
"Bi... Bi Santini..." Suara ayu perempuan cantik terdengar merdu memanggil seseorang. Ya, siapa lagi pemilik suara lembut kalau bukan Icha alias Marissa Lebrina. Perempuan cantik istri dari pengusaha kaya asal Brazil-Sunda yang tampannya tidak diragukan lagiπ (Lebay dikit ππ)
Waktu menunjukkan pukul tujuh pagi. Biasanya, Icha paling rajin bangun pagi dan langsung sibuk di dapur. Namun semenjak hamil, tiba-tiba tingkat kemalasannya naik melewati batas. Untungnya, bibi Santini dan Wulan selalu menjadi kaki tangannya yang gercep alias gerak cepat.
"Iya, non... ada apa? Lah wong kalo manggil itu volume suaranya dikencengin supaya bibi dengar." Bibi Santini paling suka menggoda Icha karena suaranya yang halus dan lembut. Perempuan paruh baya itu ditugaskan kakek untuk tinggal di villa dan membantu membersihkan, sekalian melayani Icha sebagai istri dari pemilik villa. Ia dibantu suaminya tinggal dan bekerja di villa mewah ini.
"Bi... Icha pengin durian. Boleh, nggak?" Rengek Icha manja pada Santini yang sudah dianggapnya ibu. Santini juga merasa seperti mempunyai anak perempuan yang manja dan selalu mau dilayani. "Boleh ya, bi? Dikiiiiiit aja." Rengeknya lagi.
Santini sengaja mendelikkan mata pada Icha. Bukannya marah atau tersinggung malah Icha tertawa terbahak-bahak.
"Bibi jelek kalo gitu." Ejek Icha manyun.
"Nggak usah dikasih durian, bi... dia ngatain bibi jelek sih." Tiba-tiba Wulan muncul dengan nampan di tangan berisi makanan sehat bumil.
"Silahkan, nyonya Marco Guatalla... ini ada susu ibu hamil, ada roti gandum isian sawi, tomat, selada dan alpukat. Semua ini makanan dengan tinggi asam folat yang sangat baik di kehamilan trimester pertama." Oceh Wulan berlaku seperti seorang dokter kandungan profesional.
"Salah sekolah kamu." Cibir Icha melihat tingkah lucu Wulan. Santini ikut tertawa geli melihat dua sahabat itu.
"Ih... belajar itu bukan hanya di sekolah, bukan sekedar akademik, belajar itu ya seperti ini. Temani bumil akhirnya aku tau soal kehamilan, makan minumnya dan lain-lain." Sanggah Wulan sewot. "Supaya kalo aku menikah nanti trus hamil, aku udah tau makanan apa aja yang baik untuk bumil dan tidak baik untuk bumil. Keren, kan?" Puji Wulan untuk diri sendiri.
"Nikah sama siapa? Raymond?" Goda Icha. Wulan melebarkan mata dan mencubit pelan tangan Icha.
"Ck.... Nggak perlu pengumuman, kan?" Protes Wulan karena malu didengar Santini.
"Nggak usah malu-malu... Bibi juga udah tau. Tapi.... orangnya cakep juga, cool lagi." Santini pun ikut menggoda Wulan. Gadis itu tersipu malu.
"iiiisshhh... malu-malu pus meong..."
Mereka tertawa bahagia meski sering saling menggoda dan mengejek satu sama lain. Tidak ada batasan antara majikan dan pelayan.
Namun, satu yang memang Wulan inginkan adalah Icha harus terus ceria dan bahagia, apalagi ia sedang mengandung sekarang. Kesehatan janinnya juga salah satu tergantung dari mood baik sang ibu. Karena itu, kakek, Berry, Raymond, Wulan dan santini sepakat untuk membuat mood wanita itu stabil dan terus membaik.
5 minggu sudah Icha terpisah dari Marco, suaminya. Tidak mudah bagi seorang wanita hamil berjauhan dengan suami. Namun, sampai di minggu ke lima kehamilannya Icha masih bisa menahan rindu dan tidak merasa sendiri karena ada Santini dan Wulan.
"Bi... durian gimana?" Ujar Icha mengingatkan Santini.
__ADS_1
"Boleh... tapi nanti siang. Nggak boleh sekarang, ya. Ini masih terlalu pagi." Sahut Santini tegas. Icha memberengut.
"Kan aku pengennya sekarang, bi." Bujuk Icha. Santini menggeleng yakin.
"No... nanti siang dulu. Sekarang habiskan susu dan rotinya. Kasian dede bayinya pasti udah laper." Tolak Santini. "Duriannya juga nggak boleh banyak-banyak, ya. Kasian dede bayinya." Lanjut Santini bak seorang ibu yang sedang mengurus kehamilan putrinya.
Begitulah komunikasi antara mereka di villa. Benar-benar natural tanpa ada sekatan. Itu juga yang membuat Icha selalu ceria, meski sekali-sekali diam-diam ia menangis merindukan suaminya.
Icha menikmati sarapan pagi yang disiapkan Wulan dengan lahap. Tak perlu diragukan soal rasa karena bibi Santini sangat jago membuat lidah ketagihan. Wulan pun sudah banyak mencuri ilmu memasak dari beliau. Sekali-sekali ia yang memasak dan menyiapkan makanan sehat untuk Icha jika bibi sedang keluar atau sibuk dengan pekerjaan lain.
Selesai sarapan Icha berjalan-jalan menikmati udara pagi di halaman villa yang cukup luas. Udara sejuk membuat mood Icha benar-benar baik. Ia mencium harum bunga mawar yang banyak ditanam pak Jaka di samping villa. Berbagai jenis bunga ada di sana dengan varian warna dan keharuman masing-masing. Benar-benar memanjakan mata. Icha merasa sedang berada di taman bunga mini.
Dari kejauhan, ia mendengar langkah kaki seseorang. Tapi, ia tak terganggu sedikitpun. Ia yakin itu pasti pak Jaka yang sudah mau mulai bekerja membersihkan rumput liar di sekitar taman. Icha terus asyik dengan dunia bunga.
"Pak Jaka... ini bunga apa ya? Kok mirip mawar tapi nggak ada durinya." Tanya Icha tanpa melihat ke orangnya. Ia masih menghirup harum bunga langka itu. "Harum banget bunganya..."
"I miss you... i miss you so much, honey. I do miss you." Icha salah sangka. Itu bukan pak Jaka, tukang kebun villa.
Icha melebarkan matanya saat ada sepasang tangan kekar memeluknya dengan erat dari belakang. Wajah orang itu langsung mencari tempat nyaman yang selama ini selalu menjadi favoritnya. Apalagi kalau bukan ceruk leher Icha. Suara serak yang menyatakan rasa rindunya terasa sangat familiar di telinga Icha. Harum tubuhnya juga selama ini yang Icha butuhkan.
"Maaf... maaf... maaf... maaf... maafkan aku yang bodoh tidak mempercayaimu. Maaf... maaf... maaf... maaf..." Marco terus mengucapkan kata maaf hingga Icha menghentikan mulutnya dengan jari. Marco memegang tangan Icha dan menjauhkan dari bibirnya. "Jangan tinggalkan aku. Aku hampa, sayang... jangan.... aku hancur." Desah Marco memohon dalam penyesalan. "Aku mencintaimu."
Icha luluh melihat airmata suaminya jatuh dari kedua sudut mata. Tangan mungilnya mengusap air mata Marco. Mereka saling menatap, menyalurkan rasa rindu setelah 5 minggu tidak bertemu. Usia pernikahan yang masih seumur jagung harus diterpa badai. Kalau bukan karena kesabaran Icha mungkin mereka sudah berpisah.
Tak satu kata pun keluar dari mulut Icha. Speechless. Ia tidak menyangka secepat ini Marco akan datang menemuinya dan meminta maaf mengingat bagaimana kemarahan Marco waktu itu sangat menakutkan baginya.
Marco memeluk pinggang Icha erat dan memegang dagunya mengajak wanita itu untuk melihat matanya. Tak ada jarak antara mereka. Airmata yang tak mau berhenti meluap membuat hati Marco teriris sakit.
"Maaf.... maaf, sayang. Jangan menangis lagi. Maaf." Jerit Marco pelan tak tahan melihat tatapan sendu istrinya. Ia mengusap airmata Icha, mengecup bibir pink istrinya yang terlihat berbeda. Lebih berisi dan seksi.
"Aku mencintaimu." Marco seakan tak bosan mengucapkan kata cinta.
Icha tersenyum. Ia tak bisa menyembunyikan rasa bahagia karena bisa tubuh yang selalu membuatnya menangis karena merindu. Marco senang melihat senyuman itu. Ia pun membalas dengan senyuman mautnya.
"Maafkan aku..." Ungkapnya sekali lagi. Icha tak bersuara. Seakan berat untuk membuka mulut. Ia hanya mengangguk sambil melemparkan senyum manisnya. Tak ada marah, tak ada dendam. Itulah Marissa Lebrina. Ia tidak suka mengungkit persoalan jika mereka masih bisa menyelesaikan dengan baik. Sikap dewasa inilah yang membuat kakek respek dan tetap mempertahankan ia sebagai menantu Guatalla. Begitupun Marco. Hanya Marissa Lebrina yang mampu membuatnya semakin jatuh cinta setiap hari.
__ADS_1
Mereka saling memeluk melepaskan rindu. Marco mengecup kening, mata, hidung, kedua pipi dan terakhir.... ia melabuhkan bibirnya ke bibir Icha dan menikmati manisnya sebagai pelepas rindu. Hingga Icha memukul pelan dada Marco karena kehabisan oksigen.
"Kebiasaan..." Sungut Icha. Marco terdiam. Ia merasa seperti sudah bertahun-tahun tak mendengar suara lembut itu.
"Suaranya makin lembut aja." Goda Marco. Icha tersipu. Ia menyembunyikan wajah ke dada Marco. Tawa bahagia sudah terdengar dari keduanya.
"Kamu makin cantik. Makin berisi. Aku suka." Bisik Marco. Icha semakin tersipu. "Makin seksi." Icha memukul punggung suaminya. Marco tertawa lepas. Tawa Bahagia.
"Boleh aku cium ini lagi? Aku masih rindu, sayang." Rajuk Marco sambil mengusap bibir Icha. Melihat anggukan kepala Icha, Marco tak menunggu lama. Merek benar-benar melepaskan rindu di taman bunga.
Guk... guk... guk...
Icha melepaskan bibirnya dan melihat ke arah seekor anjing yang menggonggong. Tiba-tiba otaknya memberi alarm bahwa mereka sedang di taman bunga, taman terbuka. Yang mana akan ada banyak mata yang menyaksikan adegan mesra mereka.
Ia menutup mulut karena terkejut dan segera melepaskan pelukan Marco.
"Kenapa?" Tanya Marco heran.
"Kita lagi di taman terbuka, sayang. Kalau ada yang melihat gimana?" Ia panik sambil menengok kiri kanan siapa tahu ada yang melihat. "Ini jam kerja pak Jaka. Pasti pak Jaka udah lihat." Sungutnya kesal. Marco tertawa lucu.
"Ya kalau mereka lihat kenapa?" Tanya Marco sambil tertawa.
"Malu..." Sungut Icha mencubit perut Marco. Laki-laki itu semakin terbahak-bahak.
"Sebenarnya aku tau dari tadi banyak mata yang mengintip kita, tapi aku nggak peduli." Marco sengaja memperbesar volume suara. Icha mengerutkan kening.
"Lihat ke pohon besar itu." Marco mengajak Icha menoleh ke arah pohon besar di samping kiri taman.
"Kabuuuuuuur...." Wulan, Santini dan pak Jaka lari terbirit-birit karena ketahuan mengintip di balik pohon.
Icha menutup mulut kaget dan mereka tertawa bersama karena lucu melihat gaya lari Santini yang berbadan bongsor.
"Bibi Santini kayak penguin larinya." Tandas Icha lucu. "Kalau nanti badan aku kayak bibi gimana?" Tanya Icha pada Marco.
"Aku suka." Jawab Marco cepat. "Makin seksi." Bisiknya dekat Icha.
__ADS_1
Tawa bahagia terus bergema di taman bunga villa rahasia milik kakek.