
Pukul 10 malam waktunya tidur bagi insan Jakarta. Apalagi bagi mereka yang harus bekerja pada pagi esok harinya. Tetapi, tidak untuk Icha. Matanya belum mau diajak kompromi untuk terlelap. Ia berdiri di depan kamar kost dan menatap jauh ke depan. Hijau daun nan menyegarkan mata di sekitar kostan tidak membuat hatinya ikut segar. Dinginnya angin malam juga tidak bisa mengusik hati yang gundah gulana. Entahlah, tiba-tiba ia merasa gelisah. Ada ketakutan dalam hati yang membayangi hari-harinya.
Biasanya, orang akan merasa lega jikalau berbagi cerita atau berbagi gundah gulana pada teman, sahabat, orangtua atau siapapun yang bisa dipercaya agar beban sedikit berkurang. Tetapi, berbeda dengan Icha. Ia lebih suka bahkan merasa nyaman menyimpan cerita atau beban sendiri. Ia cukup menyimpan dalam hati dan mengikuti alur yang akan terjadi.
"Cha... " Suara Wulan dari belakang membuyarkan lamunan Icha. Ia menoleh ketika Wulan sudah berdiri di samping kirinya. Senyuman tulus terpampang di bibirnya.
"Belum tidur?" Tanya Icha.
"Baru selesai ngerjain kerjaan kantor. Rekap keuangan bulan ini. Kekasih kamu tuh udah ultimatum untuk segera diselesaikan." Sahut Wulan manyun pada Icha. Gadis ayu itu tertawa kecil. Wulan menoleh sekilas ke arah Icha. Dalam senyum itu tidak bisa menutupi segurat kesedihan di matanya. Wulan menarik napas panjang. Ia yang sudah lama menjalin hubungan persahabatan sangat memahami kondisi Icha dalam segala situasi. Ia tahu, saat ini ada beban berat yang membuat Icha gelisah. Sangat terlihat dari pandangan matanya.
"Ada apa?" Tanya Wulan pelan. Walaupun ia sudah mengetahui jawaban apa yang akan Icha berikan, ia tetap ingin bertanya. Siapa tahu hatinya mulai tergerak Icha untuk berbagi cerita.
"Nggak ada apa-apa." Sahut Icha seperti yang sudah diprediksi Wulan.
"Aku hanya ingin menikmati angin malam." Lanjutnya dengan suara pelan. Wulan hanya tersenyum miris. Sahabatnya belum mau bercerita dan berbagi rupanya. Ya, sudahlah.
"Aku berharap kamu bisa berbagi kalau ada beban yang mengganggu." Akhirnya Wulan buka suara. Selama ini ia tidak pernah memaksa Icha untuk bicara. "Jangan terlalu memikirkan masalah seorang diri, cha. Ada aku yang selalu mau mendengar cerita ataupun keluhan kamu." Pungkas Wulan mengingatkan sahabatnya. "Kita bisa berbagi bersama. Siapa tau kamu merasa sedikit lega setelah berbagi." Desak Wulan.
Icha mengangkat tinggi kepala berharap airmatanya tidak jadi menetes. Ia tidak ingin Wulan melihatnya menangis dan terlihat cengeng.
"Menangis aja, cha... jangan berusaha menjadi kuat padahal kamu sedang lemah. Menangis bukan satu hal yang memalukan."
Kata-kata Wulan berhasil membuat Icha terisak. Ia menangis tersedu-sedu. Wulan segera memeluk sahabatnya dan mengelus punggungnya untuk menenangkan Icha.
"Menangislah... itu akan membuat kamu sedikit lega." Gumam Wulan. Ia terus mengelus punggung Icha. Setelah Icha tenang, ia mengajak Icha masuk ke dalam kamar kost.
Wulan segera ke dapur, mengambil segelas air putih dan memberikan pada Icha. Mereka duduk berhadapan di atas tempat tidur setelah Icha menghabiskan segelas penuh air putih.
"Mau bercerita?" Tanya Wulan yang terdengar seperti menawarkan Icha untuk bercerita. Gadis manis itu mengangguk lemah. Ia merasa ikatan bebannya sedikit kendor melegakan dada setelah menangis cukup lama.
"Aku bingung mau cerita dari mana." Suara Icha terdengar.
"Senyaman Kamu aja mau cerita dari mana." Tandas Wulan. "Apa ini tentang pak Marco?" Tebak Wulan. Icha mengangguk.
Icha menghirup udara sebanyak satu tarikan napas dan membuang pelan.
__ADS_1
"Entahlah... aku merasa seperti akan terjadi sesuatu yang buruk pada hubungan kami." Icha mulai berurai. "Aku belum pernah bertemu orangtuanya. Ada sedikit ketakutan jika bicara tentang orangtua Marco." Icha menarik napas panjang sebelum lanjut bicara. "Entahlah... apa karena kami belum pernah bertemu atau memang hanya ketakutanku aja yang berlebihan."
Wulan mendengar cerita Icha dengan seksama. Ia mengangguk tanda mengerti semua ucapan Icha. Wulan juga paling paham sifatnya. Biasanya, kalau Icha sudah mulai gelisah tentang suatu hal, itu bisa saja akan menjadi sebuah kenyataan. Karena selama ini hal itu yang terjadi.
"Berdoa, cha... minta Allah menguatkan kamu. Kalau bisa halaukan semua rintangan dan halangan yang mengganggu hubungan kamu dan Pak Marco." Ucap Wulan memberi dukungan. Icha mengangguk sambil tertunduk.
Wulan mengajaknya tidur, karena sudah terlalu larut. Esok pagi akan ada banyak pekerjaan yang menanti.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pukul 07.40 dua sahabat dari zaman SMA itu memasuki lobi kantor. Tidak ada lagi tatapan sinis, tidak ada mata julid dan tidak ada bisikan gosip yang terlihat seperti saat Icha masuk setelah 3 minggu absen. Icha memyadari pasti itu karena kekuasaan Raymond yang menghilangkan segala bentuk kesinisan dan kejulidan.😁
Icha dan Wulan berpisah saat di dalam lift. Wulan ke lantai 16, sedangkan Icha ke lantai 25. Tiba di ruangan kerjanya, Icha segera mengeluarkan beberapa berkas yang harus diperiksa sebelum dibawa ke pimpinan. Tak lupa juga ia menghidupkan laptop.
Sembari menunggu laptop terbuka, ia masuk ke dalam ruangan privasi untuk membuat kopi latte kesukaannya. Ia juga biasa membuat kopi mocca kesukaan Marco.
"Aaaww... " Icha tersentak kaget saat ada tangan yang memeluk pinggang rampingnya. "Sayaaaaang... kebiasaan deh." Rutuknya kesal. "Ini ada air panas.. kalo tumpah tadi, gimana?" Icha benar-benar dibuat kesal oleh tingkah Marco. Laki-laki itu tidak membalas rutukan Icha. Ia asyik membenamkan wajah ke leher Icha dan menikmati harum tubuh kekasihnya.
Icha tidak bisa berbuat apa-apa lagi kalau sudah begini. Marco tidak akan melepaskan pelukannya sampai ia merasa puas.
"Mau sampai kapan begini sih, yaaang? Udah jam 8 lho. Kamu harus memeriksa banyak berkas dari divisi keuangan dan design grafik." Seloroh Icha lembut pada Marco. Pria tampan pemilik GT Corp masih bergeming, masih asyik dengan kegiatannya menyembunyikan wajah pada ceruk leher Icha.
"Kopiku mana?" Tanya Marco masih dalam posisi yang sama.
"Nih... baru mau buat." Tunjuk Icha pada sebuah gelas yang sudah terisi bubuk kopi tetapi belum terisi air hangat.
"Aku mencintaimu." Bisik Marco di telingan Icha sebelum melepaskan pelukannya, tetapi tidak mungkin ia melupakan satu kecupan sayang di pipi gadisnya. Icha tersenyum manis dan malu.
"Aku bawa ke ruangan kamu, ya." Ucap Icha sambil memegang nampan berisi 2 gelas minuman hangat dan keluar dari ruang privasinya, diikuti oleh Marco yang menutup pintu kamar itu.
"Marco... " Ada suara yang tidak asing terdengar memanggil namanya. Spontan Icha dan Marco menoleh ke arah suara itu.
"Mommy... " Marco termangu melihat mommy Sania ada di depan meja kerja Icha. Lebih tercengang lagi karena mommy Sania tidak sendiri. Ada Valencia di sampingnya yang sedang menatap sinis pada Icha. Icha salah tingkah. Tidak tahu apa yang harus diperbuat, tetapi ia berusaha bersikap tenang.
"Tuan... ini kopi anda. Saya akan mengantarkan ke ruangan anda." Ucap Icha memecahkan keheningan. Tanpa menunggu perintah Marco, ia masuk ke dalam ruangan Marco dan meletakkan kopi di atas meja tamu.
__ADS_1
Icha hendak membuka pintu dan keluar, tetapi tak sengaja ia mendengar percakapan di luar.
"Kapan mommy datang?" Tanya Marco dingin. Seakan-akan ia tidak akan kehadiran monmy Sania.
"Mommy sudah sampai dari semalam sama daddy kamu. Kami menginap di apertemen." Sahut mommy tersenyum senang melihat anaknya yang sudah lama tidak pernah menemui mereka di Amerika.
Icha yang berada di balik pintu segera keluar. Ia takut dikira menguping pembicaraan mereka. Tetapi, mendengar sapaan Marco pada perempuan baruh baya itu, ia yakin wanita cantik yang tidak muda lagi itu adalah ibu kandung Marco.
"Heh, kamu... bawakan mommy calon mertua saya air putih hangat, ya!" Perintah Valencia pada Icha dengan angkuh. Icha tidak menjawab, hanya menganggukkan kepala dan Segera mengambil air hangat untuk mama Sania. Marco menatap tajam pada mantan tunangannya itu.
"Mama ingin bicara padamu, nak." Ucap mama Sania. Ia menjatuhkan dirinya di atas sofa tamu setelah mereka masuk dalam ruang kerja Marco.
"Ini masih terlalu pagi, mom. Aku masih banyak pekerjaan." Marco langsung duduk di kursi kebesarannya dan menghidupkan laptop. Ia bahkan tidak terlihat senang dengan kehadiran ibu kandungnya, apalagi ada Valencia di situ.
"Kenapa kamu memutuskan pertunangan dengan Val?" Mama Sania bertanya tanpa peduli dengan penolakan putranya. "Kalian sudah lama menjalin hubungan." Lanjut mama Sania. "Pokoknya mama nggak mau tau, kamu harus menikah dengan Valencia."
Icha yang hendak masuk membawa air putih, terdiam di balik pintu ruang kerja Marco yang sedikit terbuka.
"Kata kakek, kamu jatuh cinta pada gadis lain." Semprot mama Sania lagi. "Apa yang kamu cari lagi, nak? Valencia sudah sangat sempurna untuk kamu." Wanita berusia sekitar 53 tahun itu berusaha meyakinkan Marco tentang gadis pilihan itu. "Mommy nggak mau ya kamu jatuh cinta pada wanita yang tidak jelas asal usulnya. Apalagi yang miskin yang hanya mengejar uang kamu." Sarkas mama Sania. "Daddy dan mommy akan mengurus pernikahan kalian minggu depan."
"Kamu tega banget sih, sayang. J*l*ng mana yang sudah merayu kamu?" Valencia pung ikut menyerang Marco. "Kamu lupa hubungan kita sudah berjalan hampir 6 tahun dan kita baik-baik aja. Tapi, setelah kamu mengenal j*l*ng itu, tiba-tiba kamu..."
Prang!!!!
Mama Sania dan Valencia terjingkrak kaget, saat Marco membanting sebuah asbak hiasan di atas mejanya. Matanya memerah menahan amarah. Valencia yang belum selesai berceloteh pun kaku terdiam.
"Marco.. apa yang kamu lakukan!?" Sentak mama Sania. "Hanya karena perempuan itu, kamu berani kasar seperti ini." Mama Sania berang atas sikap Marco.
"Aku lagi banyak pekerjaan, mommy... Lebih baik mommy mengajak Valencia pulang." Perintah Marco penuh penekanan. "Jangan sampai aku berbuat kasar pada kalian." Ucap Marco geram menahan amarah yang hampir saja meledak, jikalau ia tidak mengingat bahwa perempuan di hadapannya ini adalah ibu kandungnya sendiri.
"Kamu mengusir mommy?" Tanya mama Sania tidak percaya. "Mommy ingin kenal dengan perempuan yang sudah membuat kamu jadi kasar dan kurang ajar seperti ini." Tantang mama Sania. "Ingat, Marco... mommy hanya akan merestui kalau kamu menikah dengan Valencia." Ancamnya marah.
"Aku tidak membutuhkan restu darimu, mommy... " Ucap Marco membuat mama Sania membelalakkan matanya dan pergi meninggalkan Marco dengan marah diikuti Valencia.
Icha yang sedari tadi berdiri di balik pintu dengan nampan berisi segelas air putih, segera berlari masuk dalam ruang privasi sebelum mama Sania dan Valencia membuka pintu kasar.
__ADS_1
Ia bersandar di balik pintu menutup mata mengingat semua perkataan mama Sania, terlebih kata-kata Valencia. Ia menggelengkan kepala.
"Aku bukan j*l*ng." Lirihnya pedih.