
"Kamu harus menikahi Valencia. There's no reason!" Suara datar Adam Guatalla, ayah Marco, terdengar menggaung di balkon kamar tidur Marco. Ia marah mendengar Marco memutuskan pertunangan dengan Valencia. Apalagi, mendengar cerita kakek bahwa Marco mulai berubah setelah mencintai gadis sederhana. Entah berubah seperti apa yang dimaksudkan kakek.
Marco seakan tak menanggapi ucapan sang ayah. Ia meneguk kopi hitam tanpa suara. Pandangannya lurus ke depan. Pria 31 tahun itu merasa lucu bahwa dirinya yang bukan anak kecil lagi masih dipaksa menikah oleh orangtua.
"Daddy akan segera mengurus pernikahanmu." Sambung Adam tanpa peduli apa yang dipikirkan putra semata wayangnya. Baginya, Valencia yang terbaik untuk Marco tanpa memikirkan perasaannya.
"Aku hanya akan menikahi perempuan yang aku cintai." Sahut Marco tak kalah datar. Ia tetap memandang ke depan dengan mimik serius.
Papa Adam menoleh ke sebelah kiri di mana Marco sedang berdiri. Ia menatap ****** pada Marco.
"Kamu mencintai Valencia." Sela Adam meyakinkan Marco. "6 tahun kalian bersama artinya kalian saling mencintai." kekehnya serius. "Hanya gadis yang tidak tau diri itu yang sudah merayumu, hingga kau tergoda dan berpaling dari Val." Tegas Adam dengan tatapan mengintimidasi.
Marco menutup mata menahan emosi. Dari pagi tadi ia berusaha menahan amarah karena penghinaan terhadap Icha, gadis yang menguasai hati dan pikirannya saat ini. Kalau saja yang bicara di sampingnya ini bukan sang ayah, maka dipastikan ia akan membuat orang itu trauma untuk menghina kekasihnya. Tetapi, justru yang mengeluarkan kata-kata hinaan itu adalah orangtuanya.
Marco masih bersikap tenang. Bayangan senyum Icha Membuat ia sedikit tenang. Sikap dewasa gadis itu mengajarkan Marco banyak hal. Mengajarnya tentang kesabaran dan menghadapi segala sesuatu dengan kepala dingin. Itu yang selalu Icha tunjukkan.
"Daddy tidak mau tau, kamu harus menikahi Val secepatnya." Tekan Adam dan berbalik badan hendak pergi ke luar kamar Marco. Keputusannya sudah bulat.
"Aku akan menikahi gadisku, dad. Dengan atau tanpa restu dari daddy." Sahut Marco cepat tanpa melihat ke arah Adam. Mendengar jawaban Marco, Adam menjadi sangat marah.
"Marco." Bentak Adam dengan suara nyaring. Marco masih bergeming. Tidak ada sedikit pun rasa takut atau segan mendengar bentakan ayahnya. Ia meletakkan gelas kopi di tembok pagar pembatas balkon dan berjalan mendekati Adam lalu tersenyum sinis tepat di depan laki-laki paruh baya itu.
"Kenapa?" Tanya Marco menantang sang ayah. Ia meletakkan kedua tangan pada saku celananya. "Mau mengancamku dengan apa?" Sambungya pelan. Ia menjeda sedikit pembicaraannya. "Harta? Warisan? Perusahaan? Apalagi?" Ia menatap Adam tanpa takut. "Jangan pernah mengancamku dengan harta warisanmu karena aku tidak membutuhkan itu." Ucap Marco dingin. "Dan sudah cukup kalian menghina wanitaku. Dia gadis sederhana yang istimewa untukku. Secepatnya aku akan menikahinya dengan atau tanpa restu kalian." Tukas Marco penuh penekanan. Ada amarah dalam nada bicaranya, namun ia berusaha menekan amarah itu karena ia masih menghormati kedua orangtuanya.
Selesai beragumen panas, Marco segera mengambil jaket dan kunci mobil, lalu keluar dari dalam kamar tanpa berbicara apa-apa. Ia takut kalau masih meladeni ayahnya, maka bisa saja ia melupakan yang namanya 'menghormati' yang lebih tua.
Adam hanya bisa menatap putranya dengan tatapan marah. Ia tidak bisa membantah Marco soal harta, warisan atau pun perusahaan. Semua itu dimiliki Marco bahkan lebih banyak dari miliknya. Mr LG, ayah kandungnya sendiri, lebih mempercayai Marco untuk mengurus 50% kekayaannya, sedangkan Adam dan adiknya hanya mendapat masing-masing 25% sisa harta. Itu pun atas permintaan Marco. Jadi, ia keliru jika harus mengancam Marco dengan harta dunia.
Tepat pukul 8 malam, Marco tiba di kostan sederhana Icha. Saat ini ia sangat membutuhkan pelukan gadis itu. Pelukan yang menenangkan. Maka, setelah bertengkar dengan papa Adam, Marco meluncur ke kostan Icha untuk mencari ketenangan.
Tok... tok... tok
Dua kali ia mengetuk pintu dan terdengar suara pintu terbuka.
"Tuan... " Wulan kaget melihat wajah Marco di balik pintu.
__ADS_1
"Siapa, lan?" Suara Icha dari dalam kamar. Tanpa peduli kehadiaran Wulan, Marco membuka lebar pintu dan mencari pemilik suara itu.
hup!
Icha tersentak kaget karena dengan tiba-tiba Marco muncul dan memeluknya. Sesaat ia masih bengong, sampai akhirnya membalas pelukan Marco dan mengelus punggungnya.
"Ada apa?" Suara lembut itu benar-benar membawa angin segar untuk Marco. Ia terus membenamkan wajahnya pada leher Icha. Penggalan kata-kata Valencia yang mengatakan Icha seorang jal*ng dan kata-kata Adam saat mereka bertengkar tadi berputar di otaknya. Ia murka. Gadis lembut dan baik ini pantasnya dicintai, bukan dihina.
"Jangan pernah tinggalkan aku. Berjanjilah! Aku mencintamu, sayang. sangat mencintaimu." Lirih Marco dengan suara serak. Icha yang masih bingung dengan sikap Marco perlahan mulai memahami apa yang terjadi. Ia pun mengingat percakapan Marco, Valencia dan mama Sania pagi tadi di ruangan kerja Marco. Mungkinkan ada hubungannya dengan sikap Marco saat ini?
Wulan yang Melihat dua sejoli itu segera keluar dari kamar. Ia memberi ruang dan waktu untuk mereka menyelesaikan masalah.
"Ada apa?" Tanya Icha lembut setelah Marco melepaskan pelukannya. Marco menatapnya sendu.
"Aku ingin kita menikah secepatnya." Tukas Marco membuat Icha sedikit tersentak kaget. Sebenarnya, bukan hal yang aneh membicarakan pernikahan. Namun, momennya yang menurut Icha tidak tepat. Marco yang tiba-tiba datang dalam keadaan kacau dan meminta menikah secepatnya.
"Duduk dulu, ya." Tidak ada kursi di dalam kamar kecuali kursi meja rias. Icha menarik tangan Marco dan mengajak duduk di pinggir tempat tidur.
"Ada apa?" Tanya Icha lagi. "Ada masalah?" Icha menatap mata Marco.
Icha mengangguk. Ia menampilkan senyum manisnya agar Marco tidak terlalu kepikiran dengan masalah yang dihadapi.
"Maaf..." Lirih Marco menunduk. "Kata-kata Valencia pasti membuatmu sedih." sambungnya pelan.
Icha tersenyum. Kalau dibilang sedih, ya pasti sedih. Malah ia juga sangat marah dengan tuduhan keji itu. Namun, Icha berusaha menanggapi dan menghadapinya dengan kepala dingin.
"Itu hanya kata-kata kosong, menurutku. Karena buatku... cukup kamu yang tau tentang siapa aku, maka aku tidak peduli apa kata orang." sahut Icha bijak. Marco menatapnya penuh cinta. "Lagian, wajar aja kalo Valencia marah. Walaupun tidak sepatutnya juga ia menuduhku seperti itu. Tetapi, kalian pernah berhubungan hampir 6 tahun dan tiba-tiba kamu memutuskan pertunangan begitu saja, wajar kalo ia kecewa." Urai Icha penuh kesabaran.
"Tapi dia tau, sayang... hubungan kami tidak sehat. Hubungan yang tidak wajar. Dia berbulan-bulan ke luar negeri tanpa komunikasi. Dan bukan sekali dua kali. Bahkan selama hampir 6 tahun bisa dihitung berapa kali kami menghabiskan waktu bersama." Sergah Marco sedikit emosi. " Dan sekarang daddy dan mommy datang jauh-jauh dari Amerika bukan untuk menemuiku tapi untuk memaksaku menikah dengan Valencia." lanjutnya berang.
"Ssst... jangan marah-marah." Icha memeluk Marco, menenangkan hati dan pikirannya yang sedang kacau. Mengelus dada Marco dan membiarkan ia sedikit tenang. Setelah dirasa napas Marco mulai teratur, ia mengangkat kepala menatap Marco.
"Valencia cantik kok... kenapa nggak mau menikah dengannya?" Ujar Icha tersenyum menggoda Marco. Ia berusaha mencairkan suasana.
Benar saja. Marco langsung tertawa kecil.
__ADS_1
"Kamu yang sudah mengganggu hati dan pikiranku. Karena itu, kamu yang harus bertanggungjawab." Balas Marco. Ia memeluk erat pinggang Icha dan membawa kepala gadis itu ke dadanya.
"Menikahlah denganku." Ucap Marco. Icha mengangguk pasti.
"Tapi kita tunggu sampai daddy dan mommy merestui kita." Pungkas Icha. Marco tiba-tiba melepaskan pelukannya dan bangkit berdiri. Ia kecewa dengan jawaban Icha.
"Sayang... " Lirih Icha ketika melihat Marco hendak membuka pintu kamar.
hup...
Dengan cepat ia memeluk tubuh atletis pria itu, mencegah agar Marco tidak pulang dengan kecewa.
"Aku mencintaimu. Aku mau menikah denganmu. Tapi tidak baik menikah tanpa restu orangtua kita, sayang." Tutur Icha pelan sambil memeluk Marco erat. Marco melepaskan tangan Icha sedikit kasar dan berbalik menghadapnya. Ia masih memegang erat kedua pergelangan Icha.
"Restu apa lagi? Kamu dengar sendiri apa kata mommy pagi tadi. Belum lagi, daddy juga mengatakan hal yang sama tadi." Sanggah Marco dengan nada tinggi. "Lagian aku tidak butuh restu dari mereka. Aku hanya membutuhkan restu dari kakek," Lanjutnya geram.
"Oooh... jangan sampai kamu juga tidak mau meni... mmmpt." Mulut Marco langsung terdiam saat bibir Icha menempel di bibirnya. Ia mengecup bibir Marco agar laki-laki itu bisa merasakan kasih sayang dan kekuatan cintanya melalui ciuman. Awalnya, Marco kaget tapi dalam sepersekian detik, ia tersenyum senang dan membalas ciuman Icha. Ia menekan tengkuk Icha dan menarik pinggang gadis itu agar lebih dekat padanya.
"Aku akan terus ada bersamamu untuk berjuang mendapat restu daddy dan mommy." Ucap Icha setelah melepaskan ciumannya. "Jangan pernah meragukanku, sayang. Aku mencintaimu." Ungkapan tulus Icha membuat Marco tersenyum dan menarik gadis itu ke dalam dekapannya. Mereka saling memeluk erat menyalurkan rasa cinta di hati. Sampai terdengar perut Marco berbunyi. Icha segera melepaskan pelukannya.
"Kamu belum makan?" Tanya Icha cemas. Marco menggeleng. Icha mengerutkan keningnya. Ia melihat ke jam dinding di atas pintu kamar, pukul 09.10 malam. Artinya sudah sejam lebih Marco berada di dalam kamar.
"Kok nggak bilang, sayang... udah telat lho." Omel Icha sambil berjalan ke dapur mininya. " Kamu tunggu di teras luar, ya. Aku masakin kamu." Dengan senang hati Marco mengangguk cepat dan segera keluar. Entah kenapa, rasanya senang sekali mendengar Icha akan memasak untuknya.
Icha pun segera memasak makanan seadanya. Nasi, capcay dan ayam goreng serta sambal ijo andalannya.
"Dimana Wulan?" Gumam Icha seorang diri. "Pasti otaknya udah mulai mikir yang nggak-nggak." Ia tersenyum dan terus melanjutkan masakannya.
Setelah selesai, Icha mengatur makanan dalam nampan dan membawa ke teras depan.
"Silahkan, sayang... spesial buat kamu." Ujar Icha sambil mengatur di atas meja. "Maaf, ya... menunya cuma ini. Makhlum, anak kost." lanjutnya bergurau. Marco memyambut dengan senyuman senang.
"Makasih, sayang... udah mau masakin aku." Ungkap Marco bahagia.
Icha mengambil piring menyendok nasi, capcay, ayam goreng dan sedikit sambal ijo lalu diserahkan pada Marco. Laki-laki tampan itu menerima dengan sukacita dan langsung menikmatinya.
__ADS_1
Tanpa Icha dan Marco sadari, Wulan sedang memperhatikan dua sejoli itu dari kamar sebelah, kamar teman kost mereka. Mata Wulan berkaca-kaca, terharu melihat kebahagiaan Icha, sahabatnya. Yang membuat ia semakin yakin bahwa Marco memang yang terbaik untuk Icha adalah lelaki kaya raya itu tidak pernah membanggakan dirinya yang seorang pengusaha besar. Namun, justru dengan segala kemewahan yang melekat pada dirinya, ia jatuh cinta pada wanita sederhana dengan cara yang sederhana pula.