
Marco bangun dari tidurnya. Kepalanya terasa pusing. Mungkin karena ia banyak minum semalam. Ya, setelah mengantar Wulan kembali ke kost sehabis dari kantor, Marco tidak langsung pulang. Ia masuk dalan sebuah club malam dan bertemu Lim Kian di sana. Mereka mengobrol sambil minum alkohol. Lim Kian tidak terlalu suka minum. Ia hanya ditelepon Marco untuk datang ke club menemaninya minum. Sejenak ia ingin melupakan permasalahan yang sedang ia alami. Ia berharap, esok pagi wajah Icha yang pertama dilihatnya.
Karena terlalu banyak minum, Marco pun mabuk parah. Ia mengoceh tak henti. Nama Icha selalu disebut. Akhirnya, Lim Kian mengetahui jikalau saat ini Marco ada masalah dengan sang istri.
Seperti biasa, ia mengambil handphone dan melihat pesan atau berita apa dari Raymond. Namun, tiba-tiba matanya melebar tak percaya melihat semua pesan yang dikirim untuk Icha sudah terbaca oleh istrinya itu.
"Sial... harusnya aku nggak minum semalam. Pasti sudah tau di mana Marissa." Sesalnya melihat handphone Icha sudah tak aktif lagi.
Marco bangun dari tidurnya dan hendak ke kamar mandi, namun ia hampir terjatuh karena kepalanya yang masih pusing. Ia tak hiraukan itu. Perlahan ia melangkah ke kamar mandi. Ia harus segera mandi agar badannya segar dan Pusing di kepala berkurang. Ia harus mencari Icha lagi.
Selesai bersiap, Marco menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa. Maksud hati ingin menghindari kakek, tetapi malah kakek menegurnya untuk sarapan.
"Marco..." Panggil kakek. Marco menoleh. "Ayo, sarapan." Ajak kakek datar.
"Aku harus segera ke kantor, kek. Aku harus menyelesaikan semua pekerjaan kantor sebelum mencari Marissa lagi." Tolaknya dan hendak pergi. Namun, kakek menahannya.
"Mencari itu satu pekerjaan yang membutuhkan energi. Isi dulu energi kamu baru melanjutkan pencarian." Pungkas kakek sekaligus perintah yang tidak boleh dibantah. Marco mengalah. Ia melangkahkan kaki menuju meja makan. Mereka makan dalam diam sampai akhirnya kakek membuka suara.
"Bagaimana pencarianmu?" Tanya kakek. Marco tak langsung menjawab. Ia sedang memikirkan kata-kata yang baik yang bisa membuat minim pertengkaran antara dirinya dan kakek. Untuk saat ini dia lagi tidak mempunyai mood untuk bertengkar soal kehilangan Icha.
"Masih terus dicari, kek.." Sahut Marco seadanya. Ia menghindari tatapan kakek.
Kakek menghembuskan nafas kecewa.
"Tidak mungkin Marissa bisa menghilang tanpa jejak seperti ini." Ujar kakek curiga. "Apa menurutmu ada yang aneh?" Tanya kakek. Keningnya berkerut karena memikirkan sesuatu.
"Iya, kek... aku juga heran." Singkat saja jawaban Marco. Ia pun bingung harus menjelaskan apa lagi.
"Berarti Marissa tidak jauh dari kita." Ucapan kakek sedikit membuat Marco kaget dan mengingat sesuatu.
Ya, betul kata kakek. Semalam ia masih membuka hape dan menerima semua pesan dari ku. Gumam Marco dalam hati. Ia terus makan dalam diam. Sengaja ia belum memberitahu kakek soal itu karena ia tidak mau kakeknya semakin pikiran dengan keadaan Icha.
"Aku ke kantor, kek." Pamit Marco sopan. Ia segera masuk dalam mobil yang sudah ditunggui sopir dan menuju perusahaannya. kembali ia membuka hape dan melihat semua pesan what's up sudah diterima tetapi belum dibaca oleh Icha.
Sesampai di parkiran, seperti biasa ia disambut sekuriti dan beberapa dewan direksi yang kebetulan baru sampai. Namun, pagi ini berbeda. Marco terlihat dangat dingin dan tidak membalas salam mereka. Ia berjalan lurus menuju lift yang sudah dibuka oleh sekuriti yang lain, agar ia langsung masuk tanpa menunggu lagi. Beberapa bawahannya saling pandang karena merasa aneh dengan sikap Marco. Tetapi, mereka tidak berani bertanya.
Raymond menyambut Marco di lantai 25. Melihat aura negatif dari wajah bosnya membuat ia tidak berani untuk berbasa-basi.
"Belum ada berita?" Tanya Marco sambil berjalan menuju ruangannya. Saat melewati meja kerja Icha, hatinya terpukul sakit. Ia menatap ruang terbuka itu dengan sendu. Kamar privasi yang tertutup itu menjadi saksi bagaimana Marco selalu memeluk Icha, mendengar rengekan manjanya bahkan terjadi kesalahpahaman antara mereka.
"Apa kamar privasi Marissa selalu dibersihkan?" Tanya Marco sambil membuka pintu ruangannya.
"Iya, tuan... OB selalu membersihkan." Sahut Raymond. Ia belum pernah melihat salah satu OB membersihkan ruangan itu, namun ia yakin pasti selalu dibersihkan karena memang itu salah satu tugas OB membersihkan ruangan-ruangan yang kosong agar tetap bersih.
"Hentikan semua pencarian." Raymond mengerutkan kening mendengar perintah Marco. Ia tidak salah dengar?
"Maksud tuan?" Tanya Rarymond heran.
"Marissa tidak menghilang jauh. Aku yakin ia masih di kota ini." Sahut Marco pelan.
"Tapi tuan... kalau nona di kota ini bagaimana mungkin kita tidak bisa melacaknya." Sanggah Raymond agak kurang yakin jika Icha masih ada di kota ini.
Marco terdiam. Benar juga, kalau Icha masih di sini bagaimana mungkin ia tidak bisa dilacak. Marco mengusap wajahnya dengan kasar. Benar-benar ia merasa terpuruk saat ini.
"Biarkan anak buah kita terus mencari nona, tuan." Ujar Raymond tetap optimis. Marco mengangguk lemah.
__ADS_1
Semua karyawan bekerja seperti biasa. Raymond yang tahu keadaan tuannya, mengambil alih semua pekerjaan Marco. Pikirannya sedang benar-benar kacau saat ini.
Tok... tok... tok...
"Hai, nak..." Suara perempuan separuh baya yang dipanggil mommy oleh Marco itu muncul dengan tas branded di tangan kanan dan tas rantangan di tangan kiri. "Mommy bawain makan siang buat kamu." Ucap Sania sambil meletakkan tas bekal makan siang itu di atas meja tamu. "Mommy lihat beberapa hari ini istri kamu nggak ada di rumah. Makanya mommy bikinin kamu bekal." Sambungnya dengan suara ceria. "Kamu lihat sendiri kan istri yang kamu pilih itu, sekarang menghilang tanpa kabar berita." Ucapan Sania mulai membuat Marco menahan nafas. "Pasti dia nggak betah tinggal di mansion karena udah biasa tinggal di gubuk reot." Marco menutup mata menahan amarah. Kalau saja ini bukan ibu kandungnya, maka dipastikan perempuan ini tidak akan mengulang untuk yang kedua kalinya kata-kata penghinaan terhadap istrinya.
"Mommy boleh pulang. Aku masih banyak pekerjaan." Marco enggan menanggapi Sania.
"Kok kamu ngusir mommy sih?" Protes Sania tak terima disuruh pulang. "Semenjak kamu kenal perempuan kampung itu, kamu jadi berubah." Sindir Sania kesal.
"Kalau mommy datang ke sini hanya untuk menambah masalah dan membuat aku semakin pusing, lebih baik mommy pulang." Tegas Marco hampir tidak bisa menahan diri.
"Marco... mommy datang baik-baik, mengantar kamu makan siang. Kenapa kamu bilang mommy menambah masalah?" Ketus mommy tak terima.
"Kalau hanya mengantar makan siang, tidak harus sampai menjelekkan Marissa, kan?" Tandas Marco tajam.
"Lho... kok menjelekkan? Yang mommy ngomong ini kenyataan, Marco. Buka mata kamu." Sanggah Sania ngotot.
"Buktinya, dimana dia sekarang?"
Marco menelan saliva menahan emosi dalam dadanya yang sudah bergemuruh hebat.
Tuhan... kalau saja ia bukan ibuku...
Lirih Marco dalam hati. Ia menyugar kasar rambutnya.
"Kamu kenapa sih selalu menganggap mommy musuh kamu? Semua yang mommy lakukan selalu salah di mata kamu." Sania mulai berakting. Airmata buaya mengalir di pipi yang penuh dempulan bedak. Tetapi, karena bedaknya mahal, airmatanya tidak membuat luntur dempulan bedak itu.
"Mommy ingin yang terbaik buat kamu." Lirih Sania dalam tangisnya.
Suami Marissa Lebrina itu menarik napas panjang dan kembali duduk di kursi kebesarannya.
"Ray... bawakan semua berkas yang harus ditandatangani." Ucap Marco lewat intercom. Tak sampai 2 menit, Raymond membawa tumpukan berkas dari semua divisi untuk diperiksa dan tanda tangan.
Tumpukan berkas itu membuat Marco sedikit melupakan masalah Icha. Ia fokus pada pekerjaannya hingga tak terasa hari mulai gelap. Bekal yang dibawa Sania pun lupa untuk dimakan. Marco tidak merasakan lapar sama sekali.
"Tuan... sudah pukul 8 malam. Anda juga belum makan dari siang tadi." Tegur Raymond yang masih setia menemani Marco.
Marco meluruskan punggung dan kakinya. Mulai terasa pegal seluruh tubuh. Ia berdiam diri sesaat. Raymond dengan sigap mengatur semua berkas penting itu. Setelah beres, mereka pun turun ke bawah melalui lift hingga sampai di parkiran.
"Selamat malam, tuan." Sapa Dandi, kepala sekuriti perusahaan.
"Malam. Bagaimana pekerjaan kalian?" Tanya Marco datar. Walau pun begitu, Dandi tahu tuannya ini sangat baik dan perhatian pada karyawan.
"Baik, tuan." Sahut Dandi menunduk hormat. Marco hendak masuk ke dalam mobil yang sudah dibuka oleh Marco.
"Tuan Marco..." Mendengar namanya disebut oleh suara yang berbeda, Marco menoleh. Sekilas ia melihat nametag sekuriti yang memanggil namanya. Mujiono.
"Ada apa?" Raymond yang menjawab.
"Maaf, tuan... saya Mujiono, sekuriti yang bertugas memeriksa di dalam kantor." Ia memperkenalkan diri. "Sudah dua malam ini, ruangan privasi sekretaris pribadi anda selalu menyala lampunya menjelang mahgrib, dan akan kembali padam pada tengah malam." Jelas Mujiono yang melihat keanehan dalam salah satu ruangan di dalam kantor mewah itu. "Apakah ada yang tinggal di dalam sana?" Lanjutnya bertanya.
Marco mengerutkan kening. Ruang privasi sekretarisnya? Hah?
"Marissa..." Gumam Marco tiba-tiba dengan nafas memburu.
__ADS_1
"Anda benar, tuan. Itu pasti nona." Raymond semakin meyakinkan.
Tanpa suara, ia berlari ke arah lift dan menekan tombol 'on'. Raymond pun ikut berlari.
"Kamu ikut saya." Perintah Raymond pada Mujiono. Ia mengangguk patuh.
Lift terbuka dan mereka bertiga masuk dengan cepat. Dengan tidak sabar Marco menekan angka 25, berharap cepat sampai. Nafasnya seakan ingin berhenti. Jantungnya berdebar kencang. Bagaimana kalau benar ada Icha dalam ruang privasi itu?
Lift terbuka. Marco berlari keluar diikuti Raymond dan Mujiono.
"Kamu cepat ambil kunci duplikat pintu ruang privasi sekretaris." Perintah Raymond pada Mujiono.
"Sayang.... sayang... buka pintunya!" Teriak Marco tak sabar. Hatinya sangat yakin Marissa berada di dalam ruangan itu. "Sayaaaag...buka pintunya! Aku tau kamu di dalam."
Nihil. Tak ada suara. Marco panik. Ia mulai ketakutan.
"Lakukan sesuatu, Ray!" Jeritnya panik. "Sayaaaang... Aku mohon, buka pintunya!" Teriaknya lagi.
"Tenang, tuan. Sekuriti sedang mengambi kunci duplikatnya." Raymond berusaha tenang, agar Marco tidak bertambah panik.
Tak lama, Mujiono datang dan memberi Raymond kunci duplikat. Ia segera membukanya.
Pintu berhasil dibuka, Marco langsung serobot masuk dan mencari keberadaan Icha.
"Sayaaaang...." Teriaknya menggema di ruangan itu.
Klik. Lampu dinyalakan Raymond.
Terlihat seperti ada tanda-tanda kehidupan.
Deg!
"Sayang..." Teriak Marco saat melihat tubuh Marissa terbaring di atas tempat tidur. Tak ada gerakan, hanya terdiam kaku. "Sayang... bangun.. bangun, Marissa!" Marco memeluk tubuh itu dengan panik. Nafasnya memburu. "Sayang... hei, bangun." Icha tetap menutup mata tanpa gerakan.
"Tuan... sebaiknya kita segera ke rumah sakit." Ucap Raymond menyadarkan Marco yang terus berteriak membangunkan Icha.
Marco menggendong tubuh Icha dan berjalan cepat menuju lift.
"Kamu kunci ruangan ini." Perintah Raymond dan segera mengejar Marco. Sampai di parkiran, Marco segera membawa tubuh lemah Icha masuk ke dalam mobil. Raymond pun masuk ubtuk menyetir.
"Sayang, bertahanlah.... aku mohon." Lirih Marco. Airmata pun tumpah dengan deras. Sekali dalam hidupnya menangis dengan mengeluarkan banyak airmata. Ia terus mengecup kening Icha yang terlihat sangat pucat. "Maaf... maaf...maaf..." Ucapnya terisak. Raymond mengusap air matanya yang jatuh. Melihat Marco begitu rapuh, hatinya sedih.
Sampai di rumah sakit, Marco menggendong Icha.
"Cepat... periksa istriku." Seorang perawat datang membawa brankar dan beberapa perawat langsung mendorongnya masuk dalam ruang IGD.
"Maaf, tuan... anda tunggu sebentar di luar. Dokter akan memeriksa istri anda." Seorang perawat mencegah Marco yang ingin masuk ke dalam ruang. pemeriksaan. "Percayalah pada kami. Kami akan melakukan yang terbaik untuk istri anda." Sambungnya ramah ketika melihat mata Marco yang menatapnya tajam. Pintu pun ditutup.
Raymond memegang pundak Marco agar ia tenang.
Tanpa diduga, Marco berbalik dan memeluk Raymond. Ia menangis dalam pelukan Raymond. Ia rapuh. Dalam hidupnya, ia hanya memiliki kakek. Ia mempunyai orangtua, tetapi kelakuan ibunya membuat ia menjauh dari keluarganya sendiri. Lalu, Icha masuk dan membuat warna baru dalam kehidupannya.
Raymond memeluk erat tuan sekaligus saudara baginya.
"Tenang, tuan... nona akan baik-baik saja. Dia wanita yang kuat. Cinta anda akan menguatkannya." Kata-kata Raymond sedikit membuat Marco tenang. Raymond menuntunnya untuk duduk dan memberi segelas air mineral. Ia menghabiskan air dalam satu tegukan.
__ADS_1
"Marco..." Marco mengangkat kepala. Kakek berdiri di depannya. Ia langsung berdiri dan memeluk kakeknya erat. Lagi-lagi ia menangis kuat dalam pelukan kakek. "Pukul aku, kek. Pukul aku. Aku bodoh, kek. Aku bodoh. pukul aku!" Pekik Marco tertahan. Pelukan kakek membuat ia tenang dan merasa kekuatannya kembali muncul.