
Hari-hari Icha Dan Marco dilalui dengan bahagia bersama baby Leon. Icha mengurus sendiri bayinya tanpa baby sitter. Sekali-kali dibantu oleh Hartini dan Rossa. Tanpa terasa, Umur baby Leon sudah menginjak bulan ke enam, sama seperti usia kehamilan Valencia. Mantan model seksi itu masih saja percaya diri mengatakan bahwa anak yang ia kandung adalah darah daging Marco.
"Pa... kapan papa menemui keluarga Guatalla untuk membicarakan tentang kehamilan Valencia?" Tanya Riska saat mereka sudah mengistrahatkan tubuh di atas tempat tidur. Christo menarik napas berat.
"Tidak bisa hanya menemui mereka dan mengatakan bahwa Valencia mengandung anak Marco tanpa bukti, ma." Sahut Christo tetap fokus pada telepon genggamnya.
"Papa nggak percaya kalo itu anaknya Marco?" Sewot Riska dengan nada kesal. "Papa kan tau selama ini Valencia hanya mencintai Marco. Dia juga nggak pernah dekat dengan laki-lqki lain selain Marco." Beber Riska berusaha meyakinkan Christo.
"Hubungan mereka sudah lama berakhir, ma. Marco sudah menikah bahkan sudah memiliki putra. Lalu, tiba-tiba ia menghamili Valencia, bagaimana ceritanya?" Timpal Christo mulai menaikkan volume suara.
"Yaaaa... sapa tau mereka masih saling mencintai dan diam-diam mereka bertemu di belakang istrinya Marco itu." Cetus Riska menuduh. "Mereka berhubungan selama enam tahun, bukan waktu yang singkat lho. Siapa tau Marco masih mencintai Valencia."
Christo menarik napas berat mendengar tudingan istrinya itu.
"Jangan-jangan anak kamu yang masih menyimpan perasaannya pada Marco dan menjebak Marco hingga ia hamil." Christo balik menuding Valencia membuat Riska melebarkan mata kesal pada ucapan Christo.
"Kamu tuh papanya Valencia tapi kok kamu malah nuduh anak kamu yang nggak-nggak?" Berang Riska. "Valencia nggak mungkin melakukan hal keji itu, pa."
"Buktinya anak kamu hamil. Itu artinya dia sudah melakukan hal keji dengan suami orang." Sembur Christo membuat Riska terdiam. Benar kata Christo. Biar bagaimanapun, Valencia sudah melakukan hal keji baik itu dengan suami orang ataupun bukan suami orang. Ia sudah hamil sebelum menikah. "Suami orang ataupun bukan, Valencia sudah melakukan hal yang salah. Tugas kita sekarang mendampinginya agar ia tidak stres atau depresi sampai melakukan hal yang tidak-tidak." Papar Christo sedikit geram. "Dan Marco bukan laki-laki yang gampang jatuh dalam pelukan sembarang wanita. Mungkin ia pernah mencintai putrimu tapi itu dulu, sekarang ia sudah memiliki keluarga dan aku sangat mengenal pribadinya. Pribadi seorang Leonard Guatalla melekat erat dalam diri cucunya, Marco Guatalla." Sambung Christo memberi penekanan pada kalimat terakhirnya.
"Mama percaya kalau anak yang dikandung Val adalah darah daging Marco. Kalau papa nggak mau menemui dia, mama yang akan menemuinya besok." Ancam Riska kekeh pada pendiriannya. Ia berbaring membelakangi Christo.
"Terserah kamu. Aku hanya tidak mau kamu melakukan sesuatu dengan gegabah yang akan merugikan kita nantinya." Christo pun berbaring dan memejamkan mata.
Sekitar satu jam kemudian, Riska merasa tidak ada lagi pergerakan dari Christo, ia bangun dan keluar dari kamar menuju kamar Valencia.
Tok... tok... tok...
"Mama..." Valencia sedikit terkejut ketika membuka pintu melihat mamanya sedang berdiri dengan menggunakan piyama tidur. "Mama ngapain? Kok belum tidur?" Tanya Valencia heran.
"Sssst..." Riska menempelkan jari telunjuk di bibir menyuruh Valencia diam sambil menolak pelan putrinya masuk ke dalam kamar lalu mengunci pintu. "Kamu belum tidur?" Tanya Riska pelan.
"Belum, ma... aku pengen makan salad buah." Sahut Valencia sambil menunjukkan piring berisi salad buah di meja kamar. "Mama ngapain ke sini?"
"Ada yang mau mama tanyakan sama kamu." Riska duduk di sofa kamar.
"Nggak bisa besok, ma? Kayak yang penting banget." Valencia melanjutkan menikmati salad buah. "Ada apa sih?"
"Ini mengenai kehamilan kamu." Lirih Riska serius. Valencia mengerutkan kening. Ia melihat heran ke arah Riska.
"Kenapa dengan kehamilanku, ma?" Tanya Valencia penasaran.
"Kamu yakin anak dalam kandunganmu darah daging Marco?" Tanya Riska ingin tahu.
"Kok mama nanya gitu? Kan aku udah kasih tau dari awal aku hamil, ma... kalau janin aku ini buah cinta aku dan Marco." Protes Valencia tak suka mendengar pertanyaan Riska.
__ADS_1
"Buah cinta?" Riska mengerutkan kening. "Kamu yakin?" Sambungnya ragu.
"Mama nggak percaya sama aku?" Valencia balik bertanya. "Kalau mama nggak percaya, siapa lagi yang yang mau percaya sama aku?" Keluhnya sedih. Riska menarik napas berat.
"Selama enam bulan kehamilan kamu, kemana Marco? Apa dia pernah menemuimu? Menemanimu memeriksakan kehamilan atau sekedar menanyakan keadaanmu?" Berondong pertanyaan dari Riska membuat wajah Valencia sendu.
"Itu semua gara-gara perempuan j*l*ng itu, ma. Pasti dia yang melarang Marco untuk menemuiku." Ujarnya menuduh Icha. "Apalagi dia sudah mengetahui tentang kehamilan aku."
"Mama hanya penasaran... kapan kamu dan Marco bertemu hingga kamu sampai hamil begini?" Tanya Riska ingin tahu. Mendengar pertanyaan ibunya, Valencia salah tingkah. Tidak mungkin ia menceritakan tentang kelakuannya pada Marco malam itu sampai terjadi pergulatan panas.
"Ya... ya, kami ketemu di Malaysia waktu Marco membeli saham ValCare. Saat itu di-dia mengatakan kalo dia masih mencintai aku, ma. Bahkan dia ingin memiliki anak dari aku." Beber Valencia berbohong. "Aku juga masih mencintainya, ma. Makanya aku mau aja waktu dia mengajakku untuk bersama lagi." Ia terus berusaha menyakinkan Riska.
"Ya sudah... sekarang kamu tidur. Nggak baik begadang dalam keadaan hamil begini." Riska tak merespon ucapan Valencia. Ia bangun dari duduk hendak kembali ke kamarnya.
"Mama... aku ingin Marco bertanggung jawab atas kehamilanku." Gumam Valencia sedih. "Aku malu, ma... kalo sampe semua teman-teman bahkan rekan bisnis aku dulu di ValCare tahu tentang aib ini." Entah dari mana airmata Valencia yang tiba-tiba mengalir. Sebagai seorang ibu pasti hati Riska sakit. Ia merasa terhina atas perlakuan Marco pada putrinya.
"Mama akan menemui dia dan meminta pertanggungjawaban darinya." Tegas Riska. "Kamu istirahatlah!" Riska membuka pintu kamar dan keluar. Sedangkan Icha senang sekali karena Riska membelanya dan berjanji akan menemui Marco.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pukul tujuh pagi... Christo, istri dan anaknya sarapan bersama. Christo sudah rapi dengan jas mahal yang melekat di tubuhnya.
"Aku akan ke Bandung jam sepuluh sebentar. Mungkin akan pulang larut malam." Ujar Christo memberitahu Riska.
"Kok papa baru bilang?" Tanya Riska.
"Ya udah... papa hati-hati."
Selesai sarapan, Riska mengantar Christo pamit berangkat ke perusahaan. Valencia kembali ke kamar mengganti baju untuk melakukan senam yoga yang sudah diikutinya dari usia kehamilan tiga bulan.
"Ma... aku berangkat, ya." Pamit Valencia yang mengenakan celana legging hitam dan baju lengan pendek perpaduan putih biru langit.
"Hati-hati, Val. Jaga kandungan kamu." Pesan Riska. Valencia tersenyum dan mengangguk. Dalam keadaan hamil ia terlihat lebih cantik dan seksi.
Riska kembali ke kamarnya saat mobil Valencia keluar dari halaman rumah yang luas ini.
"Aku harus menemui Marco. Kasian Valencia kalau sampai melahirkan anak tanpa suami." Riska berdialog sendiri dalam kamar. Setelah bersiap, ia memerintah sopir pribadi untuk mengantarkan ke GT Corp. Kali ini ia harus menemui CEO perusahaan terbesar itu.
"Ada yang bisa kami bantu, bu??" Tanya resepsionis dengan begitu lembut.
"Aku ingin bertemu Marco." Jawab Riska datar.
"Tapi, bu....."
"Katakan Nyonya Riska Christo ingin bertemu." Timpalnya dengan angkuh.
__ADS_1
"Maaf, nyonya... apa sebelumnya anda sudah membuat janji?" Tanya resepsionis dengan ramah.
"Kamu nggak dengar apa kata saya tadi? Katakan nyonya Christo ingin bertemu." Bentak Riska kesal.
"Maaf nyonya... siapapun anda itu bukan urusan kami. Setiap klien yang ingin bertemu dengan CEO, harus sudah membuat janji terlebih dahulu." Sergah resepsionis yang lain. Riska tak percaya jika ia akan disambut seperti ini. Bahkan para resepsionis ini tidak mengenal dirinya.
"Kurang ajar kalian, ya! Kalian cukup memberitahu nama saya, CEO kalian pasti mengenalnya." Tuntut Riska geram.
"Maaf, nyonya... kalau anda belum membuat janji, lebih baik anda kembali lagi besok. Kami akan membuat daftar tamu untuk anda.... Ini aturan perusahaan, nyonya." Resepsionis itu tetap pada pendiriannya berdasarkan peraturan perusahaan.
"Sial! Awas kalian!" Ancamnya dan hendak pergi dari sana.
"Nyonya Christo..." Suara seseorang memanggil nama Riska. Langkah kakinya terhenti.
"Raymond..." Lirih Riska senang.
"Ada keperluan apa anda di sini?" Tanya Raymond dengan datar. Riska yang awalnya senang melihat Raymond, menelan saliva melihat raut wajah Raymond yang kurang bersahabat.
"Saya mau bertemu Marco. Ada yang ingin saya bicarakan." Sahut Riska berusaha tidak gugup dengan menunjukkan keangkuhannya.
"Baik. Ikut saya!" Perintah Raymond.
Merekapun berjalan menuju lift untuk naik ke lantai 25. Riska ingin mengajak Raymond bicara namun melihat wajah laki-laki itu membuatnya tidak berani membuka mulut untuk bicara.
Sampai di lantai di 25, mereka disambut sekuriti yang bertugas di sana.
"Silahkan masuk. Tuan Marco sudah menunggu anda." Riska sedikit terkejut mendengar kalau Marco sudah menunggunya. Ia tidak menyadari jika tingkah lakunya dari lobi tadi diperhatikan oleh Marco dan Raymond melalui CCTV yang tersambung di laptop Raymond.
Riska masuk ke ruangan kerja Marco. Keberanian yang ia punya dari sebelum datang tiba-tiba hilang lenyap ketika melihat aura Marco yang mampu membuat ciut setiap lawan.
"Selamat siang, nyonya..." Suara bass Marco mengagetkan Riska yang masih dikuasai rasa gugup.
"Si-siang..." Sahutnya hampir tak terdengar. Marco tersenyum sinis melihat mantan calon mertuanya itu. "Silahkan duduk." Marco bangun dari kursi kebesarannya berjalan mendekati Riska. Ia pun ikut terduduk di soga tamu.
"Katakan... apa keperluan anda mencari saya?" Tanya Marco datar. Matanya memandang Riska tanpa kedip. Sejak kejadian di Malaysia, Marco benar-benar menjaga jarak bukan hanya pada Valencia saja tetapi kepada Riska dan Christo pun mendapat respon negatif dari Marco.
"Aku mau bicara soal Valencia." Ujar Riska memberanikan diri.
"hmmm... kenapa dengan kehamilannya?" Tanya Marco santai sambil melipat tangan di dada.
"Di mana hati nurani kamu? Di mana tanggung jawab kamu? Seenaknya kamu berbuat lalu Valencia yang menanggung malu sendirian." Tandas Riska sarkas. "Aku ke sini ingin meminta pertanggungjawabanmu pada Valencia." Riska mulai menaikkan nada suaranya. Marco masih terdiam. Segurat senyum sinis tak telihat di wajah tampan itu.
"Kenapa diam? Kamu tidak bisa menyangkal darah dagingmu, kan?" Cibir Riska di atas angin. Marco menurunkan tangan dan menaruhnya di atas kedua paha.
"Aku bukan laki-laki yang gampang meniduri sembarang perempuan. Bahkan enam tahun bersama Valencia tak ada sedikit pun niat meniduri putrimu. Bahkan jika Val meminta pun aku tak sudi menidurinya." Ujar Marco pelan namun penuh penekanan. "Apa menurutmu aku akan menidurinya saat aku sudah mempunyai istri yang sangat kucintai?" Sambungnya dengan kata-kata yang menusuk jantung. "Kau ingin tau sesuatu?" Tanya Marco dengan wajah garang. Riska menelan saliva tak bisa mengeluarkan satu patah kata. "Aku hanya mencintai istriku dan hanya padanya aku menyerahkan seluruh jiwa ragaku." Marco menyandarkan punggung pada sandaran kursi. "Lebih baik kau pulang dan tanyakan pada putri kesayanganmu itu apa yang sudah ia perbuat hingga membuatnya harus hamil." Marco berdiri lalu kembali duduk di kursi kerjanya. Raymond yang dari tadi menyaksikan, mendekati Riska yang masih terdiam dan pucat.
__ADS_1
"Silahkan nyonya... pintu keluar di sana." Raymond menunjuk arah pintu meminta Riska untuk keluar. Dengan wajah memerah karena malu, Riska pun keluar tanpa pamit.