
Valencia benar-benar tak terima keputusan papa Christo. Dengan perut besarnya ia nekad mendatangi Marco di GT Corp. Semua mata memandang tak percaya. Bukankah ini mantan tunangan tuan Marco? Hamil? Siapa ayah calon bayinya? Banyak pertanyaan yang melintas di setiap otak karyawan yang hampir semua sudah mengenalinya.
"Aku mau bertemu Marco." Ujarnya dengan ketus pada resepsionis yang masih melongo melihat keadaan Valencia. "Heh... kamu tuli??? Saya mau bertemu Marco!" Bentak Valencia geram melihat tak ada respon dari perempuan resepsionis ini. "Aku ingin bertemu suamiku." Sambung Valencia menekan pada kata terakhir. "Kau lihat perutku? Ini bayinya Marco. Jadi, sekarang katakan pada asisten sialannya itu bahwa aku ingin bertemu suamiku." Valencia sedikit berbisik dengan melototkan mata pada perempuan di depannya yang sudah kelihatan gugup dan bingung. Resepsionis itu ingin bertanya apakah Valencia sudah membuat janji untuk bertemu, tapi karena mendengar kata suami, ia menjadi ragu untuk bertanya. Apalagi, ia sangat mengenal perempuan cantik ini dan tidak pernah mendengar kabar beritanya setelah tuan Marco menikahi Icha, sekretaris pribadinya. Namun, semua karyawan tentu saja tidak mempunyai keberanian untuk bertanya benang merah cinta segitiga atasan mereka.
Tanpa menjawab satu kata pun, resepsionis mengangkat interkom dan menekan satu nomor asisten GT Corp.
"Tuan... Nyo-nya Valencia ingin bertemu tuan Marco." Ucapnya gugup pada orang yang dihubungi. Lalu, ia mengangguk cepat setelah mendengar perintah dari sana. "Baik, tuan." Ia meletakkan kembali gagang telepon.
"Silahkan, nyonya... tuan Raymond sudah menunggu anda di atas." Dengan senyum sinis, Valencia segera meninggalkan resepsionis itu dan berjalan menuju lift umum. Ia menekan angka 2 & 5 dan menunggu pintu besi itu terbuka. Sedangkan karyawan yang berlalu lalang di sekitar lobi hanya bisa melihat dan sesekali meraka saling berbisik. Lama tak mendengar kabar mantan tunangan atasannya membuat mereka terkejut melihat perut Valencia yang membuncit. Apakah ini karma bagi Icha yang sudah merebut tuan Marco dari nona ini? Pertanyaan-pertanyaan itu hanya bisa terparkir di otak mereka tanpa bisa dikeluarkan.
Lift terbuka dan Valencia langsung masuk peduli keadaan sekitar. Tak sampai lima menit lift terbuka dan seperti biasa wajah Raymond selalu nongol di depan lift.
"Selamat datang, nyonya..." Raymond mengulurkan tangan namun tak dihiraukan Valencia.
"Aku ingin bertemu Marco." Ketusnya.
"Maaf... tuan sedang rapat. Anda boleh menunggu di ruang tunggu." Sahut Raymond tak kalah ketus.
"Aku akan menunggu di ruangannya." Valencia berjalan tak peduli mendahului Raymond.
"Maaf, nyonya... anda tidak diijinkan masuk dalam ruangan CEO. Anda hanya boleh menunggu di ruang tamu." Raymond menghentikan langkah Valencia. Perempuan yang tubuhnya mulai kelihatan berisi itu berbalik menatap tajam pada Raymond.
"Siapa kamu berani melarang aku masuk ke ruangan Marco?" Sinis Icha tak terima.
"Saya asisten pribadi CEO yang diberi kuasa untuk menerima atau melarang siapa saja yang hendak bertemu atasan." Sindir Raymond membalas tatapan tajam Valencia. "Termasuk anda, nyonya Valencia." Ia menekan nada suaranya. "Bahkan saya diberi kuasa untuk melarang anda bertemu CEO." Kali ini Valencia tak bisa membuka mulut. Ia hanya menatap nyalang pada asisten Marco yang memang dari dulu tidak menyukai dirinya. Dulu, Valencia masih bisa bebas masuk keluar ruangan Marco karena ia adalah calon tunangan Marco. Raymond pun hanya menahan kesal melihat wajahnya. Namun, sekarang ia tak mempunyai kebebasan seperti dulu lagi. Bahkan Raymond sudah tidak perlu menahan napas kesal melihat kehadirannya. Dengan mudah Raymond bisa melarang ia bertemu Marco dan Valencia pun sangat paham hubungan antara Marco dan Raymond, karena itu ia tak bisa terlalu menunjukkan sikap sombong seperti dulu.
Dengan kesal, ia berbalik badan dan berjalan menuju ruang tamu yang biasa dipakai untuk para klien atau tamu perusahaan jika ingin bertemu Marco, sebelum diijinkan masuk dalam ruangan Marco
"Silahkan nyonya... anda boleh memilih sendiri minuman kesukaan anda." Suara dan wajah yang tidak terlalu asing menurut Valencia terdengar setelah ia memasuki ruang tamu.
"Siapa kamu?" Tanya Valencia ingin tahu. Wajah masih asing tapi suaranya sangat terasa familiar di telinga.
"Saya Rama, nyonya... asisten tuan Marco." Sahut Rama memberikan senyuman manis pada Valencia. Rindu yang menumpuk di hati Rama setelah kejadian malam itu berlalu membuat ia bahagia bisa bertemu dan berkomunikasi lagi dengan Valencia. Sayangnya, Valencia tak mengenal laki-laki yang sudah menumbuhkan benih di rahimnya.
"Asisten?" Tanya Valencia. "Kamu baru di sini?" Lanjutnya masih ingin tahu karena suara bass itu benar-benar terngiang di telinga seakan memberi tanda bahwa ia mengenal suara itu.
"Iya, nyonya... baru dua hari. Saya membantu pekerjaan Raymond." Sahut Rama lembut. Tatapan mata penuh rindu sangat terlihat di matanya. Ia juga melihat ke arah perut Valencia. Rasanya ingin sekali memeluk dan mengajak bicara bayi dalam kandungan Valencia. Ia ingin memperkenalkan diri sebagai ayah yang mau bertanggung jawab. Namun, Valencia tak menyadari itu. Hanya suara asisten baru Marco yang mengganggu pikirannya.
__ADS_1
"Ki-kita pernah bertemu sebelumnya?" Valencia benar-benar penasaran. Ia sangat yakin mengenal suara ini. Tapi, di mana?
Bukannya menjawab Rama malah melemparkan senyum manis pada Valencia membuat wanita hamil itu salah tingkah. Ya, Valencia tak bisa memungkiri jikalau senyum laki-laki asing ini sangat menarik hati. Lesung pipi kirinya menambah manis senyumannya.
"Kok malah senyum?" Ketus Valencia kesal. Rama tertawa kecil.
"Mari, nyonya... silahkan minum. Lebih bagus minum ini saja. Anda tidak boleh minum yang bersoda." Tak menanggapi pertanyaan Valencia, Rama bangun dari duduknya menuju kulkas mini di sudut ruangan. Ia mengambil sekotak jus rasa jambu dan memberinya pada Valencia.
Ada sedikit rasa senang di hati Valencia karena diperhatikan Rama. Selama ini ia merindukan perhatian dari ayah sang jabang bayi, namun menurut Valencia sikap Marco seakan menolak kehadiran bayi ini.
Ia mengulurkan tangan mengambil kotak jus yang sudah dibuka Rama. Tiba-tiba rasa haus melanda Valencia membuat ia ingin sekali meminum jus itu secepatnya.
"Kamu haus?" Tanya Rama melihat Valencia menyedot jus dengan yang sengaja duduk di samping Valencia karena ingin melihat Valencia lebih dekat. Rama menatap perut Valencia rindu untuk mengelus perut itu.
"Kenapa? Kok liatin begitu?" Protes Valencia tak suka melihat Rama yang sudah duduk di sofa yang sama dengannya. "Kenapa kamu duduk di sini? Nggak sopan banget kamu!" Bentaknya marah. Rama terdiam dengan terus tersenyum. Ia paham dengan perubahan mood ibu hamil. Tadi mereka sudah berbicara baik-baik, bahkan Valencia banyak bertanya padanya, tiba-tiba sekarang ia marah hanya karena Rama duduk satu sofa dengannya.
"Berapa bulan kandungannya?" Tanya Rama lembut. Valencia yang tadinya marah-marah terdiam mendengar pertanyaan Rama.
"7 bulan..." Jawabnya pelan. Baru kali ini ada laki-laki yang menanyakan tentang kandungannya. Rama mengangguk melihat perut Valencia.
"Sudah USG mencari tahu jenis kelamin?" Tanya Rama ingin tahu jenis kelamin anaknya. Valencia menggeleng cepat.
"Maaf, nyonya... saya hanya ingin tau jenis kelamin nyonya. Pasti nyonya sangat senang dan bahagia dengan kehamilannya." Kilah Rama cepat.
"Ya pasti senanglah... karena aku mengandung anak dari laki-laki yang aku cintai." Cetus Valencia. "Bayi ini bukti cinya aku dan Marco." Sambungnya bangga. Rana menarik napas berat. Ternyata, Valencia belum mengetahui cerita sebenarnya.
"Rama..." Terdengar namanya dipanggil, Rama langsung berdiri menunduk hormat pada Raymond. "Kamu boleh mengantar nyonya Valencia ke ruangan tuan Marco." Perintah Raymond.
"Baik, tuan... Mari, nyonya." Rama membuka jalan agar Valencia bisa mendahuluinya. Namun, dengan sinis Valencia berjalan tanpa peduli pada dua laki-laki asisten Marco itu.
"Anda tidak bisa masuk bertemu CEO tanpa Rama." Tegas Raymond. Valencia menghentikan langkah dan berbalik menatap Raymond.
"Kau terlalu banyak bicara, asisten sialan." Geram Valencia. "Aku akan menemui Marco sendiri tanpa asistenmu itu." Tunjuknya pada Rama lalu berbalik dan melangkah ke arah ruangan Marco. Tanpa mengetuk, ia membuka pintu dengan kasar namun sayang pintu tak terkunci. Ia membuka berulang kali tetap pintu tak terbuka.
"Marco... buka pintu!" Teriak Valencia. Tak ada suara dari dalam. Valencia terus mengedor pintu hingga terdengar keributan di sana. Rama merasa kuatir dengan keadaan Valencia karena itu ia berdiri di belakang wanita itu menjaga-jaga jika terjadi sesuatu.
"Marco... buka. Aku ingin bicara tentang anak kita." Desaknya tak berhenti mengedor pintu dengan kasar.
__ADS_1
"Nyonya.... hati-hati dengan kandungannya. Kasian bayi anda." Tegur Rama merasa kuatir.
"Rama... masuklah bersama nyonya Valencia." Perintah Raymond setelah menekan remote yang ia keluarkan dari saku celana. Tanpa menunggu perintah dua kali Rama membuka pintu dan mengajak Valencia masuk. Sebelum masuk, Valencia masih menoleh ke arah Raymond dan menatap nyalang. Ternyata, bukan Marco yang mengunci pintu dari dalam, tetapi Raymond yang mengunci menggunakan remote.
"Marco..." Valencia berlari kecil hendak memeluk Marco yang sedang berdiri santai di balkon sambil menikmati hiruk pikuk jalanan ibu kota.
"Jangan mendekat, Valencia." Ujar Marco datar. "Duduklah. Ada yang ingin aku bicarakan." Perintah Marco lalu berjalan mendahului Valencia yang sedang berdiri kecewa pada sikap Marco.
Marco duduk di sofa kecil. Rama hanya berdiri menatap iba pada perempuan yang sedikit demi sedikit susah merajai. hatinya.
"Duduklah, nyonya..." Suara lembut Rama tidak membuat Valencia terlena.
"Diam kamu! Ngapain kamu masih di sini? Keluar sana!" Usir Valencia geram melampiaskan rasa kecewanya pada Marco tadi.
"Aku yang berhak menyuruhnya untuk masuk atau keluar." Tandas Marco melirik sinis pada Valencia. "Kau duduklah!" Perintah Marco pada perempuan yang sedang mengandung itu. "Rama... duduklah!"
Rama dan Valencia serempak duduk bersama namun beda kursi. Kelihatan Valencia seperti tidak sudi duduk satu sofa dengan Rama.
"Marco... aku ingin bicara." Ujar Valencia cepat sebelum Marco membuka mulut. "Apa yang bicarakan papa kemarin bohong, kan? Nggak mungkin aku hamil anak orang lain, kan? Aku ingat malam itu kita berdua yang ada di dalam kamar hotel. Nggak mungkin ada laki-laki lain." Selorohnya panjang lebar berusaha meyakinkan Marco tentang malam naas itu (menurut Marco😛).
Mendengar perkataan Valencia, Rama hanya menunduk sedih. Ia dapat memahami perkataan Valencia yang sangat terobsesi pada tuannya itu.
"Aku mengandung bayi kita, sayang..." Dengan mengelus perut buncitnya, Valencia terus meyakinkan Marco.
"Kau akan menikah dengan Rama. Ia akan bertanggung jawab atas bayimu." Ucapan Marco terasa seperti ada ribuan batu yang menindih tubuh Valencia.
"Jangan gila kamu!" Berang Valencia. "Kamu yang melakukan, kamu yang bertanggung jawab. Jangan melimpahkan seenaknya pada orang lain." Lanjutnya dengan nada yang tinggi. Marco tersenyum sinis.
"Apa kamu pikir aku terlalu bodoh hingga mau terjebak dalam kelicikanmu? Tidak, Valencia." Sergah Marco mulai tak bisa menahan emosi.
"Sekarang kau dengar baik-baik ucapanku..." Suasana terasa sedikit tegang. "Aku yakin Om Christo sudah menceritakan yang sebenarnya meski kau tidak percaya apa yang sudah diceritakan Om Christo kemarin. Tapi, aku harus mengatakan padamu bahwa memang begitulah kenyataan yang terjadi pada malam itu. Kau dengan licik menjebakku, namun cinta istri dan anakku terlalu kuat mengikatku hingga aku lolos dari jeratanmu." Pungkas Marco tegas.
"Tapi kau harus berterimakasih pada Rama, karena malam itu Rama yang membantumu menyalurkan semua hawa napsumu hingga kau pun tidak terjebak dengan obat perangsang yang kau minum." Valencia terdiam seribu bahasa. Raut wajah tegang, memerah, entah menggambarkan bagaimana suasana hatinya sekarang. Marah, benci, tapi juga malu karena keberaniannya yang berakibat fatal untuk diri sendiri.
"Karena itu menikahlah dengan Rama. Ia mau bertanggung jawab atas bayi yang ada dalam kandunganmu karena memang itu darah dagingnya. Rama pun tidak menyangkal, ia mengakui anaknya." Rama melihat Valencia yang masih menatap Marco tak percaya.
"Cukup sudah berkutat dengan ego dan obsesi dalam dirimu. Bayimu membutuhkan sosok ayah kandungnya." Semua terdiam. Rama menatap sendu pada Valencia. Obsesinya pada Marco terlalu tinggi hingga ia nekad mmelakukan sesuatu tanpa berpikir panjang dan akhirnya menjadi bumerang bagi diri sendiri.
__ADS_1
Valencia menatap tajam pada Rama. Pantas saja ia merasa sangat tidak asing suara itu karena memang mereka pernah menghabiskan malam bersama. Ia membelalakkan mata ketika mengingat kalau papa Christo pernah menyebut nama itu kemarin.
Jadi ini orangnya???