Cukup Di Hati Saja

Cukup Di Hati Saja
Rahasia Masa Lalu Riska.


__ADS_3

Seminggu sudah Rama menjalani rumah tangga bersama Valencia. Sikap istrinya pun masih sama seperti awal mereka bertemu, kasar dan jutek. Namun, selama seminggu ini ternyata Christo terus memantau hubungan anak dan menantunya. Ada rasa haru dalam hati ketika melihat balasan Rama pada sikap kasar Valencia. Laki-laki muda nan tampan itu selalu membalas dengan senyuman bahkan sekali-kali ia membalas dengan menggoda Valencia. Tak ada sedikit pun raut wajah marah atau emosi melihat tingkah istrinya.


"Kamu masih betah di GT Corp?" Tanya Christo saat mereka makan pagi bersama. Valencia dan Riska pun ada bersama-sama menikmati sarapan.


"Masih, pa. Masih banyak yang harus aku belajar dari tuan Marco. Apalagi ia sangat baik mau menerimaku di perusahaan wahid seperti GT Corp." Sahut Rama sopan.


"Ya, pastilah... itu karena dia kasihan sana gembel kayak kamu. Apalagi kamu sudah membantunya untuk menghamili Val." Ketus Riska membalas ucapan Rama. Christo dan Rama saling menatap. Christo tahu, walaupun Rama tersenyum, namun hatinya pasti sakit mendengar hinaan mertuanya.


"Jangan pernah papa masukkan laki-laki miskin ini ke perusahaan kita ya, pa. Mama nggak mau!" Sambung Riska lagi. Valencia tersenyum sinis melihat wajah Rama yang memerah entah karena malu atau marah.


"Pa... aku sudah selesai. Aku pamit." Tanpa melihat Riska dan Valencia, Rama pergi meninggalkan ruang makan. Riska mendengus sinis melihat Rama yang berusaha menahan diri tidak terpancing dengan ucapan kasarnya.


"Dasar miskin... baru jadi asisten saja udah belagak kayak pemilik perusahaan." Cibir Riska.


Prang.


Riska dan Valencia tersentak kaget mendengar bunyi dentingan sendok dan piring. Ternyata Christo sudah tak bisa menahan amarah melihat betapa sinisnya Riska pada sang menantu.


"Kamu benar-benar lupa diri, Riska. Kamu tidak pernah bercermin dan melihat siapa diri kamu yang sebenarnya." Sembur Christo meradang. "Apa aku perlu mengingatkan siapa kamu sebenarnya dan dari mana kamu berasal? Supaya terbuka hati nuranimu dan sedikit hilang congkak yang selama ini bersarang di hatimu." Kali ini Christo benar-benar ingin memberi pelajaran pada istrinya demi menyelamatkan rumah tangga Rama dan Valencia. Jika dibiarkan, Christo takut Rama akan pergi meninggalkan Valencia dan ia yakin itu akan menjadi hal paling buruk dalam hidup putrinya. Namun, sayang... Valencia belum menyadari hal itu. Ia masih dengan bodohnya mengikuti tingkah dan cara congkak Riska untuk mengusir Rama. Alasannya hanya satu. Rama bukan kalangan atas. Rama hanya seorang pemuda miskin yang mau dibayar berapa saja asal mendapat uang untuk makan.


"Dan kamu..." Tunjuknya pada Valencia. "Berulang kali papa ingatkan bersyukurlah... karena ada laki-laki baik yang mau bertanggung jawab atas anak dalam kandunganmu. Jika tidak, kamu akan menyesal seumur hidupmu." Tukas Christo mengingatkan.


"Papa itu seharusnya bisa melihat kalau anak kita nggak bahagia hidup sama laki-laki miskin itu. Bukannya papa malah mengungkit masa lalu mama. Apa dia lebih penting dari mama?" Jerit Riska yang merasa tersinggung dengan ucapan suaminya.


"Apa yang membuat Valencia harus tidak bahagia? Bukankah ini hasil dari perbuatannya sendiri? Atau jangan-jangan kamu yang mengajari Valencia untuk melakukan hal bodoh ini sama seperti yang kamu lakukan dulu padaku?"


Duuuuuar!


Kaki Valencia terasa lemas. Tanpa penjelasan lanjutan dari papanya, ia sudah mengetahui dan mengerti spa maksud ucapan Christo. Dengan cepat ia memegang meja untuk menahan tubuh agar tidak terjatuh. Riska dengan segera memeluk tubuh lemah Valencia dan mengajaknya untuk duduk.

__ADS_1


"Tarik napas, nak... tarik napas. Ingat bayimu." Bisik Riska berusaha membuat Valencia tenang. Ia mengelus lembut pundak Valencia guna menenangkan Valencia agar tak terjadi apa-apa dengan bayinya.


"Benar apa yang papa katakan?" Tanya Valencia sambil menatap nyalang pada Riska. "Benar apa yang papa katakan, ma? Benar kalau apa yang aku lakukan pada Marco dan Rama itu juga pernah mama perbuat pada papa? Apa karena itu berhasil jadi mama menyarankan aku untuk melakukan hal keji itu?" Teriak Valencia tepat di wajah Riska. Riska pun menegang. Tak menyangka jika apa yang ia lakukan pada masa lampau akhirnya terbuka dan berdampak pada anak kandungnya. Padahal, ia dan Christo sudah berjanji tidak akan mengungkit hal itu dalam perkawinan mereka setelah Christo sudah membuka hati untuk menerima Riska.


"Maafkan, mama... tapi... mama..." Entah apa yang mau ia katakan. Semua kalimatnya terdengar ambigu.


"Aku kira itu masa lalu yang bisa kamu jadikan pengalaman buruk dalam hidupmu. Ternyata yang busuk itu justru kamu ajarkan kembali pada putrimu." Sindir Christo dengan datar.


"Tapi ada hal yang perlu kita syukuri..." Christo sedikit menjeda ucapannya. Ia menatap sendu wajah Valencia yang sudah dipenuhi airmata. "Kita bersyukur karena kamu mendapatkan seorang Rama. Laki-laki miskin tapi dengan gentlenya datang dan mengaku bahkan mau bertanggung jawab atas perbuatan bodoh yang kamu sendiri lakukan." Valencia menunduk dan menangis sejadi-jadinya. Ia tak menyangka jika ia adalah anak yang sebenarnya tak diinginkan kehadirannya, tetapi karena kelicikan Riska, ibu kandungnya maka ia ada di dunia. Beruntungnya, papa Christo mau bertanggung jawab walaupun tak ada cinta pada pernikahan mereka. Jika dilihat dari cerita masa lalunya, nasib Rama sama seperti Christo. Menikah dengan perempuan yang menjebak mereka walaupun bukan Rama yang menjadi sasaran Valencia, namun akhirnya laki-laki itu yang terperangkap dalam permainan Valencia.


"Kamu sudah pahamkan maksud papa?" Tanya Christo mulai merendahkan volume suaranya. "Silahkan berpikir sendiri kenapa papa memaksamu menikah dengan laki-laki miskin itu." Christo mendekat dan mengelus kepala Valencia yang terus tertunduk dan menangis. "Bersikaplah dewasa. Persiapkan diri untuk menjadi ibu yang baik untuk anakmu. Tunjukkan padanya jalan yang baik dan lurus. Apa yang terjadi di masa lalumu, jadikan itu pelajaran untuk mendidik anakmu." Tutur Christo menasihati.


Mendengar ucapan sang ayah, Valencia semakin terisak. Ia memegang perut besarnya seakan meminta pengampunan pada bayi yang dihasilkan dari menjebak seseorang. Bayangan Rama pun terlintas di pikirannya.


Ya, Tuhan... Ampuni hamba. Terimakasih, sudah menghadirkan laki-laki baik untuk mendampingi hamba. Lirihnya dalam hati.


Tanpa peduli pada Riska, Christo mengambil tas kerja dan segera melangkah ke luar rumah. Ia sudah ditunggui sopir dari dua jam yang lalu.


Sedangkan Riska yang masih marah mengingat cerita sang ayah bangun dari duduknya dan berjalan menuju kamar.


"Val... mama mau bicara." Suara Riska mencegah langkah kaki Valencia.


"Aku mau istrahat dulu, ma. Nanti saja kalau mama ingin bicara." Ia tak menunggu jawaban dari Riska dan langsung menaiki tangga menuju kamar pribadinya.


Valencia mengunci rapat pintu kamar dan bersandar di balik pintu. Matanya langsung menangkap koper pakaian milik Rama yang masih tergeletak begitu saja di samping lemari. Bantal dan selimut yang dipakai Rama untuk tidur pun tersusun rapi di atas sofa. Sekilas ia merasa malu pada diri sendiri mengingat cara liciknya yang hendak menjebak Marco namun Rama yang terjebak. Ia baru menyadari jikalau obsesinya terhadap Marco dahulu membuat ia kehilangan harga diri. Namun yang membuat Valencia tersadar adalah ucapan papa Christo mengenai masa lalu orangtuanya. Tak dipungkuri bahwa selama ini ia selalu mendengar dan mengikuti perintah Riska, ternyata cara licik yang sama yang digunakan oleh Riska untuk mendapatkan Christo.


Valencia menarik napas panjang dan membuangnya dengan kasar. Ia berjalan pelan ke arah tempat tidur dan segera membaringkan tubuh lelahnya. Ia mengelus perut buncitnya yang sebentar lagi akan melahirkan.


"Maafkan mama, nak..." Valencia tak mampu melanjutkan kata-katanya. Rasa bersalah, rasa malu, rasa marah semua bercampur menjadi satu. Dan akhirnya, ia harus kembali menangisi kebodohan yang sudah ia lakukan. Hingga ia terlelap dalam mimpi.

__ADS_1


"Kalau kamu ingin mendapatkan Marco, kamu harus mengikuti cara mama. Mama yakin Marco nggak akan lari lagi dari kamu. Kamu jebak Marco dengan obat perangsang ini. Ajak ia makan siang dan taruh obat ini di dalam gelas minumnya. Lalu bawa dia ke hotel. Jika kamu hamil, tuntut dia untuk bertanggung jawab. Persetan dengan istrinya, yang penting kamu ambil kembali Marco ke dalam hidupmu dan kuasailah hartanya. Kamu akan menjadi nyonya Guatalla, wanita terkaya di negeri ini. Kamu akan dihargai dan disegani orang dengan titel barumu itu. Dengan banyak harta, semua keinginanmu akan terwujud. Kamu bisa bersaing dengan istri-istri rekan kerja Marco."


Nasihat dan ajaran Riska terus terngiang dan tergambar jelas dalam mimpi Valencia. Ia tertidur beberapa jam hingga terdengar bunyi ketukan pintu yang cukup keras dan mengganggu tidurnya.


Tok... tok... tok...


"Valencia... buka pintunya, nak. Kenapa kamu mengunci pintu? Kamu nggak apa-apa kan?" Suara kuatir Riska berhasil membangunkan Valencia dari mimpinya. Dengan mendengus kesal, ia turun dari tempat tidur dan membuka pintu kamar.


"Ada apa sih, ma? Kenapa ketuk pintunya kasar sekali?" Umpat Valencia kesal. Riska tak menjawab. Ia memeluk Valencia dengan senang karena melihat putrinya itu dalam keadaan baik-baik saja.


"Alhamdulillah... kamu baik-baik saja." Ucap Riska sambil mengelus pipi Valencia. Wanita hamil itu mengerutkan kening tak mengerti. Ia menjauhkan tangab Riska dari tubuhnya.


"Memangnya aku kenapa?" Tanya Valencia heran.


"Kamu masuk kamar dari pagi sampai hampir sore ini nggak keluar-keluar, Val. Kamu juga melewatkan jam makan siang. Mama kan jadi kuatir." Tandas Riska perhatian. Valencia tersenyum sinis.


"Memangnya menurut mama apa yang aku lakukan? Bunuh diri? Gantung diri? Atau melompat dari balkon kamar ke bawah?" Tanya Valencia menyindir.


"Yaaaa... bisa saja kan kamu lakukan itu. Apalagi kamu lagi kesal sedari pagi tadi." Sahut Riska menunjukkan rasa kuatir pada putri tunggalnya.


"Aku sudah pernah melakukan hal yang bodoh, ma... hingga aku kehilangan harga diri sebagai seorang perempuan. Aku nggak akan melakukan hal bodoh lain lagi hingga aku harus kehilangan nyawa bahkan kehilangan nyawa anakku." Sindir Icha ketus. Riska sedikit kaget mendengar sindiran Valencia.


"Mama keluar dulu aja. Aku mau sendiri di kamar." Valencia mengusir Riska dengan halus.


"Kamu marah sama mama? Marah karena mendengar cerita papa tentang masa lalu mama?" Riska sedikit menaikkan nada suaranya. "Ya, mama memang menjebak papa persis seperti yang kamu lakukan pada Marco, bedanya mama mengenai sasaran sedangkan kamu malah salah sasaran karena ketelodoranmu sendiri. Mama lakukan itu semua karena mama mencintai papa." Akhirnya Riska mengaku perbuatan masa lalunya.


"Lalu kenapa mama harus menyuruhku untuk menjebak Marco?" Tanya Valencia mulai marah.


"Ya karna mama mau kamu menikah dengan dia, bukan malah laki-laki miskin itu." Sanggah Riska cepat. "Lagian kamu juga sudah dewasa, bisa saja kamu menolak ajakan mama, kan? Tapi karena kamu mencintai Marco, makanya mama menyuruh kamu melakukan hal itu. Dasar kamunya aja yang ceroboh." Dengan kesal Riska keluar kamar dan membanting pintu dengan keras. Valencia hanya menutup mata menahan segala rasa di hati.

__ADS_1


__ADS_2