Cukup Di Hati Saja

Cukup Di Hati Saja
Raymond


__ADS_3

Mama Tanti memeluk erat putri semata mayangnya yang harus kembali ke Jakarta. Icha harus kembali ke kota di mana ia dan suami akan membangun rumah tangga bersama.


"Layani suamimu dengan baik, nak. Jangan ngedumel, ya." Nasihat mama Tanti. Icha mengangguk cepat. "Mama harap, kamu segera memberi mama dan papa cucu." Bisik mama membuat Icha malu.


"Doain Icha ya, ma... supaya bisa cepat mengabulkan keinginan mama tadi." Ia pun mengaminkan keinginan mama.


Ia beralih memeluk papanya. Cinta pertama dalam hidupnya.


"Semoga bahagia dan sehat selalu." Itu doa papa Rendra. "Jadi istri yang mengabdi pada suami dengan hati yang tulus." Lanjut papa tenang. Icha mengangguk. Matanya pun mulai berkaca-kaca.


Marco juga memeluk papa mertuanya. Ia mengucapkan terimakasih karena sudah menerimanya dan memberikan restu pada mereka.


"Tidak perlu berterimakasih, nak. Kebahagiaan Marissa adalah kebahagiaan kami. Jaga dia dengan cinta dan jiwamu. Itu sudah membuat hidup kami tenang." Tegas papa Rendra. "Satu lagi... "Sambung papa berbisik ke telinga Marco. "Beri papa dan mama cucu yang banyak dan jangan terlalu membuat anak papa teriak-teriak seperti kemarin." Papa Rendra masih juga sempat menggoda menantunnya.


"Anak papa itu yang keras kepala." Sahut Marco tersenyum usil.


Mama dan Icha mengerutkan kening melihat perdebatan kecil papa dan menantu.


"Ada apa sih? Kayak seru banget." Tanya mama penasaran. Papa Rendra dan menantu tidak menjawab, mereka hanya tersenyum penuh arti.


Marco menggandeng tangan Icha dan mengajaknya keluar rumah di mana sebuah mobil mewah lengkap dengan sopir sudah menunggu di halaman depan. Semua barang pun sudah berada di atas mobil. Tidak banyak yang Icha bawa, karena Marco melarang membawa semua pakaiannya. Segala keperluan Icha sudah disiapkan di mansion utama.


Raymond yang stand by di Jakarta tetap memperhatikan semua keperluan tuannya. Ia juga yang memerintah anak buahnya untuk mempersiapkan mobil dan sopir untuk memgantar kembali Marco dan Icha ke Jakarta.


"Papa, mama... Icha berangkat." Sebelum masuk dalam mobil, lagi-lagi drama sedih terjadi. Icha memeluk kedua orangtuanya dan pamit sekali lagi. "Sering-sering berkabar ke Icha, ya." Pintanya dengan wajah sendu.


Sopir dengan sigap hendak membuka pintu mobil tetapi dilarang oleh Marco. Ia membuka sendiri pintu, menuntun Icha masuk.Dan membuka pintu sebelahnya dan ikut masuk ke dalam. Sopir tersenyum kaku. Ia tidak menyangka, selama ini ia mengabdi pada tuan yang begitu rendah hati dan sederhana.


Banyak anak buah yang belum mengenal Marco. Mereka lebih mengenal Raymond, karena semua perintah yang harus mereka kerjakan, diberikan oleh Raymond. Mereka tahu bahwa Raymond adalah tangan kanan tuan mereka.

__ADS_1


"Siapa nama kamu?" Suara datar Marco mulai terdengar.


"Sa-saya, tuan?" Ia balik bertanya dengan gugup, karena tidak percaya Marco mau bicara padanya. "Sa-saya Anton, tuan." Jawabnya dengan hormat.


"Kamu asal sini?" Tanya Marco lagi.


"Iya, tuan... saya asal dari daerah ini." Sahutnya tetapi tetap fokus menyetir.


Marco terdiam. Seperti biasa, Ia menarik pinggang Icha agar menempel ke tubuhnya. Icha bersandar santai di dadanya.


"Mobilnya dari mana, sayang? Kok tiba-tiba ada?" Tanya Icha yang juga penasaran dari pagi tadi sewaktu melihat mobil sudah terparkir manis di depan rumahnya. Ia tetap bersandar di dada Marco dan hanya mengangkat kepala melihat suaminya.


Sebelum menjawab terlebih dahulu Marco mengecup kening Icha. Sekarang sudah menjadi hobi barunya mengecup kening dan kepala Icha.


"Dari Raymond. Dia punya banyak anak buah di sini." Jawab Marco dan membuat Icha mengerutkan keningnya. "Kenapa? Nggak percaya?" Marco melihat kening Icha berkerut tanda tak percaya. "Raymond itu mempunyai anak buah hampir di setiap daerah di mana aku datang untuk bertemu klien. Termasuk di sini. Mungkin di sini paling banyak karena ada kamu." Terang Marco semakin membuat Icja penasaran.


"Kok bisa?" Ia sampai menjauhkan badannya dan menoleh ke arah Marco. Marco tersenyum usil pada istrinya.


"Kenal, tuan." Sahut Anton ikutan tersenyum melihat istri tuannya yang masih penasaran.


"Hah? Kenal aku? Kok bisa?" Icha semakon dibuat bingung oleh suami dan sopirnya.


"Kasih tau, Anton." Perintah Marco. Anton mengangguk dan melihat ke arah Icja melalui spion depan.


"Dulu... waktu nona masih SMA, kami yang menjaga nona dari jauh. Kami yang setiap hari memantau pergerekan nona, dengan siapa saja nona bergaul. Apalagi kalo ada laki-laki yang mendekati nona, kami yang mengancamnya untuk menjauhi nona." Jelas Anton panjang lebar membuat Icha ternganga. Ia sama sekali tidak menyadari selama ini ada yang menjaga dan memantaunya dari jauh.


"Untuk apa menjaga aku? Apalagi memantau." Tanyanya heran.


"Karena anda milik tuan kami, nona." Jawab Anton dan sempat melirik sebentar ke Marco. Icha pun ikut menoleh ke arah Marco, meminta penjelasan lebih detail. Karena jujur, Ia masih bingung.

__ADS_1


Marco tersenyum usil sengaja membuat Icha semakin penasaran.


"Apa sih, yaaang?" Rengek Icha penasaran. Ia menjatuhkan tubuhnya ke dada Marco. "Kamu sengaja ya buat aku penasaran?" Sungutnya kesal.


Marco tertawa geli melihat kekesalan Icha. Ia memeluk Icha erat, mengecup keningnya dan mulai bercerita.


"Dulu... waktu aku dihukum kakek untuk datang ke kota ini dan menjadi guru di sekolah kamu, aku marah pada kakek. Aku berpikir kakek sudah nggak sayang sama aku. Aku datang ke sini dengan marah. Bahkan kamu bisa lihat sendiri dan merasakan dalam kelas bagaimana dinginnya aku." Marco mulai mengisahkan perjalanan awal ia mengenal cintanya. "Tetapi, semua berubah ketika aku bertemu kamu pertama kalinya dalam kelas. Kamu merubah semua kemarahanku menjadi kebahagiaan." Lanjut Marco tenang. "Awalnya aku marah dan tidak suka datang ke tempat ini, setelah melihat kamu malah membuat aku jadi ingin terus berada di kota ini. Namun.... " Marco menjeda sebentar. "Karena aku masih bertunangan dengan Valencia, aku berusaha menolak perasaanku ke kamu. Bahkan, aku mengajak Valencia untuk segera menikah untuk membuktikan perasaan aku ke kamu itu salah. Tapi ternyata cinta kamu begitu kuat mengikatku. Aku tidak bisa lepas dari bayang-bayang kamu." Marco menarik napas panjang. Ia mengelus punggung Icha. "Raymond paling tahu apa yang aku rasakan. Ia melihat aku uring-uringan saat bekerja. Tanpa sepengetahuanku ia menyuruh anak buahnya mencaritau apa yang terjadi di sekolah. Ia juga menyiapkan mata-mata di sekolah." Marco mengecup lagi kepala Icha yang masih nyaman mendengarkan cerita Marco. "Setelah mengetahui semua tentang kamu, tentang keluarga kamu, ia memerintahkan beberapa mata-mata untuk memantau dan menjaga kamu. Semua anak buahnya disuruh menjaga calon nona muda mereka." Marco tersenyum menggoda Icha.


Istri cantiknya tersenyum menandakan ia mulai paham apa yang terjadi di belakangnya selama ini yang sama sekali tidak ia sadari.


"Trus Valencia?" Tanya Icha penasaran dengan mantan tunangan suaminya.


"Dia selalu mengulur waktu untuk menikah. Selalu saja ada alasan untuk menolak. Aku tau, dia masih sayang sama kariernya. Tapi, mau sampai kapan." Terang Marco serius. "Tapi, aku bersyukur... dengan alasan Val mengulur waktu ditambah komunikasi kami yang kurang baik, itu jadi alasan kuat aku meninggalkannya." Sambung Marco tersenyum pada Icha. "Sampai kamu kuliah di Jakarta juga, Raymond tau dan tetap memantau kamu."


"Sayang nggak tau aku kuliah di Jakarta?" Tanya Icha. Marco menggeleng.


"Aku nggak tau. Selama aku masih berhubungan dengan Valencia, Raymond nggak pernah memberitahu apa pun tentang kamu." Lanjut Marco bercerita. "Aku kaget waktu kamu mengikuti ujian kompetensi di perusahaan." Terangnya bersemangat. "Raymond juga selama ini tidak menyukai Valencia. Aku tau itu, tapi aku nggak marah karena pasti Raymond punya alasan sendiri untuk itu. Makanya, dia bersemangat sekali menjagamu, karena ia yakin kamu yang terbaik untuk aku."


"hmmmm... berarti kamu suka sama dari aku masih SMA dong?" Tanya Icha menggoda Marco. Marco tertawa.


"Emang kamu nggak?" Ledek Marco.


"Nggak.. " Sahut Icha sambil menyembunyikan wajahnya di dada Marco. Marco terus menggodanya membuat Icha manyun.


"Kamu ingat, waktu aku perintahkan kamu untuk membawa tugas kamu dan teman-teman sekelas kamu?" Tanya Marco. Icha mengangguk cepat. "Aku sengaja ingin menguji diri aku sendiri waktu itu bahwa aku tidak pernah punya rasa sama kamu." sambubg Marco. "Ternyata aku salah. Mulai dari itu malah wajah kamu terus menghantuiku."


"Enak aja... emang aku hantu!" Icha protes karena Marco menggunakan kata menghantui. Marco terbahak lucu. Anton pun diam-diam tersenyum geli.


Icha terus mendengarkan cerita sang suami sambil bersandar manja di dada Marco. Anton hanya menyimak sekali-kali mengintip sari spion depan. Ia tersenyum tipis melihat kemesraan tuan dan nona mudanya.

__ADS_1


"Sayang..." Marco merasa seperti tidak ada tanggapan apa-apa dari Icha selama ia melanjutkan bercerita. Ternyata, istrinya sudah tertidur pulas dalam dekapannya. Marco tertawa pelan. Ia membetulkan posisi Icha agar bisa tidur dengan nyaman.


Marco pun menyandarkan kepala ke sandaran kursi dan ikut tertidur pulas.


__ADS_2