Cukup Di Hati Saja

Cukup Di Hati Saja
Sah!


__ADS_3

Tanpa terasa hari pernikahan Marco dan Marissa tinggal sehari lagi.


Mr. LG dan keluarga sudah berada di hotel tempat mereka biasa menginap. Marco pun sudah datang dari dua hari sebelumya, berniat hendak melepas rindu pada icha, tetapi sialnya ia dilarang bertemu sang calon istri. Maka, Marco hanya uring-uringan di kamar hotel. Ia pun dilarang menelepon Icha. Ini semua kerjaan kakek. Beliau sengaja mengerjai Marco dengan tidak memperbolehkan mereka bertemu.


Terdapat beberapa orang yang sedang sibuk mengatur dekorasi, kursi tamu dan tempat makan di rumah sederhana Icha. Ya, semua diatur oleh wedding organizer. Marco membayar mahal WO terkenal dari Jakarta untuk mengurus pernikahannya. Ia tidak ingin membuat Icha dan keluarganya sibuk, ia ingin mereka semua cukup duduk manis menikmati acaranya saja.


Icha memilih akad nikah sekalian pesta resepsi di rumahnya yang sederhana. Halaman rumah yang luas bisa dipakai untuk menampung para tamu. Tema pestanya nya juga sederhana. Tidak neko-neko, hanya standing party sepertu biasa. Tidak ada panggung untuk pengantin, karena mereka akan berbaur dengan para tamu.


Icha sedang didandan oleh tim make-up artist dari WO, ditemani oleh Wulan dan Arin yang sekalian ikut berdandan. Hmmmm... memang 3 serangkai, ya. Tidak bisa melihat kawannya cantik, mereka pun harus ikutan cantik😍


"Mba'... Pengantinnya nggak usah terlalu didandan menor, ya. Dioles tipis aja pasti udah cantik." Seru Arin menggurui tukang make up. Si mba'nya hanya tersenyum mengiyakan.


"Hiiiis... sok tau elu. Tukang make up malah diajarin. Ini MUA ibu kota, woiiii...!" Serang Wulan heboh. Icha hanya tersenyum geli melihat tingkah dua sahabatnya itu. Arin terbahak lucu. Baru sadar dia kalau ini bukan MUA kaleng-kaleng.


"Beres..." Seru mba' Diah, MUA yang memoles wajah cantik Icha. Benar-benar flawless. Perfect.


Arin dan Wulan tercengang melihat wajah Icha. Tidak ada yang terlalu berubah tetapi lebih bersinar dan mulus tanpa cacat.


"Mbaaaa... kok bisa sih Icha semakin cantik gini!?" Saking terpesona dengan perubahan Icha membuat Arin menjadi bingung sendiri dengan pertanyaannya.


"hahaha... masa sih? padahal saya nggak ngapa-ngapain lho. Emang dasar mba' Ichanya udah cantik dari sononya." seloroh mba' Diah.


"Udah... udah... kamu kayak baru liat muka aku aja." semprot Icha malu-malu.


tok... tok...tok...


Pintu dibuka tanpa perintah. Farah, sepupu Icha masuk.


"Kak... udah ditungguin penghulu. Ayo!"


Icha mengangguk pelan. Jangan ditanya apa kabar jantungnya. Serasa mau lepas dari tempatnya. Apalagi sudah seminggu ia dan Marco tidak bertemu. Sekalinya bertemu langsung dalam suasana tegang seperti ini.


Dengan dituntun Wulan dan Arin di samping kiri kanannya, Icha keluar dari dalam kamar. Melihat semua keluarga Guatalla dan keluarga intinya sudah berkumpul, Icha semakin gugup. Ia terus berjalan pelan menuju tempat ijab qobul dengan kepala tertunduk hingga terduduk di samping Marco.


Lelaki tampan berjas putih dari brand terkenal serta kopiah senada, menoleh sebentar ke arah Icha yang duduk di samping kirinya. Icha masih tertunduk. Jantungnya tidak membiarkan ia melihat calon suami di samping kanan.


"Cantik..." Bisik Marco di telinga Icha. Gadis itu hanya tertunduk malu. "Nggak pake lipstik yang biasa kamu pake, kan? Aku nggak mau ntar cium kamu lengket lho."

__ADS_1


Ya, Tuhan.... apa ini? Kenapa laki-laki ini membicarakan soal lipstik di saat menegangkan seperti ini? Icha melirik kesal pada Marco, malah ia mendapatkan satu kedipan genit dari laki-laki menyebalkan itu.


"Sudah bisa dimulai, tuan?" Tanya penghulu yang duduk berhadapan dengan Icha. Sedangkan papa Rendra berhadapan dengan Marco akan menjadi wali nasab bagi putrinya.


"Silahkan, pak..." Sahut Marco cepat. Ia menarik napas panjang untuk mengurangi rasa gugup. Namun, niat untuk memiliki Icha secara sah terlalu besar, sehingga ia tidak begitu merasakan ketegangan ini.


"Kita mulai, ya." Ucap penghulu. Semua yang ada di ruangan itu terdiam dan mulai fokus pada pengantin.


"Ananda Marco Guatalla, saya nikahkan engkau dan saya kawinkan engkau dengan pinanganmu, putri kandung saya Marissa Lebrina, dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang tunai sebesar 1 milyar rupiah, dibayar tunai."


"Saya terima nikah dan kawinnya Marissa Lebrina dengan mas kawin tersebut, tunai." Suara lantang Marco diakhiri dengan butiran air mata Icha.


"Bagaiman saksi?" Tanya penghulu.


"Saaaaah... " Bukannya hanya saksi yang menjawab, semua keluarga pun turut menjawab senang.


Mereka pun resmi menjadi suami istri. Marco memasangkan cincin nikah di jari manis Icha dan sebaliknya. Icha menunjukkan rasa hormatnya pada suami dengan mencium tangan Marco, begitu pun sebaliknya Marco mengecup kening Icha.


Semua keluarga memberi salam pada pengantin baru. Semua turut senang, bahagia dan mendoakan yang terbaik untuk rumah tangga mereka. Tetapi, ada beberapa pasang mata nyalang memandang ke pengantin baru itu.


Siapa lagi kalau bukan Valencia dan Sania, mommy Marco. Belum lagi Christo dan Riska, orangtua Valencia. Mereka memaksakan diri untuk hadir dalam acara resepsi yang diselenggarakan langsung setelah ijab qabul, karena diundang langsung oleh mr. LG. Mereka menghargai undangan kakek tua itu setelah mengetahui bahwa Marco dan kakeknya tidak membuat mereka bangkrut setelah kejadian di rumah Christo tempo lalu.


"Marco benar-benar berubah setelah mengenal j*l*ng itu, mom. Dan aku kecolongan. Aku sama sekali nggak menyadari kalo Marco sedang bermain gila dengan sekretarisnya sendiri." Decit Valencia geram. "Aku datang ke sini hanya ingin melihat perempuan yang sudah merebut Marco dari aku, mom. Ternyata dia hanya gadis kampung dan miskin." Terlihat matanya memerah antara marah dan kecewa atas sikap Marco.


Ia sudah capek menangis. Bahkan airmata sudah hampir mengering karena keseringan menangis. Sekarang, bukan waktunya menangis lagi, tetapi saatnya untuk memberi pelajaran pada perempuan yang sudah mengalihkan cinta Marco darinya.


"Sudahlah, sayang... masih banyak laki-laki yang tergila-gila sama kamu. Kamu bisa memilih satu di antara seribu laki-laki di luar sana." Ucapan sombong mama Riska membuat Valencia mendengus kesal.


"Aku cintanya sama Marco, ma.. bukan ribuan laki-laki di sana." Ketus Valencia. pada ibunya.


"Jangan naif kamu. Buka mata kamu! Lihat ke depan sana! Marco sudah menikah dengan perempuan lain." Sembur Riska tertahan karena marah pada putrinya yang masih mengharapkan Marco, padahal ia juga wanita yang cantik dan banyak pria yang menggilainya.


"Sudah.. sudah, jeng. Jangan marah lagi. Kita harus mengerti keadaan Val." Lerai Sania ketika melihat Valencia mulai ribut dengan mamanya. Sania tidak ingin menjadi bahan tontonan banyak orang. Sedangkan Christo, ayah Val, sedang bersenda gurau dengan beberapa rekan bisnisnya. Meski pun ia harus pintar bersilat lidah ketika banyak yang menanyakan tentang hubungan putrinya dan Marco yang harus kandas.


"Yaaa, namanya juga anak muda. Mereka masih mencari pasangan yang terbaik. Mungkin mereka tidak berjodoh." Itu jawaban paling bijak atas pertanyaan-pertanyaan yang sama tentang pertunangan Valencia. Hatinya murka tetapi tampilan wajahnya harus tersenyum seakan-akan tidak ada masalah.


Tindak tanduk mereka selalu ada dalam pengawasan Marco. Meski pun ia sibuk menyalami tamu, tetapi ekor matanya selalu memperhatikan gerak-gerik Valencia dan orangtunya. Raymond dan Berry pun menempatkan beberapa mata-mata di sekitar mereka. Marco tidak ingin ada yang berbuat kekacauan di hari bahagianya ini. Yang paling penting adalah ia menyadari bahwa Valencia mempunyai rencana jahat terhadap istrinya. Itu yang sangat diwaspadai oleh Marco.

__ADS_1


"Capek?" Tanya Marco ketika dirasa lengannya dipegang erat oleh Icha.


"Sepatunya terlalu tinggi, yang. Aku nggak biasa pake yang tingginya segini." Sahut Icha memelas.


"Kenapa nggak minta yang lebih rendah tadi?" Marco hendak berjongkok untuk melihat keadaan kaki Icha tetapi dengan cepat Icha menahan kedua lengan Marco.


"Jangan! Ada banyak orang penting di sini. Kamu nggak boleh berjongkok hanya untuk melihat kaki aku." Sergah Icha. "Kamu itu harus ada di samping aku. Bukan di bawah kaki aku." Lanjutnya tegas. Marco tersenyum bangga. Ia mengecup kening Icha.


"Makasih, sayang... tapi, aku hanya mau melihat kaki kamu." Bela Marco.


"Nanti di kamar. Bukan di depan banyak orang." Sewot Icha.


"Ck... di kamar aku nggak mau liat kaki kamu. Aku mau makan kamu aja." Bisik Marco tepat di telinga Icha. Icha membelalakkan matanya dan mencubit lengan Marco.


"Kamu tuh mulai mesum, ya." Protes Icha tidak menyangka kata-kata Marco semakin vulgar setelah mereka menikah.


"Kamu yang memulai," Tangkas Marco cepat. Icha mengerutkan kening heran.


"Mulai apa?" Tanyanya heran.


Lagi-lagi Marco mendekatkan mulutnya ke telinga Icha.


"Waktu itu... kamu nggak pake...apa?" Goda Marco dan berhasil membuat wajah Icha semerah tomat masak. Ia menyembunyikan wajah ke belakang tubuh Marco. Marco tertawa dan terus menggoda Icha. "Aku udah nggak tahan dari saat itu." Ia mendapat serangan cubitan dari istri tercinta. Icha memberengut kesal.


Mr. LG tersenyum senang melihat kebahagiaan Marco. Ia yang dari tadi sibuk mengenalkan besannya pada rekan-rekan bisnis tak sengaja menoleh ke arah cucunya. Pancaran kebahagiaan dari kedua pengantin membuat hari tuanya terasa berarti. Ini saat yang sudah lama dinanti mr. LG, melihat Marco mendapatkan pendamping yang sesuai dengan kriterianya: Sederhana dan mendukung Marco dalam segala hal.


"Mr. LG..." Namanya disebut, ia menoleh ke arah suara itu. "Anda melamun?"


"Pak Rendra..." Mr. LG tersenyum ramah. "Aku bahagia melihat kedua cucuku." Paparnya pelan. "Terimakasih, sudah memberikan seorang gadis cantik, ayu, anggun, sederhana dan sangat manis untuk cucu nakalku." Ungkapnya tulus.


"hahahahaha... anda ini bisa saja. Banyak sekali gelar yang disematkan untuk Marissa." Tawa pak Rendra terasa renyah dan santai, menunjukkan kebahagiaan dalam dirinya. "Kami yang harus berterimakasih kepada anda, tuan. Kami bukan siapa-siapa, kami tidak ada apa-apanya, tetapi anda tidak melihat itu. Anda melihat hati putri kami." lanjutnya mengungkapkan isi hati. "Anda tidak akan menyesal menerima Marissa di dalam keluarga anda, tuan. Saya jamin itu. Dia anak tunggal saya, tetapi dia bukan anak yang manja. Kami mendidiknya dengan adat dan adab yang tinggi." Ucapnya bangga pada sang putri.


Mr. LG mengangguk setuju atas perkataan papa Rendra. Meski pun baru mengenal Icha beberapa bulan, tetapi ia sudah bisa menilai karakter dari gadis itu.


"Saya mengenalnya dengan baik. Dia cucu mantu saya. Kalau anda lupa, saya ingatkan." Gurau mr. LG.


Pak Rendra tertawa sambil merangkul kakek tua itu.

__ADS_1


"Maaf... maaf... saya baru ingat rupanya." papa Rendra pun membalas dengan kelakar.


__ADS_2