
Icha mengelus perutnya yang masih rata. Ya, jelas saja. Ia baru hamil 1 bulan. Senyum terus tersungging di bibirnya. Walaupun ia harus mengalami pencobaan dalam rumah tangga, namun ia bahagia dengan kehamilannya. Belum ada yang tahu tentang janin yang sudah hidup dalam perutnya, kecuali kakek, Berry dan Wulan. Si Ayah sang jabang bayi masih asyik tenggelam dalam penyesalan dan dilema untuk memilih istri atau ibu kandungnya.
Icha bersyukur, bibi Santini selalu memenuhi semua kebutuhan gizi sang jabang bayi. Beruntungnya lagi, Icha juga tidak mengalami morning sickness sebagaimana biasa dialami ibu hamil pada umumnya. Namun, ia bersedih hati mendengar keadaan Marco yang harus mengalami couvade syndrome setiap pagi. Bahkan mendengar cerita kakek, ia sama sekali tak bisa menyentuh nasi dan makanan rumah.
"Kamu ngerjain papa ya, nak?" Ia mengajak bicara janin dalam kandungannya. "Kasian papa nggak bisa makan lho. Nanti papa sakit, nak." Setiap hari Icha mendapat telepon dari kakek. Banyak cerita yang ia dengar dari orang tua itu, tentang Marco atau pun Sania, ibu mertuanya. Tak lupa, ia selalu bercerita kembali kepada janin dalam kandungan. Ia bercerita banyak tentang Marco, ayahnya. Ia ingin anak dalam kandungan mengenal papanya, karena sampai berumur 1 bulan, Marco belum pernah menyentuh perutnya.
"Hai, bumil... ngelamun aja." Wulan si sahabat muncul dengan nampan di tangan. "Nih... waktunya minum susu ibu hamil, supaya ponakan aku gembul pas lahiran." Kelakar Wulan.
Satu lagi yang membuat Icha harus banyak-banyak bersyukur adalah ia dikelilingi oleh orang baik dan sayang padanya, salah satunya Wulandarie Rahayu, sahabat satu-satunya dari jaman putih abu.
"Thanks ya, aunty cantik..." Ucap Icha dengan senyuman manis. Ia meneguk sedikit susu coklat itu. "Udah lama ya Raymond nggak datang... kangen nggak?" Tanya Icha menggoda Wulan. Gadis itu melototkan mata kesal. "hahahaha... ngaku aja kenapa sih? Aku juga kangen suami aku lho." Sambungnya meledek Wulan.
"Ck... minum tuh susunya. Nggak usah ngelantur," Seloroh Wulan sengaja kesal, padahal hatinya malu bukan main. Icha tertawa melihat Wulan yang malu-malu tapi sebenarnya mau.
"Tadi Raymond telepon kan? Cerita apa aja sih?" Tanya Icha penasaran.
"Kepo..." Cibir Wulan. "Eh, tapi kasian tuan Marco. Dia ngidam, cha. Katanya tiap pagi Ray harus siapin sarapan di kantor. Tuan Marco tidak bisa menyentuh makanan rumah. Dan kamu tau apa sarapannya?" Cerita Wulan bersemangat.
"Apa? Kakek nggak pernah cerita tentang menu sarapannya di kantor." Akhirnya Icha kepo juga.
"Kebayang nggak kalo suami kamu itu sarapannya bubur kacang ijo dan rujak mangga asam." Icha melongo tak percaya.
"Hah??? Masa sih?" Tanya Icha kaget. Ia tidak yakin akan apa yang disampaikan Wulan. Rujak mangga muda???
"Serius... kalo nggak percaya, nanti malam Ray nelepon, kamu boleh deh nanya langsung ke orangnya." Wulan meyakinkan Icha. "Padahal menurut Ray, tuan Marco alias suami kesayanganmu itu paling nggak suka bubur kacang ijo. Apalagi mangga muda. Aneh, kan?" Celetuk Wulan heran.
Icha tersenyum membayangkan suaminya makan mangga muda.
"Ihhh... kok senyum-senyum sendiri sih?" Pungkas Wulan heran melihat tingkah Icha.
"Lucu aja ngebayangin suami aku yang cool dan garangnya minta ampun makan mangga muda." Mereka tergelak tertawa bersama.
Wulan sangat bersyukur memiliki sahabat seperti Icha yang memiliki hati yang lapang dan luas. Ia dengan mudah bisa memaafkan siapa saja yang sudah menyakitinya. Buktinya, ia sudah bisa tertawa dan sama sekali tidak ada amarah atas kelakuan suaminya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Rosaa... di mana Hartini?" Rossa yang sedang asyik menyiram kebun bunga di belakang dikaget oleh suara bass Marco. Ia masih lengkap menggunakan jas kantor.
"Oh... tuan, maaf... saya tidak tau anda ke sini, tuan." Ujar Rossa salah tingkah.
"Di mana Hartini? Suruh dia ke ruang kerja saya sekarang!" Marco langsung berbalik dan melangkah masuk ke dalam mansion. Ia masuk ke dalam kamar, membersihkan diri, mengganti pakaian dan hendak ke luar menuju ruang kerja di mana ia menyuruh Hartini untuk menemuinya. Namun, karena merasa haus dan air dalam gelas di kamar sudah habis, Marco berniat ke dapur terlebih dahulu untuk minum.
Tetapi, langkahnya terhenti saat mendengar suara bisikan di balik tangga paling bawah. Dengan melangkah tanpa suara, Marco menuruni anak tangga sambil menunduk.
__ADS_1
"Ba-baik, nyonya... sa-saya tidak akan memberi-tau tuan tentang kejadian kemarin." Marco semakin mendekatkan kuping ke arah suara. "Saya mohon jangan ganggu keluarga saya, nyonya." Hartini mulai terisak ketakutan.
Tetapi, Marco menahan napas saat mendengar suara lawan bicara Hartini.
Mommy. Gumamnya dalam hati.
"Cepat hapus airmata kamu." Bentak Sania dengan suara tertahan. "Ingat, kalo sampe Marco tau soal tamparan dan kejadian di dapur beberapa hari lalu, kamu yang akan saya habisi." Ancaman Sania membuat Hartini semakin ketakutan. Ia mengangguk cepat dan meyakinkan Sania bahwa ia akan menjaga rahasia itu.
Marco menutup mata menahan amarah. Ia tetap tak bersuara dan terus menunduk hingga Sania dan Hartini pergi dari situ.
Sebenarnya,Marco belum terlalu paham maksud dari tamparan dan kejadian sore itu di dapur. Namun, bayangan tentang kemungkinan besar mommynya berbohong sudah mulai ia rasakan.
Aku harus mencaritau semua kebenarannya. Gumamnya yakin.
Ia menuruni anak tangga dan menuju ke dapur, mengambil air mineral satu botol dan kembali menaiki tangga menuju ruang kerja yang berada bersebelahan dengan kamar pribadinya. Ia tidak memperhatikan lagi beberapa art yang sedang sibuk menyiapkan makan malam di dapur.
Melihat Marco sudah melangkah ke arah ruang kerja, Hartini segera menyusul dengan perasaan tak menentu. Rossa dan art yang lain menguatkan teman sekerja mereka. Dalam hatinya, ia terus menyebut Asma Allah agar ia kuat menghadapi semua persoalan. Marco tak pernah sekalipun memanggilnya menghadap dalam ruang kerja. Namun, kali ini tiba-tiba ia disuruh menghadap ke ruang kerja, itu artinya ada hal penting yang ingin Marco tanyakan.
"Masuk." Perintah Marco ketika mendengar suara pintu diketuk.
Dengan sedikit gemetar, Hartini membuka pintu dan masuk ke dalam. Ia semakin gugup melihat Marco sedang berdiri menghadap ke jendela memandang gelap malam di luar.
"Tutup pintunya." Perintah Marco tanpa menoleh. Ia terus memandang ke depan. "Kunci pintunya." Perintahnya lagi setelah terdengar bunyi pintu ditutup.
Hartini semakin memucat. Sebelum Marco berbalik menghadap ke arahnya, ia menutup mata, menarik napas panjang dan membuangnya perlahan. Ia berusaha membuat dirinya sendiri setenang mungkin. Bayangan keluarganya di kampung membuat ia harus kuat dan nekad untuk harus berbohong jika memang Marco bertanya tentang kejadian naas di dapur sore itu.
Hartini tertunduk ketakutan. Wajah Sania yang mengancam dan wajah garang Marco berseliweran di otaknya. Maju kena mundur pun kena.
"Sa-sa-saya tidak mengerti maksud tuan." Suara ketakutan terdengar dari mulut Hartini.
"Tidak mengerti?" Cecar Marco. "Kau yakin?" Marco terus mendesaknya. Ia berjalan mendekati Hartini. Aura negatif makin terasa. "Baik. Aku akan bertanya padamu dan aku harap kau mau menjawab dengan jujur." Ujar Marco pelan. "Apakah waktu itu kau ada di dapur saat pertengkaran antara Marissa dan mommy terjadi?" Tanya Marco. Hartini menelan salivanya.
"Ti-tidak, tuan. Sa-saya tidak ada di sana." Jawab Hartini terbata-bata. Marco tersenyum sinis. Dari tatapan matanya saja, Marco tahu kalau asisten rumah tangganya ini berbohong. Mulut dan matanya berbeda tak searah. Namun, Marco mengerti Hartini ada dalam tekanan mommynya.
"Aku akan semakin murka jika kau terus berbohong." Imbuh Marco masih dengan suara pelan. "Apakah kau ada di dapur saat itu?" Marco kembali bertanya dengan harapan Hartini mau berkata jujur. "Katakan semua yang kau tau!" Desak Marco masih dengan suara pelan. Ia tak mau terlalu mengintimidasi perempuan sederhana itu.
"Tu-tuan... maaf, wa-waktu itu saya ti-tidak ada di dapur. Saya se-sedang di taman belakang... ya...ya, tuan... benar, saya di taman belakang." Hartini semakin terpojok dan asal-asalan menjawab pertanyaan Marco.
"Apakah mommy mengancammu?" Hartini terdiam memandang wajah Marco. "Katakan... apakah mommy mengancammu?" Desaknya lagi.
Hartini tertunduk. Airmatanya mulai mengalir. Ia ketakutan dengan ancaman Sania, namun hati kecilnya memaksa ia untuk harus berbicara jujur.
"Tuan... saya..."
__ADS_1
"Aku mendengar pembicaraanmu dan mommy di balik tangga. Karena itu aku tau jika mommy mengancammu." Terisaklah Hartini dengan menutup wajah menggunakan kedua tangannya. Ia mengangguk kuat. Percuma ia menutupi karena pada dasarnya Marco sudah mendengar ancaman Sania.
"Iya, tuan... saya diancam. Saya minta maaf. Saya hanya takut nyonya membunuh keluarga saya di kampung." Akhirnya, Hartini pun menyerah. Ia mengikuti kata hati untuk berkata jujur pada tuannya.
Marco menarik napas panjang. Ia menekan egonya untuk tidak marah pada Hartini.
"Duduk dulu di sana." Marco mengajak Hartini untuk duduk di sofa. Hartini berjalan pelan dan duduk di pojok sofa. Marco duduk di pojok yang lain.
"Katakan yang sebenarnya terjadi." Mendengar suara Marco yang lembut, Hartini mulai tenang.
"Sore itu seperti biasa nona datang membantu kami di dapur. Karena melihat saya sedang memotong daging ayam, nona meminta untuk mengupas bawang dan bumbu yang lain." Cerita Hartini ditengah airmata yang terus mengalir. Sesekali masih terdengar ia terisak dan menghapus airmata. "Kami bercerita seperti biasa. Nona selalu ceria dan tidak pernah menganggap kami orang kecil." Ia semakin terisak mengingat kebaikan Icha. "Hingga akhirnya nyonya datang dan langsung berkata kasar pada nona, tapi nona tetap membalas dengan suara lembut." Ia menghapus airmatanya lagi. "Tiba-tiba nyonya menarik pundak nona dengan kasar. Nyonya hendak menampar nona tetapi tangan nyonya ditahan dan...." Hartini tertunduk. "Dan anda masuk lalu menyaksikan semua."
Marco tertunduk, menutup wajah dengan kedua tangannya. Artinya ini kesalahan kedua yang sudah ia perbuat dan sangat menyakiti hati istrinya. Menyesal yang ia rasakan tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
"Ceritakan semua yang kau ketahui!" Perintah Marco tetap menutup wajahnya. "Dan jangan ada yang kau tutupi!" Amarahnya seakan hampir meledak. Namun, sekuat tenaga ia menahan untuk tidak meluapkan amarahnya sekarang.
"Nyonya Sania mengancam akan membunuh keluarga saya di kampung kalau saya menceritakan yang sebenarnya, tuan. Saya ketakutan." Hartini kembali menangis tersedu-sedu. "Tuan, saya mohon... saya tidak mau terjadi apa-apa pada keluarga saya." Hartini mengatupkan kedua tangan memohon perlindungan Marco.
Marco mengusap pelan wajahnya.
"Dengar.... itu hanya ancaman omong kosong mommy. Dia tidak mempunyai kuasa untuk membunuh keluargamu. Ia hanya mengancam agar kau mau tutup mulut." Lirih Marco. "Jadi, kau tidak perlu takut akan ancamannya." Sambungnya lagi.
Marco menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Ia tak menyangka mommy bisa membohonginya dengan cara yang licik. Namun, ia akui akan kelicikan Sania yang pandai menangis dan bisa mengeluarkan airmata dalam sekejap.
"Tuan...." Panggil Hartini ketika melihat Marco terdiam dan sedang memikirkan sesuatu. Ia menoleh ke arah Hartini.
"Soal tamparan itu." Lanjut Hartini.
"Ya... apa yang dimaksud dengan 'tamparan' yang dikatakan mommy tadi?" Marco teringat kata itu saat mendengar Sania mengancam Hartini tadi.
"Anda pernah melihat luka di sudut bibir nona?" Hartini memulai dengan bertanya. Marco mengerutkan kening mengingat sesuatu.
"Ya... aku pernah melihat luka sobek itu?" Sahut Marco sambil membayangkan sudut bibir istrinya yang pernah terluka. "Bukankah itu karena Marissa terpeleset dan hampir terjatuh hingga terkena ujung tembok tangga?" Tanya Marco penasaran. Hartini menggelengkan kepala.
"Tidak, tuan... bukan. Nona terpaksa membohongi anda karena takut hubungan anda dan nyonya semakin merenggang. Nona sangat ingin membuat hubungan anda dan nyonya membaik. Makanya nona berbohong." Jawaban Hartini belum membuat Marco puas.
"Jadi? Kenapa bibir Marissa bisa terluka" Cecar Marco tak sabar.
Hartini tertunduk menangis mengingat kejadian itu.
"Nyonya menampar nona dengan sangat keras sehingga sudut bibir nona sobek. Darah mengalir banyak dari luka sobek itu." Hartini terisak sedih. "Saya yang mengobati nona di kamar saya, tuan." Ia menarik napas sesaat sebelum melanjutkan bercerita. "Pipinya juga membiru, tuan. Setiap hari nona memakai foundation untuk menutupinya dari anda."
Marco meremas rambutnya geram. Kali ini tidak ada pengampunan untuk Sania. Kelakuan ibunya tidak bisa dibiarkan lagi. Ia yang sudah mulai membuka hati memaafkan sang mommy, kembali dibuat luka oleh ibu kandungnya sendiri.
__ADS_1
"Terimakasih sudah mau bercerita dengan jujur." Ungkap Marco tulus. "Ada tugas untukmu." Lanjut Marco. Hartini menjawab dengan anggukan cepat. "Teruslah berpura-pura seakan kau sudah berbohong padaku. Dekati mommy dan awasi dia. Aku ingin kau melaporkan semua tindakan anehnya padaku." Terang Marco dan disanggupi oleh Hartini.
"Kau boleh keluar." Perintah Marco.