
Marco memasuki ruangan dokter ketika ia diminta untuk membahas soal sakitnya Icha.
"Silahkan, tuan..." Dokter muda yang bernama Thalia mempersilahkan Marco untuk duduk. Marco menuruti dalam diam. Kusut wajah karena panik dan sembab karena menangis tidak mengurangi tampan wajah suami Marissa itu. Kemeja biru dibuka dua kancing atas dan lengan baju digulung sampai mendekati sikut yang dipakai dari kemarin pun terlihat lusuh.
"Begini, tuan... Sebenarnya, keadaan pasien tidak terlalu berbahaya walau pun tidak makan seharian, apalagi pasien masih mengonsumsi air putih. Pasien masih memiliki energi dari lemak dalam tubuhnya, tetapi tetap saja efeknya pasti lemah, pusing dan gangguan pencernaan." Marco mendengar dengan seksama. Hatinya terpukul karena mengetahui seharian Icha tidak menyentuh makanan. "Namun, yang saya lihat dari kondisi pasien, selain karena tidak mengonsumsi makanan, yang membuat ia semakin lemah dan kehilangan energi adalah tingkat stres yang tinggi. Itu bisa membuatnya semakin lemah dan imun tubuh menurun." Penjelasan dokter membuat Marco tertunduk. Ia duduk bersandar dan menyilang kaki di lutut.
"Sekarang bagaimana keadaannya?" Tanya Marco pelan. Aura dingin wajah tampan itu sangat terlihat. Dokter Thalia sampai menelan saliva mendengar suara bass Marco yang datar dan sangat serius. Maksud hati, ingin bisa lebih dekat dengan suami dari pasiennya ini langsung surut. Sepertinya ia bukan lelaki yang gampang didekati.
"emmm... pasien sudah semakin membaik, tuan. Kami sudah memberi vitamin lewat infus dan beberapa obat agar pasien cepat sembuh. Sebentar lagi pasien pasti akan terbangun. Pasien tertidur karena efek obat yang kami berikan." Terang dokter Thalia lagi.
Marco hanya mengangguk paham. Wajah dingin tanpa senyum masih terlihat.
"Ada lagi?" Tanyanya singkat.
"Eeeh... ti-tidak ada, tuan." Jawab dokter gugup. Tanpa pamit Marco beranjak dari tempat itu, keluar dengan tidak bersuara. Dokter Thalia membuang napas kasar.
"Gila.... dingin banget." Desis dokter cantik itu. "Menantang sih." Ujarnya dengan senyum tersipu.
Marco kembali masuk ke ruangan di mana Icha dirawat. Icha tertidur semenjak Marco membawanya ke rumah sakit. Marco melirik jam di pergelangan tangan, pukul 12 tengan malam. Ia naik ke tempat tidur dan berbaring di samping sang istri, memeluk dan membenamkan wajah di ceruk leher Icha. Marco yang dingin, datar dan garang saat menghadapi lawan bisninsnya, menjadi sangat rapuh saat separuh jiwanya terbaring lemah karena kesalahan yang dilakukannya.
"Bangun, sayang..." Lirih Marco sendu. "Jangan begini lagi, aku mohon. Aku nggak bisa melihatmu begini." Suaranya semakin serak menahan tangis. "Aku mencintaimu... sangat mencintaimu."
Marco terus memeluk Icha dan tanpa sadar ia terlelap. Sejak kepergian Icha ia tidak bisa tidur dengan lelap. Ditambah lagi masalah perusahaan yang tidak mungkin ditinggalkan walau pun beban masalah keluarga sedang menindih. Raymond yang selalu setia saat ia susah atau pun senang sudah disuruhnya pulang beristrahat agar besok bisa menggantikannya di kantor. Kakek hanya melihat sebentar keadaan Icha dan memberi kekuatan pada Marco dan ia pamit pulang. Karena alasan kesehatan, tidak bisa membiarkan kakek bertahan lebih lama di rumah sakit. Sedangkan Wulan diperintahkan untuk mengambil semua barang-barang Icha dalam ruang privasi. Padahal, sahabat Icha itu ingin sekali menjenguk dan melihat keadaan Icha di rumah sakit, namun ia dilarang untuk datang oleh Raymond, karena asisten itu ingin Marco memiliki banyak waktu dengan Icha.
Sekitar pukul 4 pagi, Icha terbangun. Kepalanya masih sedikit pusing, apalagi dokter mengatakan ia terkena anemia. Dirasa perut sedikit berat, ia menoleh ke kiri. Wajah lelah Marco nampak terlelap. Sembab matanya pun sangat terlihat.
"Maaf..." Lirih Icha tak tega melihat suaminya yang nampak sangat kusut. Air mata mulai tergenang dan sebentar lagi pasti akan tumpah. Ia mengelus pipi Marco. Dua hari tidak bertemu, tak bisa dipungkiri ada rasa rindu yang sangat besar.
Marco mengerutkan kening merasakan ada gerakan pada pipinya. Ia membuka mata. Senyumnya langsung mengembang ketika pertama yang dilihat adalah orang yang sudah memenuhi sebagian hati dan jiwanya.
"Pagi, sayang..." Sapanya dengan berbisik. Airmata Icha pun tumpah. Ia semakin terisak mendengar suara Marco, suaminya. Suara yang sangat dirindukan.
Melihat Icha menangis, Marco langsung memeluk dan mengecup keningnya berulang kali.
"Maaf... maaf... maaf. Aku minta maaf, sayang. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Aku janji. Aku mencintaimu. Percayalah, aku mencintaimu." Ungkap Marco penuh sesal. "Maaf, sayang... aku mohon. Jangan menangis lagi." Marco terus memeluk Icha hingga perempuan lembut itu tenang.
Saat tak terdengar isakan tangis lagi, Marco melepaskan pelukan dan memandang wajah Icha. Dihapusnya air mata Icha. Ia mengecup kening, mata, kedua pipi, hidung dan menatap lagi wajah sendu itu. Icha tersenyum bahagia. Tersenyum karena senang melihat suaminya ada saat ia lemah, tersenyum bahagia karena mendengar ungkapan cinta Marco.
Marco pun tersenyum bahagia melihat senyuman istrinya. Ia hendak mengecup bibir itu, tapi ditahan oleh jari tangan Icha.
"Maaf.... sudah membuatmu bingung dan panik." Giliran Icha yang mengungkapkan isi hati. "Maaf... sudah salah mengambil jalan ketika ada masalah." Airmatanya kembali luruh. "Maaf... sudah tidak mempercayaimu. Maaf..." Marco tidak tahan lagi membiarkan bibir mungil itu terus berbicara, ia segera menempelkan bibirnya dan m*l*m*t penuh cinta.
Dua insan yang saling mencintai itu menyalurkan rasa cinta mereka setelah berhasil melewati satu badai dalam rumah tangganya. Semoga ini menjadi batu pijakan mereka untuk bisa melewati badai-badai selanjutnya.
Icha memukul pelan dada Marco ketika dirasa kehabisan napas.
"Nggak bisa napas, yaaaang." Rengek Icha. Manjanya mulai kumat. Marco tertawa lepas. Diusapnya bibir Icha yang basah karena ciuman mereka tadi.
"Aku merindukan." Bisik Marco. Icha tersipu. "Kamu nggak kangen aku?" Tanya Marco karena tidak mendapat balasan dari Icha.
__ADS_1
"Rindu." Jawab Icha dengan malu. Marco benar-benar bahagia dan lega. Cintanya telah kembali. Ia berjanji akan menjaga ini dengan nyawa.
"Sayang.. aku mau pulang." Rengek Icha.
"Iya... pasti kamu akan pulang. Tapi kita dengar apa kata dokter." Sahut Marco lembut. "Kamu terkena anemia, pencernaan kamu juga terganggu. Jadi, berobat dulu sampai sembuh baru kita pulang." Tegas Marco. Icha hanya memanyunkan bibir saja. Ia tahu, kalau intonasi bicara Marco seperti itu, artinya tidak ada bantahan.
"Ck... kondisikan bibir kamu. Mau aku cium sampai nggak bisa bernapas?" Ancam Marco bercanda. Icha segera menutup bibirnya. Marco tertawa. Ia mengecup kening Icha. Jangan heran, salah satu hobi Marco sekarang adalah mengecup kening, pipi atau pun bibir Icha. Dalam sehari tidak bisa dihitung berapa kali Icha harus menerima kecupan suaminya.
"Kamu mau tidur lagi atau mandi?" Tanya Marco.
"Mandi, yang. Badannya lengket." Sahut Icha. Marco segera bangun dari tempat tidur, mengangkat infus sebelum akhirnya menggendong tubuh Icha menuju kamar mandi.
"Aku bisa jalan, sayang." Mulai terjadi pertengkaran-pertengkaran kecil yang biasa terjadi antara mereka. Bukannya menurunkan Icha malah bibir Icha jadi sasarannya. Ia mengecup cepat bibir manis itu.
Marco menurunkan Icha, mendudukkan di atas toilet jongkok, menaruh infus di atas flush toilet. Marco mulai membuka pakaian Icha dan memandikan sang istri. Walaupun ia harus menahan sesuatu dalam dirinya ketika melihat tubuh polos Icha. Ia sangat berhati-hati karena takut terkena tangan kanan Icha yang sedang diinfus.
30 menit mereka berada dalam kamar mandi. Marco memakaikan pakaian dan menyisir rambut Icha. Ia benar-benar melakukannya dengan telaten.
Tok... tok... tok
"Tuan... saya membawa pakaian ganti untuk anda." Suara Raymond terdengar. Dari semalam Marco sudah menyuruhnya untuk membawa pakaian ganti.
"Letakkan saja di meja." Marco membuka pintu kamar mandi. Raymond Menunduk hormat. "Mungkin beberapa hari ini aku tidak ke kantor. Kalau ada yang penting, kamu boleh menelepon." Perintah Marco.
"Pasti, tuan. Anda jangan kuatir. Saya akan mengatur pekerjaan dengan baik." Sahut Raymond meyakinkan Marco. Jujur, ia senang melihat wajah tuannya sudah mulai bersinar lagi. Sudah ada segurat senyum tipis di bibirnya.
"Ray..." Suara Icha mengagetkan mereka.
"Kok keluar? Aku bilang tunggu sebentar, sayang..." Marco yang masih kuatir akan keadaan Icha sewot melihat istrinya keluar dengan menenteng infus di tangan.
"Aku bisa, sayang..."
Raymond tersenyum mendengar suara Marco yang sudah tidak datar lagi.
"Udah sehat, cha?" Tanya Raymond.
"Alhamdulillah... sudah lebih baik, Ray. Makasih, ya." Jawab Icha dengan suara lembutnya.
Raymond memang tidak memanggil Icha dengan embel-embel 'nona', kecuali di depan Marco. Awalnya, Marco pernah marah tetapi Icha menjelaskan dengan baik, sehingga Marco mengalah dan membiarkan istrinya dipanggil tanpa embel 'nona'.
"Saya pamit, tuan." Raymond menunduk hormat dan meninggalkan ruangan itu setelah mendapat izin dari Marco.
"Ayo, sarapan dulu." Marco mengambil tas kecil tempat makanan yang juga dibawa Raymond.
"Kamu mandi dulu, trus kita sarapan bareng." Icha memegang tangan Marco dan berbisik mesra di telinganya. Sepertinya Icha sengaja membuat suaminya terganggu dengan bisikkan itu. Lalu, ia tersenyum genit pada Marco.
Marco memicingkan matanya dan mengerutkan kening.
"Ini di rumah sakit, sayang... dan tubuh kamu masih lemas." Celetuk Marco gemas. "Jangan membangunkan harimau yang sedang tidur. Nanti kamu akan lebih lama tinggal di sini." Ancaman Marco membuat Icha tertawa lepas. "Awas, kamu ya!" Seru Marco yang sudah mau beranjak ke kamar mandi.
__ADS_1
Tok... tok... tok...
Suara ketukan membuat Marco berjalan ke arah pintu.
"Pagi, tuan... saya akan memeriksa istri anda." Dokter Thalia muncul dengan senyum mengembang di bibir seksinya. Marco tidak membalas senyuman itu. Ia mempersilahkan Thalia masuk. Ia pun langsung menuju kamar mandi dengan menenteng tas berisi pakaian ganti. Thalia hanya melirik sebentar. Kesal juga melihat laki-laki tampan itu. Ia sudah memberikan senyum terbaik, malah dibalas dengan dingin.
"Pagi, nyonya..." Sapa Thalia.
"Pagi, dok."Sahut Icha seperti biasa. Lembut dan senyuman selalu ada di bibir mungilnya.
"Sepertinya anda sudah sehat? Sudah sarapan?" Basa-basi Thalia.
"Saya sudah agak mendingan, dok." Jawabnya semangat. "Sebentar lagi saya sarapan, dok. Saya menunggu suami selesai mandi terlebih dahulu. Kami akan sarapan bersama." Thalia melihat senyum bahagia dari bibir nyonya muda itu. Ia hanya heran, bagaimana bisa perempuan ini bisa tersenyum bahagia padahal laki-laki yang dipanggil suami itu begitu kaku dan dingin.
"Sepertinya anda sangat bahagia memiliki suami seperti dia?" Thalia memulai percakapan di luar tugasnya sebagai dokter. Icha mengerutkan kening sesaat. Namun, akhirnya ia paham maksud pertanyaan itu.
"Dokter bisa lihat kan dari keadaan saya sekarang? Bandingkan dengan semalam, pasti dokter bisa menilai sendiri." Sahut Icha masih dengan senyum yang sama.
"Bukankah dia pria yang kaku?" Thalia mulai kepo.
"Kalau dengan orang lain, dia memang kaku. Apalagi dengan perempuan-perempuan yang sengaja mau mendekatinya, dia akan sangat kaku dan dingin. Tapi tidak dengan saya." Sahut Icha sengaja menyindir dokter itu.
Thalia yang menyadari sindiran Icha sengaja tertawa lucu, padahal hatinya kesal bukan main.
"Saya periksa ya, nyonya. Kalau anda sudah sehat, anda bisa cepat pulang dan istrahat di rumah." Thalia mulai memeriksa tubuh Icha yag sudah kelihatan segar. Padahal semalam tubuh ini masih sangat lemah dan pucat.
"Bagaimana?" Suara bass dari arah kamar mandi membuat Icha dan Thalia menoleh bersama.
Marco yang baru selesai mandi, tiba-tiba muncul dengan celana panjang dan baju kaos ketat yang memperlihatkan tubuh atletisnya. Rambutnya yang masih basah membuat ia terlihat lebih tampan.
Tanpa malu, ia mengecup kening Icha. Dalam hati Icha bersorak, karena ia dapat melihat wajah dokter yang sedikit kesal karena cemburu.
"Nyonya sudah baikan, tuan. Kalau sampai sore tidak ada gangguan dengan pencernaannya, nyonya boleh pulang." Ucap Thalia menerangkan.
Marco memgangguk senang. Segurat senyum terlihat di bibirnya.
Oh, Tuhan... tampannya. Thalia benar-benar terpesona.
"Ada lagi, dok?" Tanya Marco kembali kaku dan dingin.
"Eh...ah... tidak, tuan. Tidak ada lagi. Saya permisi." Dokter Thalia segera keluar dari ruang VIP itu.
"hahahahahahahahaha...." Icha terbahak melihat tingkah dokter genit itu.
"Kenapa?" Tanya Marco heran.
"Dokter itu suka sama kamu." Sahut Icha jujur. "Tingkahnya lucu, sayang. Dia bilang kamu kaku dan dingin." Icha masih tertawa lucu.
Marco tersenyum senang melihat tawa sang istri. Ia berharap selalu melihat tawa itu ketika mereka sedang dalam masalah.
__ADS_1