
Betapa paniknya Riska mendengar kabar Valencia sudah dibawa ke rumah sakit oleh Rama. Dengan segera ia bersiap dan meluncur ke rumah sakit bersama Christo.
"Laki-laki kurang ajar itu kenapa tidak membangunkan kita, pa?" Sungut Riska kesal mendengar Valencia sudah berada di rumah sakit tanpa sepengetahuannya. Padahal mereka tinggal serumah. "Dia pikir dia siapa seenaknya membawa Val tanpa memberitahu kita?" Riska masih terus menggerutu kesal namun tak direspon Christo. "Papa... kamu dengar sih mama bicara???" Jerit Riska geram karena tak direspon.
"Aku nggak perlu tanggapi ocehan kamu yang di luar akal sehat." Ketus Christo datar sambil menatap ke luar jendela mobil. Riska mengerutkan kening mendengar ucapan Christo.
"Di luar akal sehat? Apa maksud papa? Papa lihat sendiri kan, tanpa memberitahu kita Rama membawa Val ke rumah sakit. Memangnya dia nggak bisa membangunkan kita sebelum ke sana??" Sanggah Riska cepat. "Kalau ada apa-apa sama Val, mama akan membuat perhitungan sama dia!" Lanjut Riska mengancam. Mendengar ocehan Riska yang tidak berbobot, Christo hanya tersenyum miris. Hati dan otak Riska benar-benar sudah tertutup dengan keegoisan dan keangkuhan, hingga membuat cara berpikirnya seperti orang yang kehilangan akal sehat. Christo mengunci mulut selama perjalanan. Ia hanya ingin segera sampai di rumah sakit melihat keadaan putrinya dari pada harus semobil dengan Riska, teman hidup yang membuat hari tuanya semakin suram saja rasanya.
"Kamu tunggu di mobil saja." Perintah Christo pada sopir pribadi yang membawa mereka ke rumah sakit. Lalu, tanpa peduli dengan keberadaan Riska, Christo keluar dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah sakit mewah itu menuju resepsionis depan.
"Saya ingin mengunjungi pasien bernama Valencia." Christo langsung menyampaikan maksud tanpa menunggu salam dari salah seorang resepsionis.
"Valencia?" Ulang wanita itu sambil mencari nama di buku daftar pasien. "Ooooh, maksud anda nyonya Soediro?" Christo mengangguk cepat. Ia mengutuk kebodohannya karena lupa jika Valencia pasti memakai nama suaminya. "Di ruang obgin lantai dua kamar kejora, tuan." Resepsionis itu memberitahu secara detail kamar tempat Valencia dirawat. Tak menunggu lama, Christo segera menuju ke ruangan yang disebut tadi diikuti Riska yang dengan susah payah mengejar langkah panjang Christo.
"Suster... saya orangtua dari pasien di dalam. Bagaimana keadaan anak saya?" Tanya Christo setelah melihat seorang perawat keluar dari ruang kejora.
"Tenang, pak... anak bapa dalam kondisi stabil. Suaminya juga sedang menunggu di dalam." Terang suster ramah. "Bapa dan ibu tunggu saja di sini dulu. Dokter lagi di dalam memeriksa pasien." Christo mengganguk. Ia sedikit tenang mendengar Rama tetap setia menunggu Valencia.
"Suster... saya harus masuk melihat putri saya." Desak Riska tak bisa menahan diri.
"Sebentar ya, bu... kita tunggu dokter selesai periksa terlebih dahulu." Sahut suster lalu pergi dari sana.
15 menit menunggu, seorang dokter perempuan keluar dari kamar pemeriksaan. Riska langsung menghampirinya.
"Gimana putri saya, dok?" Tanya Riska kuatir.
"Pasien baik-baik saja. Keadaannya stabil dan sangat sehat untuk bisa melahirkan secara normal. Asalkan tetap menjaga mood pasien. Suami pasien juga mendukung dengan baik." Papar dokter menjelaskan. "Anda boleh masuk. Beri dukungan padanya. Mungkin sekitar dua jam lagi ia akan melahirkan." Dokter wanita itu langsung mempersilahkan Christo dan Riska untuk masuk ke dalam dengan tujuan membuat mood Valencia semakin baik, karena wanita hamil sangat membutuhkan dukungan dari orang terdekat.
"Val...." Riska langsung menuju tempat putrinya dibaringkan. Dengan kasar ia mengambil tangan Valencia yang sedang menggenggam erat tangan Rama. Christo menatap nyalang padanya, sedangkan Rama mundur beberapa langkah, memberi ruang pada Riska. "Kamu baik-baik aja, kan? Kalau kamu nggak kuat menahan sakit lebih baik operasi saja. Mama nggak mau liat kamu kesakitan begini." Pinta Riska merasa kuatir.
"Nggak, ma... aku mau normal aja. Tadi dokter juga udah jelasin... ssssh..." Kembali Valencia merintih kesakitan yang hilang muncul dalam beberapa menit. Ia menggenggam tangan Riska, walaupun sebenarnya ia ingin Rama yang berada di sampingnya. Namun, Valencia menyadari jika Riska tidak menyukai kehadiran Rama di sini. Valencia melihat ke arah Rama yang sedang berbicara dengan Christo. Ada asa dalam hatinya agar laki-laki itu tetap berada di sampingnya hingga ia melahirkan nanti. Entah rasa apa itu, yang pasti ia sangat berharap Rama tetap dekat dengannya.
"Pa... aku keluar sebentar. Aku harus hubungi Raymond untuk minta ijin tidak masuk kantor." Christo mengangguk tanpa suara. Ia merasa bersalah atas sikap Riska pada menantunya itu. Padahal Christo sudah senang melihat kedekatan Valencia dan Rama yang susah semakin intens.
Rama keluar dengan perasaan tak menentu. Sebagai suami sudah pasti ia ingin berada di samping istrinya di saat-saat seperti ini. Namun, keadaan tak mendukung niat baiknya. Apalagi sedari tadi Valencia terus menggenggam tangannya seakan ia mendapat kekuatan dari laki-laki baik ini.
"Ray...." Sapa Rama pada Raymond, atasan sekaligus rekan kerjanya. "Aku lagi di RS, Valencia mau melahirkan." Terdengar percakapan antar Rama dan Raymond. Suara Rama yang terdengar sedikit sendu membuat Raymond memutuskan hubungan. Rama hanya menarik napas panjang. Ia menutup wajah dengan kedua tangannya.
Waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi. Artinya sudah tiga jam Valencia di dalam ruangan bersalin namun belum juga ada tanda-tanda Valencia untuk melahirkan. Rasa nyeri di perut bagian bawah mulai terasa semakin lama. Jeritan suara Valencia seakan mengiris perasaan Rama. Rasanya ia ingin berada di samping sang istri memberi kekuatan dan dukungan, namun selagi Riska masih berada di dalam, tidak mungkin ia memberi kesempatan untuk Rama mendekati Valencia.
"Sakit, ma... ssssh..." Airmata Valencia jatuh karena menahan sakit. Ia tidak mau terlalu membuang tenaga dengan berteriak kesakitan, agar ketika sampai pada proses melahirkan, ia masih memiliki sedikit daya untuk berjuang.
__ADS_1
Mata Valencia terus menatap ke arah pintu kamar, berharap kemunculan Rama di balik pintu. Tetapi, sudah satu jam lebih Rama sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya.
"Ssssh... sakit, ma... aku nggak kuat." Rintih wanita cantik itu tak kuasa menahan tangis. Bukan hanya tangisan karena sakit di perut saja namun sakit karena orang yang ia harap berada di sisinya, memberinya kekuatan sama sekali tidak peduli. Namun, Valencia tidak bisa menyalahkan Rama begitu saja. Kondisi dan situasi yang membuat Rama menjauh darinya.
"Tenang ya, nyonya... sedikit lagi pembukaannya lengkap. Sakitnya memang akan terasa lebih intens, tapi nyonya harus sabar." Seorang bidan yang menemani Valencia sedari awal datang pagi tadi, memberi dukungan padanya. "Tarik napasnya.... lalu buang perlahan. Setiap kali merasa sakit, tarik napas dan buang perlahan." Ia terus memberi arahan pada Valencia. Wanita itu menurutinya. Setiap kali merasa nyeri, ia menarik napas dan membuangnya perlahan. Namun, airmata tak henti mengalir dari sudut matanya.
Suasana dalam kamar pun terasa mencekam. Riska terus menyemangati putrinya, berbeda dengan Christo yang hanya duduk terdiam di sudut sofa sambil terus menatap sendu pada Valencia. Ia menyadari airmata Valencia bukan hanya karena sakit yang ia rasakan, namun airmata itu menunjukkan suasana hati putrinya yang sedang gelisah.
"Gimana, sus?" Suara dokter terdengar di belakang bidan itu.
"Sebentar lagi, dok... aku akan menyiapkan semua peralatan." Dengan gesit, bidan itu menyiapkan semua peralatan yang dibutuhkan dokter. Ia memakai sarung tangan dan memberinya juga pada dokter.
"Bertahan, nak... kalau kamu nggak kuat, operasi saja. Jangan menyiksa diri kamu begini." Saran Riska namun ditolak Valencia dengan gelengan kepala.
"Maaf, tuan... anda boleh keluar sebentar. Kami akan melakukan proses melahirkan." Pinta dokter dengan sopan. Christo mengangguk cepat dan segera berdiri untuk ke luar. Sekilas ia menatap pada Valencia yang kebetulan sedang melihat ke arahnya juga. Pandangan mata Valencia sangat berbeda. Seperti hendak mengatakan sesuatu, namun tak tahu apa itu. Lalu, ia keluar dengan cepat sebelum ditegur oleh dokter.
"Kenapa, bu? Kenapa menangis terus? Ada yang mau ibu sampaikan?" Dengan lembut dokter berusia sekitar empat puluh limaan itu bertanya pada Valencia. "Jangan takut, kondisi bayinya sangat sehat. Jantungnya berdetak dengan sangat kuat. Itu artinya ia sehat di dalam kandungan." Dokter terus menguatkan Valencia.
"Dok... sudah lengkap. Sudah bisa diproses." Ujar bidan memberitahu. Dojter mengangguk dan mulai berdiri di bawah tubuh Valencia.
"Ya... saya hitung sampai tiga, ibu bisa mengenjan dengan sekali tarikan napas ya. satu, dua, tiga...."
"Emmmmmmm...." Sesuai perintah dokter, Valencia mengejan dalam satu tarikan napas.
Suasana terasa mengharubiru. Riska terus menguatkan Valencia yang sepertinya sudah kehabisan tenaga. Tiga kali mengejan namun nihil. Bayi Valencia seakan belum mau menampakkan wajah imutnya pada dunia.
Bidan menyerahkan alat periksa jantung janin pada dokter untuk diperiksa.
"Wah, bayinya masih kuat, bu. Jantungnya sangat kuat berdetak. Ibu juga harus kuat." Desak dokter meyakinkan Valencia.
"Dokter, lebih baik dilakukan operasi saja. Sepertinya Valencia sudah kehabisan tenaganya. Saya takut terjadi apa-apa dengan cucu dan anak saya." Saran Riska dalam kekalutan.
"Masih ada waktu untuk mengejan, nyonya. Kita coba sekali lagi. Jika tidak bisa, maka harus dilakukan tindakan operasi secepatnya." Sahut dokter menjelaskan.
"Kita coba lagi, ya... harus kuat demi bayinya, bu." Ujar dokter sangat ramah. Valencia hanya pasrah dan menangis. Airmata seakan tak mau berhenti menetes. Matanya juga sekali-kali menatap ke pintu, berharap ada seseorang yang datang menguatkan dirinya.
"Tarik napas.... satu, dua, tiga."
"Emmmmmm..." Valencia mengenjan sekuat tenaga yang tersisa namun tak ada hasil. Bayinya masih betah dalam kandungan sang ibu.
"Bagaiman ini, dok?" Tanya Riska semakin kalut.
__ADS_1
"Dimana suaminya?" Tanya dokter tiba-tiba.
"Nggak perlu suaminya, dok. Saya yang akan menandatangani surat pengajuan untuk operasi." Sanggah Riska cepat.
"Maaf, nyonya... suami ibu Valencia lebih berhak untuk melakukan itu. Kami tidak bisa melanggar prosedur rumah sakit." Tolak dokter dengan tegas. "Sus... panggilkan suami dari pasien." Segera bidan muda itu berjalan ke arah pintu, menghilang di baliknya.
Tak sampai 2 menit, bidan itu kembali masuk diikuti Rama dengan raut wajah kalut dan kuatir. Melihat kedatangan Rama, suara isakan tangisan Valencia pun terdengar pilu. Tak peduli pada keberadaan Riska, Rama mendekati istrinya dan memeluknya erat. Ia mengecup seluruh wajah dan kepala Valencia.
"Jangan pergi. Temani aku di sini. Aku mau kamu di sini, di sampingku." Lirih pilu Valencia tepat di depan wajah Rama. Mereka saling menatap penuh cinta. Sudah adakah cinta itu di antara mereka?
Mendengar suara lemah Valencia, Rama mengangguk cepat. Ia mengecup kening Valencia, menyalurkan semua kekuatan untuk istrinya.
"Aku di sini. Aku akan temani kamu. Berjanjilah, kamu harus kuat demi aku dan bayi kita." Bisik Rama lembut. Terlihat senyum di bibir Valencia, seakan kekuatan baru telah ia dapatkan.
"Baiklah... kita akan coba sekali lagi. Bisa kan, bu?" Tanya dokter tersenyum ramah. Valencia pun membalas tersenyum dan mengangguk setuju.
"Tarik napas panjang lalu buang perlahan...." Dengan genggaman tangan Rama, Valencia mengikuti semua perintah dokter.
"Kamu bisa, sayang..." Seperti ada kekuatan baru saat Valencia mendengar panggilan sayang dari Rama.
"Satu... dua... tiga..."
"Emmmmmm...."
"Oek... oek... oek...."
Sekali mengejan, bayi Valencia langsung pendengarkan suara nyaringnya.
"Waaaah... tampan sekali. Dia hanya mau ditemani ayahnya saja baru keluar." Seloroh dokter membuat Rama dan Valencia tertawa bahagia. Dokter segera membersihkan tubuh bayi mungil itu dibantu seorang bidan dan seorang perawat.
"Terimakasih." Bisik Rama bahagia.
Valencia menatap mata Rama.
"Maaf.... maaf untuk semua kesalahanku." Lirihnya sendu.
"Ssst... sekarang bukan saatnya menangis sedih. Nggak boleh nunjukin ke anak kita wajah sedih kamu. Kamu harus terus tersenyum bahagia." Valencia pun tersenyum bahagia ketika untuk kesekian kalinya mendapat kecupan hangat dari suaminya.
"Bunda.... aku mau ***** dulu dong. Berduaan sama ayahnya ditahan dulu, ya. Sekarang waktunya aku *****." Dokter wanita itu ternyata suka sekali bercanda dengan meniru suara anak kecil meminta susu pada ibunya. Ia meletakkan bayi Valencia ke atas dadanya dan membiarkan bayi itu mencari sumber energinya. Semua tertawa bahagia melihat bibir mungil itu mencari-cari tempat minumnya. Tak terkecuali Riska. Ia pun tersenyum bahagia.
"Masih adakah keinginan di hati kamu untuk memisahkan mereka? Kamu lihat sendiri kan bagaimana peran Rama dalam hidup Valencia. Berjam-jam kamu temani putrimu untuk melahirkan namun tetap sosok laki-laki miskin itu yang dibutuhkan Valencia. Bahkan bayi mereka pun hanya mau ayahnya yang menyambutnya pertama kali. Itu karena sudah ada cinta yang mengikat hati mereka." Kalimat panjang diucapkan Christo untuk Riska tanpa memandang wajah istrinya itu. Mata Christo hanya terarah pada keluarga kecil yang sedang bahagia, begitupun Riska. Ia menatap wajah Valencia yang tersenyum senang berada di dekat Rama dan bayi mereka.
__ADS_1
"Masih adakah niat jahatmu untuk memisahkan mereka?"