Cukup Di Hati Saja

Cukup Di Hati Saja
MGglow


__ADS_3

Valencia bingung ketika ia tiba di halaman perusahaan yang dipimpinnya, sudah banyak wartawan di sana. Beberapa sekuriti terlihat sedang berjaga-jaga di depan lobi kantor. Namun, anehnya tidak ada satu pun dari puluhan wartawan itu yang peduli akan kehadirannya. Sedangkan mereka sedang memenuhi halaman kantor yang dipimpin olehnya.


Dengan pikiran yang masih bingung, ia terus masuk ke lobi dan menemui salah satu resepsionis yang sedang bertugas.


"Ada apa ini?" Tanya Valencia penasaran.


"Sebentar lagi ada konferensi pers, nona." Sahut gadis manis yang bertugas menjadi penerima tamu di kantor ini.


"Konferensi pers? Siapa?" Tanya Valencia heran sekaligus penasaran.


"Tuan Denta, nona." Sahutnya lagi.


"Apa??? Denta???" Valencia terlonjak kaget mendengar nama sekretarisnya yang hendak melakukan pers conference. "Atas perintah siapa? Tentang apa?" Desak wanita itu mulai marah.


"Saya tidak tau, nona." Sahut gadis penerima tamu perusahaan dengan menunduk takut karena melihat kemarahan direkturnya.


Dengan marah, ia pergi meninggalkan gadis itu yang langsung menarik napas lega karena terbebas dari aura negatif perempuan angkuh itu. Valencia masuk dalam ruangan kerjanya dengan perasaan kesal, bingung, penasaran, bercampur aduk.


Namun, lagi-lagi... ia harus menahan napas melihat ruangan yang sudah beberapa bulan ini menjadi tempat kerjanya berubah drastis. Tata letak meja, kursi, lemari dan warna ruangan pun dibuat semakin hidup namun lebih cocok untuk ruangan seorang pria.


"Apa maksud semua ini??" Tanyanya dalam hati. Ia mengangkat intercom dan menekan nomor sekretaris namun tak diangkat. Berkali-kali ia memanggil lewat intercom, berkali-kali juga tak diangkat Denta.


"Sial....!" Umpatnya sambil menaruh kembali telepon ke tempatnya dengan kasar. "Kemana sekretaris sialan itu?" Tak puas dengan melihat situasi di depan lobi tadi, ia pun keluar dan berjalan cepat menuju lobi di mana terlihat banyak para karyawan. Namun, sepi. Hanya ada beberapa resepsionis yang bertugas di depan serta beberapa sekuriti yang berjaga-jaga depan lobi. Kemana semua orang banyak tadi?


"Kemana para wartawan tadi?" Tanya Valencia gusar pada seorang resepsionis.

__ADS_1


"Semua sedang di aula, nona." Jawab gadis itu.


Jujur, perasaan Valencia tidak tenang sejak beberapa hari lalu ia mendapat kiriman foto dari Icha. Lalu, ia menyadari jika sampai detik ini ia tidak bisa menghubungi Marco sejak malam panas mereka di sebuah hotel mewah.


Dengan langkah panjang ia berjalan cepat menuju aula yang berada di sebelah kanan gedung ValCare. Dan benar saja. Terdapat banyak orang di sana. Semua karyawan pun Berkumpul memenuhi aula yang luas itu. Ia berdiri di pintu sebelah kanan dan melihat ke arah panggung aula. Di sana telah duduk berjejer Denta, Rano, dan semua pemilik saham ValCare. Ia bingung. Ada apa ini? Kenapa ia tak diundang sebagai direktur utama ValCare.


Rano yang melihat keberadaan Valencia tersenyum sinis mencibir wajah bingung Valencia.


"Nona Valencia... Ada apa?" Suara Rano yang menggunakan microphone memenuhi seluruh sudut ruangan dalam aula. Semua mata tertuju padanya yang berdiri mematung dalam keheranan.


"Mari, nona... anda boleh duduk di sini." Denta membuka suara. Ia menyiapkan satu kursi tepat di sampingnya di tengah barisan. Dengan masih dalam keadaan bingung, valencia seakan dihipnotis suasana sehingga Ia berjalan tanpa kata menuju kursi yang telah disiapkan.


"Baik... selamat pagi." Rano mulai membuka suara. "Terimakasih untuk semua media yang sudah berkenan hadir di sini." Sapa Rano yang dibalas salam kembali oleh wartawan dengan serempak. "Kami, perwakilan GT Corp ingin mengumumkan beberapa hal penting mengenai ValCare. Namun, sebelumnya CEO GT Corp meminta maaf karena tidak bisa hadir di sini. Beliau sedang menemani istrinya yang sedang hamil besar." Rano melirik sinis ke arah Valencia sebelum ia melanjutkan. Wajah Valencia terlihat tegang. Rano menarik napas pelan.


"Kita langsung ke inti pembicaraan. Yang pertama, perlu diketahui bahwa ValCare sudah sepenuhnya berada di bawah naungan GT Corp. Karena itu ada beberapa prosedur yang harus kami ganti dan perbaharui setelah mendapat persetujuan dalam RUPS." Suasana hening. Hanya bunyi klik dan blits kamera yang terus menerus terdengar dari kamera wartawan. "Kalian bisa melihat jika di sini sudah ada semua pemegang saham ValCare. Kami sudah sepakat untuk mengganti nama ValCare." Mulai terdengar suara ribut dari para wartawan. Mereka saling berbisik kira-kira nama apa yang pantas untuk perusahaan kosmetik yang sudah sangat terkenal ini dan kenapa harus diganti.


"Yang kedua..." Sambung Rano. Ia kembali melirik pada Valencia. Wajah gadis itu memerah menahan amarah. "Kebetulan direktur utama ValCare ada di sini, nona Valencia Christo." Rano melihat ke arah Valencia yang sedang nyalang menatap ke arahnya juga. "Terimakasih.... sudah memimpin ValCare hingga hari ini nama itu sudah menghilang. Selanjutnya, tuan Denta Pramudya akan melanjutkan kepemimpinan dari MGglow..." Kalimat yang diucapkan Rano meruntuhkan harga diri Valencia di depan umum. Apalagi mereka sedang melakukan siaran langsung di mana semua mata para pengguna skincare ini sedang menyaksikan hal memalukan bagi mantan dirut ValCare.


"Apa maksud kamu?" Sanggah Valencia tak terima. Ia benar-benar sudah tidak bisa menahan diri untuk marah. Suasana mulai kacau. Beberapa bodyguard mulai menenangnkan wartawan dan Valencia. Suasana kembali hening.


"Semua pemegang saham dan pemilik GT Corp sudah memutuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham atau RUPS bahwa...." Rano berhenti sebentar. Wajahnya nampak serius dan tak sedikit pun ada raut ramah di sana. "Denta Pramudya resmi menjadi dirut MGglow menggantikan Valencia Christo." Terdengar lagi suara gaduh antara wartawan. Ada yang mendukung namun tak sedikit yang yang merasa heran kenapa harus diganti.


"Tidak bisa. Kalian memutuskan hasil rapat tanpa kehadiaran aku. Lagian aku yakin, Marco tidak akan menurunkan jabatan aku. Akulah pemimpin ValCare." Dengan lantang Valencia memprotes hasil rapat yang dilakukan tanpa kehadirannya.


"Ya... anda benar. Anda pemimpin ValCare, sedangkan Denta dipercayakan semua peserta rapat untuk memimpin MGglow." Ujar Rano mencibir. Semua wartawan mulai berbisik hingga suara keributan terdengar. Valencia terdiam namun amarah dalam dirinya tak bisa ditutupi. "Anda harus menerima hasil keputusan rapat, nona..." Sambung Rano datar. "Silahkan angkat kaki dari sini." Usir Rano dengan suara pelan.

__ADS_1


"hmmm... Jangan pikir aku takut pada kalian semua. Aku yakin ini otak kalian berdua." Teriaknya pada Rano dan Denta. "Marco tidak mungkin berbuat sekeji ini kepadaku." Tandasnya percaya diri. "Aku dan Marco saling mencintai."


Semua wartawan heboh dan dengan semangat mereka mengambil gambar mau pun merekam kejadian itu.


Rano dan Denta bersikap santai. Mereka tetap tenang mendengar celotehan Valencia.


"Kenapa kalian diam? Hah? Takut? Atau kaget karena mendengar kalau aku dan Marco saling mencintai?" Serang Valencia membabi buta. Rano tersenyum sinis. Ia tetap membiarkan Valencia mengungkapkan semua di depan media.


"Dengar semuanya... Aku dan marco, CEO GT Corp saling mencintai. Karena itu, tidak mungkin kan dia mengusir aku dari perusahaannya?" Dengan menghadap ke arah wartawan, Valencia mulai berbicara dengan berangnya. "Mereka adalah penjilat-penjilat di dalam tubuh ValCare, buktinya saat ini mereka mengambil keputusan tanpa sepengetahuan aku dan juga Marco." Valencia terus bersuara lantang menyampaikan sesuatu yang menurutnya benar. "Aku akan buktikan pada kalian kalau aku dan Marco saling mencintai." Teriaknya lagi. Ia mengambil tas dan berjalan meninggalkan keramaian itu. Semua mata tertuju padanya. Cahaya blits kamera pun terus menyala seiring langkah kaki Valencia. Sayangnya, ia yang dengan percaya siri melangkah hendak ke masuk ke dalam lobi kantor langsung dihadang dua orang sekuriti berbadan besar.


"Maaf, nona... anda dilarang masuk!" Kata Dejan, salah satu sekuriti berkumis tebal.


"Lepasin!" Valencia mengebas lengan bajunya yang sempat disentuh Dejan. "Kurang ajar! Kamu nggak kenal siapa saya?" Hardiknya geram. "Aku direktur di sini."


"Maaf, nona... yang kami tau direktur di sini adalah tuan Denta Pramudya. Anda sudah tidak punya kepentingan apa-apa di sini. Jadi, anda boleh pergi tinggalkan tempat ini." Valencia berangnya bukan main. Ia membaca nama yang tertera di nametag kedua sekuriti ini. Dejan dan Andri.


"Kalian berdua dipecat!" Serang Valencia lalu melangkah hendak masuk ke dalam. Namun, lagi-lagi ia ditahan oleh Dejan.


"Sebaiknya anda pergi dari sini, nona. Sebelum kami berbuat kasar pada anda." Ancam Dejan dengan wajah beringas membuat Valencia mundur selangkah karena takut. "Anda bukan siapa-siapa lagi di sini, jadi lebih baik anda angkat kaki dari sini!" Valencia kehilangan kata-kata melihat garangnya tampang dua sekuriti kantor. Wajah mereka seperti pembunuh berdarah dingin.


"Awas kalian! Aku akan melapor pada Marco dan segera memecat kalian." Ancam Valencia dan segera pergi meninggalkan mereka. Ia berjalan menuju parkiran, membuka mobil dan masuk duduk di depan setir.


"Siaaaaal... kenapa bisa begini?" Umpatnya seorang diri. "Kenapa mereka semua melawan aku?" Tanya Valencia penasaran. "Tidak... Marco pasti belum mengetahuinya. Marco mencintai aku. Malam itu ia buktikan kalau ia masih mencintai aku." Gumamnya sendiri sambil mengambil telepon selulernya dan menekan nomor Marco. Sudah beberapa hari ini, ia mencoba menelepon namun nomor Marco selalu tidak aktif dan kali ini pun sama. Operator handphone menjawab yang sama.


"Sial! Kemana dia? Kenapa setelah malam itu, susah sekali menghubunginya?" Kepala Valencia benar-benar pusing memikirkan semua yang terjadi hari ini. Ia memandang gedung mewah dengan 12 tingkat itu dengan sendu.

__ADS_1


"Apakah hari ini hari terakhir aku datang ke sini?" Tanyanya dalam hati. "Tidak.. tidak mungkin. Aku harus mencari Marco." Dengan perasaan yang bercampur aduk ia menyalakan mesin mobil dan segera pergi dari sana.


__ADS_2