Dandelion Kecil

Dandelion Kecil
Bab 26. Surat Dari Caca


__ADS_3

Keesokan harinya.


Hari sudah pagi, Caca terbangun karena mencium aroma lezat dari dapur. Disana dia melihat ibu nya yang sedang memasak.


"Pagi Bu."


"Pagi Caca sayang."


"Wah Ibu masak apa? wanginya enak banget," kata Caca sambil menyomot sedikit masakan Ibu nya.


"Ishh jangan Ca! ini buat kita jualan nanti. Kamu nggak inget apa hari ini Ibu sudah mulai dagang makanan lagi," Kata Ibu sambil membalik gorengan.


"Oh iya. Hihihi, maaf ya Bu Caca lupa."


"Ya sudah tidak ap, nanti Ibu pisahin buat sarapan kamu sama Handi."


"Makasih ya Bu, Caca mau sayur yang ini, ini juga mau, gorengannya satu buat Caca ya," kata Caca sambil menunjuk nunjuk makanan di atas meja.


Ibu teringat dengan Ibu kandung Caca, Nyonya Felicia, dia sama seperti Caca yang suka makan. Apalagi saat dirinya memasak di dapur dan meminta seperti apa yang dilakukan Caca tadi.


Ibu kemudian tersenyum, dia menyentuh wajah Caca dengan tangan nya, terlihat wajah nya seperti ingin menangis.


"Kenapa Ibu? kok nangis?" tanya Caca sedikit cemas.


"Tidak apa sayang, kamu mau bantu Ibu jualan kan hari ini?"


"Iya Bu, Caca mau ikut. Sekalian mau lihat-lihat sekitar desa ini."


"Makasih ya." Ibu lalu menyiapkan dagangan nya.


"Ca. Kenapa kamu pergi ikut Ibu ke desa? kenapa kamu nggak ke luar negeri? setidak nya kamu bisa kuliah disana."


"Nggak mau ah Bu, Caca mau disini sama Ibu dan Handi. Nanti Ibu siapa yang jagain kalo bukannya Caca. Caca juga nggak mau kuliah, sayang Bu uang nya kemarin saja uang nya habis buat bayar uang pangkal sekolah baru nya Handi karna dia pindah sekolah. Iya kan?"


Ibu terharu melihat Caca yang mau di ajak susah. Walau dia punya harta yang berlimpah, tetapi tidak mau memakainya sepeserpun, karena Caca berpikir itu bukan lah uang nya. Dia lebih suka memakai uang hasil jerih payah nya sendiri, dia pekerja keras dan baik hati.


"Yuk Bu, kita berangkat jualan. Sudah mulai siang ni," kata Caca mengajak Ibunya.


Mereka kemudian pergi berjualan dengan mendorong gerobak sampai ke tempat biasa Ibu nya berjualan dahulu.


***


Di sepanjang jalan banyak sekali orang yang melihat mereka. Bukan tertarik melihat dagangan Ibu, tetapi tertarik dengan Caca.


Semua orang berkumpul dan membeli semua makanan yang di jual oleh Ibu. Padahal mereka baru beberapa langkah keluar dari rumah nya, tetapi dagangan Ibu langsung ludes semua. Bukan hanya masakan Ibu yang enak, tetapi pembelinya rata-rata adalah laki-laki semua.


"Baru tadi berangkat jam 8 pagi, eh jam 10 sudah ludes semua. Hebat juga ya kita. Hahaha." Caca tertawa senang.


"Ya, karena yang dibawa jualan itu kamu, coba dulu pas Ayah kamu yang nemenin Ibu dagang. Semua pada lari, nggak ada yang mau beli karena takut sama Ayah. Hahaha."


Mereka akhirnya pulang dengan wajah gembira.


"Bu, nanti sore kita jalan-jalan ya, Caca mau keliling desa ini."


"Boleh, Ibu juga nggak cape hari ini, nanti kita main ke rumah Nenek ya."


"Yess."


……………………………………………………………………………………


Di Kantor.


Mba Dewi dan Lista menemui Pak Tris untuk memberitahu kebenaran tentang Cindy.


"Tok tok tok!"


"Ya, silahkan masuk. Ada apa Dewi, Lis?" tanya Pak Tris.


Dewi kemudian mengunci pintu, dan memberitahukan kebenaran tentang Cindy kepada Pak Tris.


Pak Tris tak menyangka Cindy adalah Kakak perempuannya Sony. Pak Tris kemudian berencana mengadakan pertemuan dengan Pak Heru dan beberapa orang kepercayaan nya. Kali ini dia juga akan mengajak Nael untuk ikut rapat ini.


"Terima kasih Lista dan Dewi."

__ADS_1


"Sama-sama Pak," jawab mereka kompak.


Mereka kemudian kembali untuk bekerja.


***


Beberapa saat kemudian mereka akhirnya berkumpul di tempat rahasia mereka.


"Iya, Tris. Kamu dapat kabar apa?" tanya Pak Heru.


"Heru, Cindy ternyata Kakak perempuannya Sony."


"Siapa Sony?" tanya Pak Heru.


"Sony dulu pernah kerja disini Pah, dia bagian gudang barang jadi dan di percaya mengerjakan laporan spare part untuk bantu mas Karyo di gudang," jawab Nael.


"Dia di pecat, karena laporan nya tidak sesuai dengan stok asli barang di gudang dan bikin perusahaan ini merugi. Untung Caca menemukan kesalahan itu, kalau tidak perusahaan ini bisa rugi besar," kata Pak Tris.


"Oh yang dulu kalian cerita pas saya berada di luar negeri ya? ah saya telah berhutang budi dengan Caca," kata Pak Heru.


"Iya, Pah."


Nael mengingat kembali saat bersama dengan Caca digudang, Nael kembali tersenyum.


"Kemudian berita apa lagi Tris?" tanya Pak Heru.


"Seperti nya Cindy menyembunyikan wajah asli nya dengan Make Up cantik nya itu," jawab Pak Tris.


"Jadi dia cantik karena make up nya?" tanya Pak Heru.


"Betul Heru, dia kepergok Dewi ketika mencuci muka di toilet."


"Ternyata teman-teman Caca sangat bisa di andalkan."


"Iya Heru, kemudian bagaimana dengan Cindy? apa kita harus menangkapnya sekarang?" kata Pak Tris bertanya.


"Jika kita menangkap basah mereka, kita akan langsung tangkap. Nael kamu juga jika mereka melakukan hal-hal buruk, langsung tangkap saja mereka. Kita juga tidak boleh berlama-lama dengan hal ini," kata Pak Heru.


***


Beberapa saat kemudian ada seorang pria meminta ijin untuk masuk. Pak Tris dan Heru tersenyum melihat kedatangannya.


"Selamat siang Pak Heru, Pak Tris," kata Sandy memberi salam.


"Siang. Kamu bawa kabar apa Sandy?" tanya Pak Heru.


"Nona Caca sudah sampai di tujuan dengan selamat. Nona Caca dan Ibu nya berjualan makanan di sana," jawab Sandy.


"Syukurlah, saya senang mendengar hal tersebut. Bagaimana dengan penjagaan disana?" tanya Pak Heru.


"Sangat ketat, Pak."


"Bagus sekali."


Kemudian Sandy memberikan sesuatu kepada Pak Tris.


"Ini Pak, ada titipan dari Nona Caca."


Nael sangat senang dengan kabar Caca yang baik baik saja, dia juga penasaran surat apa itu dan untuk siapa surat tersebut.


"Terima kasih."


"Sama-sama."


***


Rapat mereka telah selesai. Pak Tris melihat surat tersebut dan mulai membagikan kepada orang yang namanya di tulis oleh Caca. Nael mengikuti Pak Tris ke ruangan nya berharap ada surat dari Caca untuk dirinya.


"Dewi, Lista. Ini ada surat dari Caca untuk kalian berdua," kata Pak Tris.


"Serius Pak, ada surat dari Caca?" kata Lista senang.


Dewi dan Lista membuka surat tersebut, mereka pun senang dan juga terharu. Dewi dan Lista kemudian menangis sedih.

__ADS_1


"Caca, kita juga kangen sama kamu."


"Caca emang orang yang baik, dia nggak pernah lupa sama sahabatnya sendiri."


Kemudian Pak Tris dan Pak Heru juga membaca surat dari Caca. Mereka juga ikut sedih dan terharu.


"Saya bangga sama Caca, dia berusaha kuat demi orang tuanya. Dia juga tidak manja dan tetap baik. Dia juga meninggalkan kemewahan dan memilih hidup sendiri," kata Pak Heru sambil mengusap air mata nya.


"Benar Heru, padahal dengan kemewahan yang dia miliki dia bisa hidup enak. Tetapi dia memilih hasil jerih payah nya sendiri. Kita harus mendukung apapun keputusan Caca," kata Pak Tris.


Nael masih menunggu, apakah ada surat untuk nya dari Caca. Terlihat masih ada beberapa surat di tangan Pak Tris.


"Ada surat juga untuk Mul, dan Cindy."


"Punya Cindy lebih baik tidak usah Tris, takut tempat persembunyian Caca terbongkar kembali."


"Baik lah Heru, kamu benar."


"Terakhir di sini ada surat untuk Mas eko, entah apa yang di tulis untuk Mas Eko."


Tak lama kemudian Mas Eko datang dan menerima surat dari Caca, Mas eko pun senang dengan hal tersebut.


"Wah yang benar Pak, itu surat untuk saya? duh neng Caca, senang banget Mas dapet surat dari Caca. Baru kali ini saya dapet surat, dari Cewek lagi."


Mas Eko lalu membuka surat tersebut. Hati nya sangat penasaran dengan isi surat tersebut. Begith pula dengan yang lain. Mas eko lalu membaca kan iai surat tersebut kepada semua orang.


"Resep membuat kopi untuk Pak Nael,


Bahan : 1. Masukan 1(satu) sendok teh kopi hitam, 2. Masukan 2(dua) sendok teh gula pasir, 3. Masukan 1(satu) sendok teh krimer.


Cara membuat : 1. Siapkan Cangkir, jangan gayung ya.. hihihi.., 2. masukan semua bahan lalu seduh semua bahan dengan 150 ml air panas, 3. kemudian aduk rata dengan perlahan, di siapkan selagi panas, terima kasih."


Semua yang mendengar hal tersebut langsung tertawa. Mas Eko pun hanya tertawa, tetapi dia senang, setidak nya Caca membuat dia tidak dimarahi oleh Pak Nael saat membuat kopi untuk Bos nya tersebut.


Nael pun tersenyum dengan lelucon yang diberikan oleh Caca, tetapi dia sedih karena tidak ada surat untuk dirinya. Nael berpikir mungkin Caca masih marah kepada nya.


"Tunggu Nael!" kata Pak Tris menghentikan langkah Nael yang ingin keluar.


"Ini ada surat juga untuk kamu dari Caca," kata Pak Tris memberikan surat tersebut kepada Nael.


Nael sangat senang sekali, terlihat wajah nya yang begitu berseri. Pak Tris dan Pak Heru saling bertatapan, mereka senang dengan Nael yang kembali tersenyum.


Nael kemudian pergi dan akan membaca nya di ruang kerja nya.


***


Tiba di ruang kerja nya Nael tak sabar untuk membaca surat tersebut, jantungnya berdebar tidak karuan. Hatinya sangat senang tapi saat akan membaca, Pak Joko datang dan mengajak Nael untuk ke produksi. Nael pun menunda untuk membaca Surat Caca.


Cindy melihat ada surat di atas meja Nael, dia membaca surat tersebut, dan kemudian tersenyum jahat.


Cindy mengambil surat itu dan menyimpannya, kemudian dia segera mengganti surat yang ditulis oleh Caca dengan surat yang dibuat oleh nya sendiri.


Cindy lalu meletakkan surat buatan nya ke atas meja Nael dengan posisi yang sama dengan sebelum nya. Dia pun kembali duduk dan bekerja.


***


15 menit kemudian Nael datang lalu masuk ke ruang kerja nya dengan bersemangat, dia tidak sabar untuk membaca surat dari Caca.


Cindy menunggu sambil tersenyum, dia menantikan ekspresi Nael saat membaca surat tersebut.


lima menit kemudian, Nael terlihat marah dia terlihat sangat emosi. Nael merobek surat tersebut dan membuang nya ke tempat sampah. Hati nya terluka dengan isi surat tersebut, diapun sedih karena Caca ternyata masih marah kepada nya.


"Saya tidak akan pernah memaafkan mu, karena dirimu, saya telah kehilangan Ayah saya. Kamu adalah penjahat! harus nya Ayah mu saja yang mati!"


Nael tidak menyangka Caca seperti itu, lalu apa hati nya baik itu adalah palsu. Hati Nael gundah, dia seketika berubah menjadi dingin dan menjadi pemarah lalu pergi keluar dengan entah kemana.


Cindy melihat Nael pergi, dia terlihat senang dengan hal itu dia pun tertawa.


"Hahahaha. Rasakan itu Nael, gampang banget menghasut kamu, setidak nya dengan begini dia tidak akan peduli dengan Caca lagi. Hahahaha."


*


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2