Cukup Di Hati Saja

Cukup Di Hati Saja
"Kenapa Dia Menghindar?


__ADS_3

Benar kata Rayhan, tidak gampang untuk mendekati Ayu. Semenjak ada Leon di mansion mewah itu pun Ayu tak menunjukkan batang hidungnya lagi di sana. Padahal hampir setiap hari ia biasa mengurung diri di dalam kamar Ninda sambil mengerjakan tugas.


"Nin.... akhir-akhir ini mama tidak pernah melihat Ayu. Kalian lagi berantem?" Tanya Icha penasaran. Sebelum menjawab, Ninda menghabiskan satu suapan nasi lalu meneguk air hingga tandas lalu ia menggeleng cepat.


"Tidaklah, ma... masa berantem. Ayu lagi sibuk aja persiapkan materi skripsi sebelum turun ke desa." Ujar Ninda. "Dia juga sibuk di resto, ma."


Leon yang sedang menikmati sarapan bersama Marco hanya mendengar suara mama dan adik perempuannya berbicara tanpa berniat ikut nimrung. Padahal hatinya langsung berdetak kencang mendengar nama Ayu.


"Pantas saja dia sibuk di resto. Bakat memasaknya persis kayak Rossa." Imbuh Icha bangga pada anak mantan asisten rumah tangganya. "Tapi kamu bilang sama Ayu ya kalau mama kangen sama dia. Nggak biasanya dia menghilang lama begini." Sambung Icha penasaran sebelum meneguk habis jus alpukat. "Udah semingguan lho dia nggak ke sini." Ujarnya.


"Iya, ma... nanti Ninda kasih tau si gadis Ayu itu." Sahut Ninda lalu bangkit berdiri hendak menyalami papa dan mama.


"Mobil kamu masih di bengkel?" Suara Marco langsung menyadarkan Ninda jika pagi ini ia harus nebeng sama Leon atau papanya.


"Yaaaaa.... Ninda lupa." Ujarnya lemas lalu kembali duduk. "Ninda pinjam mobil mama, ya?" Pintanya sambil mengedipkan mata merayu sang mama. Marco tersenyum melihat tingkah Putri kesayangannya itu.


"Kamu sama kakak aja. Ayo!" Tanpa basa-basi, Leon sedari tadi yang hanya terdiam bangun dari duduknya dan menarik tangan Ninda lalu melangkah pergi.


"Kakaaaaak.... pamit dulu sama papa mama." Teriak Ninda kaget. Spontan saja Leon menghentikan langkah, berbalik badan dan mencium pipi Icha. Begitu pun Ninda. Dengan wajah kesal akibat ulah sang kakak yang menarik tangannya, ia memeluk Marco dan mulai mengadu.


"Pa... nanti beli mobil baru aja, ya. Supaya aku bisa nyetir sendiri." Rengeknya manja. Tentu saja dengan senang hati Marco langsung mengiyakan permintaan putrinya.


"Tidak ada mobil baru!" Suara tegas Leon terdengar. "Mobil kamu sedang diperbaiki, sebentar lagi juga mobilnya sudah bisa dipakai." Lanjutnya datar. "Ayo, cepat... kakak antar ke kampus." Tanpa menunggu jawaban Ninda, Leon berbalik badan dan meninggalkan ruang makan.


"Papa...." Rengek Ninda meminta pembelaan Marco. Icha hanya melipat tangan dan tersenyum. Memang, kalau Leon sudah bersuara untuk kepentingan Ninda maka Marco dan Icha akan tutup mulut. Mereka sengaja membiarkan Leon bersikap tegas pada Ninda


"Ikuti apa kata kakak. Kamu tau kan bagaimana kakak kamu itu." Sahut Marco tersenyum lalu mengecup kening Ninda. "Ayo, cepat... awas suara dingin Leon terdengar lagi." Bisiknya menggoda putri kesayangannya. Dengan langkah berat dan wajah memelas, Ninda berjalan meninggalkan papa dan mamanya.


Marco melihat putrinya hanya dengan tersenyum lalu merangkul pinggang istrinya.


"Aku senang melihat sikap tegas Leon pada adiknya. Aku akan tenang jika suatu saat aku tidak ada lagi bersama kalian. Anak laki-lakiku akan menjaga kalian dengan baik." Imbuh Marco membuat senyum di wajah Icha langsung memudar. Ia memadang ke arah Marco dengan nyalang.


"Tidak usah bicara yang aneh-aneh... aku tidak suka mendengarnya." Ujar Icha kesal.


Melihat sang istri marah, Marco menarik pinggang Icha yang sedari tadi dipeluk masuk dalam dekapannya.


"Kita semua akan menuju ke sana. Tapi aku selalu minta pada Allah untuk memberikan pada kita umur yang panjang. Agar kita bisa menikmati masa tua bersama anak-anak dan cucu-cucu kita kelak." ucap Marco lembut. Mendengar ucapan Marco, Icha langsung membalas pelukan sang suami dan tersenyum senang.

__ADS_1


"Kita akan panjang umur." Ucapnya optimis.


Setelah drama pagi antara kakak dan adik, dilanjutkan papa dan mama, mereka melanjutkan hari dengan kegiatan masing-masing.


Ninda yang diantar Leon hanya terdiam kesal pada abang kesayangannya itu.


"Langsung ke kampus?" Tanya Leon. Ia meyadari kekesalannya hati sang adik namun ia sengaja untuk tidak meladeninya.


"Jemput Ayu dulu. Setiap hari aku tuh harus jemput Ayu karena kita searah sampai kampus dari pada dia naik motor bututnya. Apalagi dia pernah diganggu laki-laki kurang ajar sewaktu naik angkot, makanya aku tidak mengijinkan Ayu naik angkutan umum lagi." Ninda menjawab pertanyaan Leon dengan panjang lebar tanpa berhenti membuat Leon tersenyum tipis lucu mendengar ocehan Ninda. Tapi, bukan hanya lucu saja, ada suatu arti yang lain dari senyum laki-laki tampan itu.


"Oke." Sahut Leon singkat dan jelas. Ninda hanya melirik kesal ke arah Leon yang sedang asyik fokus menyetir.


Mendengar nama Ayu, hati Leon sedikit berdetak kuat. Ia menyetir lebih laju agar cepat sampai ke rumah gadis cantik itu. Tanpa disadari Ninda, ada senyum tersirat pada wajah kakak kesayangannya.


Tidak sampai lima belas menit, mobil mewah milik Leon memasuki rumah sederhana namun asri penuh bermacam bunga di halamannya. Dengan terburu-buru Ninda keluar dari dalam mobil.


"Bibiiiiiii..." Teriak Ninda sebelum masuk ke dalam rumah Ayu. Tak lama pintu rumah itu terbuka.


"Non..." Sapa Rossa dengan senyuman senang karena dikunjungi anak-anak majikannya. "Mau jemput Ayu?" Tanya Rossa setelah melepaskan pelukan Ninda.


"Iya, bi... aku ke kamar Ayu, ya." Tak menunggu ijin dari pemilik rumah, Ninda segera berlari menuju ke kamar Ayu yang terletak di ruang tengah.


"Bibi sehat?" Tanya Leon. Rossa tak langsung menjawab. Ia menarik tangan Leon masuk ke dalam ruang tamu sederhana namun sangat bersih dan tersusun rapi.


"Bibi selalu sehat." Jawab Rossa sambil duduk di samping Leon. "Oh iya, sebentar ya... bibi buatin kopi hitam kesukaanmu." Rossa bangkit dari duduknya namun tangan wanita setengah baya itu langsung dipegang oleh Leon.


"Tidak usah, bi. Aku sudah sarapan. Lain kali saja." Tolak Leon dengan halus dan tak lupa dengan senyum tampannya.


Rossa tersenyum lalu kembali duduk di samping Leon.


"Biiii..." Terdengar lagi suara teriakan Ninda.


"Ada apa, non?" Tanya bibi cepat.


"Ayu mana? Di kamarnya tidak ada." pungkasnya heran.


"Lho.... tadi ada di kamarnya." Jawab bibi yang juga merasa heran. Ia melangkah ke belakang mencari anak gadisnya namun nihil. Tak ada nampak batang hidung Ayu di dapur maupun di dalam kamarnya.

__ADS_1


"Kemana sih nih anak? Tadi masih ada. Dia juga belum pamit sama bibi." Tandasnya bingung.


"Aku telepon deh." Ninda mengeluarkan telepon genggam dan menekan nomor pribadi Ayu.


Leon hanya terduduk diam dengan ekspresi yang tidak bisa dimengerti.


"Tidak diangkat juga, bi." Keluh Ninda. "Apa jangan-jangan dia sudah ke kampus ya, bi?" Tebak Ninda sambil melirik jam tangan. Waktu menunjukkan pukul tujuh tiga puluh menit. "Dia memang harus bertemu pak Nyoman pagi ini, bi... dia harus selesaikan tugas akhir sebelum turun praktek." Sambung Ninda. "Ya udah, deh... Ninda ke kampus ya, bi."


Setelah berpamitan, Leon dan Ninda segera memasuki mobil mewah milik Leon dan meninggalkan halaman rumah Rossa.


"Itu anak ke mana, sih? Tidak biasanya dia menghilang begini." Omel Ninda sambil mengutak-atik telepon genggamnya. "Nomornya aktif tapi tidak diangkat." Sambung Ninda mulai kesal.


"Setiap hari kamu menjemputnya?" Suara datar Leon mulai terdengar.


"Iya, kak... setiap hari. Kecuali kalau dia punya jadwal sendiri bertemu dosen tertentu." Sahut Ninda cepat. " Tapi aku juga sering mengantarnya ketemu dosen mata kuliah."


Leon terdiam. Bibirnya seakan malas untuk diajak ngobrol berbicara. Detak jantung bahagia yang awalnya ia rasakan saat hendak ke rumah Ayu berubah menjadi rasa kesal yang ia sendiri tidak paham maknanya.


Mobil terus melaju di jalanan yang mulai penuh dengan segala jenis kendaraan bermerk murah hingga yang paling mahal. Hingga memasuki sebuah halaman luas yang sudah diisi dengan banyak mobil.


"Makasih ya, kak..." Dengan gerakan cepat Ninda mengecup pipi abang kandungnya itu. Ia membereskan map dan memasukkan telepon genggam ke dalam tas. "Bye, kak..." Ninda membuka pintu mobil namun urung untuk keluar karena bingung tak mendengar balasan salam darinya. Ia menoleh melihat ke arah Leon yang terlihat aneh sedang menatap serius pada satu arah.


"Kak... kakak..." Ayu menepuk pelan beberapa kali hingga Leon tersadar. "Kakak lihat apa?" Tanya Ninda heran sambil mengikuti arah mata Leon.


Laki-laki tampan itu segera menggeleng.


"Tidak... kakak tidak melihat apa-apa." Imbuhnya pelan. "Hubungi kakak kalau mau pulang." Pesan Leon berusaha tersenyum manis di depan Ninda.


Melihat senyuman sang kakak, Ninda memgurungkan niat untuk bertanya lebih lanjut apa yang dilihat Leon tadi. Ia berpikir mungkin Leon sedang sibuk memikirkan pekerjaan di kantor.


"Ya udah... aku masuk ke dalam, ya." Ninda keluar mobil dan melangkah masuk ke dalam gedung mewah bertingkat-tingkat itu.


Setelah Ninda menghilang dari pandangan mata, Leon masih betah berada di parkiran kampus. Ia masih memikirkan sesuatu yang ia lihat tadi.


"Kenapa dia menghindar?" Gumam Leon pelan.


Ya, setelah memarkirkan mobil, tak sengaja mata Leon menangkap sosok seorang gadis yang sudah membuat jantungnya selalu berdetak kuat. Tetapi anehnya, gadis itu yang juga sedang melihat ke arah Leon langsung memutarkan badan dan menghilang di balik tiang tembok kampus. Kesannya ia seperti terkejut dan langsung menghindar dari pandangan Leon.

__ADS_1


"Kenapa dia menghindar?" Masih pertanyaan yang sama keluar dari mulut Leon.


Walaupun masih penasaran namun Leon harus segera ke perusahaan. Maka ia meninggalkan halaman parkir kampus dengan perasaan yang berkecamuk aneh.


__ADS_2