Cukup Di Hati Saja

Cukup Di Hati Saja
Pulang kembali ke Mansion.


__ADS_3

Tak menunggu waktu lama di rumah sakit, Icha sudah diperbolehkan pulang oleh dokter karena keadaan fisiknya sudah membaik. Pencernaan yang sempat terganggu sudah membaik, sedangkan anemia bisa dikontrol sendiri dengan menjaga makanan & minuman dan rutin minum obat tambah darah.


"Semua udah beres, nyonya... sekarang waktunya pulang." Wulan yang sibuk mengurus barang bawaan Icha mengebaskan tangan tanda ia sudah selesai membereskan pekerjaan.


"Ayo, nyonya... turunnya pelan-pelan, ya. Harus duduk di kursi roda, biar aku yang dorong." Arin ikut menggoda Icha.


"Ck... Apaan sih kalian berdua!?" Decak Icha kesal. "Aku udah sembuh, aku bisa jalan sendiri. Ngapain pake kursi roda segala sih?!" Omelnya sebal dengan tingkah dua sahabatnya ini.


"Nggak boleh protes!" Sergah Wulan melototkan mata pada Icha. "Nasib kami berdua ada di tangan suami kamu. Kamu mau aku dipecat sama CEO tampan itu?" Celetuk Wulan bercanda.


"Hei... CEO tampan itu suami aku, ya!" Sewot Icha ikut melototkan mata. Mereka tertawa bersama.


"Iya, tauuuuu... yang punya suami cakep, tajir lagi." Goda Wulan. "Tapi, kamu tetap harus duduk di kursi roda." Tegas Wulan mengambil kursi dari tangan Arin dan mendekatkan pada Icha yang masih duduk di atas tempat tidur.


"Eiiiits... jangan protes dulu!" Sergah Arin ketika melihat mulut Icha hampir saja protes. "Kamu tau nggak betapa seramnya suami kamu memberi perintah pada kami siang tadi sebelum ke perusahaan?" Beber Arin semangat. "Aku percayakan Icha pada kalian. Ingat, aku tidak ingin istriku lelah. Dia harus duduk di kursi roda dan kamu yang mendorongnya. Sopir akan menjemput kalian. Aku akan usahakan selesaikan pekerjaanku dengan cepat. Jika tidak, kalian berdua antar istriku sampai ke mansion!" Arin memperagakan gaya Marco memberi perintah dengan suara yang dibuat se-bass mungkin. Icha dan Wulan yang tak bisa lagi menahan tawa, akhirnya pecah terbahak-bahak.


"Udah, ah... sakit perut aku." Icha memegang perutnya karena kram.


"Eh.. eh.. eh.. jangan bilang pencernaan kamu kumat lagi. Bisa digantung aku." Tukas Arin resah.


"hahahaha... nggaklah. Perutku sakit gara-gara ketawa." Sanggah Icha.


"Udah, yuk... kalian mau tinggal di sini? Usah sore nih." Timpal Wulan. "Ayo, turun... duduk di sini!" Perintah Wulan oada Icha. Icha langsung memberengutkan wajah.


"Aku jalan aja, yaaaa... please." Pinta Icha sambil mengatupkan kedua tangannya.


"Ck... ini udah bukan musim corona, nggak perlu salam namaste gitu." Celetuk Arin membuat Wulan ngakak. Icha semakin memanyunkan bibir. Akhirnya, mau tak mau ia duduk di kursi roda selayak orang yang sakitnya parah banget.


"Silahkan, nyonya..." Ujar Arin ketika mereka sampai di parkiran dan sudah ditunggu sopir mansion yang siap membukakan pintu bagi nyonya muda mereka.


Icha mendelik kesal pada Arin yang sedari tadi memanggilnya 'nyonya', begitu juga Wulan. Hari ini mereka berdua begitu kompak menggoda Icha.


Mobil yang mereka tumpangi membaur dengan kendaraan lain membelah macetnya jalanan kota Jakarta. Wulan dan Arin terus asyik bercerita sekaligus menghibur sahabat mereka yang masih dalam masa pemulihan. Wulan yang sangat mengenal karakter Icha sengaja tidak menanyakan tentang kejadian yang Icha alami hingga masuk rumah sakit. Ia pun sudah mewanti-wanti Arin agar tidak menyinggung soal itu, karena Wulan tak ingin membuat Icha mengingat kembali sesuatu yang menyedihkan.


45 menit mobil yang mereka tumpangi menelusuri kota Jakarta, akhirnya sampai di mansion mewah milik pemilik GT Corp. Seperti biasa, kakek akan selalu menjadi orang pertama yang menyambutnya.


"Assalamualaikum, kek..." Dengan hormat Icha mencium tangan kakek diikuti oleh Wulan dan Arin.


Kakek langsung memeluk cucu mantu kesayangannya. Ia tersenyum senang melihat keadaan Icha yang sudah membaik.


"Alhamdulillah... kamu sudah sehat." Puji syukur kakek pada Tuhan. Ia mengusap sayang pundak Icha.


Icha menunduk malu. Ia merasa bersalah. Karena kebodohannya, ia membuat susah banyak orang.


"Maafin Icha, kek..." Lirihnya pelan.


"Eh sudah... sudah... sudah... itu bukan salah kamu. Yang terpenting sekarang adalah kamu sudah sehat dan udah kembali ke rumah ini lagi." Tangkas kakek bersemangat. Ia tak ingin membuat Icha sedih lagi. "Ayo, masuk!" Ajak kakek. "Ini... siapa?" Kakek seperti baru menyadari kalau Icha tidak sendirian. Ada dua gadis cantik di belakangnya.


"Salam, tuan... saya Wulan." Ia menunduk hormat sambil memperkenalkan diri.


"Saya Arin, tuan." Diikuti oleh Arin.

__ADS_1


"Mereka sahabat aku, kek." Lanjut Icha menjelaskan.


"Oooh... kalian sahabatan." Kakek mengangguk mengerti. "Nah, kalian temani Marissa di kamar, ya." Pinta kakek. "Kakek heran sama suami kamu itu. Istrinya lagi sakit bukannya temani malah sibuk ngurus pekerjaannya." Omel kakek sambil berjalan masuk ke ruang keluarga.


"Nggak papa, kek... Ini memang penting, makanya Marco nggak bisa ninggalin pekerjaannya." Jelas Icha pelan.


"Sepenting apa pekerjaan itu sama diri kamu, istrinya sendiri?" Sanggah kakek kesal.


"Aku kan udah sembuh, kek. Selama aku sakit, Marco nggak pernah ninggalin aku. Malah, dia ninggalin perkerjaannya." Icha merangkul lengan kakek untuk menenangkan orangtua itu.


"Ck... kamu bela aja terus anak nakal itu." Sewot kakek membuat Icha, Wulan dan Arin tertawa.


"Maklum, kek... udah bucin." Celetuk Arin sedikit berbisik.


"Bucin?" Kakek mengulang kata itu dengan mengerutkan kening.


"Budak cinta, kek..." Wulan dan Arin kompak menjawab dengan melirik genit ke arah Icha. Kakek pun tertawa menanggapi celotehan anak-anak muda ini.


"Ada-ada saja kalian." Timpal kakek.


Mereka asyik bercerita di ruang keluarga. Arin dan Wulan benar-benar kagum pada pengusaha tua ini. Kerendahan hatinya sangat kontra dengan nama besar yang ia miliki. Bahkan, selama ngobrol Arin dan Wulan merasa seperti sedang bercerita dengan orang biasa.


Berbeda dengan tatapan mata yang sedang mengintai dari jauh. Wajah keriput dengan dandanan tipis itu menatap dengan amarah.


"Perempuan sial... kenapa harus muncul lagi di rumah ini? Aku berharap dia mati saja kemarin." Umpatnya dalam hati. Ya, siapa lagi kalau bukan Sania, mama mertua Icha.


Sania mengetahui permasalahan antara Marco dan Icha dari Valencia. Sania berharap, Icha menghilang selamanya. Apalagi, Marco dan kakek sepertinya sudah menyerah tidak dapat menemukan keberadaannya saat itu.


Wulan dan Arin mengantar Icha ke kamar. Mereka membantu membereskan pakaian yang dibawa dari rumah sakit. Arin menyiapkan air hangat untuk Icha mandi dan Wulan menyiapkan pakaian gantinya.


"Serasa memiliki dua dayang-dayang." Goda Icha pada mereka.


"Iya, nyonya... hamba rela disebut dayang-dayang dan melayani nyonya seumur hidup hamba." Tutur Arin dengan gaya selayaknya dayang-dayang. Mereka tertawa terbahak-bahak.


Tiga sejoli terus bersenda gurau hingga dikagetkan dengan kemunculan Marco di balik pintu. Wulan dan Arin terdiam. Mereka ketakutan karena sudah lancang masuk dalam kamar pribadi Marco.


Tapi, ada yang aneh. Marco tersenyum manis dan berjalan mendekati Icha. Dipeluknya istri tercinta, mengecup kening, pipi dan terakhir bibir. Icha tersipu malu. Marco tidak peduli ada Wulan dan Arin yang melihat tingkahnya.


"Tertawanya senang banget. Cerita apa sih?" Tanya Marco penasaran. Icha menunjuk ke arah dua gadis yang terdiam mematung. Marco menoleh. Marco mendekati mereka.


"Terimakasih... sudah menemani Marissa. Sudah membuatnya tertawa dan bahagia." Suara lembut sekaligus senyum Marco membuat Arin dan Wulan melongo.


Ternyata suaranya bisa selembut ini. Gumam Wulan dalam hati. Berbeda dengan Arin. Bukan suara Marco yang membuatnya terpana, namun wajah tampan itu. Aaaah... 😍😍😍


"Hei..." Icha menepuk pundak Wulan. Gadis itu terperanjat kaget. Wajahnya memerah karena malu kedapatan terpesona dengan suami orang. Arin pun ikut tersentak.


"Kalian kenapa?" Tanya Icha menahan tawa. Wajah salting mereka berdua kelihatan sangat lucu. "Suami aku tampan, ya?" Bisik Icha di antara Wulan dan Arin. Keduanya melototkan mata pada Icha.


"hahahahaha..." Pecahlah tawa Icha yang membuat Wulan dan Arin makin salah tingkah.


"Tuan, kami permisi pulang dulu." Arin menarik tangan Wulan hendak ke luar kamar.

__ADS_1


"Sebentar..." Tahan Marco. Wulan dan Arin spontan langsung menghentikan langkah. "Sebentar lagi jam makan malam. Kalian menunggulah sebentar di bawah. Kita makan malam bersama." Ucap Marco dengan nada seperti bukan meminta tetapi perintah yang tidak membutuhkan bantahan. Otomatis, Wulan dan Arin mengangguk patih dan segera keluar.


Marco langsung memeluk Icha lagi saat pintu sudah ditutup. Dikecupnya leher Icha membuat gadis itu menggeliat geli.


"Mandi dulu. Aku siapin air hangatnya, ya. Supaya badan kamu segar." Marco tak menjawab. Ia hanya memandang wanita lembut itu dengan tatapan penuh cinta dan tersenyum senang. Icha mengecup sekilas bibir sang suami sebelum berbalik badan menuju kamar mandi.


Sementara di bawah...


Wulan dan Arin yang kebingungan tidak tahu harus berbuat apa berinisiatif ke dapur untuk menyiapkan makan malam keluarga Guatalla. Jadilah sekarang mereka membantu Bi Hartini dan art yang lain di dapur.


"Siapa kalian?" Suara sinis terdengar saat mereka sedang bercanda ria sambil memasak. Semua yang ada di dapur menengok ke arah suara.


"hmmm... maaf, nyonya. Ka-kami sahabat Icha. Ka-mi disuruh untuk ma-makan malam sama tuan Marco." Jawab Arin tergagap. Art yang lain tetap sibuk dengan tugas masing-masing.


"Jangan mengotori makanan dengan tangan kampung kalian." Sarkasnya sinis. Wulan tersentak mendengar kata-kata itu. Kalau saja perempuan ini bukan mertua Icha, pasti Wulan sudah membalas ucapan kasarnya. Ia hanya menatap tak suka pada Sania.


"Apa? Kenapa kamu menatap saya begitu? Nantang, kamu?" Bentak Sania tak terima ditatap tak suka oleh orang asing, menurutnya. Matanya garang menatap Wulan. Gadis manis asal suku Sunda itu pun tak gentar. Ia balas menatap mata Sania tetapi dengan raut wajah yang tenang. Suasana dapur menjadi panas. Semua terdiam tertunduk.


"Ada apa ini?" Suara bass terdengar menambah suasana semakin seram.


"Wulan, Arin... " Icha mendekati kedua sahabatnya. Ia sudah mengetahui karakter sang mertua, maka ia bisa menduga apa yang sudah terjadi. Ia mengedipkan mata pada Wulan menenangkan gadis itu. Wulan tersenyum santai.


"Ada apa, mom?" Tanya Marco sekali lagi.


"Siapa yang menyuruh mereka masuk ke dapur?" Tanya Sania masih dengan nada sinis. Tangannya dilipat ke dada dengan angkuh.


Marco mengerutkan kening aneh mendengar ucapan mommy.


"Ada yang salah?" Tanya Marco datar.


"Kamu gimana sih? Kalau semua orang asing masuk rumah ini, mau jadi apa rumah ini?" Sewot Sania. Marco memggeleng heran.


"Bisakah mommy tidak mempermasalahkan hal sepele seperti ini?" Tanya Marco datar dan dingin.


"Kamu bilang ini masalah sepele?" Sergah Sania ketus. "Ini orang kampung masuk dapur, kamu bilang hal sepele?" Cecarnya lagi. "Marco... Marco... semenjak kamu menikah dengan perempuan kampung ini, pikiran kamu pun jadi ikutan kampungan." Tukas Sania penuh tekanan.


Semua yang mendengar hanya melongo dan melebarkan mata. Wulan tersenyum sinis. Ia melipat tangan di dada dan menatap Sania dengan tajam. Icha hanya menggeleng kepala. Arin malah bingung tidak percaya Icha mempunyai mertua yang begini kasar dan berpikiran sempit.


"Sania... Sania..." Suara kakek mengagetkan semua. "Aku pikir kamu sudah berubah, ternyata masih saja sama sebagaimana aslinya kamu." Pungkas kakek serius. "Kamu benar-benar lupa daratan. Kamu lupa kamu berasal dari mana." Tegas kakek tajam.


"Ayah... mak... "


"Aku harap kamu bisa mengingat masa lalu kamu dan jadikan itu pelajaran hidupmu." Kakek tidak membiarkan Sania membela diri.


Sania terdiam. Sedangkan Wulan tersenyum senang. Marco menatap sendu pada ibunya. Ia sedih melihat sikap dan karakter ibu kandung yang jauh dari harapannya.


Icha menyadari suasana hati Marco lagi tak baik. Ia memeluk Marco memberi kekuatan. Benar saja! Marco memeluk tubuh sang istri dengan erat, mengeluarkan semua perasaan hatinya.


"Maaf... " Lirih Marco di telinga Icha.


"I Love you..." Balas Icha membuat Marco tersenyum bahagia.

__ADS_1


__ADS_2