
Pukul tiga dini hari di mana semua orang sedang asyik menikmati alam mimpi mereka, berbeda dengan Icha. Ia terbangun karena merasa ingin buang air kecil. Dengan langkah pelan, ia masum dalam kamar mandi dan melakukan aktivitasnya. Setelah selesai, Icha kembali ke tempat tidur hendak melanjutkan tidurnya. Diliriknya sebentar ke arah Marco yang masih sangat terlelap dengan badan terbuka tanpa baju. Ya, itu kebiasaan Marco. Tidur tanpa memakai baju, hanya menggunakan boxer.
Icha membaringkan tubuhnya. Namun ada yang aneh. Seperti ada air yang keluar dari balik ****** ********.
"Apa ini? Masa aku ngompol sih?" Ia bingung dengan rembesan air yang terus mengalir sampai ke betis terus ke tapak kakinya. Ia mencoba tenang. Dengan memikul perut yang cukup berat, ia kembali ke kamar mandi.
"Jangan-jangan udah mau melahirkan?" Gumamnya seorang diri. Ia memeriksa ****** *****. "Nggak ada bercak darah. Kemarin kata dokternya tanda melahirkan kalau ada bercak darah." Ia masih sibuk sendiri di kamar mandi dengan berbagai pertanyaan di kepalannya. Maklum, ini pengalaman pertama baginya. Ia belum terlalu paham soal kehamilan dan waktu melahirkan.
"Sayang..." Teriak Marco dari luar. "Hei, kamu kenapa?" Marco panik melihat Icha tanpa busana dan sedang memegang ****** ********.
"Nggak tau, sayang. Ini.... aku nggak ngerti ada air merembes terus dari tadi." Jawab Icha bingung.
"Perut kamu nggak sakit?" Tanya Marco. Icha menggeleng. "Ya udah... pake bathrobe aja. Aku telepon dokter Gita dulu." Marco membantu Icha memakaikan baju handuk dan menuntunnya keluar dari kamar mandi. Ia segera menelepon dokter keluarga.
"Airnya masih merembes?" Tanya Marco setelah selesai menelopon dokter Gita.
"Udah nggak." Jawab Icha.
"Kata dokter kamu mau melahirkan. Itu air ketuban yang pecah." Terang Marco. Ia duduk bersimpuh di bawah kaki Icha dan mengecuo berulang kali perut buncit istrinya. "Hei... anak papa... udah nggak sabar mau keluar dari perut mama, ya? Sabar, ya. Jangan buat mama kesakitan ya, sayang. Kasian mama." Marco mengajak bicara calon anaknya. Icha senang melihat perhatian suaminya.
"Iya, papa... aku nggak akan buat mama kesakitan." Sahut Icha menirukan suara anak-anak.
"Kamu bisa, sayang?" Tanya Marco mulai kuatir. "Kalo terlalu sakit, operasi aja, ya?" Tawar Marco.
"Nggak apa-apa. Aku bisa. Aku nggak mau operasi. Aku mau melahirkan normal, sayang." Sahut Icha menguatkan Marco. "Kalau melahirkan normal, masa pemulihannya cepat, sayang. Berbeda kalau caesar... masa pemulihannya lama dan luka di dalam perut juga nggak akan bisa sembuh." Terang Icha. Marco mengangguk lemah.
Tok... tok.. tok..
Marco bangun membukakan pintu.
"Tuan... nona gimana?" Hartini yang panik masuk tanpa menyapa Marco. "Nona... gimana? Sakit perutnya?" Tanya Hartini kuatir.
"Belum, bi... hanya aja air ketubannya sekali-kali merembes." Sahut Icha.
"Itu tandanya nona mau melahirkan. Ya udah, bibi siapin pakaian dan barang-barang dedek bayi dulu, ya." Ia masuk dalam ruang ganti di mana terletak satu lemari khusus untuk menyimpan pakaian dan segala jenis barang-barang bayi yang dibutuhkan. Sebenarnya, Marco sudah menyiapkan kamar untuk sang buah hati, namun semua pakaian dan barang bayi masih ada di salad kamar mereka.
Satu tas besar lengkap dengan semua keperluan bayi dan Icha sudah disiapkan. Dokter Gita juga sudah ada bersama dokter kandungan yang dibawa dokter Gita.
__ADS_1
"Kita ke rumah sakit, ya. Nona sudah mulai kontraksi. Sekarang belum terasa sakitnya. Nanti mungkin sekitar 3-4 jam keep depan akan terasa sakit lalu hilang, sakit lagi, hilang lagi, begitu sampai pembukaan lengkap." Jelas dokter Anna. "Ayo, kita ke rumah sakit."
Dengan sigap Marco hendak menggendong Icha tapi dilarang oleh dokter Anna.
"Jangan digendong, tuan... Biarkan nyonya berjalan menuruni tangga. Bahkan sampai rumah sakit nanti alangkah baiknya kalau nyonya lebih rajin berjalan, agar mempercepat proses pembukaan. Melahirkan pun lebih cepat karena jalan lahirnya sudah terbuka sempurna." Jelas dokter mendetail. Icha pun berjalan dituntun oleh Marco diikuti dokter Gita dan dokter Anna serta Hartini di paling belakang. Mereka segera meluncur ke rumah sakit ibu dan anak.
Icha langsung diinfus vitamin agar tetap kuat saat proses melahirkan nanti. Hartini dengan setia menemani Icha jalan-jalan di sekitar taman rumah sakit. Apalagi angin pagi yang sejuk membuat mood semakin membaik.
Sekitar pukul enam 6 pagi, Icha mulai merasakan sakit. Mulas di bagian bawah perut membuat Icha memejamkan mata.
"Sakit, sayaaang..." Lirihnya menahan sakit. Marco menggenggam tangannya erat, seakan-akan menyalurkan kekuatan pada istrinya. Sedangkan dokter dan beberapa perawat terlihat berjalan masuk keluar kamar bersalin menyiapkan semua peralatan persalinan. Salah seorang perawat bertugas memastikan semua alat yang dibutuhkan dokter sudah tersedia.
"Iya, sayang... tahan, ya. Demi anak kita." Bisik Marco menguatkan Icha. Ia mengecup kening Icha yang mulai berkeringat karena menahan sakit.
"Sayang..." Tiba-tiba terdengar suara mama Tanti dan papa Rendra. Orangtua Icha yang baru tiba dari Bandung. Icha menangis memeluk mama Tanti.
"Icha minta maaf selama ini belum bisa menjadi anak yang baik buat mama... Icha baru ngerasa sakitnya melahirkan, ma. Maafin Icha..." Ia menangis terisak mengingat pengorbanan mama Tanti saat melahirkan dulu. Sakit yang sama yang ia rasakan sekarang. Sakit yang hanya bisa ditanggung sendiri.
"Kamu anak mama yang paling baik. Kodrat wanita ya memang begini. Jadi, jangan salahkan dirimu sebagai anak." Mama Tanti berusaha menguatkan Icha. Papa Rendra memeluk putrinya dengan sayang.
"Menjadi orangtua itu anugerah terindah. Tidak semua orang bisa merasakan apa yang kamu alami saat ini. Jadi, nikmati dan jalani semua dengan iklas dan tenang. Kamu akan mencapai kebahagiaan yang luar biasa, nak." Kata-kata papa Rendra benar-benar membuat Icha merasa bangga menjadi seorang ibu. Ia mengangguk senang seakan-akan mendapat kekuatan baru. Mama Tanti dan papa Rendra bergantian mengecup kening putri tunggal mereka. Lalu, mereka keluar dan menunggu sampai proses melahirkan.
"Aku kuat, sayang.... asal kamu di sini temani aku. Aku nggak mau dioperasi." Pinta Icha lemah. Marco menatap sendu mata sayu Icha. Ia mengecup lama kening Icha.
"Aku pasti di sini temani kamu. Aku nggak akan kemana-mana." Janji Marco menciptakan senyum di wajah Icha.
"Kita periksa ya, nyonya... kayaknya nggak lama lagi dedek bayi minta dikeluarin nih." Dokter Anna sengaja melemparkan candaan agar membangkitkan mood baik pada setiap ibu yang mau melahirkan. Dokter memasang Fetal Doppler atau alat untuk mendeteksi detak jantung janin ke atas perut Icha.
"Wowww...jantungnya kuat sekali. Anak nyonya dan tuan benar-benar aktif dan sehat. Karena itu nyonya juga harus kuat, ya." Icha tersenyum di tengah sakit yang melilit perutnya. Ia mengangguk lemah mengiyakan pernyataan dokter. Ya, dia harus kuat demi anaknya.
Dokter terus memeriksa pembukaan Icha hingga pukul 12 siang. Masih enam pembukaan lagi. Cukup lama Icha harus menahan sakit karena pergerakan terbukanya jalan rahim yang sangat lambat.
"Sus... siapkan obat perangsang. Tidak bisa menunggu terlalu lama lagi. Bayinya sudah harus dikeluarkan." Perintah dokter. Suster muda itu langsung menyiapkan injeksi yang sudah diisi obat perangsang untuk merangsang terbukanya jalan rahim. Dokter sekali lagi memeriksa detak jantung bayi. Ia bernapas sedikit lega karena jantung bayi masih berdetak dengan kuat walaupun sudah waktunya harus keluar.
"Gimana, dok? Kenapa lama sekali??" Marco sudah tidak bisa melihat kesakitan yang dialami istrinya. Hebatnya, Icha tidak berteriak saat sakit itu datang. Ia hanya menggenggam erat lengan Marco atau menggigit lengan baju suaminya. Namun, Marco bisa membayangkan rasa sakit itu dari wajah Icha.
"Kami sudah menyutikkan obat perangsang, tuan... untuk merangsang pembukaan agar lebih cepat. Anda tenang saja, tuan... bayi anda sangat sehat. Walaupun sudah waktu ia harus keluar namun jantungnya masih berdetak dengan kuat dan normal." Jelas dokter. Marco menarik napas dan membuangnya kasar. Rasa kuatir akan keselamatan Icha terus menghantuinya.
__ADS_1
15 menit obat perangsang itu sudah mulai bekerja dalam tubuh Icha. Rasa sakit yang dirasakan menjadi dua kali lipat. Icha yang selama berjam-jam bisa menahan rasa sakit itu, sekarang ia harus berteriak untuk melawan kesakitan.
"Sakiiiit.... aaaah...." Benar-benar sakit yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Marco panik melihat istrinya kesakitan.
"Dokter.... Apa yang kalian lakukan pada istriku? Kenapa dia kesakitan begini?"
Pekik Marco marah. Ia benar-benar tidak tega melihat tubuh Icha yang kesakitan akibat perangsang.
"Tuan... tenanglah. Percaya pada kami. Kami akan melakukan yang terbaik untuk istri anda." Dokter berusaha menenangkan Marco yang kelihatan panik.
"Tapi kenapa istriku tiba-tiba histeris kesakitan?" Geram Marco tertahan, namun matanya nyalang menatap dokter. "Kalau sampai terjadi pada istri dan anakku, aku akan menghancurkan kalian semua." Ancamnya penuh amarah. Dokter kebingungan tak tahu harus menjawab apa lagi. Karena percuma berdebat dengan Marco yang sedang dalam keadaan marah.
"Nak... tenanglah. Ini prosedur dalam melahirkan. Tenanglah. Percayakan semua pada dokter." Mama Tanti yang mendengar keributan segera masuk dan menenangkan Marco. "Sekarang kamu berdiri di samping Marissa. Temani dia." Wanita paruh paya itu menarik pelan tangan Marco mendekati Icha. Marco langsung memeluk istrinya yang kesakitan.
"Pembukaannya sudah lengkap ya, nyonya... ikuti arahan saya," Kata dokter Anna. "Dalam hitungan ke tiga, nyonya boleh mengejan, ya.... satu, dua, tiga." Dengan susah payah dan sisa tenaga yang ada Icha berusaha mengikuti perintah dokter. Sekali dua kali belum juga terdengar suara bayi.
"Ayo, nyonya... sekali lagi, ya... satu, dua, tiga.." Icha menarik napas panjang dan dengan menyebut Asma Allah, ia berusaha mengejan sekuat tenaga. Marco tak bisa berkata apa-apa. Ia harus mengambil keputusan untuk segera dioperasi.
Oek... oek... oek...
Terdengar suara bayi menangis dengan kencang. Marco memeluk haru Icha yang nampak kelelahan. Dokter dengan sigap membersihkan bayi itu sebelum diberikan pada Icha, ibunya.
"Makasih, sayang... makasih..." Marco mengecup seluruh wajah Icha. Airmata bahagia Marco mengalir melalui kedua sudut matanya.
"Tuan... nyonya... selamat, putra anda sehat dan lengkap." Dokter menunjukkan bayi mungil yang baru dibersihkan itu pada orangtuanya. Icha tersenyum bahagia dengan airmata mengalir di sudut mata. Mama Tanti, papa Rendra dan juga kakek pun masuk tak sabar melihat cucu mereka.
"Permisi, mama... aku mau nyari ***** aku, ya." Dokter Anna mencairkan suasana dengan menirukan suara anak kecil. Ia meletakkan bayi mungil itu ke dada Icha, untuk melatih gerak motorik si bayi. Icha dan Marco saling melemparkan senyum bahagia. Si bayi mungil itu pun bergerak perlahan mencari makanan pada dada Icha. Marco tertawa geli melihat gerakan putranya.
"Hei.... tampan. Pinter banget nyari nenennya." Goda Marco senang. "Itu punya papa..." Icha mencubit lengan Marco karena malu dengan perkataannya.
Mereka tertawa bahagia bersama.
"Kamu sudah memberinya nama?" Tanya kakek. Marco mengangguk cepat.
"Leonardo Lebrino Guattala." Marco mengecup pipi putranya. "Dipanggil Leon. Kamu suka namanya?" Tanya Marco pada Icha. Icha mengangguk senang karena Marco memyematkan nama Lebrina pada anak sulungnya.
"Iya, aku suka namanya." Jawab Icha sambil memperhatikan baby Leon yang sedang asyik menyedot ASI dengan semangat.
__ADS_1
"Wah... ini penerus MR. LG ni." Ujar kakek senang karena Marco memberikan namanya pada cicit pertama keluarga MR. LG alias Leonard Guatalla.