Cukup Di Hati Saja

Cukup Di Hati Saja
Sania makin tersudut.


__ADS_3

Sania tersenyum puas ketika mendengar bahwa Icha sudah pergi dari mansion. Dan yang paling menyenangkan adalah ia pergi tanpa membawa apa-apa. Pakaian pun hanya yang ada di badan. Ia tidak membawa pakaian mahal dalam lemarinya. Itu berarti, Icha juga tak membawa perhiasan warisan menantu Guatalla.


"Ya... memang kau tak pantas membawa perhiasan mahal itu. Kau tak pantas memakainya. Karena, aku yang lebih pantas. Aku menantu tertua di keluarga ini." Gumamnya seorang diri di kamar.


Sania pun senang karena sepertinya kakek tidak terlalu peduli dengan kepergian Icha. Memang, skenario yang dibuat mendadak dalam dapur kemarin sangat menguntungkan dirinya. Moment dan keadaannya sangat mendukung, hingga Marco pun terkecoh dan membela ibunya.


Sania melihat jam di tembok kamar, pukul 6 pagi. Sebenarnya, ia sudah terbangun setengah jam yang lalu. Hanya saja ia masih malas untuk bergerak. Namun, semenjak kepergian Icha, ia harus rela bangun pagi menyiapkan bekal untuk Marco dan juga menyiapkan pakaian kerja putra tunggalnya. Ini ia lakukan semata-mata hanya untuk menarik perhatian Marco.


"Kamu masak apa?" Tanya Sania tanpa senyum pada Hartini. Ia hanya menyiapkan bekal di rantang saja, tetap Hartini yang memasak.


"Capcay dan bebek goreng, nyonya." Sahut Hartini hormat. Sania mengambil rantang dan mulai menata makanan. Setelah beres, ia menuju ke kamar Marco di lantai atas.


"Heh... sini, kamu!" Panggil Sania. Ia melipat kedua tangan di dada dan memandang Hartini dengan sinis.


"Apapun yang terjadi di rumah ini, jangan pernah kamu ceritakan ke Marco atau tuan besar. Kalau sampai mereka tau, saya tidak segan-segan menghancurkan kamu dan keluarga miskin kamu di kampung sana. Paham???" Ancam Sania pada art, karena memang Hartinilah saksi yang melihat langsung bagaimana ia menampar Icha dan berakting di dapur hingga membuat Icha pergi.


Hartini tidak berani mengangkat kepala. Ia hanya menunduk ketakutan.


"Pergi sana!" Usir Sania kasar. Hartini cepat-cepat pergi dari hadapan Sania. Ia tersenyum sinis melihat wajah pucat dan ketakutan pembantu itu. Lalu, ia segera beranjak menuju kamar putra tunggalnya.


Marco masih asyik dalam selimut. Namun, ada yang aneh. Sania mencium bau menyengat dari kamar Marco. Ia membuka jendela dan pintu kaca menuju balkon.


"Ya ampuuun... botol apa ini?" Tanya Sania heran. "Apakah Marco minum alkohol?" Sania tak percaya, dalam diamnya ternyata Marco melampiaskan kegundahan hati pada minuman memabukkan ini.


"Marco... bangun, sayang. Kamu nggak kerja?" Sania membangunkan Marco yang masih terlelap dalam selimut tebal. "Marco... bangun, nak."


Marco menggeliatkan badan, namun matanya masih terlalu berat untuk dibuka. Kepalanya juga sangat berat dan terasa sakit.


"Sayaaaang..." Racau Marco dalam tidurnya. "Sayang... kamu di mana?"


Sania terdiam. Ia hanya memandang Marco kesal. Kenapa perempuan itu masih saja berseliweran di otaknya? Padahal, ia sudah enyah dari mansion ini.


"Marco... bangun, nak." Sania menggoyang bahu Marco. "Bangun, Marco. Kamu sudah telat ke perusahaan." Ia terus menggoyangkan bahu Marco sampai terbangun.


Marci membuka mata. Ia melihat samar pada sosok mommy. Matanya kemana-mana mencari seseorang.


"Sayaaaang... kamu di mana?" Teriak Marco mencari Icha.

__ADS_1


"Marco.... bangun! Jangan terus bermimpi perempuan munafik itu." Suara bentakan Sania menyadarkan dunia halu Marco. Ia menggoyangkan kepala, membuka sempurna matanya dan yang dilihat ternyata Sania, mommynya. Ia bersandar lemah pada dashboard tempat tidur. Ia baru menyadari bahwa sudah dua hari ini, Icha tak pulang rumah. Awalnya, ia membiarkan Icha pergi untuk menenangkan diri. Paling-paling ia ke kostan Wulan, sahabatnya. Namun, yang membuat Marco tercengang, Wulan juga sudah mengundurkan diri dari divisi keuangan tepat di hari Icha pergi. Ia tak menyangka, Icha akan nekad pergi tanpa membawa apapun. Semua kartu kredit dan ATM yang Marco berikan ditinggalkan di atas meja rias, begitu pun dengan telepon genggam.


Marco tak mempedulikan kehadiran Sania di kamar. Ia bangun dari tempat tidur berjalan sempoyongan menuju kamar mandi. Tak ada yang tahu, sejak kepergian istrinya, Marco selalu menenangkan pikiran dengan minuman keras. Namun, ia tak pergi ke klub malam atau tempat-tempat minum, ia hanya menikmati kesendirian dengan alkohol di dalam kamarnya.


"Marco... sejak kapan kamu minum alkohol begini?" Tanya Sania ingin tahu. Marco hanya melirik pada Sania dan masuk kamar mandi. Ia harus berendam untuk menenangkan pikirannya.


Sania kesal dengan sikap Marco. Ia mendumel pelan sambil masuk ke dalam ruangan ganti dan menyiapkan semua keperluan putranya ke perusahaan. Ketika ia keluar, Marco belum selesai mandi juga. Sania mulai beraksi. Ia mencari di mana Icha menaruh perhiasan langka itu. Ia membongkar semua lemari pakaian Icha namun nihil. Ia mengumpat dalam hati.


Matanya tertuju pada laci kecil di bawah kanan meja rias. Segera ia membuka laci kecil itu dengan hati-hati sambil terus memantau keadaan di kamar mandi.


Deg!


Sania tersenyum senang. Akhirnya, ia mendapat perhiasan batu zafir langka dan menaruhnya dalam saku dasternya yang mahal. Ia segera keluar dari kamar Marco dan berjalan menuju kamarnya. Ia mengunci rapat pintu kamar.


Senyum di bibirnya semakin melebar saat ia membuka kotak perhiasan batu zafir yang merupakan lambang kehormatan menantu keluarga Guatalla. Ketika salah satu menantu memakai perhiasan itu, artinya ia merupakan menantu kesayangan dan sangat diterima dalam keluarga terpandang Guatalla.


Sania memakai anting, kalung, cincin dan gelang tangan lalu memutar-mutar tubuhnya di depan cermin.


"Oh.... Sania Guatalla... kamu memang menantu yang paling cocok memakai berlian batu zafir ini." Gumamnya sendiri sambil terus memperhatikan gaya di depan cermin. "Persetan dengan tua bangka itu, yang terpenting dunia luar melihat aku memakai ini dan mereka mengakui aku sebagai wanita terhormat dari keluarga Guatalla." Ia tertawa senang menikmati keindahan zafir kuning mustard yang selama ini hanya ada dalam mimpinya.


Puas dengan kegilaannya seorang diri di kamar, Sania keluar menuju ruang makan. Hanya tersisa kakek dan Berry yang sedang menikmati sarapan mereka. Berry memang selalu menemani kakek saat sarapan. Dan Sania hanya bisa menahan emosi melihat asisten itu setiap hari duduk makan bersama mertuanya tanpa ada batasan.


"Kamu lihat jam berapa sekarang? Ini jam kerja, bukan jam santai." Ketus kakek tak menjawab pertanyaan Sania. Berry tersenyum lucu. Sedangkan Sania, sudah pasti ia hanya menahan napas jengkel melihat tingkah si tua bangka ini bersama asistennya. Sama-sama menyebalkan.


Sania mengambil tempat duduk dan mulai menikmati sarapan. Ia berusaha bersikap biasa saja. Ia menghindar bertatap langsung dengan kakek.


"Kapan kamu balik ke Amerika?" Tanya kakek datar. Ia meneguk air putih sampai habis.


"Masih lama, ayah." Sahut Sania sebelum menyuap sesendok nasi ke dalam mulutnya.


"Untuk apa kamu berlama-lama di sini?" Cecar kakek sambil memandang sinis pada Sania.


"Aku ingin lebih dekat dengan Marco, ayah." Ujarnya. "Ayah tau sendiri sudah lama hubungan aku dan Marco renggang gara-gara masalah sepele." Lanjutnya santai. Ia terus menyantap sarapan tanpa melihat kakek.


"Oh... masalah sepele, menurut kamu???" Tanya kakek datar. "Berselingkuh sampai melakukan hubungan badan dan disaksikan langsung oleh anak laki-lakimu, itu masalah sepele?" Kakek mengurai kisah kelam Sania hingga wajahnya memerah antara menahan malu dan marah. "Aku pikir masa kelammu sudah bisa merubahmu menjadi pribadi yang lebih baik. Ternyata, kau masih sama saja busuk sebagaimana adanya dirimu." Sania tercekat mendengar omongan mertuanya. Ia mengangkat kepala melihat mata kakek.


"Ayah... peristiwa itu sudah lama. Kenapa ayah mengungkitnya lagi?" Protes Sania mulai menaikkan volume suaranya. Apalagi, kakek bicara di depan Berry.

__ADS_1


"Ya... kamu benar. Peristiwa itu sudah lama. Tapi, sikap dan sifatmu yang arogant dan serakah itu pasti akan membuat aku dan marco terus mengingat masa lalumu dan mengungkitnya kembali." Ketus kakek sinis.


"Apa maksud, ayah?" Sania sudah tak tahan. Ia membentak mertuanya dengan keras. Napasnya naik turun seakan ada yang harus ia muntahkan dari dalam perut.


"Pelankan suaramu, nyonya." Ujar Berry mengingatkan. Matanya tajam memandang Sania.


"Diam kamu!" Hardik Sania tanpa takut. "Asisten miskin saja lagaknya seperti pemilik perusahaan." Umpat Sania merendahkan Berry.


"Inilah sifat kamu... Suka merendahkan orang lain tanpa melihat latar belakang kamu yang hitam." Balas kakek membuat Sania terdiam. "Entah sial apa Adam bisa jatuh cinta pada perempuan serakah dan sombong seperti kamu."


Sania tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya bisa diam menahan sesak dalam dada. Kalau pun ia melawan, mr. LG akan lebih sadis lagi mengungkap masa lalunya. Ia tak punya senjata apa-apa untuk membela dirinya sendiri.


Dengan emosi yang tertahan ia meletakkan sendok dan meninggalkan mertua dan asisten Berry di meja makan. Ia membanting pintu kamar dan menghancur apa saja yang bisa ia raih. Semua barang di meja rias dihambur berserakan di lantai kamar.


"Aaaaaaaarhghhhh..." Teriak Sania sekuat tenaga agar sesak di dada sedikit berkurang. "Sial... sial... sial! Aku akan balas kau Leonard Guatalla." Ancamnya penuh penekanan. Urat-urat lehernya seakan mau tercabut karena menahan kemarahan yang amat sangat. "Aku akan menghancurkan kalian. Si Adam bodoh itu akan aku jadikan tumbal untuk melawan kalian." Airmata mengalir deras di pipi Sania dan juga matanya memerah menahan amarah. Ia terduduk lemas dan menangis sekuat-kuatnya.


Sedangkan kakek dan Berry sudah berada di ruang kerja kakek.


"Kau sudah menaruh berlian batu zafir imitasi di kamar Marco?" Tanya kakek.


"Sudah, tuan.... bahkan tuan sendiri tidak akan memyangka kalau itu palsu." Sahut Berry dengan senyuman lucu membayangkan betapa senangnya Sania mendapatkan batu zafir itu.


"hahahaha... aku tidak kuatir kalau kau yang bertindak." Salut kakek pada kinerja Berry. "Dia memang harus diberi pelajaran agar cara berpikirnya sedikit terbuka." Gumam kakek sendu. "Kasihan Adam... dia hanya jadi mainan perempuan busuk ini."


"Tapi, saya pikir tuan Adam juga tau cara menghadapi istrinya, tuan. Buktinya puluhan tahun menikah, nyonya Sania tidak bisa mengambil alih perusahaan di Amerika." Papar Marco.


"Ya... itu untungnya. Aku pikir anak sulungku bodoh. Ternyata, dia masih punya otak untuk menghadapi musuh dalam rumahnya sendiri...hahahahahahaha."


Kakek tertawa lucu mengingat dulu ia sangat menentang pernikahan Adam dengan Sania, yang menurutnya perempuan serakah dan tamak.


"Oh ya... bagaimana kabar cucu mantuku?" Tiba-tiba kakek teringat Icha.


"Baik, tuan. Anda bisa menghubunginya kalau rindu." Kakek tersenyum. Ia tidak membalas ucapan Marco, tetapi bangun dari duduknya dan mengambil sesuatu dari saku jaket yang ia gantung di dekat jendela.


"Ini berlian zafir yang asli. Untungnya Marissa memintaku untuk menyimpan sementara ia tak ada di sini. Coba kalau tidak, kau bisa bayangkan apa yang akan terjadi." Ia menunjukkan kotak berlian itu pada Berry. Ia membuka kotak itu sembari duduk. Namun, keningnya berkerut. Ia mengambil sesuatu dari dalam kotak itu.


"Apa ini, Berry?" Kakek menunjukkan sesuatu benda kecil berbentuk panjang. Berry yang penasaran menerima benda itu dan melebarkan matanya.....

__ADS_1


"Tuan.... cucu anda.... "


__ADS_2