
Marco keluar dari ruang rapat di gedung kantor ValCare, perusahaan yang bergerak di bidang kecantikan. Di belakangnya senantiasa Rano terus mengekori dengan setia. Marco juga heran kenapa laki-laki itu seperti tidak sudi membiarkan Marco berdua saja dengan Valencia dalam satu ruangan. Ia pun tak segan berkata kasar atau ketus pada Valencia, jika gadis itu dengan sengaja hendak mendekati Marco. Valencia hanya bisa menahan napas kesal melihat tingkah asisten Marco itu.
"Marco... aku ingin mengajakmu makan malam." Ujar Valencia berusaha menarik perhatian Marco. Laki-laki tampan itu mengangguk.
"Baiklah. Aku juga sudah lapar." Betapa senang hati Valencia mendapat kesempatan berdua dengan Marco.
"Tapi aku ingin kita hanya berdua, Marco. Aku nggak mau asistenmu itu ikut." Rengek Valencia berusaha mencari perhatian Marco. Rano menggeleng pelan meremehkan gaya manja Valencia yang menurutnya sangat menjijikkan.
"Kenapa harus berdua?" Tanya Marco sengaja mengumpan perempuan seksi itu.
"Aku hanya ingin bernostalgia bersamamu, Marco. Apa itu salah?" Wajah sendu mulai Valencia tunjukkan. "Aku berusaha menerima kamu memutuskan hubungan kita. Sekarang aku hanya minta waktumu sebentar saja untuk Mengenang kembali hubungan kita." Suaranya semakin dibuat sendu. Marco menatap wajah cantik itu datar dan dingin.
"Baiklah. Tapi, hanya hari ini. Setelah itu aku harap kau tidak perlu mengenang kembali semua tentang kita." Marco segera melangkah meninggalkan Valencia diikuti Rano.
"Kau cukup pantau dari jauh." Bisik Marco pada Rano.
"Siap, tuan... anda tidak perlu kuatir."
Valencia mengejar langkah Marco keluar dari lobi. Dia senang bukan main karena mendapat kesempatan mendekati Marco lagi.
Melihat Marco naik mobil yang disopiri oleh Rano, Valencia pun bergegas masuk dalam mobil dan duduk di samping Marco. Rano hanya melihat dengan ekor mata saja. Senyuman jahat di bibirnya tersungging tipis.
"Aku senang kamu mau menyempatkan waktu untuk kita." Valencia bersuara memecahkan keheningan. Marco yang sedang sibuk mengutak-atik laptop melihat sekilas ke arah Valencia, lalu ia kembali fokus pada pekerjaan di laptop. Rano melirik melalui spion depan, melemparkan senyuman sinis yang kebetulan sedang dilihat juga oleh Valencia. Mantan model seksi itu menggeretakkan gigi karena kesal dengan wajah Rano yang terlihat menghina dirinya.
Tak lama mobil yang mereka tumpangi memasuki halaman luas sebuah restoran mewah. Marco turun dari mobil tanpa berharap dibuka oleh sopir. Valencia sudah mengetahui kebiasaan Marco, ia pun membuka pintu mobil dan keluar. Sedangkan Rano, memutar kembali mobil dan keluar dari halaman restoran. Valencia tersenyum senang melihat Rano pergi.
"Dasar asisten sialan." Umpatnya kesal. "Aku akan membuat Marco menjadi milikku. Karena memang dia milikku." Gumamnya penuh dendam. Ia segera memasuki restoran, mencari keberadaan Marco yang sudah terlebih dahulu masuk. Ia melihat dari jauh, Marco sedang duduk di ruang VIP yang dibatasi oleh tembok kaca transparan. Ia masih saja sibuk dengan laptop.
"Kamu sudah pesan makanan?" Tanya Valencia setelah duduk di depan Marco.
"hmmm? Belum. Kamu saja yang pesan sesuai selera kamu." Sahut Marco datar. Valencia tersenyum dan mengangguk. Ia melangkah ke arah pelayan yang sedang berdiri agak jauh dari kursi mereka. Ia membisikkan sesuatu dan pelayan itu mengangguk patuh. Valencia melirik sebentar ke arah Marco, laki-laki itu masih sibuk dengan laptopnya.
"Aku memesan makanan kesukaan kita." Suara Valencia membuat Marco mengangkat kepala. Ia mengangguk, menonaktifkan laptop dan meletakkan barang canggih itu di sampingnya.
Pelayan membawa dua gelas jus pesanan Valencia.
"Silahkan tuan, nyonya... sebentar lagi pesanan makanan anda kami hidangkan." Tutur pelayan ramah.
"Terimakasih." Sahut Valencia. Ia mengedipkan mata pada pelayan itu dan disambut dengan senyuman dan anggukan penuh arti.
"Ini jus nanas dicampur sedikit perasaan jahe dan biji selasih kesukaan kamu." Pungkas Valencia. Ia ingin Marco bangga karena masih mengingat minuman kesukaannya. Marco tak bersuara. Ia mengambil minuman itu dan meneguknya tanpa suara. Tak bisa dipungkiri, memang ia sangat menyukai jus nanas dengan sedikit rasa jahe dan biji selasih. Maka, ia meneguk hingga tersisa setengah gelas.
"Gimana? Enak?" Tanya Valencia. Marco mengangguk.
__ADS_1
"Ya... enak." Jawab Marco singkat. "Oya, dalam waktu dekat saya akan mengganti nama ValCare. Dan mungkin kepemimpinan pun akan diganti." Seperti disambar petir, Valencia tersedak minumannya sendiri karena terkejut.
"Maksudnya? Aku nggak akan menjadi direktur utama lagi?" Tanya Valencia tak percaya. Marco mengangguk pasti sambil menghabiskan minuman kesukaannya.
"Ya... Saya harus menggantikan direktur dengan orang baru." Tegas Marco tak peduli dengan ekspresi Valencia yang tidak terima.
"Tapi, kenapa? Aku tau aku bukan pemilik ValCare lagi, tapi aku sudah nyaman bekerja di sini, Marco. Lagian aku yang paling tau kondisi dan keadaan ValCare." Protes Valencia.
Marco sudah tidak bisa berkonsentrasi lagi. Kepalanya tiba-tiba pusing, matanya seperti kabur tak bisa melihat dengan jelas, badannya terasa panas padahal ia sedang dalam ruangan berAC.
Sial... dia menaruh obat perangsang dalam minuman ini. Namun, semakin lama Marco semakin tak berdaya. Ia semakin tersiksa dengan reaksi dalam tubuhnya.
Valencia sudah menelpon orang-orang bayaran untuk datang membopong Marco. Mereka memasukkan Marco dalam mobil dan segera pergi dari tempat itu menuju hotel yang tak jauh dari restauran.
Sampai di hotel, beberapa laki-laki membopongnya masuk dalam kamar yang sudah dibooking. Setelah menerima amplop coklat, orang suruhan Valencia itu bergegas pergi meninggalkan hotel.
"Kamu memang milikku, sayang." Gumam Valencia merasa menang. Ia merangkak naik ke atas tempat tidur, memandang wajah tampan lelaki pujaannya, mengelus pipi hingga ke bibirnya dan...
Cup.
Valencia mengecup bibir seksi Marco yang tertidur akibat obat perangsang yang dicampur obat tidur.
"Malam ini akan menjadi malam kita, sayang." Ujarnya senang. "Tunggu aku... aku akan membersihkan tubuhku, agar kau tak melupakan keharuman tubuh ini." Ia mengecup pipi Marco sebelum akhirnya turun dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi.
Hampir satu jam Valencia berendam menggunakan aroma terapi agar tubuhnya harum dan mengeluarkan aroma yang memabukkan kaum pria.
Ia yang sibuk mengambil gambar dalam kegelapan, tersentak kaget karena tiba-tiba Marco menyerangnya. Namun, beberapa detik kemudian Valencia membalas serangan Marco dengan sukacita. Sudah terlalu lama ia ingin meneguk kenikmatan tubuh seksi Marco namun laki-laki itu selalu menolak. Dan malam ini laki-laki itu begitu agresif menyerangnya. Mereka sama-sama saling menyerang dan saling memberi kenikmatan hingga memcapai puncak bersama.
"Sayaaaaaaang..... nikmaaaat." Tubuh Valencia bergetar akibat mencapai ******* namun masih diserang Marco.
"Aaaaah..." Akhirnya Marco pun ambruk di samping Valencia. Keduanya sama-sama puas mencapai puncak kenikmatan hingga mereka tertidur pulas karena kecapekan.
Pagi terbangun, Valencia tak menemukan keberadaan Marco. Ia bangun mencari pria itu ke kamar mandi namun nihil, hingga ia menemukan sepucuk kertas kecil di atas nakas.
Terimakasih atas pelayananmu semalam. Kamu sangat nikmat. Lain kali kita boleh mereguk kenikmatan bersama lagi.
Valencia tersenyum bahagia. Ia berhasil membuat Marco terpesona dengan goyangannya di ranjang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di hotel tempat Marco menginap, Rano dan Denta sedang duduk di sofa menjaga tuan mereka yang belum juga sadar akibat obat tidur yang diberikan Valencia melalui pelayan restauran, sambil membicarakan hal penting.
"Perempuan licik itu benar-benar keterlaluan. Untung aku diam-diam menyamar dan mengikuti gerak-geriknya. Hanya saja aku kecolongan sewaktu perempuan itu membayar pelayan untuk memuluskan rencananya." Sesal Rano.
__ADS_1
"Tak apa. Yang penting tuan selamat dari jeratan perempuan iblis itu." Ujar Denta membela Rano. "Sekarang pasti dia sedang berhayal tidur dengan tuan." Keduanya tertawa lucu sambil bercerita cara mereka mengeluarkan Marco dari kamar itu.
Flash Back
Ternyata, malam itu Rano tidak memarkirkan mobil di dalam parkiran restauran. Ia sengaja keluar dari halaman restauran untuk mengelabui Valencia. Ia masuk ke dalam restauran dengan sedikit penyamaran, duduk di luar ruangan VIP sambil terus memperhatikan gerak-gerik Valencia. Rano terlambat masuk ketika Valencia sudah selesai kong kali kong dengan pelayan restauran di sana, karena itu Rano tak mengetahui niat jahat perempuan itu.
Rano kaget sewaktu beberapa orang masuk menuju ruang VIP dan tiba-tiba mereka menggotong tubuh Marco. Rano pun mengikuti mobil yang dipakai Valencia untuk membawa pergi Marco ke sebuah hotel. Di tengah perjalanan ia menelopon Denta dan beberapa anak buahnya untuk segera menuju hotel.
Dengan sedikit ancaman, Rano berhasil mendapat kunci cadangan kamar. Tak menunggu lama, ia segera membuka pintu dengan kartu otomatis, dan mengajak Denta serta 4 orang anak buahnya masuk. Terdengar suara lantunan lagu dari kamar mandi. Saking bahagianya mendapatkan Marco, Valencia lupa mawas diri dan tidak menyadari bahwa bahaya sedang mengitarinya.
Dengan langkah pelan dan tanpa suara, Rano dibantu Denta dan dua laki-laki lainnya mengangkat tubuh Marco keluar kamar hotel, sedangkan laki-laki yang bertubuh hampir mirip Marco menggantikan posisi Marco di tempat tidur. Sebelumnya, ia memakai jas yang dipakai Marco, agar Valencia tak curiga. Hingga Valencia keluar kamar dengan tak memggunakan sehelai benang, hasrat dan napsu laki-laki tak terbendung lagi. Dengan napsu yang sudah memuncak, ia menggagahi Valencia dengan sedikit kasar. Kamar yang gelap mambuat Valencia yakin laki-laki yang menggagahinya adalah Marco, maka dengan bahagia ia pun melayani laki-laki itu.
Rano dan Denta membawa Marco kembali ke hotel tempat bos mereka menginap. Akibat obat tidur yang terlalu tinggi dosis, membuat Marco benar-benar terlelap tak menyadari jikalau dirinya dalam bahaya besar.
Flash Back End.
Marco menggeliatkan badan. Ia membuka mata dan melihat-lihat ke sekeliling. Ketika hendak bangun, ia memegang kepalanya yang terasa sangat sakit.
"Tuan..." Denta dan Rano segera menghampiri Marco.
"Denta... cepat telepon dokter." Perintah Rano. Denta segera mengambik telepon genggam dan menelepon dokter kenalannya.
"Aku ingin ke kamar mandi." Suara parau Marco terdengar sangat pelan.
"Mari, tuan... saya bantu." Rano memapah tubuh Marco menuju kamar mandi. "Anda bisa sendiri di dalam, tuan?" Tanya Rano kuatir. Marco hanya menggangguk lemah. Rano pun keluar dan menunggu di depan kamar mandi. Tak lama terdengar suara Marco muntah mengeluarkan semua isi perutnya. Rano segera membuka pintu dan memijit tengkuk Marco pelan.
"Denta... pesan bubur ayam untuk tuan. Bawakan sekarang!" Teriak Rano dari kamar mandi. Ia tak peduli ada Marco di situ. Ia hanya mengkhawatirkan keadaan bosnya.
"Siap!" Sahut Denta sigap.
"Aku ingin berendam dulu." Ucap Marco pelan. Ya, berendam akan membuat tubuhnya lebih segar. Rano pun dengan cekatan menyiapkan air hangat di dalam bath up beserta aroma therapi yang menenangkan.
Rano dan Denta benar-benar mengurus Marco dengan tulus. Semua keperluan tuannya mereka siapkan. Bahkan mereka menjaga Marco seperti menjaga anak kecil.
Selesai mandi, Marco menikmati bubur ayam hangat yang dipesan Denta. Sehabis memuntahkan semua isi perut, ia harus segera mengisi lambungnya dengan makanan lunak. Dan bubur ayamlah makanan paling enak untuk dinikmati saat napsu makan sedang menurun. Marco pun merasa badannya sudah mulai membaik. Dokter yang ditunggu pun sudah datang dan memeriksa tubuh Marco.
"Untungnya anda memuntahkan semua obat dalam tubuh anda. Hingga pengaruhnya sudah mengurang. Saya hanya memberikan vitamin untuk menetralisir tubuh anda." Ujar dokter memberitahu kondisi Marco. Ia memberikan resep yang ditulis pada sebuah kertas kecil dan memberikan pada Rano. Dokter pamit pulang setelah mendapat sebuah amplop dari Denta.
"Terimakasih...." Ucap Marco pada Rano dan Denta. "Aku yang salah. Aku lalai menghadapi Valencia. Aku tidak pernah berpikir kalau dia akan melakukan hal keji itu padaku." Geram Marco mengingat bagaimana dalam keadaan setengah sadar dan tak berdaya, ia dibopong beberapa laki-laki suruhan Valencia. "Cari pelayan itu dan beri dia pelajaran." Ujar Marco dingin.
"Jangan kuatir, tuan. Semalam saya sudah langsung mencari pelayan itu. Dia diberi 10 juta oleh Valencia untuk melakukan hal keji itu." Sahut Rano.
"Denta... siapkan diri. Kamu akan menggantikan perempuan licik itu duduk di kursi pimpinan. Aku percayakan ValCare di tanganmu. Urus pergantian nama perusahaan secepatnya. Jangan memakai embel-embel apa pun yang menyangkut iblis betina itu." Perintah Marco dengan nada emosi.
__ADS_1
"Siap, tuan. Akan saya kerjakan semua perintah anda sesegera mungkin. Terimakasih atas kepercayaan anda." Denta menunduk hormat menerima tawaran Marco.
"Kau tetap berada di belakang Denta, Rano... bekerjasamalah dengan baik." Pesan Marco. "Bonus kalian sudah dikirim Raymond." Sambung Marco membuat Rano dan Denta menunduk hormat dan mengucapkan terimakasih.