
Dua hari berpisah dari sang suami membuat Icha merasa ada yang kurang dalam hidupnya. Apalagi dalam keadaan berbadan dua seperti sekarang, pasti sangat ingin agar suami tetap berada dekat di samping. Namun, Icha juga tidak bisa egois. Ia harus memahami pekerjaan suaminya yang adalah seorang pengusaha sukses, yang akan sering berada di luar rumah bahkan di luar kota Jakarta. Seperti saat ini, Marco masih berada di Malaysia sejak dua hari yang lalu. Sebelum berangkat, Marco berjanji hanya akan meninggalkan Icha selama dua hari. Namun, sejak semalam hingga siang ini Marco belum menghubunginya. Icha sudah coba menghubungi tetapi telepon seluler Marco di luar jangkauan. Icha sempat kuatir, namun Wulan yang ditugaskan untuk menemani Icha di mansion selalu menenangkan sahabatnya itu.
"Marco kok belum hubungi aku sih? Dari semalam handphonenya nggak bisa dihubungi." Keluh Icha resah. "Biasanya sesibuk apapun pasti dia selalu menelepon aku."
"Mungkin Pak Marco lagi sibuk jadi belum bisa diganggu." Ujar Wulan menenangkan Icha.
"Boleh nggak kalo aku curiga dia dan Valencia?" Tanya Icha ragu.
"Cha... kamu udah menikah dengan suamimu, otomatis kamu juga sudah mengenal suamimu dengan baik." Sahut Wulan pelan. "Tanya hati kecilmu apakah suamimu sanggup berkhianat dari kamu?" Wulan terus meyakinkan Icha. "Aku hanya mengenal Pak Marco begitu saja. Tapi, aku sudah yakin bahwa ia laki-laki yang baik. Percayalah pada suamimu." Ujar Wulan.
"Ya, aku percaya padanya. Aku hanya takut aja karena selama di sana dia akan intens bertemu Valencia. Kira-kira menurut kamu Valencia nggak akan macam-macam?" Icha mengungkapkan ketakutan yang sedang ia rasakan sekarang.
"Dia mau macam-macam juga, aku yakin Pak Marco tak akan tergoda." Jawab Wulan yakin. "Udah ah... kenapa bahas si nenek lampir itu terus sih? Minum susu kamu nih! Ingat, bayi kamu membutuhkan ibu yang sehat agar perkembangannya dalam kandungan juga sehat." Pungkas Wulan sok tahu. Icha tertawa kecil mendengar ocehan sahabatnya. Ia mengambil susu dan meneguknya hingga tersisa setengah gelas.
Ting... ting... ting... ting... ting...
Bunyi pesan beruntun masuk dalam WA Icha. Ia melirik ke telepon genggam yang berada di atas meja. Nomor baru. Segera Icha membuka pesan itu.
Deg! Tangannya sedikit gemetar. Wulan dengan cepat melihat perubahan raut wajah Icha. Ia mengambil handphone Icha dan melihat apa yang dilihat dan dibaca Icha.
Dasar perempuan bodoh. Kamu dengan percaya diri merasa kalau Marco mencintaimu. Padahal, ia hanya mempermainkan kamu karena ia masih menunggu aku menyelesaikan kontrakku di Paris. kamu lihat ini. Dia tidak akan pernah bisa berpisah dari aku. Dia sengaja membeli saham ValCare agar bisa kembali mendekatiku. Semalam kami berdua mereguk nimmatnya cinta.
Wulan melebarkan mata tak percaya dengan apa yang ia lihat. Seorang laki-laki yang tertutup selimut hanya sebatas pinggang, menggunakan jas mahal, kepala menghadap ke sebelah kanan sehingga tak terlalu jelas kelihatan. Apalagi gambar itu diambil di tempat yang gelap. Pencayaan dari handphone pun tak bisa menerangi gambar dengan baik. Sedangkan Valencia di samping laki-laki itu sedang tersenyum jahat dengan menampilkan bagian bahu hingga dadanya terbuka tanpa penutup apa-apa.
"Kamu jangan langsung percaya, Cha. Bisa saja ini editan." Seru Wulan mengingatkan Icha ketika melihat airmata Icha jatuh dalam diam. Icha tak bersuara, hanya tangannya sedikit bergetar. "Istigfar, Cha... Ingat, bayi kamu." Ujar Wulan cepat. "Lihat ini... aku yakin kamu mengenal dengan baik setiap inci tubuh suami kamu. Lihat ini, cha. Apakah ini Pak Marco? Sumpah, aku nggak yakin kalo itu Pak Marco." Wulan menunjukkan foto itu pada Icha agar ia bisa melihat dengan baik.
"Itu bajunya, lan... Itu jas yang aku siapkan untuk dia." Gumam Icha di tengah tangisnya tapi belum bersuara.
"Iya, tapi kamu nggak boleh begini. Ingat, bayi kamu." Wulan ketakutan melihat Icha yang menangis tapi tak bersuara. Ia takut Icha terguncang dan itu akan sangat bahaya untuk bayinya. "Jangan egois, cha. Ingat, bayi kamu." Nada suara Wulan yang meninggi membuat Icha tersadar adan segera menarik napas panjang untuk menenangkan diri sendiri. Ia berulang kali menarik napas panjang dan menghembuskan dengan ppelandan teratur. Ia mengambil telepon genggamnya dan melihay seksama. Ujung mata kiri kanannya berkerut melihat seperti ada yang ganjal dari gambar ini. Ada satu kiriman gambar berupa surat yang ditulis seseorang dengan huruf tangan mengungkapkan rasa terimakasih karena merasa puas sudah dilayani dan berharap mereka bisa mereguk kenikmatan di lain waktu.
"Ini bukan tulisan Marco." Tiba-tiba ia bersuara.
"Kamu yakin?" Wulan memastikan lagi. Icha mengangguk cepat. Raut wajahnya sudah sedikit tenang. Walau pun jantungnya masih berdetak kencang karena takut. "Ini bukan tulisan Marco. Aku sangat mengenal tulisannya." Pungkasnya sekali lagi. Wulan membuang napas lega.
"Trus gambar laki-laki ini? Coba kamu lihat baik-baik." Desak Wulan karena hati kecilnya mengatakan itu bukan Marco.
__ADS_1
"Kalo dari jasnya aku sangat mengenal ini jas Marco. Aku paling suka melihat ia memakai jas biru muda ini. Tapi.... " Icha fokus melihat ke arah wajah lelaki yang hanya kelihatan rahang kirinya. "Ini bukan Marco." Ujarnya setelah lama meneliti dengan baik bentuk rahang ini.
"Tuh kan... kataku juga apa. Pak Marco nggak mungkin melakukan hal sekeji ini." Bela Wulan pada suami sahabatnya. "Tapi, apa maksud Valencia mengirim gambar ini padamu?" Tanya Wulan heran. Icha mengangkat bahunya tak mengerti.
"Apa dia berencana menjebak Marco?" Terka Icha. "Oh iya, kan ada Raymond. Coba kita telepon dia." Icha langsung menekan nomor handphone Raymond.
"Halo..." Suara Raymond terdengar. "Marissa..." Sapanya.
"Ray... Marco di mana? Dari semalam aku hubungi tapi nggak bisa." Lapor Icha to the point.
"Oh... tu-tuan baik, cha. Tuan masih sibuk di sana. Telepon genggamnya sedang diisi baterai, makanya nggak bisa menerima telepon." Ujar Raymond memberitahu. "Tuan kemungkinan belum bisa pulang. Tuan harus segera menggantikan nama perusahaan di sana. Tuan tak ingin memakai nama yang lama." Jelas Raymond. Icha mengangguk tenang. "Percayalah... tuan baik-baik saja." Marco masih meyakinkan Icha.
Icha memutuskan percakapan dengan Raymond via telepon. Ia menarik napas panjang dan menghembusnya berat. Memang, ia percaya laki-laki di dalam gambar yang dikirim Valencia itu bukan Marco. Namun, apa alasan perempuan itu mengirim gambar seperti ini? Tidak mungkin secara tiba-tiba ia memgirim gambar dan kata-kata seakan ia sedang bersama Marco. Ditambah lagi, nomor Marco yang tidak bisa dihubungi.
"Hei... kok ngelamun?" Wulan mencolek lengan Icha. "Gimana?" Tanya Wulan penasaran.
"Marco masih sibuk. Semoga dia baik-baik saja di sana." Harap Icha.
"Ya... semoga. Sholat aja, cha. Berdoa minta pertolongan Tuhan." Pesan Wulan menguatkan Icha. Wanita cantik itu hanya mengangguk lemah.
"Ingat, sekarang kalau ada masalah apa pun, kamu harus bisa mengontrol emosi kamu. Ada dedek bayi yang harus kamu jaga." Gumam Wulan mengingatkan. aicha memgangguk pelan. "Ya udah... masuk, yuk! Kita udah lama duduk di taman." Ajak Wulan karena dari sehabis sarapan tadi, Icha mengajak Wulan duduk di tengah taman belakang untuk menenangkan pikiran. Sejak semalam pikirannya tak tenang, terus memikirkan suaminya. Wulan menggandeng tangan Icha masuk dalam mansion.
"Kamu kenapa, Marissa?" Suara kakek yang sedang duduk di ruang keluarga mengagetkan duo sahabat itu. Icha cepat menggeleng.
"Nggak apa-apa, kek." Ia tak mau kakek kepikiran jika ia menceritakan kegundahan hati yang sedang ia alami.
"Marco belum pulang?" Tanya kakek lagi.
"Belum, kek. Urusan di Malaysia belum selesai." Sahut Icha sambil berjalan dan duduk di samping kakek. Wulan pun ikutan duduk di hadapan mereka.
"Gimana cicit kakek? Pasti nakal seperti papanya." Tanya kakek sekalian menggoda cucu mantunya.
"Awwww..." Tiba-tiba Icha menjerit kecil.
"Kenapa?" Tanya kakek dan Wulan bersamaan.
__ADS_1
"Kakek menghina papanya sih... makanya dia marah trus nendang-nendang perut aku." Protes Icha lucu.
"hahahahahahaha..." Kakek langsung ngakak lucu. "Wah... wah... wah... berarti benar nih, dia pasti nakal persis papanya." Wulan dan Icha ikutan tertawa lucu. "Tapi, kakek senang karena kandungan kamu sehat. Kakek juga masih diberi kesempatan untuk melihat cicit kakek." Tutur kakek seraya bersyukur pada Yang Kuasa.
Ting.... ting.... ting.... ting....
Lagi pesan masuk secara beruntun. Sebelum membuka pesan what's up itu, Icha melirik ke arah Wulan memberi kode bahwa ada banyak pesan yang masuk. Wulan menggeleng kepala, meminta Icha jangan dulu melihat pesan itu. Wulan takut, perempuan iblis itu berulah lagi membuat Icha kaget dan shock di depan kakek. Wulan juga tidak mau terjadi apa-apa pada orangtua itu jika melihat isi pesan atau gambar yang mungkin saja dikirim lagi oleh Valencia.
"Kakek istrahat, ya. Icha juga mau berbaring dulu. Pinggang Icha kalau terlalu duduk." Icha sengaja pamit ke kamar karena penasaran isi pesan yang baru saja masuk.
Wulan menemani Icha masuk ke dalam kamar. Mereka duduk bersandar di atas tempat tidur dan Icha mulai membuka pesan itu.
Gimana? Kamu masih mau mempertahankan Marco walaupun ia sudah menghabiskan malam panas bersamaku? Malam ini juga kami sudah janjian untuk bertemu dan menghabiskan malam panjang berdua.
"Perempuan sakit jiwa. Nggak ada urat malunya ya tuh orang? Coba dekat sini aja, udah aku bejak-bejak tu muka. Dasar pelakor." Sumpah serapah keluar dari mulut Wulan.
"Aku dan Marco udah menikah hampir setahun, kenapa baru sekarang dia cari masalah?" Tanya Icha heran.
"Mungkin dia sakit hati karena pak Marco lebih memilih kamu dari pada dia. Secara mereka berdua berhubungan selama 6 tahun, bukan waktu yang singkat." Wulan memberi pendapat.
"Menurut Marco, hubungan mereka hambar karena jarang bertemu. Valencia lebih memilih sibuk dengan dunia modelingnya. Setelah Marco memutuskan pertunangan mereka, baru dia sadar dan mundur dari profesinya. Namun, terlambat. Marco sudah tak ingin melanjutkan hubungan mereka." Jelas Icha panjang lebar.
"Ya jelas nggak maulah... Kan dia udah jatuh cinta sama kamu, merasa lebih nyaman sama kamu, mana mau dia balik sama yang hambar." Sanggah Wulan cepat. "Secara waktu itu kamu masih unyu-unyu, polos dan glowing.... makanya pak Marco langsung falling in love sama muridnya sendiri." Sambungnya menggoda Icha yang membalas dengan cubitan di tangan Wulan. Mereka tertawa bersama.
"Tapi intinya.... jangan sampai hubungan kalian diganggu oleh hama-hama rumah tangga yang dengan sengaja mau merusak hubungan kalian. Tetap percaya pada suamimu." Saran Wulan serius. Icha mengangguk setuju dengan pernyataan dan saran dari sahabatnya. "Eh... kamu nggak mau membalas pesan Valencia?" Tanya Wulan yang sebenarnya masih panas ingin membalas what's up si Valencia.
"Balas apa? Aku malas meributkan hal yang nggak penting." Sahut Icha. "Justru aku nggak balas akan membuat dia semakin penasaran." Sambung Icha. "Ada saatnya aku balas. Kamu liat aja nanti." Ujar Icha penuh teka-teki. Wulan mengerutkan kening.
"Emang bisa?" Cibir Wulan meragukan ucapan Icha. Karena ia tahu, Icha itu wanita super duper lembut yang sulit sekali membalas kejahatan orang lain.
"Kalau keseringan kena cubit, aku juga pasti merasa sakit. Dan kalau udah nggak bisa menahan sakit, pasti aku akan balas mencubit. Iya, kan!?" Sahut Icha penuh makna sambil menaikturunkan alisnya menggoda Wulan. "Kalau dia mau mengajak berperang, maka aku akan menjadi lawan yang siap melindungi suami dan anakku." Ucap Icha sambil mengelus perutnya. Ia seakan mendapat kekuatan baru dari calon anaknya.
Mendengar ucapan Icha, Wulan ternganga tak percaya.
"Kamu mulai unjuk gigi nih?"
__ADS_1