
Dena dan beberapa karyawan yang mencibir Icha, bahkan menebarkan gosip tentang pemecatan Icha sudah berdiri di hadapan Marco. Tidak ada yang berani melihat ke arah Marco. Semua tertunduk ketakutan.
Raymond tetap setia berdiri di belakang tuannya ikut mengintimidasi.
"Apakah perusahaan membayar kalian untuk mencibir dan menggosip sesama karyawan?" Suara berat Marco terdengar sangat menyeramkan di telinga membuat mereka semakin menundukkan kepala. "Saya yang memberi izin pada Marissa untuk pulang ke kota asalnya. Maka sekarang tidak ada yang perlu diperdebatkan ketika ia sudah kembali bekerja." Lanjut Marco menjelaskan. "Saya yang tidak memberitahukan ke bagian HRD, karena itu mereka mengeluarkan surat pemberhentian menjadi karyawan pada Marissa, sesuai dengan prosedur aturan perusahaan. Jadi, Ini hanya sedikit kesalahpahaman, lalu mengapa kalian membuat berita yang sangat menghebohkan?" Tandas Marco mulai meninggikan suara. Semua terdiam tanpa suara. "Dan kamu... " Marco menunjuk ke arah seorang wanita. "Siapa nama kamu?" Mereka saling memandang, melihat arah telunjuk Marco. Gadis yang merasa ditunjuk melihat Marco dengan wajah yang pucat.
"Te-Tessa, tuan." Jawabnya terbata-bata.
"Kamu yang tadi pagi satu lift dengan Marissa?" Tanya Marco.
"I-i-iya, tuan... " Jawab Tessa ketakutan. Wajahnya terlihat sangat pucat. Setelah menjawab pertanyaan Marco, ia kembali menunduk.
"Ada masalah apa kamu dengannya?" Marco bertanya sambil duduk memangku kaki. Tessa bingung tak tahu harus menjawab apa. Karena jujur, ia tidak paham akan pertanyaan itu. Marco menyadari bahwa Tessa tidak mengerti apa yang ia tanyakan.
"Ada masalah apa kamu dengan Marissa, sehingga kamu begitu sinis padanya? Seakan-akan Marissa pernah berbuat sesuatu yang salah terhadap kamu." Cercah Marco murka. Ia mendapat informasi ini dari Raymond. Jangan bertanya dari mana Raymond mengetahui hal itu. Ia paling tahu semua yang terjadi di perusahaan ini dari pada Marco.
"Tidak ada, tuan. Sa-saya hanya bertanya untuk apa dia kembali, ka-karena dia sud-ah dipe-cat, tuan." Jawab Tessa sedikit takut mengucapkan kata terakhir. Marco menaikkan alis kirinya. Napasnya mulai tidak teratur.
"Lalu kamu mulai menyebarkan fitnah tentangnya?" berang Marco.
"Ma.. maaf, tuan. Saya berjanji tidak akan melakukan ini lagi." Mohon Tessa dengan suara serak. Matanya mulai berkaca-kaca.
Tok... tok... tok...
Terdengar suara ketukan pintu. Tanpa disuruh masuk, Icha sudah muncul di balik pintu. Ia maju mendekat pada Marco sambil menatap beberapa karyawan yang menunduk lesu. Icha bingung apa yang terjadi. Tetapi, ia sedikit terkejut saat melihat Tessa, wanita yang satu lift dengannya pagi tadi.
Marco melirik pada Raymond. Raymond mengendikkan bahu tak menyangka Icha akan masuk dan melihat kejadian ini. Bukannya apa-apa. Tetapi, pasti Icha akan melarang Marco untuk bertindak keras pada orang-orang yang sudah membuat kekasihnya menjadi bahan cibiran semua karyawan.
Maka dari itu, Marco tidak memberi tahu Icha akan memanggil karyawan yang sudah membuat onar dan bergosip tentang dirinya. Raymond pun dengan lihai sengaja menyuruh Icha mencari referensi buku design grafik dalam lemari di kamar privasinya, agar Icha tidak menyadari kedatangan orang-orang pembuat onar ini.
"Tuan... Maaf, mengganggu. Saya hanya mengingatkan setengah jam lagi anda harus menemui klien di restoran xx." Ucap Icha mengingatkan Marco. Ia selalu bersikap profesional ketika berbicara dengan Marco di depan karyawan atau di depan orang banyak.
Marco menarik napas panjang. Amarah yang awalnya sudah hampir meledak, menguap begitu saja. Wajah kekasihnya benar-benar membuatnya tenang.
"Ray... Ini referensi design grafik yang kamu minta." Icha menyerahkan buku yang tebal. Ia memandang Raymond meminta jawaban dari apa yang ia lihat saat ini.
__ADS_1
Raymond menerima buku itu dan sengaja membukanya.
"Kalian boleh kembali bekerja." Ketus Marco. Tessa dan karyawan lainnya saling memandang tak percaya melihat Marco yang tiba-tiba berbeda.
"Jangan senang dulu... Raymond akan mengurus uang kompensasi kalian. Setelah itu, kalian boleh angkat kaki dari sini." Pungkas Marco datar membuat mereka tersentak. "Perusahaan ini tidak membutuhkan karyawan seperti kalian." Lanjutnya berang. Ia mengusir mereka dengan memgibaskan tangan. Tanpa berani protes, mereka segera keluar dari ruangan Marco.
"Ray... kamu ke restoran xx dan temui Reynal. Katakan padanya aku akan sedikit terlambat ke sana." Perintah Marco. Raymond mengangguk patuh dan segera melaksanakan perintah tuannya. Ya... Reynal, CEO muda PT Persada Nusa yang pernah hampir dibuat bangkrut oleh Marco karena sudah berani menatap Icha dengan liar saat itu. Tetapi, karena nasehat Icha, maka Marco membatalkan niatnya. Namun, jika sekali lagi terjadi hal yang sama, maka Marco akan langsung membuat ia jatuh tanpa sepengetahuan Icha.
"Ada apa?" Tanya Marco pada Icha setelah Raymond keluar. "Kenapa menatapku seperti itu?" Marco mendekati gadisnya itu.
"Kamu nggak akan pecat mereka, kan?" Tanya Icha curiga. Ia paham apa yang sudah terjadi setelah melihat Tessa, seorang karyawan yang sangat sinis padanya sewaktu mereka di dalam lift kantor.
Marco tersenyum simpul.
"Menurutmu?" Ia balik bertanya sambil memeluk Icha dari belakang. "Kali ini nggak akan ada pengasihan. Mereka harus diberi pelajaran." Tegas Marco dan langsung membenamkan wajahnya pada ceruk leher Icha.
"Sayang..." Panggil Icha lembut. "Apa yang sudah mereka perbuat?" Tanya Icha ingin tahu.
"Ada yang menyebar fitnah tentang pemecatan kamu." Jelas Marco. "Dan aku nggak suka." lanjutnya. "Aku harus memberi pelajaran."
"Kenapa? Kamu mau aku nggak memecat mereka setelah apa yang sudah mereka perbuat padamu?" Tandas Marco. Ia sudah tahu Icha pasti tidak akan membiarkan Marco memecat karyawannya jika kesalahan yang dibuat masih bisa dimakhlumi.
"Jangan pecat mereka, sayang. Lagian aku juga salah karena meninggalkan pekerjaan tanpa ada berita." Pinta Icha dengan suara pelan. Ia membalikkan badan menghadap Marco.
"Maafkan mereka. Biarkan ini menjadi pelajaran untuk mereka agar bisa lebih baik ke depannya." Ujar Icha lembut seperti biasa. Dan lagi-lagi Marco harus terpana bukan hanya pada kecantikan wajahnya tetapi lebih kepada kecantikan hatinya. Ia tersenyum manis pada calon istrinya.
"Aku tidak akan memecat mereka. Aku hanya menggertak agar mereka ketakutan dan tidak memgulanginya lagi." Sahut Marco sambil menyisihkan rambut Icha ke belakang telinga. "Aku tau kamu nggak akan setuju jika aku memecat karyawan, maka dari itu aku hanya sengaja mengancam mereka." Lanjut Marco membuat Icha tersenyum lega.
"Makasih, sayang..." Bisik Icha senang. Ia berjinjit dan mengecup bibir Marco. "Sekarang ayo ke restoran xx, tuan Reynal pasti sudah menunggumu." Ajak Icha segera melepaskan pelukan Marco. Laki-laki itu berdesis malas.
"Dia bukan mau menemuiku, sayaaaang." Tandas Marco ketus. Ia membuka jasnya, membuang ke sofa dan terduduk malas.
"Maksudnya?" Tanya Icha tidak mengerti. Marco meliriknya kesal.
"Dia sengaja mau menemuimu." Tuduh Marco sedikit emosi. "Kamu lupa dulu gimana matanya menatapmu liar." Rasa cemburunya kembali muncul mengingat kejadian itu.
__ADS_1
Icha tersenyum geli mendengar penuturan Marco. Ternyata, bayangan itu masih sangat melekat dalam ingatannya.
"Aku sudah mengirim pesan pada Raymond. Biar Ray yang mengatasinya." Lanjut Marco. Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.
"Ya sudah... aku pesan makanan untuk kita, ya." Icha segera mengambil hapenya dan mengetik sesuatu. Ia tidak ingin memaksa Marco untuk menemui Reynal.
"Sayang... " Panggil Marco lembut. Icha meletakkan hapenya dan melihat ke arah Marco. Gadis itu langsung duduk di samping Marco dan memeluk lengannya erat.
"Ada apa?" Tanyanya lembut.
"Kamu pindah ke apartemen, ya. Aku punya apartemen tidak jauh jaraknya dari kantor." Tandas Marco. Icha terperangah.
"Di sana akan lebih aman buat kamu." Lanjut Marco.
"Kok pindah? Aku sudah nyaman tinggal di kost itu. Lagian aku kan sama Wulan, sayang... " Tolak Icha atas penawaran Marco. Marco menoleh ke arah Icha.
"Aku sedang tidak memberimu penawaran, sayang. Aku sedang memberimu perintah untuk pindah ke apartemen yang lebih aman buat kamu." Tegas Marco tak ingin dibantah. Icha terdiam. Ia melepaskan tangan dari lengan Marco dengan kesal.
Marco tertawa kecil melihat wajah kesal Icha. Namun, itu tidak bisa merubah keputusannya.
"Wulan akan tinggal bersama kamu. Bila perlu kamu boleh mengajak Arin juga untuk tinggal di sana." Ucapan Marco tidak membuat Wulan tersenyum. Ada sesuatu yang menjadi ganjalan di hatinya. Sampai saat ini, ia belum pernah bertemu dengan orangtua Marco. Jujur, Icha sedikit ragu dengan rencana pernikahan mereka. Marco seperti tidak terlalu peduli pada orangtuanya yang kini menetap di Amerika. Apakah orangtua Marco akan setuju dengan hubungan mereka? Kenapa setiap kali mengingat calon mertuanya hatinya sedikit terpukul? Bagaimana kalau orangtuanya tidak setuju dengan hubungan mereka dan mengusir Icha dari apartemen Marco? Lalu, Wulan dan Arin akan kena dampaknya. Tanpa sadar Icha menggelengkan kepalanya.
"Ada apa?" Tanya Marco ketika melihat Icha melamun. Icha terkesiap. Ia memandang Marco.
"Aku minta maaf... sepertinya kali ini aku nggak bisa menuruti perintahmu." Sahut Icha serius. Marco mengerutkan keningnya. "Aku akan tetap tinggal di kost dengan Wulan." Lanjutnya pelan. Ia berusaha membuat Marco mau mengerti keputusannya.
"Kenapa?" Tanya Marco datar. Ia menatap tajam mata Icha.
"Bukannya apa-apa, sayang. Aku hanya nggak enak sama Wulan. Dia pasti nggak mau pindah ke apartemen."Jelas Icha dengan sabar. Ia tak ingin Marco tersinggung dan marah.
Namun, Icha salah. Nyatanya, Marco bisa menebak ada sesuatu yang mengganggu pikiran Icha sedari tadi. Tetapi, Marco tak ingin memaksakan kehendaknya, walaupun ia sangat ingin Icha pindah ke apartemen agar lebih nyaman dan aman.
"Baiklah... aku tidak memaksa. Asal kamu nyaman, dimana pun kamu tinggal, aku akan selalu ada untukmu." Ucap Marco sambil memeluk Icha. "Sebentar lagi kita akan tinggal bersama. Aku tidak sabar menanti waktu itu datang." Bisiknya menggoda. Ia hendak mengecup bibir cantik Icha ketika terdengar suara pintu diketuk. Marco mendesis kesal. Icha tertawa geli mengejek pria tampan pengisi hatinya.
"Tuan... ini makan siang anda dan nona." Seorang OB meletakkan pesanan makan siang Marco dan Icha.
__ADS_1
"hmmm." Marco hanya berdeham kesal.