
Seminggu sudah Denta Pramudya, pemuda yatim piatu yang sedari kecil tinggal di panti asuhan menjadi direktur utama MGglow pusat di Kuala Lumpur, Malaysia. Semua pemegang saham sudah meresmikan nama baru perusahaan dan mengangkat dengan resmi pula direktur baru MGglow tanpa peduli keberadaan Valencia. Semua berita yang beredar tentang permasalahan ValCare dan dirut lamanya juga sudah diluruskan oleh Rano.
Banyak kebijakan perusahaan yang direvisi dan diperbaharui oleh Denta, tentunya atas persetujuan Marko, CEO sekaligus pemilik saham terbesar MGglow.
"Aku suka cara kerja Denta. Dia sangat bijak dan tidak gegabah menghadapi permintaan produk atau pun kritikan dari klien." Ungkap Marco pada Raymond saat mereka menikmati makan siang di balkon ruangan Marco.
"Iya, tuan... anak itu memang cerdas. Sikap santun juga membuat wibawanya sebagai pemimpin sangat kental. Karena itu Rano merekomendasi Denta untuk menggantikan posisi Valencia." Terang Raymond.
"Oya, bagaimana kabar perempuan itu? Semenjak didepak dari MGglow, ia menghilang tak ada kabar." Tanya Marco penasaran sambil asyik menikmati makan siang buatan Icha yang ia bawa dari mansion.
"Dia sudah di Jakarta, tuan. Di rumah orangtunya." Jawab Raymond. "Sepertinya pak Christo mampu membuat anaknya untuk diam dan tenang dalam rumah sementara waktu. Tapi, saya yakin... tidak lama lagi dia akan mencari masalah baru pada tuan dan nona." Lanjut Raymond mengatakan kecurigaannya pada Valencia.
"Aku masih memberinya kesempatan untuk menikmati hidup yang layak. Tetapi, kalau sampai dia mengganggu Marissa dan calon anakku, maka aku benar-benar akan membuat hidupnya selayak an*i*g kelaparan di jalanan." Ucapan Marco membuat Raymond menelan saliva karena gugup. Kalau menyangkut Marissa, Marco bisa dengan tiba-tiba berubah menjadi singa hutan yang sedang menginginkan mangsa.
"Oh ya, tuan... bagaimana kabar nona?" Raymond sengaja mengalihkan pembicaraan agar suasana bisa mencair kembali.
"Baik... kandungannya juga sehat. Ia sedang mempersiapkan diri untuk melahirkan beberapa minggu lagi." Seperti dugaan Raymond, air muka Marco langsung berubah manis dan senyum pun terukir di bibirnya jika bicara tentang Icha, istrinya. "Aku penasaran dengan jenis kelamin anakku." Sambungnya.
"Belum diperiksa, tuan?" Tanya Raymond heran.
"Sudah. Hanya kami ingin jenis kelaminnya menjadi sesuatu yang surprise." Sahut Marco cepat. "Menurutmu jenis kelamin anakku laki-laki atau perempuan?" Tanya Marco ingin tahu tebakan Raymond.
"Mmmm... Apa kata hati kecil tuan?" Bukannya menjawab, Raymond malah balik bertanya. Marco terdiam sesaat. Ia melipat tangan di dada sambil memandang langit-langit ruangan.
"Laki-laki.... Feelingku laki-laki." Ucap Marco penuh keyakinan. Raymond tersenyum senang melihat ekspresi Marco.
"Berarti anak tuan pasti laki-laki." Timpal Raymond bersemangat.
"Kau yakin?" Tanya Marco kembali ragu.
"Yakin, tuan.... percayalah kata hati kecil tuan." Jawab Raymond pasti. Marco tersenyum senang.
"Aku harus menyiapkan nama yang baik untuk anakku." Lirih Marco pelan.
Tok... tok... tok...
Raymond segera bangun dan membukakan pintu. Melihat wajah Wulan di sana membuat mood Raymond semakin baik.
"Ada apa, calon istri?" Tanya Raymond sedikit berbisik sambil mengedipkan mata pada gadis manis itu. Wulan mendelikkan mata dengan kesal. Raymond tersenyum menggoda.
"Ada tuan Christo, ingin bertemu tuan Marco." Sahut Wulan pelan. Raymond keluar dan segera menuju ke ruang tunggu tamu CEO.
"Selamat siang, Ray." Sapa Christo ketika melihat kedatangan Raymond.
"Siang." Raymond menerima uluran tangan Christo, laki-laki paruh baya, ayah dari Valencia yang siang ini tiba-tiba muncul GT Corp. "Ada apa, tuan?" Tanya Raymond sedikit heran karena tiba-tiba Christo muncul di GT Corp tanpa memberitahu terlebih dahulu.
"Saya.... ingin bertemu Marco, Ray." Sahut Christo pelan. Wajahnya menunjukkan perasaan antara malu dan sedih.
__ADS_1
"Ada yang ingin anda sampaikan pada tuan Marco?" Tanya Raymond datar. Christo menarik napas berat dan menunduk.
"Saya... ingin minta maaf atas kelakuan Valencia. Tapi..." Seperti ada beban berat yang sulit sekali dipikul oleh Christo.
"Ada apa, tuan? Katakan saja!" Desak Marco penasaran.
"Val... hamil, Ray. Dan... dia mengaku itu a-anak dari Marco." Ucapan Christo tidak membuat Raymond terkejut atau shock. Karena dari awal ia sudah perkirakan ini akan terjadi.
"Dan anda percaya itu anak tuan Marco?" Tanya Ray tenang. "Saya harap anda mengenal karakter anak anda." Sindir Marco pelan. Melihat wajah sendu Christo, Raymond menjadi iba juga. Raymond tahu laki-laki paruh baya ini merupakan pengusaha sukses yang baik. Namun, tingkah laku istri dan anak perempuannya justru membuat citranya sebagai pengusaha tercoreng. Ia juga beruntung karena Marco tidak membalas apa yang diperbuat Valencia pada perusahaan mereka. Marco bukan tipe pengusaha yang suka mencampuradukkan masalah perusahaan dan masalah pribadi.
"Tanyakan baik-baik pada Valencia, tuan... karena anda sendiri tau tuan Marco sangat mencintai istrinya. Tidak mungkin ia mengkhianati pernikahan mereka." Pesan Raymond. "Maaf, anda belum bisa bertemu CEO, beliau belum berkenan bertemu dengan anda." Raymond segera pergi meninggalkan Christo seorang diri di ruangan kecil khusus untuk para tamu CEO. Wajah tuanya semakin sendu. Ia berada di posisi serba salah. Ia ingin marah namun Valencia darah dagingnya, tetapi ia tidak bisa percaya begitu saja atas ucapan Valencia yang mengatakan bahwa anak yang dikandungnya adalah darah daging Marco. Ia sangat mengenal karakter Marco.
Dengan langkah gontai, ia bangun dari duduknya dan keluar meninggalkan ruanga CEO. Christo langsung menaiki mobil yang sudah ditunggui oleh sopir pribadinya.
"Ke rumah." Perintahnya singkat. Sang sopir mengangguk hormat dan segera menjalankan mobil menuju rumah kediaman Christo. Selama perjalanan, Christo hanya terdiam hingga sampai ke halaman rumah pun ia turun dari mobil tanpa suara.
"Papa..." Teriak Valencia senang melihat kedatangan papanya. "Gimana? Papa sudah bertemu Marco, kan? Dia bilang apa, pa? Dia mau tanggung jawab, kan? hahahaha... aku tau Marco ku akan bertanggungjawab, karena memang ini darah dagingnya, pa." Valencia memberondong Christo dengan pertanyaan beruntun. Namun, Christo hanya menatap wajahnya dengan marah.
"Katakan anak siapa dalam kandunganmu?" Suara berat Christo membuat Valencia yang tadinya tertawa senang terdiam heran. "Katakan anak siapa yang kau kandung, Valencia?" Ulang Christo dengan nada yang semakin tinggi.
"Papa.... kan sudah Val kasih tau kalo ini darah daging Marco, pa. Kami melakukannya di Malaysia. Marco tau itu." Sahut Valencia yakin. "Tadi, papa sudah bertemu Marco?"
"Marco tidak mungkin mengkhianati perkawinannya, Val. Kau tau itu. Kau sangat mengenal Marco, bukan?" Tanya Christo tak percaya dengan ucapan Valencia.
"Tapi, pa... ka-kami melakukannya di Malaysia." Sanggah Valencia cepat. "Aku punya bukti
Valencia yang mendengar ucapan Christo membelalakkan mata tidak percaya.
"Tidak mungkin." Lirihnya tak percaya. Tak menunggu lama, ia masuk dalam kamar mengambil tas kecilnya, memakai sepatu dan keluar menuju parkiran rumah.
"Nona, mau disopirin?" Tawar sopir pribadi keluarga.
"Nggak perlu." Jawab Valencia ketus. Ia menyetir sendiri dengan kecepatan tinggi. Sopir tua itu hanya mengelus dada ngeri melihat cara Valencia menyetir.
Membutuhkan waktu sekitar 50 menit untuk sampai ke mansion mewah Marco. Ya, dengan nekad Valencia menyetir mobilnya menuju mansion Marco. Ia tahu Marco masih di kantor pada jam segini. Ia hendak menemui Icha.
"Nona..." Satpam mansion terkejut melihat kedatangan Valencia setelah sekian lama tak pernah melihat mantan tunangan tuan rumahnya.
"Bukakan gerbang!" Perintah Valencia angkuh.
"Maaf, nona... saya harus memberitahu tuan dulu." Tanpa membuka gerbang, satpam mengambil telepon seluler dan menghubungi Marco. Valencia tidak tinggal diam. Ia terus membunyikan klakson mobil sengaja membuat keributan agar Icha keluar dari dalam mansion.
"Tuan... nona Valencia datang. Sepertinya ia ingin membuat keributan di sini." Terdengar suara satpam sedang berbicara dengan Marco. "Baik, tuan." Sahut satpam setelah mendengar perintah Marco.
"Buka gerbangnya, sialan." Umpat Valencia kesal karena satpam tetap tidak ingin membuka gerbang.
"Maaf, nona... tuan memerintahkan saya untuk tidak boleh membuka gerbang. Anda dilarang masuk ke dalam halaman mansion." Sahut satpam yang bernama Jono itu dengan polos.
__ADS_1
"Marissa.... keluar kamu!" Kesal karena tak diijinkan masuk, Valencia pun turun dari mobil dan berteriak memanggil Marissa. Ia menggoyang-goyangkan gerbang besi sekuat tenaga agar terdengar bunyi ribut untuk memancing Icha keluar.
"Jangan terlalu banyak bergerak. Nanti kandunganmu bermasalah." Suara Icha yang tiba-tiba terdengar di balik salah satu mobil yang diparkir membuat Valencia diam sejenak. "Ada apa tiba-tiba kamu mencariku?" Tanya Icha dengan nada pelan dan lembut. Ia menaruh kedua tangannya di belakang dan mengajak Valencia berbicara dengan santai. Bahkan senyum manis tersungging di bibir tipisnya. Perut hamilnya membuat ia semakin cantik dan berkilau.
"Dasar j*l*ng. Gara-gara kamu Marco meninggalkan aku. Dasar perempuan nggak tau malu." Teriak Valencia geram. Icha semakin melebarkan senyuman.
"Kalau aku ****** terus apa sebutan untuk kamu yang mengganggu suami orang?" Sahut Icha dengan santai. Satpam hanya bisa melihat sambil berjaga-jaga jika Valencia berbuat nekad, walaupun ia berada di luar gerbang. Sedangkan Hartini baru saja datang dengan napas ngos-ngosan berlari dari dalam dapur karena mendengar keributan di luar. Ia berdiri di samping Icha sambil memegang lengan nona mudanya.
"Marco mencintai aku. Bukan kamu. Kami saling mencintai. Tapi, karena j*l*ng seperti kamu yang menggodanya, membuat dia ninggalin aku." Valencia sudah tak bisa mengontrol emosinya. "Enam tahun kami bersama tanpa gangguan perempuan kampung seperti kamu." Ia terus mengeluarkan kata-kata kasar untuk Icha.
"Heh... elu yang ******.... kampungan... Dasar nggak tau malu." Hartini pun tak bisa berdiam diri lagi. Telinganya panas mendengar cacian perempuan asing itu. "Sana, pergi! Kembali ke kandang elu! Jangan-jangan elu belum dikasih makan ya ama majikannya. Tiba-tiba ujuk-ujuk ke sini, ngamuk kayak a*j*ing kelaparan." Maka meledaklah tawa si Jono, Rossa dan beberapa art yang mendengar umpatan Hartini.
Valencia semakin murka melihat pembantu itu memaki dan mengatai dirinya sama seperti anjing kelaparan. Apalagi, Icha pun ikut tertawa mendengar hinaan itu.
"Pembantu sialan...." Umpat Icha geram.
"Yeee... kita pembantu terhormat. Nggak kayak elu, wanita kaya tapi memalukan. Miris liat muka elu." Hartini balas mengumpat Valencia. Icha hanya melihat dengan senyum mengejek mantan tunangan suaminya. "Pantas aja tuan ninggalin elu, mana mau tuan menikah sama perempuan yang kelakuannya kayak kucing liar begini." Umpatan Hartini berhasil mengunci mulut Valencia yang sedari tadi sudah mengatai Icha yang tidak-tidak.
Tit.... tit... tit...
Sebuah mobil mewah berhenti tepat di belakang Valencia. Marco yang kuatir mendengar laporan Jono langsung meninggalkan pekerjaannya dan segera pulang ke mansion. Raymond menyusul tuannya karena takut Marco menyetir sendiri dalam keadaan panik.
"Marco...." Ia tersenyum melihat kedatangan laki-laki tampan yang selalu ada di hatinya. Marco turun dari mobil diikuti Raymond di belakangnya. Dengan percaya diri Valencia mendekati Marco dan hendak memeluk laki-laki itu. Bukannya Marco yang dipeluk, malah Raymond mendapatkan pelukan hangat Valencia.
"Aaaaaaah... hahahahaha...." Teriakan kaget sekaligus tawa ledekan membuat Valencia tersadar dan mengangkat kepala melihat laki-laki yang dipeluk. Ia mundur beberapa langkah setelah melihat wajah Raymond menatapnya penuh hinaan. Ia tak peduli, tujuannya sekarang adalah Marco.
"Marco.... aku hamil. Aku hamil anak kamu." Serunya pada Marco. "Ini anak kamu, sayang... kamu ingat kan malam itu..." Timpalnya lagi.
"Malam apa? Malam di mana dengan liciknya kau menaruh obat tidur sekaligus obat perangsang untuk menjebakku?" Sindir Marco geram. "Kau pikir aku sudi menidurimu?" Sambungnya sarkas. Valencia terdiam. Ia tak percaya Marco bisa berubah begitu cepat. Yang ia ingat malam itu adalah Marco begitu manis memperlakukan dirinya bak ratu, bahkan Marco kelihatan tidak seperti orang yang tidak terpengaruh obat tidur. Ia begitu semangat menggagahi dirinya.
"Kau lupa malam itu, sayang? Kau begitu semangat mencumbuku." Valencia sengaja mengeraskan volume suaranya agar didengar oleh Icha yang diam saja tak menanggapi ucapannya.
Mendengar ucapan Valencia, Marco tertawa sinis.
"Kau begitu percaya diri sekali seakan-akan aku begitu menginginkan tubuhmu." Ujar Marco mencemooh. Ia memberi kode pada Jono untuk membuka pintu pagar. Lalu, ia masuk dan memeluk Icha serta mengecup bibir istrinya di depan semua orang yang dari tadi menyaksikan kegilaan Valencia.
"Ohhhh... so sweaaaaat..." Goda Hartini membuat Valencia semakin panas.
"Kau harus bertanggung jawab, Marco... Aku sedang mengandung anakmu. Jika tidak,...." Ia berhenti sejenak.
"Jika tidak?" Marco mengulang kata-kata terakhirnya untuk memastikan apa maksud Valencia.
"Jika tidak, aku akan menyebarkan video kita malam itu." Ancam Valencia. Marco tertawa sinis.
"Kalau kau ingin mempermalukan dirimu sendiri, silahkan sebarkan. Aku tidak peduli." Ucap Marco. Lalu, ia menggengam tangan Icha dan mengajaknya masuk. Icha melihat ke arah Valencia yang juga sedang menatapnya nyalang.
"Pulanglah... jangan mempermalukan dirimu seperti ini lagi. Jaga kandunganmu baik-baik. Anak itu adalah berkat yang tidak ternilai dalam hidup kamu." Ucap Icha dengan lembut. Sebagai sesama perempuan sebenarnya ia merasa kasihan pada Valencia. Karena obsesinya pada Marco, ia sampai menjatuhkan harga dirinya sendiri.
__ADS_1
"Tidak usah sok menasehati kamu!" Bentak Valencia. "Dasar j*l*ng." Ia terus berteriak pada Icha yang sudah dibawa masuk ke dalam oleh Marco.