Dandelion Kecil

Dandelion Kecil
Bab 95. Surat Undangan


__ADS_3

Di rumah sakit.


Nael dan Caca telah sampai di rumah sakit, dengan segera mereka menghampiri kamar dimana Pak Tris dirawat yang telah diberitahukan sebelumnya.


"Papa, bagaimana dengan keadaan Pak Tris, apa sudah sadar dan bagaimana dia bisa jatuh pingsan?" tanya Nael.


"Dia sudah sadar, Dokter berkata Pak Tris hanya kelelahan dan juga stres lah yang membuatnya jatuh pingsan."


"Stres?" tanya Caca penuh cemas.


Pak Heru mengangguk lalu menatap sahabatnya yang sedang terbaring lemah. Melihat kondisi Pak Tris membuat Nael memikirkan sesuatu.


"Begitu khawatirkah Pak Tris kepada Satya? hingga dia bisa stres dan kelelahan seperti itu." Gumam Nael dalam hati.


Lamunan Nael terhenti ketika Pak Heru menepuk pundaknya dan berkata, "Nael tolong kamu temani Caca di sini, dia terlihat mencemaskan Pak Tris dan tidak ingin meninggalkannya. Papa mau kembali ke kantor sebentar, masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan."


Nael mengangguk lalu memandangi Caca yang terlihat sedih dan membalas perkataan Pak Heru, "Baik Pah, hari ini Nael akan menemani Caca dan Pak Tris."


"Ya sudah Papa pergi dulu." Kemudian memangil Pak Budi. "Budi ayo kita jalan ke kantor."


"Baik Bos!"


Pak Heru kemudian meninggalkan rumah sakit bersama dengan Pak Budi, mereka pergi menuju perusahaan.


***


Nael mendekati Caca dan duduk di sampingnya, mereka sama-sama menatap pria tua dihadapannya, berbaring lemah tak berdaya.


Mereka terdiam hingga Caca mulai berkata sesuatu, "Pak Tris kelelahan pasti karena memikirkan sesuatu yang berat dan itu menyangkut kebahagiaan kita. Nael aku merasa bersalah, orang tua ini sudah banyak sekali membantuku. Aku rasa sudah cukup waktunya untuk Pak Tris beristirahat, aku akan berusaha menerima apapun konsekuensi ke depannya, baik atau buruk."


Nael menoleh dia melihat keputus asaan dari wajah kekasihnya itu, Nael menarik nafas dan memegang erat tangan Caca dengan serius dia berkata, "Tidak akan terjadi hal buruk kepada kamu Carisa. Kita akan berjuang bersama, bukankah aku sudah berjanji akan melindungimu sekuat tenaga ku." Nael mencium punggung tangan Caca.


"Hem, terima kasih." Caca membalas dengan senyuman.


Tak berapa lama kemudian Pak Tris terbangun dari tidurnya dia memegang tangan Caca. "Ca, Bapak tidak apa-apa hanya kelelahan. Biarkan Bapak menunaikan tanggung jawab ini ya, jangan biarkan Bapak merasa menyesal dikemudian hari." Lalu pria tua ini bangun, dengan segera sepasang anak muda ini membantu Pak Tris untuk duduk bersandar.


"Pak Tris!" Caca terharu melihat Pak Tris yang sudah sadar kemudian Pak Tris menceritakan bagaimana dia bisa jatuh pingsan.


Pak Tris berkata kembali, "Kita tidak punya banyak waktu, mengingat Satya lebih berkuasa dari pada dahulu, membuat Bapak merasa cemas. Mengingat jika mengandalkan penjaga dari Djuanda dan keluarga Heru saja maka itu tidak akan cukup. Bapak khawatir kekuatan penjaga kita tidak sebanding." Pak Tris memijat kepalanya.


"Pak Tris tidak peduli seberapa banyak anak buah mereka, kita hanya perlu memainkan strategi yang bagus untuk menghadapi mereka." Nael merasa yakin dengan pernyataannya itu.


Pak Tris menatap Nael dan tersenyum. "Jangan Nael, mereka berbahaya. Kelicikannya bisa membahayakan semua orang, dengan darah dagingnya sendiri saja orang itu berani melakukan hal keji. Apalah artinya nyawa kita bagi mereka."Pak Tris merasa cemas lalu menceritakan kejadian yang menimpah Cindy.


"Cindy?" tanya Nael dan Caca.


Pak Tris mengangguk kemudian meyakinkan mereka. "Benar, dia sekarang berada di mess. Tapi mengetahui banyak yang tidak menyukainya, Bapak rasa dia telah pergi dari sana."


Nael dan Caca menatap satu sama lain lalu Caca berdiri dan memanggil Sandy. "Sandy, kumpulkan para penjaga kita. Aku akan diskusikan masalah penjagaan nanti!"


"Baik Nona!" patuh Sandy.


"Apa yang akan kamu lakukan Ca?" tanya Pak Tris menahan Caca.


"Tenang Pak Tris, hanya sedikit memakai kekuasaan sebagai Nona muda." Caca tersenyum kepada Pak Tris.


"Benar Pak Tris, Bapak tidak perlu khawatir karena ada Nael disamping Caca." Nael menatap wajah calon istrinya itu dan Caca tersenyum senang.


Pak Tris mengangguk lalu bangun dari tempat tidur pasien. "Baiklah, Bapak akan ikut kalian! Bapak sudah merasa sehat sekarang."


"Jangan Pak Tris! Bapak istirahat saja disini." Nael menahan Pak Tris yang tiba-tiba berdiri.


Pak Tris menepis tangan Nael dan dengan sombongnya pria lansia ini berkata, "Bapak sudah cukup tidur sekarang ayo kita pergi dari sini."

__ADS_1


"Tidak boleh! setidaknya Bapak harus dirawat dua hari disini!" Caca lalu menasehati Pak Tris dan dengan mata yang memelas Pak Tris pun akhirnya menuruti perkataan Caca naik kembali ke atas ranjang pasien.


"Nah begitu kan bagus." Caca terkekeh lalu menyelimuti Pak Tris dan Pak Tris hanya mengangguk-angguk patuh.


Tak berselang lama Sandy datang. "Nona para penjaga pribadi Nona sudah berkumpul!"


"Baiklah." Caca lalu berkata kepada Pak Tris, "Pak Tris tunggu disini bersama Ahmad, Caca dan Nael akan segera kembali." Pak Tris dan Ahmad mengangguk.


***


Caca memulai pertemuan tersebut dan berkata. "Seberapa besar kalian setia kepadaku. Jika begitu besar, maka tunjukkan lah kepadaku. Kita akan melawan Satya bersama, tidak perduli dia mempunyai anak buah yang banyak maupun kejam. Kita tidak boleh menyerah begitu saja."


"Benar Nona, kita semua setia kepada keluarga Djuanda khususnya Nona Caca. Kami berjanji, orang kejam itu tidak akan menyentuh Nona walau sehelai rambutpun!" teriak mereka bersemangat.


"Terima kasih! Aku percaya kepada kalian!" Caca terharu mendengar keberanian dan kesetian mereka.


"Lihat lah ini Nona Caca!" mereka menunjukan sesuatu di pergelangan tangan mereka dan Caca seketika menangis haru.


"I-itu!"


"Benar! ini adalah lambang kesetiaan kami kepada Nona, sebuah lambang Dandelion Kecil ini akan selalu berada di tangan kami, mengingat kami akan selalu menjaga Nona setiap saat dan tidak akan melepas Nona begitu saja ke tangan orang-orang jahat itu!" seru mereka dengan lantang.


Nael merangkul Caca dan mengusap air mata nya kemudian menatap semua penjaga pribadi Caca yang setia. "Terima kasih, kalian semua telah menjaga Nona kalian dengan baik. Setelah ini bergabunglah dengan para penjaga pribadiku dan setelah Pak Tris sembuh total kita akan membahas penjagaan keamanan Nona muda kalian!" perintah Nael kepada semua penjaga pribadi Caca.


"Baik Tuan muda!" seru mereka memberi hormat lalu bubar kembali ke masing-masing titik penjagaan mereka.


***


Setelah pertemuan itu, Caca dan Nael kembali ke kamar rawat Pak Tris. Mereka bersama meminta ijin untuk kembali ke rumah.


"Iya, hati-hati. Tidak usah mencemaskan Bapak, disini ada Sandy yang akan menemani saya," balas Pak Tris lalu melihat ke arah Sandy.


Nael menghampiri Sandy dan berkata, "Sandy tolong jaga Pak Tris, jika ada sesuatu jangan sungkan menghubungi saya."


Setelah berpamitan Nael dan Caca kembali ke rumah dan beristirahat dan setelah mereka pergi dari ruangan Pak Tris lalu Sandy berkata, "Pak Tris, semua sudah siap!"


"Bagus Sandy, mari kita pergi kesana!" Pak Tris bangkit dari tempat tidur tersebut lalu pergi bersama Sandy.


………………………………………………………………………………


Tiga minggu kemudian.


Hari jadi Nael dan Caca tinggal seminggu lagi, kesibukan melanda dimana-mana. Tetapi yang paling sibuk adalah Valen, dia terjun langsung mengatur semua perlengkapan pesta.


Pesta tersebut akan dilangsungkan di Kediaman Heru, beberapa undangan pun sudah disebar luaskan oleh orang kepercayaan Heru. Undangan yang dibagikan tersebut sontak membuat heboh sejagad dunia perbisnisan dan mengundang reaksi dari beberapa pihak.


Contohnya :


1. Perusahaan Anthoni.


"Tok tok tok!" Sekretaris Anthoni meminta masuk.


"Masuklah, ada perlu apa?" tanya Anthony dengan wajah lurus ke komputer.


"Maaf Bos, ini ada undangan pernikahan." Sekretaris itu memberikannya kepada Anthoni dan Anthoni pun membukanya.


"Ooh dari keluarga Nael, akhirnya Nael dan Sonia menikah juga setelah sekian lama mereka bertunangan." Ucap Anthoni sambil mengangkat bahunya.


Anthoni kemudian membaca undangan tersebut dan seketika dia membelalakan mata nya hingga membulat sempurna.


Lalu dengan nada bergetar dia berkata, "N-nael dan C-caca? Bagaimana bisa si bocah tengik itu mengambil Caca ku, itu kah alasannya sampai sekarang tidak mengijinkan kami para jomblo mendekati Caca, karena dia sendiri menginginkan gadis itu! benar-benar lancang, awas kau Nael!"


"Akh tidak!" Setelah berkomat kamit Anthoni langsung jatuh pingsan karena syok yang dideritanya.

__ADS_1


"Bos bangun! Bos buka mata Bos!"


"Panggil Dokter cepat!" teriak asisten Anthoni panik setengah ampun.


***


2. Perusahaan Gunawan.


Selain kegaduhan di Perusahaan Anthoni, kegaduhan terjadi juga di Perusahaan Gunawan.


"Pak Gunawan, ada yang mengirim surat undangan untuk anda," ucap sekretaris Gunawan sambil duduk di sudut meja Gunawan dan menampilkan paha seksinya.


"Dari siapa?" tanya Gunawan mengelus wanita tersebut.


"Dari keluarga Heru," balas wanita tersebut.


"Oh pasti undangan pernikahan Nael dan Sonia, kapan tanggal pernikahannya?" tanya Gunawan kembali.


Sekretaris seksi itu membuka undangan ditangannya dan menyebutkan tanggal pernikahan Nael. "Minggu ini hari jadi mereka, tapi disini yang menikah Nathanael Chanda Putra (Nael) dengan Carisa Lie Djuanda (Caca)."


Mendengar hal tersebut Gunawan tersentak kaget, dia berdiri dengan tiba-tiba yang mengakibatkan sekretarisnya itu jatuh terjungkal ke belakang.


"Apa, Nael dan Caca!" pekik Gunawan tak percaya lalu merebut surat undangan tersebut dan membacanya sendiri.


Tangannya bergetar membolak balik undangan tersebut berkali-kali berharap ada kesalahan cetak pada nama pengantin wanitanya.


"Nael dan Caca ... Oh Nael sungguh kau benar-benar licik mengambil Caca milik kami para jombloMan ini." Gunawan lalu merengek seperti bayi.


Begitulah salah satu contoh kegaduhan di dunia perbisnisan dan berita pernikahan ini pula sampai ditelinga para karyawan perusahaan Heru ya siapa lagi kalau bukan dari Pak Budiman yang mulutnya kelemesan, dengan menggoda para wanita disana berita itupun tersebar.


"Pak Nael sama Cacaku!"


"Ah oppa dia sudah laku!"


"Ya kami setuju!"


Begitulah perbincangan hangat dimana-mana mengakibatkan Nael dan Caca menjadi malu jika ke kantor karena karyawan mereka yang selalu menyoraki Nael dan Caca.


"Wih bentar lagi ada yang mau kawin!"


"Ajak-ajak nanti malam pertama ya!"


"Asyik bobo ada yang nemenin!" teriak Lista tak kalah heboh menyoraki jika pasangan ini kedapatan tengah berduaan.


Nael dan Caca hanya tersenyum dan tidak memperdulikan perkataan-perkataan tersebut. Mereka senang, semua karyawan nya mendukung hubungan mereka berdua.


…………………………………………………………………………


Di Kediaman Satya.


Rusli berlari dengan cepat dia menyerahkan undangan yang berhasil dia dapatkan dari salah satu pengusaha yang berada di bawah ancaman Satya.


"Bos ini surat undangan Nael dan Caca." Rusli menyerahkan undangan tersebut dan dengan cepat Satya menarik lalu membaca nya.


Satya menyeringai lalu melempar undangan tersebut dan berkata dengan tegas. "Rusli, hubungi kepala penjara agar melepaskan Sony di tanggal ini!"


"B-baik Bos!" patuh Rusli lalu menelpon orang yang dimaksud oleh Satya.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2