Nggak usah, bu. Bapak nunggu di mobil aja." Tolak pak sopir sungkan. Icha kehabisan daya untuk membujuk orangtua ini.
Icha pamit masuk ke dalam. Dilihatnya dua sahabatnya sedang mojok di sudut ruangan. Di atas meja juga sudah tersedia beberapa cemilan.
"Marissa Lebrina.... kangen banget sama kamu." Ungkap Arin setelah melihat Icha mendekat ke arah mereka.
"Kamu makin bersinar aja setelah berhasil menggaet tuan Marco." Canda Arin. Icha langsung melirik sinis ke arah Wulan. Yang dilirik tersenyum geli.
"Bisa aja kamu. Oya, kamu masih di kos lama, kan?" Tanya Icha penasaran.
"Udah pindah dekat perusahaan tempat aku kerja." Sahut Arin sambil mengunyah kue yang tersedia.
"Kamu kerja di mana sih?" Tanya Wulan penasaran. Mulutnya penuh dengan cemilan.
"** group." Jawab Arin singkat.
"** group...?" Icha mengulang sambil mengingat-ingat nama itu. "Kayaknya kemarin ada utusan dari ** group deh yang datang ke kantor untuk melakukan kontrak kerjasama." sambungnya. Ia menyeruput Red Velvet minumannya.
"Iya, ** group meminta kerjasama dengan GT corp." Seloroh Arin. "Tapi, kalo aku kasih tau nama CEO pasti kalian akan melongo lagi." Ujarnya membuat teka-teki. Ia menaikturunkan alis sengaja membuat penasaran kedua sahabatnya itu.
"Emang siapa CEOnya?" Sela Wulan ingin tahu.
"Tebak dong... mikir!" Ledek Arin sambil menunjukkan pelipis mata dengan telunjuk.
"Iih.. main rahasia-rahasiaan aja. Tinggal sebut namanya kan beres." Protes Icha kesal.
"hahahaha... tebak dong. Kalian kenal kok orangnya," Arin tertawa dan menyebutkan clue selanjutnya. Icha nampak berpikir. Ada satu nama yang sempat terlintas di benak. Namun, ia masih ragu.
"Jordan Raphael, maksud kamu?" Tebak Icha ragu. Wulan melotot. Arin langsung menepuk tangannya lalu memberi jempol pada Icha.
"Iya, Kak Jordan." Sahut Arin. "Cie... cie... cie... yang masih ingat masa lalunya." Lanjut Arin menggoda Icha.
"Yeeee.. masa lalu apaan. Kita hanya berteman kok." Tangkas Icha cepat.
"Kamu diajak Kak Jordan masuk ke perusahaan?" Tanya Wulan. Arin mengangguk, ia masih menyeruput coffee Lattenya.
"Iya, kak Jordan yang ajak. Alhamdulillah banget," Sahut Arin memulai ceritanya. "Waktu Icha diharuskan untuk menyelesaikan skripsi dalam tempo cepat, kan aku nggak ada sahabat lagi di kampus. Ada sih teman-teman yang lain tapi kan beda rasanya." Lanjutnya lagi. "Waktu itu kak Jordan datang ke kampus untuk bertemu dengan pihak kampus. Kita berpapasan di halaman kampus. Mulai dari situ kita ngobrol dan kak Jordan mengajak aku masuk ke ** group." Sambung Arin panjang lebar. Icha dan Wulan menyimak dengan serius. Sampai akhirnya, Icha menangkap satu sosok cantik, seksi dan sepertinya wajah itu familiar di ingatannya.
Bukannya itu perempuan yang pernah makan siang dengan Marco di Mall? Bukankah......?????
Icha teringat sesuatu. Ia merasa jantungnya terpukul. Ia ingat, waktu itu Marco terlihat sangat mesra dengan gadis itu. Mereka terlihat intim sekali. Ia benar-benar terlanjur bahagia karena Marco mengungkapkan perasaannya sampai melupakan peristiwa yang pernah ia lihat dengan mata kepala sendiri.
Bagaimana hubungan Marco dan gadis itu?
__ADS_1