Cukup Di Hati Saja

Cukup Di Hati Saja
Aku mencintaimu


__ADS_3

Selama dalam perjalanan, Icha diam seribu bahasa. Ia tidak berani melihat ke arah Marco yang sedang menyetir mobil. Ia seakan pasrah mau dibawa ke mana saja oleh pria dingin ini. Ia baru menyadari jika CEO di kantornya ini adalah tipe pemaksa. Buktinya, ia hanya menelepon dan memerintah Icha untuk bersiap, tanpa memberitahu tujuannya apa dan mau ke mana. Ketika ia sampai di kosan Icha pun langsung menggandeng tangan Icha dan membawanya masuk ke dalam mobil mewah miliknya.


Marco yang melihat raut wajah Icha antara bingung dan takut pun tersenyum tipis. Ia mengetahui apa yang ada dalam pikiran Icha. Hubungan yang ingin ia bangun dengan gadis cantik itu bisa dibilang aneh. Marco yang awalnya cuek, datar dan dingin tiba-tiba sering membuat Icha berdesir.


Marco memang sengaja menggoda hati Icha, agar gadis itu terlena dan ia bisa dengan mudah mendapatkan hatinya. Tanpa Marco ketahui bahwa sebelum ia menggoda Icha, gadis itu sudah terlebih dahulu jatuh dan terlena dalam pesonanya. Bahkan dari ia masih remaja.


"Ada apa?" Tanya Marco memecahkan kesunyian. Icha menoleh ke arah Icha.


"Mmmmm... kita mau ke mana, tuan?" Icha memberanikan diri untuk bertanya. Ia sudah penasaran sejak tadi, tetapi ia tidak berani bertanya.


"Ke suatu tempat. Kamu akan suka tempatnya." sahut Marco lembut sambil menatap mata Icha. Icha hanya mengangguk dan segera memalingkan wajahnya. Ia tersipu malu melihat Marco yang sedikit tersenyum menggodanya.


Perjalanan mereka memakan waktu kurang lebih sekitar 2 jam. Mereka sudah berada di luar kota Jakarta. Sampai akhirnya Marco berhenti di sebuah pantai. Icha tersenyum senang.


"Wah, bagus banget tempatnya." celetuk Icha tanpa sadar. Ia segera menutup mulutnya ketika sadar kalau Marco masih ada di sampingnya. Marco tersenyum lebar. Dan itu berhasil membuat Icha terperangah. Pasalnya, ia belum pernah melihat laki-laki tampan itu tersenyum.


oooooh... tampannya. Kenapa ia harus menyembunyikan ketampanannya selama ini.


Cup...


Demi Tuhan, Marco tidak sanggup membiarkan bibir indah itu terus menggodanya. Ia mengecup bibir itu singkat.


"Tuan... " desis Icha kaget. Marco nampak santai.


"Ayo... kita ke sana." Lagi-lagi Marco membuat Icha terperangah. Ia turun dari mobil, memutar ke arah sebelah mobil dan membuka pintu mobilnya.


"Ayo... "Marco mengulurkan tangannya pada Icha. Icha seperti dihipnotis dan menyambut Tangan Marco.


Marco membawanya lebih dekat ke arah laut, tepatnya di bawah pohon kelapa. Icha agak heran, karena biasanya di hari libur seperti ini pasti akan ada banyak pengunjung. Tetapi, tempat ini sangat sepi. Sama sekali tidak ada pengunjung lain. Hanya mereka berdua. Icha terus mengikuti langkah Marco tanpa protes. Ia terlihat pasrah. Apakah karena ia sudah percaya pada bosnya itu? Entahlah... yang pasti hati kecilnya rela mengikuti semua perintah Marco. Jujur, saat ini hatinya berbunga-bunga. Tapi, ia belum mau berharap banyak. Rasa kurang percaya dirinya membuat ia masih was-was.


"Kenapa tempat ini sepi, tuan? Padahal ini weekend. Harusnya banyak pengunjung." Tanya Icha penasaran.


"Aku sudah membooking tempat ini." Jawab Marco santai.

__ADS_1


Icha menegang saat Marco memeluknya dari belakang. Ia menahan napasnya karena kaget dan shock.


"Ada yang ingin aku tunjukkan ke kamu." Bisik Marco di telinga Icha. Gadis cantik itu meremang. Marco terus memeluknya erat sambil mengajak Icha melihat ke arah laut lepas.


Icha yakin pasti wajahnya sudah seputih kapas saking gugupnya.


Tiba-tiba muncul dari tengah laut beberapa kapal layar. Di atas masing-masing kapal ada sebuah kata. Tetapi belum terlihat jelas karena masih terlalu jauh. Hingga kapal-kapal layar yang berukuran sedang itu mendekat dan terbacalah sebuah kalimat...


"Aku Mencintaimu, Marissa... "


Icha yang membaca jelas tulisan itu langsung menutup mulutnya karena kaget. Matanya berkaca-berkaca.


"Aku mencintaimu... " Bisik Marco lembut tepat di telinganya. Tangisan Icha langsung pecah. Semua beban yang ia simpan sendiri akhirnya terlepas. Ia seperti dibebaskan dari satu ikatan yang mengikatnya erat bertahun-tahun.


Marco membalikkan tubuh Icha dan memeluknya erat. Ia mengecup kepala Icha berulang kali. Icha membalas pelukannya tak kalah erat.


"Maaf... jika selama ini sikapku membuatmu takut dan kecewa." Ungkap Marco tulus. Icha masih terisak. Ia menyembunyikan wajahnya dalam dekapan Marco. Nyaman dan bahagia. Itu yang Icha rasakan.


"Hei... lihat aku." Marco menangkup wajah Icha dan menghapus airmatanya. Mengecup keningnya sayang.


Marco tersenyum lebar. Ia kembali menggoda Icha. Marco baru mengetahui kalau Icha gampang sekali tersentuh.


"Hei... aku menunggu jawabanmu, sayang." Celetuk Marco menggoda. Icha menggelengkan kepalanya malu-malu dan tetap menyembunyikan wajahnya dalam dekapan Marco.


Marco tertawa lepas.


"Baiklah... aku tidak perlu menunggu jawabanmu. Mulai saat ini kamu milikku." Tegas Marco percaya diri.


Mereka terus berpelukan di bawah pohon kelapa dan diterpa angin yang sejuk. Marco sekali lagi mengecup kening Icha agak lama dan mengajaknya menaiki sebuah kapal layar yang sudah disiapkan bagi mereka.


Ya, Marco sudah menyiapkan semua dengan baik. Pastinya Raymond yang selalu ada dan mendukung di belakangnya. Ia sengaja membuat surprise ini agak siang, agar ia bisa mengajak Icha menikmati sunset sore nanti.


Ia menggenggam tangan Icha dan menuntunnya masuk dalam kapal layar. Icha terkesima melihat isi dalam kapal itu. Sebuah meja lengkap dengan menu makan siang mereka.

__ADS_1


"Tuan... anda menyiapkan ini semua?" Tanya Icha kagum.


Marco mengangguk lembut. Ia memeluk Icha dari belakang sambil memandang ke luar jendela.


"Kamu suka?" tanya Marco.


Icha mengangguk. Ia tersenyum senang. Ia membalikkan badannya menghadap Marco. Icha menatap mesra mata lelakinya. Dengan mengumpulkan keberanian, ia berjinjit dan mengecup pipi Marco.


"Makasih... " Tutur Icha tulus.


Marco seperti mendapatkan tender triliun rupiah. Ia tersenyum senang mendapatkan ciuman dari Icha. Tidak ingin membuang kesempatan, Marco langsung menarik tengkuk Icha dan mencium bibirnya lembut.


"Tuan... aku lapar." desis Icha saat Marco sudah melepaskan bibirnya. Marco tertawa bahagia. Ia menarik tangan Icha pelan dan mengarahkan pada salah satu kursi di meja makan. Marco pun duduk di depannya. Hanya ada beberapa menu makanan tetapi yang pasti Raymond memilih makanan mewah untuk tuannya dan sang kekasih.


"Makanlah... Aku minta maaf karena sudah menculikmu dari pagi sehingga kamu kelaparan." tandas Marco tersenyum. Ia sengaja membuat suasana tidak terlalu kaku.


Mereka pun makan siang bersama. Marco sengaja mengajak Icha dari pagi, agar mereka bisa menikmati makan siang bersama sampai sunset nanti. Marco benar-benar membuat hari ini khusus untuk ia dan Icha, agar bisa menjadi kenangan untuk mereka nantinya.


Setelah menikmati makan siang, mereka menikmati angin laut di depan kapal. Marco terus memeluk Icha. Sepertinya itu akan menjadi kebiasaan Marco. Ia suka mencium wangi parfum Icha yang lembut dan menenangkan.


"Sebentar lagi kita akan melihat sunset dari sini." ucap Marco. Ia memasukkan wajahnya di ceruk leher Icha. Wangi itu benar-benar memabukkan.


"Kamu pakai parfum apa? Wanginya sangat menenangkan." Seloroh Marco masih menikmati harum tubuh Icha.


"Parfum murah." sahut Icha sambil tertawa kecil.


Mereka terus berbincang ringan dan saling mengenal lebih dalam satu dengan yang lain, hingga tiba sunset yang di nantikan.


Lagi-lagi Marco memeluk Icha dari belakang. Ketika matahari memancarkan warna orange yang cantik, tiba-tiba ribuan kembang api meletup-letup di atas udara. Icha tersentak kaget. Ia tersenyum lebar melihat kejutan itu.


Marco membalikkan tubuh Icha dan langsung mengecup bibir Icha mesra. Ia ******* bibir cantik itu dengan lembut dan penuh perasaan.


"Aku mencintaimu... sangat mencintaimu." Ini kali ketiga Marco mengungkapkan perasaannya. Ia menempelkan keningnya pada kening Icha. "Aku hanya minta satu hal padamu, apapun yang akan terjadi dengan hubungan kita, aku berharap kamu tetap percaya padaku." Sambung Marco dengan menatap intens mata Icha. Ia berharap Icha menaruh kepercayaan penuh padanya. "Percayalah... hati dan hidupku hanya untukmu." tukas Marco meyakinkan Icha.

__ADS_1


Icha tersenyum dan mengangguk yakin.


__ADS_2