
Icha dan Marco tiba di Mansion pukul 6 sore. Seharusnya bisa sampai lebih awal, tetapi mereka masih singgah istirahat di beberapa tempat wisata, sekalian makan dan menikmati pemandangan berdua.
Raymond dan Berry berdiri menyambut tuan mereka. Dengan sigap, Anton sang sopir turun dan membuka pintu belakang untuk mengeluarkan koper dan beberapa barang dari kota x, dibantu Berry dan Raymond.
Marco menggandeng tangan Icha menuju pintu utama mansion. Marco agak heran karena mansion terlihat sepi.
"Ke mana kakek?" Tanya Marco heran karena kakek tidak menyambut kedatangan mereka. Ia terus menggenggam tangan Icha dan masuk. ke dalam mansion.
"Kok sepi?" Icha pun heran karena rumah mewah yang sangat luas itu terlihat sepi.
"Kemana semua orang?" Marco kembali ke luar hendak menanyakan keberadaan kakek pada Raymond atau Berry.
"Kemana mereka?" Raymond dan Berry pun lenyap entah kenapa. Marco mengerenyitkan kening karena bingung.
"Anton." Dipanggilnya sopir yang menyetir mobil dari kota x ke Jakarta. Laki-laki berusia sekitar 40an tahun itu segera melepaskan kanebo di tangannya dan berlari kecil ke arah Marco.
"Siap, tuan." Sahut Anton hormat.
"Kemana Raymond dan Berry?" Tanya Marco datar.
"Ooh... tadi mereka berjalan ke arah belakang, tuan. Lewat samping sini." Tunjuk Anton ke arah samping mansion.
"Bawa koper?" Tanya Marco lagi.
"Iya, tuan.. membawa semua barang." Sahut Anton dengan anggukan.
"Kemana mereka?" Nada Marco mulai tinggi. Ia masuk kembali ke dalam mansion mencari Icha.
"Sayang... " Teriaknya pelan memanggil Icha.
"Iya... " Jawab Icha yang sedang melihat-lihat pigura besar di setiap sudut tembok ruang tamu hingga ke ruang keluarga.
"Kita ke belakang." Digenggamnya tangan Icha dengan erat dan berjalan cepat ke arah belakang melewati dapur. Icha yang merasa bingung dengan sikap Marco tidak berani bertanya. Ia hanya mengikuti langkah suaminya walaupun agak terseok.
Mereka sampai di halaman belakang yang luas serta terdapat kolam renang yang lumayan besar. Keadaannya gelap gulita membuat Icha merinding. Ia memeluk erat lengan Marco.
Marco masih melihat-lihat ada apa sebenarnya, dan kenapa tempat ini begitu gelap. Di mana para ART rumah?
__ADS_1
Hingga tiba-tiba... terdengar suara ribut di sekitar pohon kelapa gading yang ditanam kakek. Icha semakin ketakutan. Ia menyembunyikan wajah di dada Marco.
Dor.... dor.... dor...
Suara letusan balon bertubi-tubi membuat Icha tersentak kaget.
"Selamat datang, Tuan dan nyonya Guatalla...." Semua orang yang bersembunyi dalam gelap keluar dari tempat persembunyian mereka dan lampu langsung dinyalakan.
Kakek, papa Adam, Mario, Maria, paman Jerry, tante Vera, Wulan, Arin, Raymond, Berry, beberapa kolega bisnis mereka dan semua ART bahkan sopir pun sudah berkumpul dan memberi kejutan pada sepasang pengantin baru itu.
"Selamat datang, nak.." Sambut kakek terlebih dahulu. "Maaf, sudah membuatmu jantungan." Kakek tertawa lucu melihat Icha sedikit pucat. " Sudah lama mansion ini kehilangan nyonya rumah. Terimakasih kamu mau mengisi kekosongan itu." Ucap kakek tulus. Icha berkaca-kaca. Tidak menyangka ia begitu diterima dalam keluarga kaya raya ini.
"Aku yang harus berterimakasih, kek... Kakek dan semua keluarga mau menerimaku di sini." Airmata luruh tak bisa ditahan lagi.
Semua yang berkumpul di sana memberi selamat. Kecuali, mama Sania. Ia sengaja melihat ke arah lain atau menyibukkan diri dengan hal tak penting.
Marco memperhatikan dengan ekor mata. Ia mengetahui gerak-gerik mommynya yang sengaja tidak mau bersalaman dengan Icha.
"Sudah... sudah.. jangan sedih-sedih lagi. Kita berkumpul di sini untuk merayakan pernikahan kak Marco dan Kak Icha. Kita mau bersenang-senang di sini." Celoteh Maria ketika melihat kakek dan keluarga lain mulai mengharu-biru berteletubbies alias berpelukan haru dengan pengantin baru.
Mereka mulai asyik dengan kegiatan masing-masing. Ada yang memanggang ayam, membakar sate, dan lain-lain. Mereka merayakan kedatangan Marco dan Icha, terlebih lagi bersyukur karena mansion besar ini memiliki nyonya rumah.
"Iya, kek... " Sahut Icha sopan.
"Ada yang ingin kakek bicarakan... ayo, kita duduk di bangku itu." Ajak kakek menunjuk ke bangku panjang dekat kolam renang.
Icha pun melangkah bersama kakek menuju bangku itu dan mereka duduk bersama.
"Ada apa, kek? Kelihatannya serius sekali." Tanya Icha penasaran. Kakek tertawa kecil. Ia mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya.
"Apa ini, kek?" Tanya Icha bingung ketika kakek menyerahkan sebuah kotak segi empat.
"Buku dulu." Dengan ragu Icha membuka kotak yang sebesar telapak tangan Icha. Ia langsung membelalakkan mata saat melihat satu set berlian terdiri dari anting, cincin, kalung, dan gelang tangan berbatu zafir warna biru dan mengkilap bersih.
"Itu buat kamu." Papar kakek tatkala melihat kening Icha berkerut tak mengerti.
"Kek... ini bukan barang murah. Ini mahal dan langka." Seloroh Icha tak percaya.
__ADS_1
"hahahaha... iya, kakek tau ini mahal dan langka. Karena itu, kamu harus menjaganya dengan baik." Celetuk kakek santai.
Icha menggeleng kepala dengan kuat. Ia menutup kembali kotak itu dan mengembalikan pada kakek.
"Maaf, kek... aku nggak bisa terima ini." Tolak Icha. "Ini terlalu mahal buat aku." Icha tidak menyangka kakek akan memberikan hadiah semahal ini untuk pernikahan ia dan Marco.
"Kamu kira ini hadiah pernikahan kamu dan Marco?" Tebak kakek melihat kegalauan di wajah Icha. "hahahahaha.... ini bukan hadiah pernikahan kamu dan anak nakal itu. Ini adalah warisan dari ibuku yang diturunkan pada menantu rumah ini." Jelas kakek mulai serius. Icha semakin mengerutkan kening tak mengerti. "Warisan ini terakhir dipakai oleh istriku. Setelah ia tiada, aku menyimpannya sampai sekarang." Otak Icha belum bisa berpikir dengan jernih. Bukankah ada mama Sania yang berhak atas warisan ini?
"hahahahaha.... kakek mengerti apa yang kamu pikirkan." Celetuk kakek di tengah tawa. "Jujur, memang Sania adalah ibu kandung Marco, tetapi entah... hati kecil kakek tidak ingin memberikan warisan ini padanya." Ungkap kakek terus terang. "Hati kecil kakek mau memberikan ini pada kamu. Karena, kakek percaya kamu adalah wanita yang tulus, yang sederhana dan bukan wanita yang haus akan harta kekayaan. "Papar kakek tegas dan penuh penekanan. Icha sedikit melebarkan mata. Mulutnya terkunci rapat seperti enggan sekali berbicara. Jadi, apakah mama Sania kebalikan dari itu semua? hingga kakek tidak rela warisan mendiang ibunya jatuh ke tangan menantunya sendiri.
"Kakek yakin, kamu paham maksud kakek." Imbuh kakek. "Terima ini... pakailah saat kamu mendampingi Marco menghadiri acara-acara penting dengan rekan bisnisnya." Kakek mengambil tangan kanan Icha dan meletakkan kotak itu ke dalamnya. Ia menggenggam tangan Icha. "Ingat, tetap setialah di samping Marco meski pun badai besar menggoda rumah tangga kalian." Pesan kakek. Orang tua itu menunjukkan sikap percaya yang sangat tinggi pada cucu menantunya itu. "Oh... satu lagi, Marco itu persis kakek. Hmmmm... apa ya kata orang muda... bu... cin? Ya ya ya, bucin... hahahahahaha." Icha pun ikut tertawa melihat tingkah kakek. Ya Allah, terimakasih... sudah mengenalkanku pada orangtua hebat ini.
"Hai... ternyata kakek menculik istriku di sini." Suara Marco mengagetkan Icha dan juga kakek yang sedang asyik mengobrol. Tanpa malu, ia mengecup pipi Icha di depan kakek.
"hmmm... dasar bucin." Cibir kakek membengkokkan bibir.
"Ah... kakek iri aja." Balas Marco meledek kakeknya. Ia duduk di samping Icha dan langsung merangkul istrinya mesra. "Aku bucin juga gara-gara kakek." Icha hanya pasrah dan menggelengkan kepala melihat tingkah dua laki-laki beda generasi ini.
Sementara dari kejauhan, ada sepasang mata yang melihat kedekatan kakek dan cucu menantunya dengan tatapan marah. Ada segurat senyum sinis dan penuh dendam terpancar dari wajahnya.
"Bertahun-tahun aku menjadi menantu rumah ini tapi kakek tua bangka itu tidak pernah mau memberikan warisan itu padaku." Ucapnya penuh kemarahan. "Sedangkan perempuan kampung itu baru saja menjadi cucu mantunya sehari langsung diberi dengan sukarela." Sambungnya lagi. "Kita lihat saja nanti... akan aku buat Marco menceraikan dia secepatnya." Ancamnya dengan penuh dendam. Ia berjalan menuju meja makan yang masih tersedia berbagai macam menu makanan. Ia mengambil piring, menyendok sedikit nasi, dan beberapa lauk ke dalam piring itu. Ia melirik sekeliling melihat banyak orang yang sedang asyik bercerita sambil menikmati makanan. Dikeluarkan satu bungkusan kecil dari dalam saku celana panjangnya dan menabur sedikit ke piring yang sudah diisi makanan tadi. Setelah selesai, ia sempat menengok ke kiri kanan memastikan tidak ada orang yang melihat perilakunya. Ia memegang piring itu dan berjalan ke arah kakek yang masih semangat bercanda ria dengan Marco dan Icha.
"Ayah... ayo, makan dulu." Ucap Sania sambil memberikan sepiring makanan untuk mertuanya. Marco dan Icha saling pandang.
"Oh iya... iya... terimakasih. Aku memang sudah lapar saat ini." Kakek menerima piring itu tanpa curiga apa-apa. "Terimakasih, Sania..." Ucap kakek santai. Ia melihat-lihat isi menu dalam piring. "hmmmm... ternyata kamu masih hafal selera makanku." Ujar kakek senang.
"Tuan... ini makanan anda. Itu terlalu banyak acar. Anda tau kalau anda dilarang menyantap kacang-kacangan." Tanpa diduga, Berry datang membawa sepiring makanan yang isinya sesuai dengan anjuran dokter. Tanpa permisi, Berry mengambil piring yang diberikan Sania dari tangan kakek dan menggantikan dengan piring yang ia bawa. Kakek langsung cemberut.
"Kau selalu saja menghalangiku untuk menikmati makanan enak." Omelnya seperti anak kecil yang dilarang makan makanan ringan.
"Ingat anjuran dokter, tuan." Tegas Berry. "Anda masih ingin melihat cicit anda dari tuan Marco, kan? Karena itu makanalah makanan yang sehat." Kata-kata Berry langsung membuat kakek semangat lagi. Ia mengangguk cepat dan segera menyantap makanan yang diberi Berry.
"Nyonya, sebaiknya anda berhati-hati dalam memilih makanan untuk tuan besar," Sindir Berry dan segera membawa piring berisi racun itu ke tempat sampah.
Wajah Sania memerah menahan amarah dan kecewa. Ribuan kali sudah ia selalu gagal meracuni pria tua itu hanya karena asisten sialan itu. Ia hanya berani meracau dalam hati.
Icha yang melihat adegan itu terdiam seribu bahasa. Banyak hal janggal yang ia tangkap dari keluarga barunya ini.
__ADS_1
Apakah Marco mau jujur bercerita tentang semua kejanggalan ini???