Cukup Di Hati Saja

Cukup Di Hati Saja
Raymond atau Berry?


__ADS_3

Icha benar-benar berhasil menutupi bekas tamparan yang sudah membiru pada pipinya. Setiap kali habis mandi, ia memakai foundation untuk menutupi bekas itu secara sempurna. Bengkak di bibirnya pun perlahan mulai turun.


Icha mau menjaga hubungan baik antara suami dan ibu mertuanya. Kalau sampai Marco mengetahui jika sobekan di sudut bibirnya karena kelakuan sang ibu, maka tidak menutup kemungkinan Marco akan dengan segera mengirim kembali ia ke Amerika dan hubungan mereka pun semakin merenggang.


Sampai hampir satu bulan mereka menikah, Icha belum mengerti apa yang membuat mama Sania begitu tidak mmenyukai dirinya. Bahkan wanita seperuh baya itu tidak segan memfitnah Icha dengan tuduhan-tuduhan yang tak masuk akal.


Cup!


Satu kecupan mendarat di pipinya. Saking kepikiran dengan sikap mertua, membuat Icha tidak menyadari kehadiran Marco yang baru pulang bertemu Klien. Kali ini Marco tidak mengajaknya, hanya ditemani oleh Raymond karena masih banyak file yang harus diperiksa oleh Icha sebelum diserahkan ke CEO.


"Lagi memikirkan apa?" Tanya Marco. Ia melingkarkan tangan di perut Icha dan menaruh dagunya di pundak sang istri. Mereka sedang menikmati hiruk pikuk kota Jakarta dari balkon ruangan pribadi Icha.


"Nggak ada." Sahut Icha sambil memeluk tangan Marco yang berada. di perutnya. "Suntuk aja dari tadi di depan komputer. Makanya aku ke sini supaya dapat angin segar." Sambungnya lagi. Ia menyandarkan kepala di dada Marco.


"Oh ya, aku lupa." Celetuk Marco sambil terus memeluk Icha. "Ada undangan dari tuan Albizar Adzam untuk makan malam di restoran Jepang. Ia baru datang dari Arab dan ingin memperkenalkan anaknya yang akan menggantikan dia nanti di dunia bisnis." Terang Marco serius. "Kebetulan dari awal perusahaan ini dibangun oleh kakek, orangtuanya adalah pengusaha pertama yang menjalin hubungan kerjasama dengan GT Corp. Sampai sekarang turun ke generasi ketiganya." Beber Marco tentang salah satu partner bisnis GT Corp, seorang pengusaha sukses asal Saudi Arabia.


Icha hanya mengangguk menanggapi penjelasan Marco. "Karena itu, kamu harus berdandan yang cantik karena aku akan sekalian memperkenalkan kamu pada partner bisnis kita. Dan..... " Marco memgangkat jari telunjuknya di depan Icha saat istrinya itu hendak memotong ucapannya. Ia tahu, Icha akan menolak bertemu dengan banyak orang apalagi para pengusaha sukses.


"Tidak ada penolakan, Marissa Lebrina." Tegasnya tepat di telinga Icha membuat istrinya kegelian dan tertawa kecil.


"Geli..." Rengeknya sambil memukul pelan tangan Marco.


"Aku sudah minta temanku untuk memilih dress yang cantik buat kamu. Kebetulan dia punya butik bagus di sini." Ujar Marco kemudian.


"Nggak... aku nggak mau, sayang. Dress di lemari aku aja masih banyak yang baru dan aku belum pernah pakai dress-dress itu." Protes Icha cepat. Ia berbalik menghadap Marco. "Aku nggak mau pergi kalo kamu beli dress baru lagi." Ancamnya kesal. Ia memanyunkan bibir tanda protes pada sang suami.


Marco tertawa melihat tingkah istrinya seperti anak kecil yang lagi mengancam papanya karena tidak diberikan permen.


"Bisa nggak kalo protes itu hal-hal yang penting. Misalkan kamu protes karena aku nggak pernah beli'in kamu berlian mahal, dress keluaran baru, mansion baru." Seloroh Marco lucu. "Ini malah protes karena mau dibelikan dress baru." Sambungnya tertawa. "Semua perempuan senang dibelikan dress mahal, malah kamu menolak."


Icha menatap nyalang pada Marco. Kesal karena ditertawain suami.


"Ngapain sih harus beli yang baru sedangkan yang lama masih banyak yang belum terpakai dan masih sangat bagus?" Sahut Icha bertanya. "Mending uangnya kita pakai sekolahkan anak-anak jalanan yang mungkin hanya bisa makan sekali sehari." Lanjutnya serius. "Aku nggak butuh pakaian mahal, nggak butuh berlian mahal, sayang. Mahal dan murah fungsinya tetap sama, kan?" Icha melingkarkan tangan ke pinggang Marco. "Menikah denganmu, menjalani hari-hari bersamamu, melayanimu sebagai seorang istri, menemanimu sebagai partner kerja dan selalu ada di samping kamu, udah sangat cukup dan itu hal yang paling berharga dan paling mahal dalam hidupku. Itu tidak bisa diganti dengan apapun dalam dunia ini. Aku nggak mau barang yang mahal, sayang. Aku mau kamu tetap ada di sisi aku selamanya." Ungkapan Icha membuat Marco terpana tanpa suara. Icha yang melihat suaminya termangu segera memberi satu kecupan singkat di bibirnya.


Marco tersenyum melihat senyuman bahagia di wajah sang istri.


"Terimakasih, sudah menjadi istri yang luar biasa." Tutur Marco pelan. Icha mengangguk senang. Ia meletakkan kepalanya di dada Marco dan memeluk erat laki-laki yang sangat dicintainya. Marco menghadiahi banyak kecupan di kepala dan kening Icha untuk mengungkapkan rasa terimakasih pada istrinya itu.


"Udah jam 3, sayang... boleh ijin pulang nggak?" Tanya Icha. Ia mengangkat kepala melihat Marco.


"Kenapa pulang?" Tanya Marco heran.


"Pengen istrahat, yaaang... capek." Rengeknya. Marco selalu lemah tak berdaya jika perempuan ini mulai merengek dengan suara manjanya.


"Baiklah, kita pulang. Kita minta ijin dulu sama Raymond." Icha tertawa mendengar ucapan Marco. Mana ada bos minta ijin pada bawahan. Namun, berbeda dengan Marco. Ia bukan menganggap Raymond sebagai bawahan namun sebagai rekan kerja. Karena, tanpa Raymond, belum tentu Marco bisa menjalani perusahaan sebesar ini.


Marco menggenggam tangan Icha keluar dari ruangan itu. Icha membereskan semua di meja kerjanya, sedangkan Marco kembali ke ruang kerja dan memanggil Raymond menghadap.


"Ya, tuan..." Sapa Ray setelah berada di hadapan Marco.


"Aku ijin pulang terlebih dahulu. Kamu tetap di sini sampai jam kerja selesai." Ujar Marco. Raymond mengangguk hormat.

__ADS_1


"Baik, tuan... Silahkan. Lagipula semua pekerjaan sudah beres dari siang tadi." Sahut Raymond sopan.


Marco menggenggam tangan Icha dan hendak mengajaknya naik lift.


"Tuan... sebentar." Raymond menahan Marco.


"Ada apa?" Tanya Marco.


"Maaf... ada nona Valencia di lobi. Ia ingin bertemu anda, tuan. Saya baru di telepon resepsionis." Ucap Raymond pelan sambil melirik Icha. Ia takut menyinggung perasaan nona mudanya itu. "Apakah saya ijinkan dia ke sini, tuan?" Tanya Raymond.


"Tidak perlu. Biarkan saja dia di lobi. Aku akan menemuinya di sana." Marco mengajak Icha masuk dalam lift untuk turun ke lobi.


"Percaya padaku." Bisik Marco sambil mencium tangan Icha. Ia tidak ingin menyakiti hati sang istri.


"Aku percaya, sayang..." Ucap Icha meyakinkan Marco. Ia memeluk lengan Marco selama di dalam lift hingga lift terbuka.


Icha sedikit gugup. Karena, selama sebulan menikah belum banyak yang mengetahui tentang hubungan mereka. Marco menggenggam tangan Icha keluar dari lift menuju ruang VIP lobi. Semua mata tertuju pada pasangan ini. Ada yang berbisik karena melihat genggaman tangan Marco. Banyak mata yang tak percaya melihat kemesraan pimpinan dan sekretarisnya.


"Tuan... anda ditunggu nona Valencia." Seorang resepsionis segera mendekati Marco untuk memberitahu kehadiran Valencia.


"Kenapa tidak membiarkan dia ke ruangan saya?" Tanya Marco pada resepsionis itu. Ia terus menggenggam tangan Icha.


"Dilarang tuan Raymond, tuan..." Jawab gadis itu hormat. Marco tersenyum sinis. Ia tahu, Raymond tak akan mengijinkan mantan tunangannya itu menemuinya di atas.


"Baik. Kamu boleh kembali bekerja." Perintah Marco. Gadis itu menunduk hormat dan sekilas memandang Icha dan turun pada genggaman tangan mereka. Raut wajahnya seperti bingung memikirkan hubungan antara CEO, sekretaris dan tunangan CEO.


Marco berjalan menuju ruang tunggu di mana Valencia berada.


"Ada keperluan apa kamu kesini?" Suara bass Marco menyadarkan Valencia yang sedang serius mengutak-atik telepon genggam. Ia membalik badan dan terpana melihat Marco memeluk pinggang Icha dengan posesif. Ia menelan saliva yang terasa kering di tenggorokan. Ia masih tak percaya, Marco yang dulu begitu mencintainya mampu melupakannya begitu cepat.


Marco menatap tajam pada Valencia yang lama terdiam dan hanya terpana menatapnya dan Icha.


"Eh... emm.. ma-ma-maaf." Model super seksi itu menjadi salah tingkah melihat tatapan Marco yang bukan lagi tatapan penuh cinta, melainkan tatapan kebencian.


"Ada keperluan apa ke sini?" Tanya Marco sekali lagi.


"Aku mau minta maaf." Ucapnya pelan. Ia menunduk tak kuat menahan tatapan Marco. "Aku... aku salah sudah.."


"Sayang... ajak Valencia duduk dulu. Kita bisa ngobrol baik-baik." Tutur lembut Icha sedikit menenangkan hati Marco yang sudah dipenuhi amarah. Ia teringat kejadian di mana perempuan seksi ini mengirim foto pada Icha untuk merusak hubungannya dan Icha.


Marco melihat Icha sekilas. Ia menggenggam tangan istrinya dan mengajaknya duduk. Ia sama sekali tidak mempersilahkan Valencia untuk duduk.


"Silahkan duduk, Val." Icha mempersilahkan Valencia duduk. Perempuan itu menatap tak suka pada Icha dan segera duduk berhadapan dengan Marco dan Icha.


"Sekarang katakan apa keperluanmu ke sini?" Suara datar Marco terdengar menyeramkan di telinga Valencia.


"Aku...." Valencia tertunduk bingung entah mau memulai dari mana. Ditambah lagi gengsi dalam dirinya untuk meminta maaf. Minta maaf? Untuk?


"Aku mau minta maaf." Gumamnya cepat dan terus menunduk.


"Untuk?" Tanya Marco mengintimidasi. Ia yang awalnya duduk bersandar, meluruskan punggungnya dan menatap dingin pada Valencia.

__ADS_1


"emmm... aku... aku sudah mengirim foto kita pada istri kamu." Sahut Valencia tertunduk malu. Bukan malu karena sudah melakukan hal tidak baik, tetapi malu karena ia harus tertunduk tak berdaya di hadapan Icha.


"Lalu?" Tanya Marco seolah tak paham.


"Yaaa... aku hanya mau minta maaf. Lagian aku nggak ada maksud apa-apa kok." Kilah Valencia. "Kenapa kamu mematikan karier model aku?" Tuduh Valencia membuat Icha keget dan spontan melihat Marco yang masih duduk dengan santai. "Agenci tempat aku bernaung selama ini tiba-tiba memutuskan kontrak padaku." Seru Valencia dengan mata berkaca-kaca. "Padahal kamu tau menjadi model adalah impian aku, Marco."


Marco kembali duduk bersandar, Tanya memangku kaki dan melipat tangan di dada. Ia masih menatap tajam pada Valencia. Tak ada sedikit pun rasa kasihan pada perempuan yang pernah mengisi hatinya.


"Apa urusan karier modelmu denganku?" Tanya Marco yang mulai paham apa yang terjadi.


"Aku janji nggak akan menganggu hubunganmu dengan Marissa lagi. Tapi, aku mohon kembalikan karierku." Ia menangkup kedua tangan di dada meminta belas kasihan pada Marco.


"Kalau kamu melanggarnya, konsekuensi apa yang akan kamu dapatkan?" Tawar Marco datar. "Oh... aku tau," Timpalnya lagi. "kalau kamu masih menganggu hubungan kami, maka bukan hanya kariermu yang hancur tapi karier ayahmu juga akan aku ratakan dengan tanah. Agar kamu dan keluargamu itu bisa sedikit merunduk. Jangan hanya mengangkat kepala kalian tanpa mau melihat ke bawah." Ancam Marco penuh penekanan.


Tak ingin berlama-lama di ruangan itu, Marco segera menggenggam tangan Icha dan mengajaknya pulang. Valencia hanya bisa melihat kepergian dua sejoli itu dengan dendam dan amarah.


"Aku tak akan membalas kalian. Tetapi, aku akan memanfaatkan mommy kamu yang bodoh itu untuk membuat hancur hidupmu." Gumam Valencia sinis. Ia segera pergi meninggalkan tempat itu.


Sedangkan di dalam mobil, Marco sedang merangkul dan menyandarkan kepala Icha ke dadanya.


"Kenapa diam dari tadi?" Tanya Marco lembut. Semenjak keluar dari lobi, Icha hanya terdiam dalam pelukan Marco.


"Kenapa kamu membalas Valencia?" Sahut Icha balik bertanya.


Marco tertawa kecil. Ia mengecup kepala Icha. Mengusap sayang lengan istrinya.


"Dengar... aku juga baru tau dari mulut Valencia kalau kariernya hancur gara-gara menganggu kamu dengan kiriman fotonya itu." Ucapan Marco membuat Icha kaget. Ia mengerutkan kening tak mengerti. Ia menjauhkan tubuhnya dari pelukan Marco dan menatap Marco meminta penjelasan.


"Maksudnya?" Tanya Icha penasaran.


"Ya... aku juga baru tau tadi dari Valencia, sayang." Jawab Marco tersenyum. Ia senang melihat wajah Icha yang kebingungan.


"Trus tadi maksud Valencia apa?" Cecar Icha lagi.


"Ya... kamu dengar sendiri kan tadi." Marco menjawab dengan santai.


"Iiiih... kamu jangan bikin aku bingung dong." Rengek Icha kesal sendiri dengan jawaban Marco yang sepertinya sengaja membuatnya bingung.


Marco tertawa melihat tingkah Icha. Ditariknya perempuan itu dalam pelukannya.


"Dengar.... aku tidak pernah menganggu kariernya walaupun aku sangat ingin menghancurkan bukan hanya kariernya saja tapi hidupnya juga agar ia berhenti mengganggu kamu. Tapi kamu sendiri yang memintaku untuk tidak membalas dendam padanya, kan? Dan aku turuti mau kamu. Aku benar-benar tidak membalas perbuatannya pada kamu." Terang Marco panjang lebar. "Tapi itu tidak berlaku untuk Raymond dan juga Berry. Mereka tidak akan tinggal diam melihat aku atau kakek atau orang yang kami sayangi diganggu apalagi sampai terluka." Jelaslah sekarang bukan suaminya yang membuat Valencia sampai datang dan meminta maaf.


"Kok bisa?" Tanya Icha heran.


"Mereka itu tipe asisten yang setia dan bertanggungjawab." Jawab Marco. "Jadi, bukan aku yang membalas Valencia. Itu perbuatan antara Raymond atau Berry." Marco tersenyum saat Icha melihatnya.


"Lalu Valencia gimana, sayang? Kasian dia." Lirih Icha sedih.


"Ck... kamu lupa apa yang sudah ia perbuat sampai hubungan kita hampir berantakan?" Timpal Marco tak suka. "Biarkan dia merasa bahwa apa yang sudah ia perbuat itu salah dan ada konsekuensinya."


Icha terdiam. Benar juga kata suaminya. Valencia harus tahu bahwa setiap perbuatan yang merugikan orang lain pasti ada konsekuensinya.

__ADS_1


__ADS_2