Dandelion Kecil

Dandelion Kecil
Bab 10. Karyawan Baru


__ADS_3

Keesokan hari nya.


Caca bangun pagi seperti biasa nya. Menuju dapur untuk membantu Ibu nya.


Caca terkejut dan sedikit senang melihat Ayah nya sudah bangun dan sedang asyik membantu ibu di dapur.


Caca menghampiri mereka berdua sambil tersenyum-senyum.


"Nah gitu donk sekali kali bantu Ibu biar senang, tumben nih Ayah sudah bangun? ada angin apa?" tanya Caca sambil menggoda ayah nya.


"Ya nggak apa-apa kan Ayah bangun jam segini, mulai sekarang Ayah yang akan anter Caca pergi kerja," kata Ayah Caca bersemangat.


"Ayah nggak mau kamu di macem-macemin sama orang lain. Tiap hari Ayah melindungi orang lain, masa anak sendiri nggak bisa. Ayah kan body guard Caca juga," kata Ayah Caca dengan bangga nya.


Caca yang mendengar itu kemudian memeluk Ayah nya dan mengucapkan terima kasih.


"Makasih, Ayah."


"Sudah! sudah. Jangan kebanyakan drama, cepet nih udah mau jam tujuh," kata Ibu sambil memasak.


***


Caca sudah selesai mandi, dia bersiap-siap untuk ke kantor, Caca tidak sempat sarapan karena terburu-buru. Caca kemudian berpamitan kepada Ibu dan pergi bersama Ayah nya.


Ayah mengendari motor dengan gagah nya walau sudah agak berumur, tetapi badan Ayah masih tegap dan percaya diri, masih kuat jika harus menghadapi preman dan para berandalan di jalan.


Caca pun merasa aman, bagaimana tidak, ketika Ayah sedang lewat tidak ada yang berani memandang Caca.


***


Caca sudah sampai di tempat kerja, tidak main-main. Ayah mengantar Caca hingga ke ruang kerja nya. Banyak yang tidak percaya bahwa itu adalah Ayah nya Caca, begitu berwibawa dan berkharisma.


"Nah, Caca. Sudah aman sekarang. Ayah pergi kerja dulu ya, pulang kerja telepon Ayah saja," kata Ayah Caca sambil berjalan ke luar dan memakai kaca mata hitam nya.


"Ya, Ayah. Terima kasih," ucap Caca.


***


Caca baru mengingat jika handphone nya tidak berada dimana-mana, dia pun terus mencari nya. Mas Eko datang dengan membawa secangkir kopi untuk Nael, dan menyapa Caca.


"Pagi, Neng Caca. Gimana Neng Caca, sehat?" Sapa Mas Eko dan juga bertanya keadaan Caca.


"Pagi juga, Mas Eko. Saya baik," jawab Caca.


***


Tak lama kemudian Mba dewi dan Lista masuk ke dalam ruang kerja Caca.


"Buset, Ca. Itu tadi yang nganter, Bokap elu? serem banget," mata Lista ter heran-heran.


"Iya. Tumben kesini?" tanya Caca.


"Iya. Kita nih khawatir sama kamu, kita denger kalo kamu kemarin pingsan," jawab Mba Dewi.


***


Kemudian Caca menceritakan semua kejadian yang terjadi kepada nya kemarin. Mereka terkejut jika yang melakukan hal itu adalah Sony.


"Wah, Sony. Bener-bener ya, keterlaluan banget, untung elu nggak di apa-apain Ca," kata Lista.


"Iya,Lis. Untung nya begitu," kata Caca.


Kemudian Lista dan Mba Dewi menggoda Caca.


"Wah gimana ya rasa nya meluk Pak Nael dan di gendong sama dia? coba kalo ada kita, langsung dah kita rekam. Hihihi," kata Mba Dewi tertawa.


Mereka kemudian tertawa bersama-sama.


Di kejauhan terlihat Nael akan memasuki ruang kerja nya. Nael melihat Caca dan teman nya yang sedang mengobrol sambil ketawa ketiwi. Perasaan nya sedikit lega ketika Caca sudah mulai seperti biasa kembali.


Nael kemudian masuk ke ruangan nya dan mengucapkan selamat pagi kepada semua nya.


"Pagi."


Mereka bertiga menjawab dengan kompak


"Pagi, Pak."


***


Mba Dewi dan Lista kembali ke ruangan mereka masing-masing karena sebentar lagi jam masuk kerja akan berbunyi.


Caca teringat dia belum membuatkan kopi untuk Nael, tapi tumben Nael tidak minta kopi kepada Caca.


Caca mengintip ruangan nya Nael, ternyata sudah ada yang membuatkan kopi, tapi siapa ya? kata Caca bertanya-tanya.

__ADS_1


Caca mengingat, "Oh iya tadi Mas Eko yang bikinin kopi."


Kemudian terdengar suara air tersembur.


"Syur!"


Nael kemudian memanggil Caca.


"Carisa!" teriak Nael memanggil Caca.


"I..iya, Pak. Ada ap?" tanya Caca sambil kaget.


"Tumben kamu bikin kopi nggak enak," kata Nael sambil mengernyitkan dahi nya dan memarahi Caca.


"Maaf, Pak Nael. Tapi yang bikin kopi Mas Eko bukan saya," kata Caca.


"Oh, maaf. Ya sudah bikin kopi yang baru buat saya," kata Nael.


"Iya, Pak."


***


Caca mengantarkan kopi untuk Nael dan meletakkan nya di atas meja.


"Carisa. Gimana kamu apa baik-baik saja? hari ini kerja?" tanya Nael.


"Tidak apa, Pak. Saya masih inget banyak kerjaan yang belum beres," kata Caca.


Kemudian Nael mengeluarkan relepon genggam milik Caca dari laci meja nya dan memberikan kepada Caca.


"Nih Handphone kamu. Kemarin saya nemu jatuh di tanah dekat mess belakang," Kata Nael sambil memberikan Handphone ke Caca.


"Terima kasih, Pak."


Caca melihat Handphone nya mati, dan segera mencharger Handphone nya itu.


"Semoga saja Pak Nael nggak baca pesan-pesan dari Sony." ucap Caca dalam hati.


***


Caca kembali melanjutkan pekerjaan nya. Kemudian Caca pergi ke gudang Spare Part untuk menemui Mas Karyo. Karena Caca hari ini akan melakukan SO ulang dengan Mas Karyo.


Nael melihat meja Caca dengan laporan yang menggunung. Ditambah Caca banyak mondar mandir ke lapangan. Akhirnya Nael memutuskan untuk menambah karyawan baru untuk membantu pekerjaan Caca.


***


Nael pergi berkeliling pabrik dengan Pak Joko dan membahas rencana ingin membuat produk baru.


Nael dan Pak Joko pergi ke gudang Spare part. Disana dia melihat Caca sedang sibuk menghitung stok barang yang berada di atas.


Pak Joko memanggil Mas Karyo yang sedang menakar oli dan meminta untuk menghampiri nya. Mas Karyo lalu menghampiri Pak Joko dan Nael.


"Iya, Pak Joko. Ada perlu barang apa?" tanya Mas Karyo dengan membawa se ember oli.


Tanpa sengaja, ada oli yang tercecer di bawah tangga. Caca kemudian turun ke bawah, karena sudah selesai menghitung barang di atas sana. Caca menuruni satu persatu anak tangga.


Nael melihat Caca menuruni anak tangga tersebut. Pandangan nya terhenti ketika melihat ada sesuatu yang berminyak di bawah anak tangga dekat nya.


***


Caca tak melihat tangga yang sedang dia turuni, karena sibuk melihat catatannya sendiri.


Ketika sampai dibawah Caca pun terpeleset dan hampir jatuh. Untung dengan sigap Nael menahan tubuh Caca. Dan lagi-lagi Nael menyelamatkan Caca.


Caca tertegun. Dia diam memandang wajah Nael, begitu pula Nael yang terdiam memandang wajah Caca.


Jantung Caca berdegup kencang kembali. Wajah nya seketika memerah, muncul kembali lagu-lagu romantis di sekitar nya. Mereka tidak menghiraukan keadaan sekeliling. Kejadian mereka ternyata di lihat oleh Mas Karyo dan Pak Joko.


"Ehem!" Pak Joko ber dehem.


"Uhuk uhuk!" Mas Karyo pura-pura batuk.


Lamunan Caca dan Nael seketika buyar. Nael melepaskan Caca dari dekapan nya, begitu pula Caca segera memalingkan wajah nya.


"Terima kasih, Pak."


"Ya tidak apa-apa. Lain kali jalan hati-hati. Lihat ke sekeliling," kata Nael kepada Caca.


"Mas Karyo nanti lap oli ini, sebelum ada yang terpeleset lagi," kata Nael kepada Mas Karyo.


"Ya, Pak."


Caca kembali bekerja dan memulai menghitung stok barang bagian bawah, kemudian Nael dan Pak Joko kembali ke pabrik setelah selesai memberi permohonan permintaan barang kepada Mas Karyo.


****

__ADS_1


Jam istirahat berbunyi. Caca masih di gudang Spare Part, tugas nya belum selesai.


Caca mengingat dia sedang meng charger handphone nya. Caca kembali ke kantor sebentar untuk mencabut handphone nya tersebut.


Di ruang kerja, Caca melihat Nael sedang asyik makan. Caca masuk kedalam secara diam-diam agar langkah nya tidak ketahuan oleh bos nya tersebut.


Kemudian Caca mencabut handphone nya dan keluar dari ruangan nya.


"Carisa."


Tiba-tiba Nael memanggil.


Caca terkejut ternyata Nael mengetahui kalau dia berada disana.


"Iya, Pak."


"Ini ada burger kamu mau nggak? tadi Ahmad beli nya double, kalo tidak mau saya mau kasih ke Eko," kata Nael sambil menunjuk burger nya.


"Ambil jangan ya. Ambil aja deh," pikiran dan hati Caca berdebat.


Akhirnya Caca mengambil burger tersebut, dan mengucapkan terima kasih.


"Terima kasih, Pak."


"Sama-sama."


***


Caca kembali ke gudang untuk melanjutkan kerja nya sambil memakan burger yang diberikan oleh Nael.


"Ah tinggal sedikit lagi," kata Caca sambil melemaskan tangan nya.


"Cape banget."


Caca sedang duduk dan menghitung jumlah Baut dan Mur yang jumlah nya tidak sedikit, dan ukuran nya juga ber macam-macam dari pendek sampai panjang, dari kecil sampai besar, semua Caca hitung satu persatu.


Semenjak Sony di pecat, Mas karyo sedikit sibuk. Caca membiarkan Mas Karyo bekerja melayani karyawan yang ingin minta barang.


***


Tak lama kemudian Nael datang dan menawarkan bantuan kepada Caca. Caca terlihat senang, bukan karena dibantu oleh orang tampan dan keren di perusahaan ini saja, tapi pekerjaan nya akan sedikit lebih cepat selesai.


Mereka berdua duduk berhadapan, sama-sama menghitung mur dan baut yang banyak tersebut.


Mereka telah selesai menghitung baut dan mur, sekarang giliran barang yang berada di ujung gudang.


Banyak sekali debu di tempat tersebut, barangnya juga tertutup debu yang agak tebal. Nael meniup debu tersebut dan tak sengaja mengenai mata Caca.


Mata Caca kemasukan debu, Caca memejamkan matanya karena perih. Caca mengucek ucek mata nya, tapi rasa perih itu tidak hilang-hilang. Mata Caca tak bisa di buka. Nael yang melihat mata Caca kemasukan debu segera memegang mata Caca dan meniup nya.


Mata Caca sudah sedikit membaik, dan tak sadar wajah mereka berdua begitu dekat, sangat dekat sekali hanya berjarak beberapa cm saja.


Caca yang menyadari hal itu langsung menjauh dari Nael, dan berterima kasih kepada Nael karena telah membantu nya ber kali-kali.


Jantung Caca kembali berdegup kencang. Nael mengajak Caca untuk kembali bekerja, dan segera menyelesaikan laporan ini. Mereka kemudian mulai menghitung kembali.


***


Di ruangan tersebut sangat lah panas. Tidak ada kipas dan sedikit ventilasi. Nael mulai berkeringat, dia menyeka keringat dengan tangan nya.


Caca melihat wajah Nael dan sontak menahan tertawa.


Tak lama kemudian, akhir nya Caca tak kuasa menahan tawa nya.


"Hahaha hahaha," Caca pun tertawa.


"Kenapa Carisa? kamu kenapa ketawa?" tanya Pak Nael dengan heran.


"Itu, Pak. Muka Bapak. Haha."


Caca tak sanggup melanjutkan perkataan nya karena masih tertawa.


"Kenapa sama muka saya?" tanya Nael.


Nael kemudian mengelap-elap muka dengan kedua tangan nya.


"Ya ampun. Hahaha."


Caca tertawa kembali melihat wajah Nael yang bertambah kotor. Caca tertawa sampai perut nya sakit dan air mata nya keluar. Caca pun menyeka air mata dengan tangan nya.


Sekarang giliran Nael yang tertawa, ternyata muka Caca juga kotor. Mereka berdua melihat tangan masing-masing, dan menyadari tangan mereka begitu kotor bernoda hitam oleh debu pekat.


Mereka memandang wajah satu sama lain dan akhir nya Nael dan Caca tertawa bersama-sama. Seketika itu pula mereka lupa jika hubungan mereka adalah seorang atasan dan bawahan.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2