
Sudah seminggu Leon menduduki jabatan direktur umum GT Corp yang masih dipimpin oleh Marco, ayahnya. Sebenarnya, Marco ingin Leon langsung menduduki posisi CEO menggantikannya namun Leon masih meminta waktu mempelajari visi misi dan kebiasaan GT Corp yang sudah berdiri lebih dari 50 tahun dari mendiang kakeknya. Kebetulan juga perusahaan masih membuka seleksi untuk jabatan dirut yang sudah ditinggalkan pemimpin lama karena sakit yang diderita.
"Ray... apa jadwalku hari ini?" Tanya Leon pada Rayhan, anak dari Raymond yang merupakan asisten pribadi Marco sedari awal ia menjabat sebagai CEO GT Corp. Marco sendiri yang merekomendasi Rayhan menjadi asisten pribadi Leon karena karakter Rayhan yang tak perlu diragukan lagi.
"Seperti biasa, bro'... Ada dua pertemuan dengan klien dari Jepang dan Kamboja. Aku sudah siapkan berkas kerjasamanya." Jawab Rayhan santai tetapi sopan. Leon memang melarangnya bersikap formal selama tidak ada orang lain atau tamu di antara mereka. Apalagi semenjak kecil mereka sudah saling mengenal walaupun tidak begitu akrab karena Leon harus tinggal lama di Amerika.
"Ck... ini kan tugas CEO, kenapa harus aku yang kerjakan." Omelnya sambil melihat berkas kerjasama di atas meja. Rayhan tertawa lucu melihat ekpresi Leon yang sedang kesal namun tak bisa menolak perintah sang bos alias ayahnya sendiri.
"Kau kan memang calon CEO... jadi mulai cicil pekerjaannya dari sekarang. Dirut itu hanya jabatan belaka saja." Ujar Rayhan.
"Papa tidak ikut nanti?" Tanya Leon.
"Kata ayah sih tidak. Aku diminta menemanimu menemui klien." Sahut Ray cepat. Ia mengambil berkas yang sudah ditangani Leon lalu memasukkan dalam map merah.
Leon mengangguk lemah dan menyandarkan punggung pada kursi kebesarannya. Memang sudah saatnya ia mandiri tanpa bantuan Marco ataupun Raymond. Apalagi sudah ada Rayhan yang tidak perlu diragukan kualitas kerjanya.
"Kenapa harus bergantung pada tuan sih, bro'? Kau bukan orang baru dalam menjalankan bisnis." Celetuk Rayhan yang melihat raut wajah ragu pada atasannya itu.
"Bukannya bergantung pada papa... aku hanya menyadari bahwa aku tidak sejenius papa." Imbuh Leon serius. "Kau tau sendiri kan pelaku bisnis di Indonesia berbeda dengan di Amerika. Di Indonesia banyak pebisnis yang menjalani usahanya dengan curang dan itu harus dihadapi dengan otak licik. Jika tidak, kita akan ditendang dari dunia bisnis." sambungnya menjelaskan perbedaan pelaku bisnis dalam dan luar negeri.
"Ck... kau saja yang tidak percaya diri karena ada tuan di dekatmu. Apalagi tuan menjadi role modelmu dalam berbisnis." Sanggah Rayhan memberi dukungan pada bos yang sekaligus sudah menjadi temannya. "Di Amerika sana tanpa tuan Marco, kau menjadi salah satu pebisnis yang ditakuti lawanmu." Lanjutnya meyakinkan Leon. Lelaki tampan itu hanya mengangguk dan mulai merasa jika ada benarnya juga kata-kata Rayhan.
"Ok... kita jalan sekarang." Leon sudah bangun dari duduknya dan hendak melangkah keluar ruangan.
"Hei... apa-apan kau? Dua jam lagi baru kita bisa bertemu mereka." Seru Rayhan mencegah langkah panjang Leon.
"Ck... aku bosan di sini. Aku ingin menikmati kopi latte di sana sebelum bertemu dua orang itu." Balas Leon sambil terus melangkah hingga mau tidak mau Rayhan pun mengikuti langkah panjang bosnya.
Tak sampai 20 menit, mobil yang ditumpangi Rayhan dan Leon tiba di kafe mewah tempat bertemu klien siang nanti.
__ADS_1
Leon memasuki kafe dengan langkah tegap dan kacamata hitam yang masih bertengger menutupi mata indahnya. Mereka disambut pelayan kafe yang sudah menyiapkan tempat untuk mereka di rooftop kafe, tempat favorit setiap pengunjung. Namun tempat itu akan ditutup untuk pelanggan lain jika sudah mendapat rekomendasi dari Rayhan.
Sesampainya di atas, Leon segera membuka jas dan menggulung lengan baju hingga di bawah siku. Ia juga melonggarkan sedikit dasi agar merasa lega untuk mendapatkan angin segar.
"Aku sudah memesan kopi latte kesukaanmu." Ujar Rayhan dan langsung duduk di depan Leon.
"Kenapa tempat ini masih ramai?" Tanya Leon heran. Karena setahunya Rayhan sudah membooking tempat ini untuk pertemuan mereka dengan klien sebentar.
"Nanti jam satu siang akan ditutup. Ini baru jam 11." Leon manggut mengerti.
Mereka menikmati minuman kesukaan masing-masing sambil merasakan angin yang cukup menyegarkan. Rayhan bercerita banyak tentang GT Corp selama Leon belum ada. Tentu saja ia menceritakan kesuksesan perusahaan bonafid itu ketika dipegang oleh tuan Marco.
Hingga tanpa Rayhan sadari, Leon sudah tak lagi mendengarkan ceritanya karena ia sedang fokus melihat seorang wanita dengan rambut hitam tebal sedikit bergelombang sepanjang pinggang yang dijepit asal, berbaju kemeja ungu muda model pilkadot dan celana jeans biru tua yang menambah kesan seksi pada pinggulnya lalu sepatu rata kesukaan para wanita feminim.
"Hei...?" Rayhan menepuk tangan Leon membuat laki-laki tampan itu sedikit tersentak kaget lalu ia pun mengikuti tatapan mata Leon.
"Oooh.... itu. Namanya Ayu, lengkapnya Dian Ayunda, calon dokter umum, anaknya bibi Rossa dan Om Haris." Jelas Leon tentang gadis itu.
"Anaknya bi Osa?" Tanyanya tak percaya. Rayhan hanya mengangkat kedua alis dan tersenyum menggoda.
"Kenapa? Cantik, ya?" Goda Rayhan. "Selain cantik, dia juga pintar masak." Lanjut Rayhan berbisik.
Sejujurnya, mata Leon seperti tidak mau melepaskan pandangan terhadap gadis itu. Sudah beberapa kali ia melihat wajah ayu namun baru pagi ini dengan jelas ia melihat wajah cantik dengan mata indah itu.
Sedangkan yang diperhatikan sedang asyik menikmati segelas jus jeruk bersama dua orang temannya. Matanya juga sibuk memperhatikan laptop sambil sekali-sekali jari jemarinya menari lincah di atas tuts laptop.
"Sewaktu kecil kalian berdua sangat akrab sampai-sampai aku cemburu melihatnya. Ingat'kan?" Celetuk Rayhan mengingat masa kecil mereka. "Tapi kan tidak mungkin aku bersaing dengan anak sultan." Lanjutnya sambil tertawa lucu.
"Ck.... kau saja yang tidak punya nyali." Cibir Leon namun matanya masih belum lepas dari gadis manis itu.
__ADS_1
"Ayolah, bro'... kalau kau mau aku bisa memanggil Ayu ke sini." Saran Rayhan karena melihat Leon yang benar-benar terpana melihat Ayu.
"Tidak usah." Tolak Leon lalu mengeruput sisa kopinya hingga tandas.
Leon bersandar sedikit kasar dan mengusap wajah tampannya sambil menarik napas berat. Kali ini sepertinya ia paham apa yang terjadi dengan hatinya. Ia sangat ingin mengenal gadis itu lebih dekat, walaupun sebenarnya mereka pernah dekat sewaktu kecil dulu.
"Bayar pesanan mereka tapi aku tidak mau mereka tau kamu yang membayarnya." Perintah Leon serius. Rayhan mengangguk cepat. Ia tak berani membantah karena nada suara Leon yang terdengar sedikit datar.
Tanpa diketahui Ayu, Rayhan berjalan menuju tangga dan cepat-cepat berlari ke arah kasir. Suasana ramai ditambah sibuk dengan tugas-tugasnya membuat Ayu tidak terlalu peduli keadaan sekitar.
Ayu pun tidak menyadari jika sedari tadi sepasang mata biru sedang menatap mengagumi kecantikannya. Sekali-sekali ia menyambut lelucon kawannya dengan tertawa lebar. Itu pun menjadi tontonan menarik untuk Leon.
Kamu sangat cantik. Aku sampai tak ingin mengalihkan mata ini ke tempat lain. Gumam Leon dalam hati. Tersirat senyum tipis di bibirnya kala melihat tawa si Ayu. Hingga senyum itu menghilang ketika Ayu mulai merapikan buku dan laptop lalu meninggalkan tempat itu diikuti dua kawannya.
"Untung tadi tidak berpapasan sama Ayu, bos... kalau tidak, pasti dia tau aku yang membayar pesanannya tadi." Suara Rayhan sudah terdengar setelah menemui kasir untuk membayar pesanan Ayu dan kawan-kawannya tadi.
"Ayu sedikit pemalu. Dia juga seperti menutup diri dari kaum adam." Beber Rayhan setelah kembali duduk dan menghabiskan kopi hitam. "Kayaknya kau butuh ekstra tenaga untuk mendapatkan hatinya." sambung Rayhan sambil tersenyum menggoda Leon.
Leon hanya diam. Wajah manis itu sibuk berkeliaran di otak dan pikirannya. Hingga ia harus kehilangan konsentrasi saat menghadapi dua kliennya yang sudah datang. Untung si Rayhan mengerti keadaan hati bosnya itu, sehingga ia mengambil alih pembicaraan dengan dua orang asing itu.
"Lebih baik kau cepat dapatkan Ayu. Aku takut kau disambar hantu kalau terus-terusan begini." Omel Rayhan. "Kau benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa setelah melihat wajah gadis itu. Untungnya dua klien itu tidak protes atas sikapmu tadi." Rayhan terus mengomeli Leon bahkan ketika mereka sudah berada di dalam mobil untuk kembali ke perusahaan.
"Ck... kau pikir aku tidak mendengar kesepakatan dua orang tadi?" Elak Leon. "Aku hanya malas menanggapi saja." sambungnya lagi.
Ia menyandarkan tubuh pada sandaran kursi dan memejamkan mata. Entah apa yang ada di otaknya. Rayhan hanya menggeleng melihat tingkah Leon yang berubah 360 derajat setelah pertemuannya dengan Ayu tadi.
"Memangnya sudah lama kau tidak bertemu Ayu?" Tanya Rayhan sesaat setelah mereka terdiam hening.
Mendengar suara Rayhan, Leon membuka mata namun tetap bersandar santai. Ia menggeleng lalu menutup mata kembali. Rayhan tersenyum geli melihat kondisi Leon.
__ADS_1
"Semenjak aku ke Amerika." Sahut Leon singkat. "Aku tidak pernah tau kabarnya lagi." Lanjutnya masih memejamkan mata.
"Dia sangat dekat dengan Ninda. Coba saja kau caritau dari Ninda." Papar Rayhan sambil terus fokus menyetir. Tak ada jawaban dari kursi belakang. Rayhan hanya melirik sebentar melalui kaca spion dan ikut terdiam hingga mobil mereka masuk ke dalam pekarangan parkir sebuah perusahaan mewah.